Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
28



Tiga hari setelah Khalisa bertemu dengan Kahfi, Khalisa mengajak Ar untuk makan siang sepulang mereka dari kampus, Tentu saja Ar mengiyakannya karena setelah kejadian itu, Jordan semakin posesif pada dirinya. Jujur itu membuat dia tidak nyaman tapi ia harus terima ini semua, karena ini karena ulahnya sendiri.


Terkait dengan pacarnya, Jorda lebih dulu bertindak, walaupun pacar anaknya itu anak sahabatnya tapi ia tidak takut sama sekali untuk memberikan Anggara pelajaran.


" Maaf lama Abang terlambat" kata Kahfi yang baru saja datang, Terbukti dari makanan Ar dan juga khalisa yang sebentar lagi habis.


Ar yang melihat ke datangan Kahfi hanya tersenyum canggung, setelah kejadian itu, ini adalah pertemuan pertama mereka, ya walaupun mereka tidak pernah bertemu sebelumnya.


" Maaf, aku gak bilang sama kamu. Sebenernya aku sengaja mengajak mu kesini, karena Abang Kahfi ingin mengatakan sesuatu" kata Khalisa melihat Ar yang canggung. " maaf."


" Santai aja, gak pa-pa kok. " Ar tersenyum " Aku juga ingin mengucapkan terimakasih sama Abang Kahfi, dan maaf atas kejadian tempo hari" Kata Ar, Ar mengubah cara bicaranya yang biasanya Lo gue menjadi aku kamu, Agar lebih sopan.


Kahfi tersenyum tipis " Saya juga ingin minta maaf, karena saya telah menyentuh kening dan tangan mu waktu itu, saya belum sempat mengatakan itu waktu itu, sekali maaf " Kahfi tulus.


" kamu sangat menghargai perempuan bang, apa boleh aku berharap perkataan mu waktu itu menjadi nyata, tapi jika perkataan mu waktu itu nyata mungkin aku akan menjadi benalu di keluarga kalian. Andai saja " Aretha tersenyum kecut, ia ingin sekali mengatakan itu semua tapi tidak bisa ia hanya bisa mengatakan itu semua di dalam hatinya.


" Ar " Khalisa menyentuh tangan Aretha untuk membuyarkan lamunan Aretha.


" Apa?" Tanya Aretha melihat Khalisa..


" Itu Abang Kahfi?" Kata Khalisa melihat kearah Abangnya, yang sedang menunggu jawaban Aretha.


" Ah maaf " Aretha baru tersadar sepenuhnya " Tidak apa bang, Abang tidak perlu minta maaf soal itu. Abang Kahfi juga menyentuh kening dan tangan ku memiliki alasan, jadi tidak masalah. Tidak perlu minta maaf. "


" Tapi saya sangat merasa bersalah akan hal itu, sungguh aku menyesali itu"


Aretha tersenyum " tidak masalah bang, tapi kalau Abang ingin aku memaafkan Abang Karena itu, aku sudah memaafkan Abang sebelum Abang minta maaf. seharusnya aku yang berterima karena kalau Abang tidak menyentuh kening ku Abang tidak bisa mengetahui kondisi ku, sekali lagi terimakasih. "


Setelah selesai makan siang, khalisa ikut Kahfi ke kantor. Kahfi sudah menyarankan agar Khalisa lebih baik pulang tapi Khalisa kekeh untuk ikut ke kantor, dan pada akhirnya Kahfi mengijinkan Khalisa itu.


" Abang ada meeting, kamu tunggu disini! kalau kamu bosen bisa keliling sendiri kan, tanpa di temani?. " Khalisa menganggukkan kepalanya " cemilan ada di sana" kata kahfi menunjuk ke lemari mini yang ada di ruangannya.


" Iya Abang ku sayang. Terimakasih." Kata Khalisa memperlihatkan giginya.


" ya sudah Abang tinggal dulu, Baik-baik disini. " Kata Kahfi seperti memperingati anak berusia sepuluh tahu.


Kahfi pergi untuk meeting, sedangkan Khalisa memperhatikan ruangan Kahfi yang sangat rapi. Khalisa tertarik pada lemari yang di katakan Kahfi tadi.


" Wah banyak banget, Abang harus di bantu untuk menghabiskan ini semua" Kata Khalisa tersenyum penuh arti. Ia membawa cemilan itu ke meja khusus tamu yang ada di ruangan Kahfi.


Setengah selesai meeting Kahfi kembali ke ruangannya, Sesampainya di sana sungguh ia sangat syok melihat banyak bungkus makanan yang berserakan.


" Dek kamu makan semuanya?" tanya Kahfi baru saja memasuki ruangannya.


" Hehehe "


" astaga Abang tidak percaya kamu memakan ini semua dalam waktu yang terbilang sangat singkat. pantas saja kamu semakin gendut." Kata kahfi duduk di dekat adiknya dan melihat bungkus cemilan yang berantakan karena ulah adiknya.


" Abang bilang aku apa? Gendut?" Khalisa melotot ketika mendengar kata gendut. " Mas... Abang bilang aku gendut " Kata Khalisa melihat suaminya baru saja memasuki ruangan Kahfi, Ya, khalisa menghubungi suaminya untuk menjemputnya, karena dia sudah bosan.


" Kamu gak gendut kok sayang, mungkin kamu salah dengar " Kata Gus Yusuf mengejitkan matanya untuk Kahfi agar kakak iparnya itu bisa menarik ucapannya tadi, tapi sepertinya kakak iparnya tidak peka.


" aku gak mungkin salah dengar Abang bilang aku gendut tadi hiks hiks " kata Khalisa menagis di pelukan Suaminya.


" Kamu salah dengar sayang" Gus Yusuf memberikan kode pada Kahfi agar ia meralat ucapannya tadi yang tidak sempat Gus Yusuf dengar.


" Maksud Abang bukan, bukan Gendut dek, tapi lebih berisik dan itu membuat badan mu tambah bagus" kata Kahfi setelah ia mengerti kode yang di berikan adik iparnya.


" maksud bang Kahfi itu, istri ku ini tambah cantik karena pipimu lebih berisi jadi bikin gemes mau di cium terus"


" Benar begitu?" Tanya khalisa masih dengan bibir cemberut.


Gus Yusuf mengecup bibir khalisa " Iya, begitu kan bang. " Kahfi menganggukkan kepalanya " Iya"


" Kalau begitu cium aku, sini" Kata Khalisa menyuruh Kahfi mencium pipinya kiri kana. Walaupun tak enak hati sama adik iparnya Kahfi melakukan apa yang di katakan adiknya..


Cup


Cup


" Udah, sekarang makan lagi ya. Sampahnya di taruh di bak sampah ya " kata Kahfi mengelus kepala khalisa.


" aku mau ke kamar mandi dulu" Kata Khalisa setelah keinginannya di turuti..


Gus Yusuf bernapas lega, karena ngambek istrinya tidak berlangsung begitu lama.


" apa dia makan semuanya ini?" Tanya Gus Yusuf tak percaya, Kahfi menganggukkan kepalanya. " selain tingkahnya yang rada aneh sekarang di doyan makan juga"


" Rada aneh? Maksud mas apa?" mendengar khalisa membuat kedua pria itu menelan ludahnya dengan susah payah..


" Gak sayang, kamu salah dengar, maksud mas itu kenapa ruangan bang Kahfi rada aneh gitu" Kata Gus Yusuf mengelakkan ucapan istrinya. Ia sepertinya harus hati-hati saat berbicara.


" gak aneh kok, biasa aja. " sahut Kahfi, melihat sekeliling ruangannya. Melihat raut muka adik iparnya yang sepertinya ketakutan dengan kemarahan adiknya ia berniat untuk mengerjai adik iparnya, belum saja bersaksi, ia langsung mengurungkan niatnya.


" Jadi aku gitu yang aneh" Kata Khalisa menatap kedua laki-laki ini horor.


" Kenapa dia sangat sensitif seperti ini?" Bisik Kahfi pada Gus Yusuf.


" aku juga bingung bang dengan perubahan sikapnya satu Minggu ini" Jawab gus Yusuf berbisik agar istrinya tidak mendengar pembicaraan mereka.