Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
43



"ah iya, kita bertemu di apartemen Ar. maaf pertemuan pertama kita tidak begitu baik" Kata Kahfi mengingat pertemuan pertama mereka terkesan tidak baik. Bagaimana ia bisa melupakan ayah perempuan yang selalu mengganggu pikiran belakang ini.


Jordan tersenyum " Apa kamu sibuk?" tanya Jordan seperti ia ingin berbincang dengan Kahfi..


" Sebentar lagi jam kerja akan berakhir. Jadi saya tidak terlalu sibuk.."


" Bisa kita bicara sebentar?"


" Tentu bisa. " jawab Kahfi mengingat dirinya tidak terlalu sibuk setelah jam kerja berakhir. " Kamu bisa kembali ke kantor, gunakan mobil saya. Nanti saya bisa memesan taksi online.." Kata Kahfi pada asistennya, karena mereka tadi berangkat mengunakan mobil Kahfi..


" Iya pak, saya permisi.." setelah kepergian asisten Kahfi keduanya pergi menuju ruang khusus di restoran ini..


" Apa ini tidak terlalu berlebihan tuan.?" tanya Kahfi setelah memasuki ruangan ini. Dia juga seorang pebisnis dan ia tahu ruangan seperti ini biasa digunakan untuk tamu yang terhormat, sementara mereka bukan rekan kerja, dan tidak membicarakan perihal tentang perkejaan, menurut Kahfi ini sangat berlebihan..


" berlebihan bagaimana?" Tanya Jordan tidak mengerti maksud Kahfi.


" kita hanya berbicara santai, tidak perlu mengunakan ruangan semewah ini tuan."


" Lupa hal seperti itu. Bagaimana kabar mu dan adik mu?" Tanya Jordan.


" Alhamdulillah kami baik tuan.."


" bisakah kamu tidak memanggil saya dengan sebutan tuan, jangan berbicara formal itu. Bukan kah kita sedang berbicara santai?"


" Saya sendiri tidak tahu harus memanggil anda dengan sebutan apa, menurut saya panggilan tuan sangat cocok untuk Anda. "


" kamu bisa memanggil saya om, tapi saya serahkan itu ke kamu saja. Senyaman ya saja. "


" ngomong-ngomong, anda ingin membicarakan apa dengan saya tuan?" Tanya Kahfi to the poin.


" perkataan yang mana?"


" ingin menikahi anak saya, Aretha. " Kata Jordan serius.


" waktu saya tidak tahu kalau Aretha dan saya berbeda agama. " Jawab Kahfi tersenyum kecut. " Setelah saya tahu kami berbeda saya mengurungkan niat untuk itu, tidak mungkin saya mengambilnya dari Tuhan-nya. "


Jawab Kahfi tegas, dia hanya seorang hamba tidak mungkin ia mengambil hamba lainnya dari Tuhannya. Mungkin jika mereka satu tuhan Kahfi akan melanjutkan niat baiknya, apa lagi belakang ini wajah Ar selalu menghantui pikiran..


**


Setelah kepulangan Ar, Khalisa bersama dengan suaminya menemui ummi Salma di ruang tengah. Kebetulan Ismail juga ada di sana, ini momen yang sangat pas untuk memberitahukan berita bahagia ini..


" Ummi Abi, kami ada kabar gembira buat ummi Abi" kata Gus Yusuf tersenyum lebar, senyuman yang menggambar betapa bahagianya dirinya saat ini.


" Sepertinya kabar gembira ini membuat kalian sangat bahagia" ucap Ismail melihat senyuman anak dan menantunya.


"Kabar apa itu nak? Ummi ingin mendengarnya" Kata ummi salma penasaran.


" kabar gembiranya " Gus Yusuf melihat istrinya dengan penuh cinta " ummi dan Abi akan menjadi nenek dan kakek" Kata Gus Yusuf mengelus perut istrinya.


" benar kah?" keduanya menganggukkan kepalanya " Masya Allah tabarakallah, selamat nak" Kata ummi Salma menantunya, sedang Ismail memeluk sang putra Yusuf


" Selamat putra Abi akan menjadi Abi" ucap Ismail turut bahagia dengan kabar bahagia yang di bawa sang putra dan menantunya


" Di kehamilan sekarang ini kamu tidak boleh stres nak, belajar dari kehamilan pertama mu" Kata ummi salma.


" iya ummi, Khalisa akan berusaha semaksimal mungkin"