Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
65



Sepulang dari pertemuan tadi, Aretha mampir di sebuah toko buku, setelah mendapat buku yang ia cari, ia langsung pulang kerumah.


Tujuannya malam ini, ingin mengajak sang ayah untuk berbincang. Ia ingin mendengar apa pendapatnya tentang ta'aruf yang sedang ia jalani saat ini.


" hallo non " ucap pria setengah baya itu dari sana. Aretha sengaja menghubunginya karena ingin mengetahui kapan sang ayah pulang.


" hallo pak, apa ayah akan lembur malam ini?" Tanyanya, bukan tanpa alasan Aretha menghubungi asisten Jordan, Jordan orang terbilang sangat sibuk dan saking sibuknya, panggilan telpon dari anak bungsunya kadang di kadang tidak.


" iya non, tuan akan pulang malam. Sekita jam sepuluh. " jelasnya panjang lebar. Aretha menghela nafas, ini sudah biasa tapi tetap saja sangat menyebalkan jika terus di dengar. " apa ada yang ingin sampai pada tuan?"


" iya, katakan pada ayah, saya ingin bicara malam ini. Tapi kalau ayah tidak bisa, besok pagi saja" ucap Aretha kesal, pria setengah paruh baya tersebut sudah biasa mendengar kekesalan anak majikannya ini.


" baik non, saya akan sampaikan. Apa ada lagi. "


" tidak hanya itu saja, terimakasih. " Aretha mengakhiri panggilan telpon tersebut dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Malam harinya, pukul sembilan malam tapi masih belum ada tanda-tanda kepulangan Jordan. Aretha yang awalnya menunggu di ruang tengah pun memutuskan masuk ke dalam kamar.


Detik demi detik berganti di jam dinding tersebut, Aretha menghela napas dan pergi ke kamar mandi mengambil wudhu, setelah itu ia bersiap untuk tidur.


***


Jam tiga pagi Aretha terbangun dari tidurnya, tidak ingin membuang kesempatan emas Aretha pun pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat malam.


* Ya Allah, berikan lah petunjuk mu. Jika Abang Kahfi jodoh hamba maka permudahkan lah dan berikan petunjuk mu ya Rabb " doa Aretha, ia tertidur di atas sajadahnya..


Doa kedua insan terdengar di langit walaupun hanya berbisik di atas tanah. Kehebatan doa dalam sujud iyalah berbisik pada tanah tapi terdengar di seluruh langit.


Di dalam mimpi Aretha, ia sedang berjalan di pinggir danau yang sangat luas, permohonan yang sangat hijau dan angin sepoi-sepoi.


" Masya Allah indah sekali" ucapnya penuh kekaguman. Seekor kupu-kupu putih mendekat dan singgah di cari manis Aretha. " hai, cantik sekali" baru saja ingin menyentuh kupu-kupu tersebut, tapi kupu-kupu tersebut lebih dulu mengipas sayapnya.


Aretha membalikan badannya berniat mengejar kupu-kupu tersebut. " akhirnya kamu tertangkap" ucap Aretha setelah berhasil menangkap kupu-kupu tersebut.


" kenapa kamu menangkap kupu-kupu itu, biarkan dia terbang, karena itu adalah bagian dari takdir hidupnya" ucap seseorang yang tak lain adalah sang mama.


" gak ma, Aretha tidak akan melepaskannya. " kekeh Aretha, ia menyatukan kedua sayap kupu-kupu tersebut, sampai membuat jari-jari berwarna.


" sayang, kupu-kupu adalah maklum hidup seperti kita. Kita hidup ada aturan. Kupu-kupu ini memiliki hidup, dan cara hidupnya berbeda dengan kita. " Aretha menatap sedu kupu-kupu tersebut.


" tapi ma, Aretha menginginkannya" ucap Aretha, hampir menangis karena tidak ingin melepas kupu-kupu tersebut.


" jika tidak ingin melepaskannya, buatkan rumah yang indah buatnya agar ia merasa hidup bersama mu"


" ia ma, aku akan buatkan ia rumah yang bagus dan besar. Agar ia bisa terbang bebas seperti yang sudah di takdirkan tuhan untuk nya"


" Anak pinter" sang mama mengusap lembut rambut Aretha, dengan senyum manis dan Kasih sayang.


Azan subuh terdengar, dan membangunkan Aretha dari tidurnya. Ia tersenyum kala mengingat mimpinya tadi, sudah lama sang mama tidak hadir di dalam mimpi membuat Aretha meneteskan air mata mengingat mimpinya tadi.