Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
17



Khalisa hanya diam saja, tidak menghiraukan panggilan Suaminya yang sejak tadi memanggilnya. Tatapan kosong, khalisa melihat ke arah jendela. Perkataan saudara ummi salma seperti hantaman batu besar di hatinya. Sesak ia rasa, tapi tidak bisa ia lampiaskan.


" Sayang, kamu Kenapa?" Tanya Gus Yusuf, melihat istrinya yang hanya diam saja dari tadi.


" Sayang. " Satu dua kali, tidak ada respon dari khalisa. Gus Yusuf menepikan mobilnya. " Sayang kumu kenapa?" Gus Yusuf menepuk pundak istrinya.


Hah?


" Kenapa kita berhenti disini?" Tanya khalisa menyadari mobil mereka berhenti.


" Kamu Kenapa? Dari tadi mas panggil gak merespon? Ada apa?"tanya Gus Yusuf khawatir, ia takut ada sesuatu yang membuat istrinya tidak nyaman di rumah sepupunya tadi.


" oo aku lagi mikirin tugas kuliah ku yang belum jadi mas, maaf. tapi mas tanya apa?" kata Khalisa.


" Lupakan, Beneran cuma mikirin tugas kuliah?" Tanya Gus Yusuf melihat istrinya, Gus Yusuf curiga ada yang di sembunyikan istrinya darinya.


" Iya beneran mas" Jawab Khalisa, Tapi melihat suaminya tidak percaya khalisa mencoba membuatnya percaya seperti menceritakan bagaimana dosen yang memberikannya ini..


" Mas tahu kan buku yang aku beli kemarin salah kata dosen itu, dan sekarang, sebagai hukumannya aku harus mencatat jurnal" Keluh Khalisa lemas.


" Mas pikir ada hal yang lain mengganggu pikiran mu, mas takut ada sesuatu yang membuat tidak nyaman tadi,Kalau masalah itu nanti mas bantu ya. Kalau ada sesuatu yang membuat mu tidak nyaman bicarakan sama mas ya." kata Gus Yusuf.


" Iya mas" Kata Khalisa tersenyum. Gus Yusuf kembali menghidupkan mobilnya dan kembali berjalan ke arah rumah. Sampai rumah khalisa hanya diam saja, tidak seceria biasanya..


***


Keesokan harinya, khalisa kembali melakukan aktivitas, seperti kuliah hari ini. ia sudah berada di lingkungan kampus, ia di antara Suaminya. Saat di perjalanan tadi khalisa minta izin untuk menemui kakaknya sepulang dari kampus.


" Khalisa, Lo kok gak pernah ikut kita nongkrong sih" Kata teman kelas khalisa yang terlihat sangat tomboy. atau biasa di panggil Ar.


" Gimana ya, aku juga punya urusan yang lebih penting dari pada ikut kalain nongkrong. mungkin lain kali" Kata Khalisa, karna jujur dia juga tidak terbiasa dengan nongkrong seperti teman-temannya.


" Emangnya Lo punya urusan apa sih? kepo gue." tanya Ar, ingin mengetahui kehidupan khalisa lebih dalam lagi.


" Kata orang kalau kita terlalu kepo itu cepet tua lho" Kata Khalisa, membuat Ar semakin kepoan pada khalisa.


" Gak pa-pa gue tua, yang terpenting kekepoan gue terbayar. " kata Ar membuat Khalisa menggelengkan kepalanya, Temannya yang satu ini mengingatkan dirinya dengan ketiga temannya.


" Ar Ar, ada ada saja. " khalisa menggeleng kepalanya " aku duluan, Abang aku sudah sampai tuh" Kata Khalisa menunjuk ke arah Kahfi yang melambaikan tangan pada khalisa..


" Ganteng banget Abang Lo, kenalin gue dong" Kata Ar terpesona dengan Kahfi.


" Ganteng lah, dia kan cowok. aku pamit dulu. assalamualaikum....... Jangan lupa belajar besok ujian."


" Tadi dia bilang apa? Aasss Kum....aiiss tadi dia bilang apa sih. mending besok gue tanya dah"


" Tumben ngajak ketemu. Ada yang mau di ceritain?" Tanya Kahfi, khalisa menganggukkan kepalanya. Tanpa bertanya lagi, Kahfi langsung menyalakan mobilnya dan pulang kerumah.


***


Sesampainya di rumah, Kahfi mengajak Khalisa ke ruang tengah, karena ruang tengah itu tempat mereka selalu berbagi cerita ketiga Abinya masih ada, ruang tengah adalah tempat terkumpulnya semua kenangan bagi mereka " Mau cerita apa?" tanya Kahfi sudah duduk di kursi..


" Kok ada yang beda ya?" kata Khalisa melihat sekeliling rumah, rumah ini terlihat sangat sepi dan sedikit berantakan.


" Beda dari mana? Gak ada yang Abang rombak kok" Jawab Kahfi, emang benar adanya aksesoris di rumah ini tidak pernah ia rubah sama sekali.


" Tidak Serapi biasanya." Kata Khalisa terkekeh melihat wajah kesal Kahfi.


" iya, iya. Mulai besok Abang panggil bibi kembali ke sini "kata kahfi, memang benar adanya, Semenjak sang Abi meninggal Kahfi menyuruh ART mereka untuk berhenti, dengan alasan ia bisa membersikan ini semua. tapi nyatanya tidak.


" lagian kenapa sih Abang suruh bibi berhenti berkerja disini" heran khalisa, udah bagus bibi ada untuk mengurus rumah, eh Abangnya sok sok-an ingin mengerjakan pekerjaan rumah, dan apa sekarang, bekas minum ada dimana-mana.


" Abang pengen sendiri aja dek, Sekarang mau cerita apa?" Jawab Kahfi, Kahfi menyuruh khalisa menceritakan apa yang mengganggu perasaannya.


" Mmm, kemarin mas Yusuf mengajak ku pergi ke rumah saudaranya. keluarga mereka banyak bang, aku nyaman di sana." Khalisa tersenyum kala ia mengingat wajah lucu Maryam, setelah itu wajahnya kembali sedih ketika mengingat apa yang ia dengar.


" Kalau nyaman, kenapa adik Abang yang cantik ini terlihat sangat sedih?"


Khalisa tersenyum " Khalisa tidak sengaja mendengar omongan mereka, dimana mereka membicarakan tentang pernikahan ku dan mas Yusuf. Mereka mempertanyakan kenapa pernikahan kami harus tertutup, mereka juga bilang, mungkin pernikahan kami tertutup karena aku hamil di luar nikah " Kahfi menggenggam tangannya dengan erat, tapi ia menahan emosinya. ia ingin mendengar cerita adiknya sampai selsai.


Air mata khalisa menetes, khalisa langsung menepisnya " Mereka juga kasihan pada ummi Salma, ummi Salma cuma memiliki satu putra saja dan sekarang ummi Salma memiliki menantu yang..... mandul " Tangis khalisa pecah, setelah mengatakan itu semua. Kahfi langsung memeluk adiknya.


" beritahu Abang siapa yang bilang begitu?" Kata Kahfi sangat emosi.


" Tidak bang, khalisa hanya ingin mengatakannya saja. bukan untuk mengadukan mereka " khalisa tidak ingin ada pertikaian di dalam keluarganya.


" Tapi mereka sangat keterlaluan dek" kata Kahfi tidak terima adiknya di katakan mandul, Wanita manapun yang mendengar itu pasti akan merasa sakit hati.


" Gak pa-pa bang, aku hanya ingin mengeluarkan apa yang mengganjal di hati ku Khalisa percaya Abang tidak akan menceritakan ini semua, termasuk pada mas Yusuf. "


" tapi Kenapa suami mu tidak boleh tahu soal ini? " tanya Kahfi heran, bukan kah ini harus di ketahui Suaminya, lantas apa alasannya menyembunyikannya.


" Aku tidak ingin karena ini keluarga mas Yusuf bertengkar mas. Aku hanya ingin membagi cerita ini pada abang saja. agar hati ku tidak memendamnya sendiri. Abang janjikan tidak akan memberi tahu mas Yusuf tentang ini?"


" Iya Abang janji" ingin sekali rasanya ia memberi pelajaran pada orang yang mengatakan adiknya mandul itu, tapi ia tidak bisa.


Kahfi memeluk khalisa, ia mengelus punggung adiknya, untuk menenangkannya. lama kelamaan suara tangisan khalisa melemah.


" Kau selalu seperti ini" Kahfi mengendong khalisa ke kamarnya, adiknya tidak pernah berubah dia selalu seperti ini.