Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
58



" Assalamualaikum"


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, akhirnya dateng juga. Ayok kita masuk"


" kenapa buru buru banget sih kakak ipar "


" eettt" Aretha melebarkan matanya mendengar kakak ipar keluar dari mulut teman kelasnya sendiri.


" emang bener kan, kamu akan jadi kakak ipar ku." Kata Khalisa menggoda Aretha, ia tahu Aretha menerima ta'aruf itu dari ummi Salma.


" iya sih, tapi kan belum tentu aku jadi kakak ipar mu, bisa jadi kalau kami tidak berjodoh" Kata Aretha, siapa yang tahu apa yang terjadi kedepannya? Mungkin Allah hanya memberikan mereka untuk saling mengenal tapi tidak untuk jadi pasangan.


" Aku yakin kalain pasti berjodoh, lagi pula kamu gak mau gitu punya adek ipar imut Kayak aku gini" kata Khalisa memperlihatkan wajah gemasnya pada Aretha.


" imut dari mana, yang ada tuh muka kamu kayak bakpao, kembung sini, sini. " Aretha menekan pipi khalisa yang memang menggembung.


" Tapi kata mas Yusuf aku imut dan menggemaskan" khalisa mengingat kata kata Suaminya.


" iya itu wajar, beliau kan suami mu. wajar beliau gemas melihat istrinya menggemaskan ini. "


" jadi menurut kamu, aku mengemaskan?" tanya khalisa, Aretha menganggukkan kepalanya.


" sudah ayok, kita ke kelas. Sebentar lagi kelas akan dimulai. Gak lucu kan, kalau calon kakak ipar dan adik ipar telat masuk kelas. "


" ciee, kakak ipar "


" Sa, jangan kenceng kenceng. Nanti ada yang denger!!" kata Aretha, dan melihat kiri kanan memastikan tidak ada yang mendengar ucapan Khalisa tadi.


" Belum tentu sa, pleaseee jangan bilang aku kakak ipar lagi kalau kita lagi di lingkungan kampus"


" hmm, ok deh. Walaupun kamu aneh."


Sekarang mereka sudah ada di kelas, Sampai kelas berakhir barulah mereka keluar kelas. dan seperti biasa, mereka akan ke kantin untuk membeli camilan atau makanan sembari menunggu kelas lanjutan.


" kok gak diangkat?" tanya khalisa, tangannya sibuk untuk membuat cemilan.


" No gak di kenal sa, jadi aku males. " Jawab Aretha memang benar adanya, apa lagi saat ini maraknya penipuan ada di mana mana, membuat dirinya malas menjawab panggilan tanpa nama.


" ya juga sih, aku juga gitu orangnya. Tapi ya Kalau di pikir pikir, buat apa coba mereka melakukan hal seperti itu"


Ngomong ngomong tentang penipuan yang meraja rela saat ini, jujur saya juga bingung guys. Buat apa coba mereka melakukan itu, yang pasti uang yang mereka dapat itu tidak halal.


" Aku juga gak tahu sih, tapi yang pasti mereka adalah orang orang yang malas untuk berkerja, dan ingin menikmati harta orang lain tanpa memikirkan dampaknya kedepannya. " khalisa mengangguk angguk kepalanya.


Deringan telpon Aretha kembali terdengar, dan ini yang ketiga kalinya. Aretha langsung saja menekan tombol merah kerena kesal, ia berniat ingin memblokir no itu, tapi sebelum itu pesan singkat masuk.


" ini aku Kahfi, apa kamu Sedang bersama khalisa?" isi pesan singkat itu, dan tak lama kembali terdengar dering telepon lagi.


" Assalamualaikum" Ucap Aretha canggung, bagaimana tidak canggung yang menelpon saat ini adalah pria yang ia sukai dan bisa di bilang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


" Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, maaf mengganggu waktu mu. Khalisa bersama mu kan?" Aretha melirik Khalisa yang sedang asik makan cemilan.


" kenapa?" tanya khalisa mengkerut kan keningnya melihat Aretha seperti sangat canggung berbicara dengan orang di sebrang sana.