Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
14



Beberapa saat kemudian, keadaan Akmal kembali memburuk. Kahfi segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Akmal, tersenyum yang tadinya terlihat hangat sekarang hilang, hanya ada kecemasan di raut wajah Kahfi.


" Abi bertahan lah" Kata Khalisa menangis melihat sang Abi kritis, Baru saja mereka bercanda ria seperti abinya tidak merasa sakit sedikit pun dan sekarang kondisinya memburuk.


" sayang tenang, Kita berdoa saja. semoga Abi baik-baik saja" ucap Gus Yusuf menenangkan istrinya, yang menagis histeris.


" Dek jangan seperti ini, Abi akan sedih mendengar nya. " Kata Kahfi tidak tega melihat adiknya. Khalisa terus menerus dalam pelukan suaminya.


" Pasien ingin bertemu dengan namanya Kahfi" Kata suster tersebut. Tanpa membuang waktu kahfi masuk ke dalam ruangan.


" Nak kemarin" Kahfi mendekat " Maafkan Abi, selama ini Abi selalu memberikan mu tanggung jawab yang sangat besar, maaf karena kamu tidak bisa menikmati masa muda mu" Akmal dengan suara lemahnya, ia tersenyum hangat.


" Tidak Abi, itu tidak benar. " elak Kahfi, yang di katakan Abinya tidak bener, ia sangat menikmati masa mudanya, ia juga tidak merasa terbebani dengan tanggung jawab yang di berikan Abinya selama ini.


" Nak, Abi titip adik mu, jaga dia baik-baik. maaf kalau selama ini Abi belum bisa menjadi orang tua seperti yang kalain harapan kan." Suara Akmal mulai melemah.


" Apa yang Abi bicara, Abi adalah Abi yang terbaik di dunia untuk kami. Abi tidak boleh berkata seperti itu. " akmal memperlihatkan senyuman yang sangat indah yang selalu ia perlihatkan pada anak-anaknya, tidak ada luka di balik senyum itu, hanya ada kehangatan di sana.


" Abi bangga pada mu, Terimakasih nak. " Kata terakhir yang di ucapkan akmal dan Kembali kritis. Dengan cepat dokternya bergerak untuk menangani Akmal. Akmal tersenyum melihat dokter yang menangani dan ia menggelengkan kepalanya.


" Terimakasih" Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.


Akmal tersenyum melihat Kahfi dan perlahan menutup matanya. dan Elektrokardiogram yang ada di samping menunjukkan tidak ada pergerakan jantung. Dokter langsung mengecek denyut nadi pasien. "


"Inna innalillahi wainnailaihi rojiun"


Mendengar ucapan dokter tersebut, Kahfi terjatuh ke lantai. Inna innalillahi wainnailaihi rojiun


" Beliau wafat dengan tenang." Kata dokter tersebut memberikan pelukan pada kahfi, dan keluar dari ruangan. Kahfi dengan kuat tenang bangun dari duduknya, dan mendekat ke tempat sang Abi berbaring. terlihat di sana Akmal tersenyum, bibirnya pucat tapi memancarkan cahaya pada wajahnya.


" Terimakasih Abi, selamat jalan." Kata Kahfi dan menutup seluruh wajah sang Abi dengan selimut putih itu. Air matanya mengalir tapi ia langsung menepisnya, dia tidak boleh menangis, ia harus lebih kuat dari adiknya. Terdengar dari luar, tangisan khalisa. mendengar itu membuat Kahfi tidak bisa membendung air matanya. ia keluar menemui sang adik.


" Dek, tenang. Abi sudah tenang di sana. " Tapi bukannya menghentikan tangisannya Khalisa justru semakin histeris dan setelah itu pingsan.


***


" Mas aku mau lihat Abi" Kata Khalisa, membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.


" iya, sayang. jenazah Abi sebentar lagi sampai." Kata Gus Yusuf memenangkan istrinya. karena setelah bangun dari pingsannya tadi Kahfi menyuruh adik iparnya membawa khalisa pulang ke rumah mereka, karena di sana jenazah sang Abi di semayamkan, dan setelah itu akan di kuburkan di pesantren Ismail yang sudah di sediakan.


Setelah jenazah Akmal sampai di rumah duku, tangis khalisa tidak henti-hentinya. Karena cuma Abi dan juga Abangnya saja ia punya dari dulu, dan sekarang khalisa harus merelakan salah satu antara mereka untuk selamanya. Itu sangat berat buat khalisa.


Selesai di sholat kan, jenazah Akmal di bawa ke tempat peristirahatan terakhir. Tapi sebelum itu jenazahnya di sholat kan kembali di sini, oleh santri yang ada di sini setelah itu di makamkan.


Keadaan khalisa sangat memperhatikan, selesai pemakaman khalisa harus di larikan ke rumah sakit, karena keluar darah dari gamisnya. Gus Yusuf yang melihat itu sangat panik dan berusaha semaksimal mungkin menyadarkan istrinya.


Sesampainya di rumah sakit, khalisa mendapatkan pertolongan pertama, dan sekarang ia harus merelakan janjinya yang masih seusai jagung.


" Maaf pak, kami tidak bisa menyelamatkan calon bayi Anda "


Dokter menjelaskan, faktor utama yang membuat janin yang ada di kandungan khalisa tidak bisa bertahan malam yaitu stres berat. ibu hamil yang merasa stres, pembuluh darah di dalam tubuh ibu hamil akan mengecil sehingga menyebabkan suplai darah dan oksigen untuk janin menjadi terhambat. Selain itu, stres juga dapat membuat daya tahan tubuh ibu jadi menurun. Akibatnya, tubuh ibu hamil jadi rentan terkena berbagai jenis virus dan kuman yang juga berpotensi membahayakan janin.


Gus Yusuf tidak punya tenang menemui istrinya, Ia tidak tahu harus mengatakan apa?. Di posisi seperti ini Gus Yusuf hanya bisa berserah diri pada Allah.


Gus Yusuf tidak tahu harus bagaimana? Ia merasa terpukul kehilangan bayinya,tapi disini lain istrinya akan lebih terpukul dengan kabar ini.


***


Dengan sekuat tenaga Gus Yusuf masuk ke dalam ruangan istrinya. Ia mencoba sekuat mungkin di depan istrinya karena istrinya sangat membutuhkannya saat ini, walaupun terlihat jelas dari raut wajahnya ia sangat terpukul.


" Mas, kenapa aku ada di sini?" Tanya Khalisa, mendapati dirinya berada di ruangan rumah sakit.


" Pingsan?" Gus Yusuf menganggukkan kepalanya. " sekarang istirahat ya" Gus Yusuf mengusap pipi istrinya, terlihat sangat lelah dan lesu.


" Tapi Abi mas"


Suttt


" Abi sudah tenang, Kalau kamu terus seperti ini Abi akan sedih. Ikhlas ya sayang" kata Gus Yusuf, menahan air matanya, ia tidak sanggup memberi tahu kabar tentang colon bayi mereka.


" Mas, Kenapa kamu seperti menahan air mata mu.?" Tanya khalisa melihat wajah suaminya, terlihat jelas dari mata Suaminya yang sedang menahan air matanya.


" Mas sedih melihat istrinya mas seperti ini, Sedangkan mas tidak bisa berbuat apa-apa "


" mas jangan berbicara seperti itu, aku pasti akan kembali sehat. Aku yang harusnya minta maaf karena-"


suttt


" Mas tidak merasa direpotkan." Kata Gus Yusuf, menggenggam tangan istrinya, ia tersenyum dan menyembunyikan luka.


" Maafkan ummi ya nak" Kata Khalisa mengelus perutnya, membuat Gus Yusuf memalingkan wajahnya. air matanya berhasil lolos mendengar ucapan istrinya. " kita harus sehat"


" Sayang mas mau ke kamar mandi" pamit Gus Yusuf tanpa melihat ke arah istrinya. Khalisa melihat punggung suaminya yang memasuki kamar mandi, tanpa melihat kearah dirinya.


Sementara Gus Yusuf langsung membungkam mulut dan menangis di dalam kamar mandi. cukup lama ia terdiam di dalam kamar mandi sampai terdengar suara istrinya memanggilnya..


" Mas, apa kamu baik-baik saja di sana?" Teriak Khalisa dari luar, sudah cukup lama suaminya ada didalam sana membuat ia khawatir.


" iya" Jawab Gus Yusuf, ia langsung membersihkan wajahnya untuk menghilangkan merah di matanya tapi itu tidak mempan. ia keluar dari kamar mandi, dengan berpura-pura mengelap wajah dengan tisu.


" Sayang mas keluar sebentar, Mas mau beli makanan dulu" lagi-lagi suaminya tidak menoleh ke arahnya, seolah-olah menghindari kontak mata langsung.


" Kenapa mas Yusuf seperti menghindar, apa ada yang di sembunyikan?" ucap khalisa bingung dengan sikap suaminya, karena ini pertama kalinya suaminya berbicaralah tanpa melihat ke arahnya.


Sampai di luar ruangan, Gus Yusuf mendapati Kakak iparnya di luar ruangan. Gus Yusuf langsung memeluk nya.


" menangislah, semua ini pasti ada hikmahnya" Kata Kahfi menepuk pundak adik iparnya. Ia menyuruh adik iparnya untuk menumpahkan tangisannya di dalam pelukannya, agar ia merasa lebih tenang.


" Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya bang" Kata Gus Yusuf seperti orang tidak tahu arah. " Aku tidak tega bang"


" Biar Abang yang memberi tahunya, kamu harus kuat. dia sangat membutuhkan mu, buka aku lagi"


***


Khalisa sudah mengetahui kalau dirinya kehilangan bayinya, Kesehatannya semakin memburuk, ketika mengetahui bayi di dalam perutnya sudah tiada khalisa seperti orang arah, ia terus menyalahkan dirinya, dan hampi melukai dirinya.


" Sayang tenang, Aku gak bisa lihat kamu seperti ini" Kata Gus Yusuf, memeluk istrinya. Ia membiarkan istrinya untuk memukulnya sesuka hatinya, asal ia tidak melukai dirinya.


Ummi Salma, Ismail dan juga Kahfi yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam dalam kesedihan, mereka masing-masing.


" Ini semua salah ku mas, maafkan aku" khalisa terus menyalahkan dirinya.


" Tidak sayang, Jangan terus menyalahkan diri mu. Ini sudah takdir."


" Ini salah ku mas" Suara khalisa melemah dan pingsan.


" Sayang, bangun. ummi Khalisa pingsan." Kahfi langsung berlari memanggil dokter.


" Pasien mengalami syok berat. sehingga kondisi tekanan darah menurun secara drastis sehingga organ-organ dan jaringan tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang cukup. Kondisi ini umumnya merupakan komplikasi dari penyakit atau kondisi tertentu, misalnya perdarahan hebat atau dehidrasi parah. Kami sarankan pasien di rawat di rumah sakit beberapa hari, agar kami bisa memantau perkembangan pasien. "


Jelas dokter, setelah memeriksa keadaan khalisa.