
Semua keluarga besar khalisa pergi ke acara resepsi ustadz Fikri dan Rima. Mereka memilih untuk datang menggunakan satu mobil saja.
Sesampainya di sana sudah banyak para tamu undangan yang hadir, ummi Salma dan Ismail lebih dulu masuk. Sementara Khalisa dan suaminya menunggu kehadiran Aretha.
" Maaf aku lama" kata Aretha karena membuat Khalisa dan Gus Yusuf menunggu dirinya. " Tapi beneran aku gak pa-pa ikut." Tanya Aretha, sebenarnya dia tidak ingin ikut tapi Khalisa memaksanya untuk ikut dan tentunya atas izin Rima..
" Tenang saja, aku sudah meminta izin pada Rima. Aku juga ingin kenalin kamu sama teman-temanku" kata Khalisa. Ya, ia berniat untuk mengajak Aretha kesini karena dia ingin mengenalkan pada teman-temannya.
" Ya udah kalau begitu sekarang kita masuk" ucap Gus Yusuf. Mereka masuk ke dalam. Taman-taman Gus Yusuf menyapa mereka dan tentunya mereka menjaga pandangan mereka.
" Mas, aku Dian sama Tia dulu" kata Khalisa memberikan ruang untuk suaminya berbincang dengan teman-temannya, Gus Yusuf menganggukkan kepalanya.
Khalisa menghampiri Dian dan juga Tia. Seperti orang yang sudah lama tidak ketemu, mereka berpelukan dan cupika cupiki seperti perempuan pada umumnya.
" Astaga bumil makin gemoi saja" kata Tia menyentuh pipi khalisa kerena gemas melihat pipi kembung khalisa.
" Benar, kamu makin Masya Allah bangetttt sa" Fuji Dian, pesona Khalisa tidak pernah pudar dari dulu ketika mereka masih mondok, pesona Khalisa selalu membuat mereka pangling.
" Biasa aja. Kalian juga makin Masya Allah. " Kata Khalisa menyanjung kedua temannya. " Oiya, kenalin dia Aretha teman kampus aku" khalisa memperkenalkan Aretha pada Dian dna Tia.
" Salam kenal, aku Dian" kata dian mengulurkan tangannya begitu juga dengan Tia.
" Aretha" ucap Aretha menerima uluran tangan kedua teman Khalisa.
" Bay the way bang Kahfi gak datang sa?" Tanya dian, dari tadi ia mencari keberadaan Kahfi tapi belum ia temukan sampai sekarang.
" Gak tahu, katanya sih gak datang karena sibuk, tapi gak tahu deh, dia akan Dateng atau gak ya" kata Khalisa menaikan kedua pundaknya, Dian hanya ber' o' ria.
" Ar sepertinya kamu bukan orang sini" kata Tia melihat wajah Aretha seperti orang bule.
" Iya, aku asli orang Prancis. Tapi tinggal di sini." Ya, Aretha asli Prancis, tapi karena pekerjaan sang ayah membuat dia pinda ke Indonesia dan menetap sampai sekarang.
" Pantes banget cantik banget" kata Tia.
" Bisa bening gitu yang itu kulit" kata Dian, Aretha yang mendengar itu hanya tersenyum..
" Guys aku lapar" kata Khalisa mengelus perutnya, dan dengan sigap Dian dan juga Tia mengambil khalisa makanan.
" Silahkan dimakan, bumil yang cantik" kata Dian.
" Terimakasih banyak Dian cantik" Aretha iri melihat pertemanan khalisa, bukan hanya pertemanan yang membuat Aretha merasa iri, tapi ia juga iri pada khalisa karena di kelilingi orang yang sayang padanya.
" Sayang, kamu makan apa?" Tanya Gus Yusuf menyentuh pundak istrinya, Gus Yusuf tersenyum tipis menyapa Dian, Tia dan Aretha.
" Baksos mas, mas mau?" Tanya khalisa, khalisa menyuapi suaminya tanpa menghiraukan tiga jomblo di dekatnya.
" Ada jomblo loh disini" sindir Tia melihat ke arah lain.
" Tiba-tiba jadi kepengen nikah" ucap Dian.
" Gak usah pada nyindir kayak gitu, mending cari calon sana, tuh santri dan juga Gus-gus pada datang kesini. "
" Dih mudah ngomong gitu, mentang-mentang sudah punya Gus "
" Ya sudah, kami mau cari calon suami dulu. Sampai nanti bumil yang sangat bucin." Tia dan Dian pergi entah kemana.
" Ar, gak makan?" Tanya khalisa..
Aretha mengelengkan kepalanya " nanti saja" Jawab Aretha.
" Ternyata kalian disini " kata kahfi membawa sepiring nasi.
" Abang jadi datang? Khalisa kira bang gak bakalan dateng "
" Makanya nikah, apa susahnya sih cari calon istri?" Kata Khalisa..
" Gus coba kasih tahu bagaimana perjuangan mu untuk bisa mendapatkan dia" Kata Kahfi biar dia tahu bagaimana perjuangan Suaminya mendapatkannya.
" Emang kamu melakukan apa mas biar bisa nikah sama aku?" Tanya khalisa penasaran, bukan kah mereka di jodohkan?.
" Mas tidak melakukan apapun, hanya berani mengambil keputusan ketika Abi menanyakan itu"
" Cih kalian sama-sama nyebelin " jawaban Gus Yusuf tidak sesuai dengan harapan Kahfi.
" Mana ada? Yang ada itu bang yang nyebelin. Iya kan Ar?" Mendengar nama Ar, Kahfi menoleh ke arah Aretha yang tersenyum canggung di sana.
Wajah cantik Aretha membuat dunia Kahfi hilang begitu saja, Kahfi hanya melihat wajah Aretha seorang saat ini, apa lagi Aretha mengunakan jilbab..
" Masya Allah " kata Kahfi mengagumi sosok wanita yang ada di sampingnya ini.
Plak
Khalisa memukul lengan kakaknya untuk menyadarkannya. Sedangkan Aretha sangat tidak nyaman di lihat seperti itu.
" Jangan lihat teman khalisa seperti itu, haram. Kalau gak mau haram, halal kan segera!!" Kata Khalisa membuat Aretha semakin canggung.
" Bener itu sayang, kalau Abang benar menyukai Aretha minta dia pada ayahnya" kata Gus Yusuf menyentuh pundak kakak iparnya.
" Tidak mungkin aku mengambilnya dari Tuhan-nya " kata Kahfi tersenyum kecut. Walaupun ia sudah mendapatkan restu dari Jordan tapi belum tentu Aretha menerimanya menjadi imamnya.
" Abang tidak akan mengambilnya dari Tuhan-nya "
" Sudahlah abang tidak ingin membahasnya. " Kata Kahfi, bagaimana mereka berbeda. Walaupun di depannya saat ini Aretha mengunakan jilbab tapi tidak mengubah keputusan.
Sementara Aretha hanya bisa meremas tangannya, dia tidak tahu harus melakukan apa, dia hanya bisa diam dan membisu.
Seminggu lalu Aretha memeluk agama Islam, dia mengambil keputusan itu karena yakin yang ia ambil sudah benar. Tapi sebelum memutuskan itu, Aretha sudah membicarakannya ini dengan Jordan, ayahnya.
Setelah mendapatkan izin barulah Aretha memberi tahu pada ummi Salma dengan keinginannya, mendengar itu ummi Salma bahagia.
Setelah itu, Aretha mengucapkan syahadat di aula pesantren di saksikan ribuan santri. Jordan juga ikut serta menyaksikannya.
Acara terus berlanjut, mereka memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
" Cepat nyusul bro, jangan sibuk kerja terus" kata ustadz Fikri melepas pelukan mereka.
" Ya, doakan saja. " Kata Kahfi tersenyum, tapi hatinya berkata lain.. " semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah"
" Aamiin, aku doakan kamu cepat nyusul. Aku yakin perempuan itu pasti sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti mu"
" Aamiin. Aku tidak bisa lama. Aku harus kembali ke kantor" kata Kahfi, nyatanya itu hanyalah alasannya semata. Yang sebenarnya terjadi itu hatinya sedang terluka karena tidak bisa memiliki wanita yang dia cintai.
Kahfi pergi meninggalkan tempat acara tanpa berpamitan dengan ummi Salma dan Ismail. Entah apa yang Kahfi rasakan hanya dirinya yang tahu.
"Lho Abang Kahfi mau kemana?" Tanya khalisa melihat Kahfi berlalu begitu saja.
" Biarkan, Abang Kahfi butuh waktu sendiri" kata Gus Yusuf, Gus Yusuf tidak sengaja melihat Kahfi memandangi Aretha dari jauh sebelum Kahfi berlalu pergi. Andai saja Kahfi tahu kalau Aretha memiliki tuhan yang sama dengan dirinya..
.
.
.
Maaf ya guys sekarang aku jarang up dan mungkin kedepannya juga aku bakalan sibuk banget.