Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
54



" sebenarnya kamu kenapa?" tanya Kahfi tidak tahanan dengan sikap adiknya yang berubah seratus delapan puluh derajat, ini pertama kalinya dalam hidupnya di abaikan seperti ini oleh adiknya sendiri.


Sekarang pandangan mereka tertuju pada Kahfi dan mereka melihat ke arah pandang Kahfi yaitu Khalisa.


" aku? Tidak ada apa apa. Kenapa bertanya seperti itu? Apa ada yang salah mas?"


" tidak ada Sayang "


" kalau tidak ada, kenapa ia bertanya seperti itu?" Gus Yusuf yang mendengar pertanyaan istrinya hanya bisa menelan ludahnya sendiri, sekarang ia mengerti kenapa istrinya seperti ini.


" ia? " Kahfi mengulangi kata 'ia ' itu dengan sangat tidak percaya dengan pendengarannya. " kamu kenapa? Abang punya salah sama kamu? " tanya Kahfi to the poin.


" aku ingin pulang mas" bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, khalisa malah merengek untuk pulang.


" KHALISA HUMAIRA!! " bentak Kahfi, ummi Salma dan Ismail terkejut mendengar bentakan itu. Apa lagi Gus Yusuf, Sedangkan khalisa terdiam, dan air matanya terjatuh.


" aku mau pulang" ucap khalisa dan berlari keluar dari ndalem. Gus Yusuf tidak berniat untuk menghentikan istrinya, ia memberikannya begitu saja.


" aku tahu, Abang adalah orang yang merawatnya sejak kecil, Abang lebih memahaminya. Tapi tolong bang jangan bentak istriku seperti itu, aku suaminya sekarang dan aku tidak mengijinkan Abang untuk membentaknya seperti itu. ummi Abi Yusuf pamit. Assalamualaikum" Setelah mengatakan itu, Gus Yusuf menyusul istrinya, ia tidak mau terjadi sesuatu dengan istrinya.


" astaghfirullah" Kahfi mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


" temuin dia, dan minta maaf lah." suruh Ismail sebelum beranjak dari duduknya. ummi salma menyentuh pundak Kahfi dan berlalu pergi mengikuti suaminya.


***


" Hiks hiks " suara tangisan khalisa terdengar jelas di telinga Gus Yusuf dari luar kamar.


" sayang buka pintunya, please" kata Gus Yusuf, ia ingin memeluk wanita yang selalu membuat dirinya tersenyum seperti harinya. Mendengar tangisan sang istri membuat hatinya seperti di iris pisau.


" sayang mas bukannya?" kata Gus Yusuf, sebenernya pintu itu tidak terkunci tapi Gus Yusuf menghormati keinginan istrinya yang ingin sendiri, tapi mendengar jeritan tangis itu membuat dirinya tidak bisa menahan dirinya yang ingin memeluk wanitanya.


Gus Yusuf melihat sang istri sedang memeluk kedua kakinya dan masih dengan tangisan yang masih berlanjut..


" sayang mas di sini" kata Gus Yusuf memeluk istrinya, dan mengusap punggung untuk memberikan sedikit ketenangan.


" aku rindu mas, sama bang Kahfi yang dulu. " kata Khalisa di sela sela tangisnya, Gus Yusuf tidak bisa berbuat banyak ia hanya bisa mengusap punggung istrinya agar sang istri tenang.


" Gimana? Udah baikan hm?" tanyanya Gus Yusuf setelah pelukan mereka terlepas, dan memberikan segelas air putih, khalisa menganggukkan kepala nya.


" Terimakasih"


Tok tok


" Itu pasti bang Kahfi, aku tidak ingin bertemu dengannya" kata Khalisa, dia sangat yakin itu pasti kakaknya.


" Istirahatlah, biar mas yang menemuinya" ia membaringkan tubuh istrinya dan menyelimutinya sebelum ia keluar kamar.


" assalamu'alaikum, dimana khalisa?" Kata Kahfi merasa bersalah karena ia baru saja membentak adik tersayangnya.


" Waalaikumsalam warahmatullahi, dia ada di kamar. Dia tidak ingin bertemu dengan Abang" jawab Gus Yusuf apa adanya. Gus Yusuf juga tidak mau menyalahkan siapa siapa disini, ini akan berusaha menjadi penengah di antara kakak beradik ini.


" aku kesini karena ingin minta maaf, aku tahu dia pasti sangat sedih karena bentakan ku tadi. Tolong izin kan aku menemuinya "


" bukan aku tidak mengijinkan Abang, tapi ia sendiri tidak mau bertemu dengan Abang."


Kahfi menghela nafas penyesalan " aku akan kembali besok, tolong bujuk dia agar mau bertemu dengan ku" Gus Yusuf tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi ia mengangguk pelan.


" terimakasih, aku pamit. Assalamu'alaikum."


" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."