
" Aku juga bingung sa, Jika kamu bertanya kenapa aku menikah dengan ustadz Fikri karena kedua orang tua ku sudah menerima lamarannya dan kami telah menikah dua mingguan lalu, dan kami kesini untuk memberi undangan resepsi pernikahan kami" Jelas Rima panjang lebar sebelum Khalisa mengajukan pertanyaan.
" Bagaimana bisa ustadz Fikri kenal dengan keluarga mu? Apa kedua orang tua mu saling mengenal?" tanya khalisa penasaran..
Rima menggelengkan kepalanya " Beliau tidak saling mengenal, Aku sudah tanya pada mas Fikri.... "
" Ciiee mas Fikri" Ejek khalisa mendengar Rima menyebutkan ustadz Fikri dengan embel-embel mas.
" Mau denger cerita atau gak? Kalau gak aku mau gabung kedepan saja" Kata Rima cemberut karena ucapannya di potong hanya karena dia menyebut Suaminya dengan panggilan mas..
" Jangan dong, Ya udah maaf. Sekarang coba cerita. " Kata Khalisa.
" kata mas Fikri, dia sudah melamar ku dari dua bulan sebelum pernikahan kami. Aku sama sekali tidak tahu kalau aku sudah di lamar karena kedua orang tua ku tidak memberitahu. Waktu begitu singkat, dan sekarang aku sudah resmi menjadi istrinya. "
" Apa kamu mencintainya?"
" Aku tidak mencintainya di awal pernikahan kami, tapi setelah pernikahan kami berlangsung entah mengapa aku nyaman dekat dengannya, seperti tidak ingin jauh darinya. Dia mengajarkan banyak hal dan selalu baik pada ku, jadi ya aku harus belajar mencintainya" Kata Rima.
" Kamu sekarang menjadi pribadi yang sangat dewasa " Kata Khalisa.
" Ternyata dia tidak seperti yang kita lihat dulu, dia sangat menghormati perempuannya, dia sangat memuliakan ibunya dan adik perempuan. Aku merasa beruntung mendapatkannya Sa, oleh sebab itu aku ingin mencintainya dan di cintai olehnya. "
" Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau rim, Dia pasti mencintai mu. selamat ya rim, semoga sakinah mawadah warahmah "
" Terimakasih sa, semoga keluarga kita sakinah mawadah warahmah "
" Aamiin. "
" Oiya, Dian dan Tia sudah tahu?" Tanya khalisa.
" Belum, aku sudah mencoba menghubungi mereka tapi masih belum ada balasan dari mereka berdua. "
" Bisa jadi, kalau itu terjadi pasti sangat lucu. " Tawa kedua wanita itu terdengar sampai Gus Yusuf dan ustadz Fikri. sementara khalisa dan Rima mentertawakan pernikahan mereka berempat yang berlangsung secara diam-diam.
Kedua laki-laki itu berjalan menuju tempat wanita yang sedang tertawa, mereka mendekati istrinya masing-masing.
" Kenapa suaranya kenceng sekali?" tegur kedua laki-laki beristri tersebut pada istrinya mereka masing-masing.
" maaf " Ucap keduanya, mereka tidak menyangka kalau tawa mereka terdengar sampai depan.
" Mas udah selesai?" Tanya Rima pada ustadz Fikri.
" Sebenernya belum, tapi tawa kalain menganggu kami" Jawabnya apa adanya, emang benar adanya tawa istri mereka menggangu pembicaraan mereka..
" Maaf"
" Ya sudah, lebih baik kita ke depan saja. " ajak Gus Yusuf, kedua wanita ini hanya mengikuti keinginan suaminya, tidak mau menolak sama sekali.
***
Sementara disisi lain, kahfi tengah di sibukkan dengan perkejaan nya. Seharian berkerja seperti tidak masalah bagi laki-laki berkepala dua ini.
" Rasanya lelah sekali" Kata Khalisa memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya..
Bayangan keluarga bahagia merasuki jiwanya, Entah karena sering di desak untuk menikah membuat dirinya membayangkan keluarga kecil bahagia.
" Ya Rabb, sampai kapan aku merasakan ke sendiri ini?" gumam Kahfi. " Mungkin Khalisa benar aku harus mencarikan kakak ipar untuknya" Ucapnya Kembali. Tapi entah berapa lama ia menenangkan pikirannya, tiba-tiba terbayang di dalam pikirannya wajah Aretha.
"