
sementara di kediaman Jordan. Aretha sedang menikmati sarapan pagi, tanpa ke hadiran sang ayah. Entah, apa sang ayah pulang atau tidak semalam, Aretha tidak tahu.
" Maaf, semalam ayah pulang terlambat. " kata Jordan dan duduk di kursinya. Aretha tidak menggubris perkataan sang ayah, ia terus makan sarapannya.
Jordan menghela napas " Ayah tahu kamu marah, tapi tol."
" Aku tahu kok ayah sibuk, tidak perlu minta maaf seperti itu. Seharusnya aku lebih dewasa untuk menangani masalah ini. "
Aretha memotong pembicaraan ayahnya. Dia jelas merasa jengkel, tapi ia harus dewasa untuk menyikapi ini, ini sudah biasa baginya. Maka dari itu, ia harus bisa memahami kondisi ayahnya.
" Semala kamu ingin membicarakan apa?" Kata Jordan memecah keheningan. Ia menatap anak semata wayangnya penuh arti. sebanyak apa beban yang Aretha pikul, sebanyak apa keluh kesah yang belum ia keluarkan.
Jika kita berbisa tentang itu, mungkin sangat banyak. Seharian penuh tidak akan cukup untuk mengurangi banyak keluh ataupun beban yang Aretha pikul selama ini.
Aretha tersenyum ke arah Jordan " Sarapan dulu" Aretha mengambilkan roti yang biasa Jordan makan di saat sarapan setiap paginya. " setelah sarapan kita bisa bicara, itu pun kalau ayah masih ada waktu" senyum Aretha penuh luka di mata Jordan.
Hancur hati Jordan mendengar itu, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Setelah itu, memulai sarapannya.
" tunda rapat lagi ini" kata Jordan pada asistennya, sebelum menemui Aretha di ruang tamu. Jordan tersenyum ke arah Aretha, Aretha menyambut ke datangan sang ayah dengan senyum bahagia.
" iya, katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Ayah akan mendengar ya" mata Aretha berbinar mendengar itu. Dia bingung harus memulai dari mana. " ada apa? Apa terjadi sesuatu atau ada yang kamu inginkan"
Aretha menggelengkan kepalanya " ini soal ta'aruf itu ayah. " Aretha menjeda " apa menurut ayah, bang Kahfi pantas untuk aku. Apa aku tidak akan menjadi benalu di keluarga mereka nantinya? " ucap Aretha menundukkan kepalanya.
" kenapa berkata seperti itu? Apa terjadi sesuatu " Aretha menjawab dengan gelengan, Jordan mendekat, ia duduk di samping Aretha dan merangkul pundak Aretha. " Nak, kamu adalah putri ayah satu satunya. Tidak akan ayah biarkan laki-laki manapun menyakiti kamu, baik secara fisik, dan apa pun bentuknya. "
Jordan membawa Aretha ke dalam dekapannya " ayah percaya nak Kahfi laki-laki yang tepat untuk mu, ayah juga yakin keluarga mereka tidak seperti yang kamu bayangkan." Jordan melepas pelukannya dan menatap sang putri.
" Kamu menyukainya kan?" Aretha tidak langsung menjawab, dan akhirnya menjawab dengan anggukan " Dia juga menyukai mu nak, kalian saling mencintai. Jangan menunda sesuatu yang halal. tuhan tidak menyukai itu. "
" tapi bang Kahfi pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari aku. aku takut, bang Kahfi tidak akan nyaman dengan ku, karena masa lalu. "
" tidak nak, walaupun ayah baru mengenal nak Kahfi, tapi ayah bisa menilai, laki-laki seperti apa dia. " Aretha menatap wajah laki-laki yang ia ingin selalu didekatnya. " orang yang mencintai kita tidak akan melihat masa lalu kita, tapi akan terus melihat kedepannya. Maka dari itu, pantaskan diri mu untuk dia, agar ia selalu merasa nyaman dan bersyukur punya kamu"
Aretha memeluk sang ayah, kata-kata yang baru saja di ucapkan itu seperti berkaitan dengan apa yang di katakan sang ibu di dalam mimpinya semalam. ia seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaan belakangan ini.