
" Mas, ummi nyuruh kita ke ndalem" ucap Khalisa meletakkan ponselnya itu di atas meja. Ia kemabli merapikan kerudungnya.
" Yang telpon tadi ummi?" Gus Yusuf berjalan menuju lemari mengambil baju.
" Iya, kata ummi mau bahas tentang ta'aruf yang akan di lakukan bang Kahfi"
" Ya, udah. Tunggu sebentar ya."
sekarang keduanya sudah sampai di ndalem, disana juga ada Kahfi, Ismail dan ummi Salma.
" assalamualaikum ummi Abi bang. "
" waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" Jawab mereka dengan serentak menjawab salam suami istri ini.
" Abang juga disini? Khalisa pikir Abang sibuk" Khalisa sengaja seperti itu, sebelumnya abangnya sangat sibuk dan sekarang seperti tidak punya pekerjaan yang selalu hadir di setiap mereka kumpul, jujur saja khalisa cemburu..
" dek, kenapa mukamu sangat sinis seperti itu?" tanya Kahfi melihat muka sini adiknya yang tidak seperti biasanya.
" Siapa yang sini, biasa aja. ummi aku lapar, apa puding semalam masih ada?" tanya khalisa tidak mau berdebat dengan Kahfi.
" masih sayang, mau ummi ambilkan." tawar ummi Salma.
" tidak ummi, biar khalisa saja. " Kahfi melihat kepergian adik semata wayangnya, tidak biasanya khalisa bersikap seperti ini padanya.
" Apa kalian berdua ada masalah?" tanya Kahfi pada adik iparnya, apa Khalisa bersikap seperti itu karena moodnya kurang baik hari ini.
" Tidak bang, kami baik-baik saja" Jawab Gus Yusuf apa adanya, dia juga heran kenapa istrinya bersikap seperti itu pada kakak iparnya.
" mungkin moodnya kurang baik, itu biasa terjadi pada ibu hamil seperti khalisa" Kata Ismail.
Sementara di dapur, khalisa mengambil satu box puding bukan untuk di makan melainkan untuk di cincang. Entah mengapa melihat Abang membuat mood menjadi hancur, nafsu makannya hilang begitu saja..
" Aku rindu Abang ku yang dulu" lirik sedu Khalisa, air matanya jatuh begitu saja, untung dapur ini sepi hingga khalisa leluasa untuk menumpahkan tangisannya.
" astaga Ning, kenapa?" tanya salah satu mbak yang berkerja di sini. Dia sangat terkejut melihat menantu ummi Salma sedang menangis di dapur seperti ini, apa yang terjadi?.
" aku baik baik saja mbak. Mbak tenang saja" jawab khalisa menghapus air matanya, tapi tidak menghentikan air mata itu berhenti mengalir.
" baik baik saja gimana Ning? apa yang terjadi Ning? Atau perlu mbak panggilkan Gus Yusuf ke sini?" ucapnya khawatir.
" tidak mbak, aku cuma sedih karena ini" Khalisa menuju box puding yang sudah tidak berbentuk lagi.
" apa karena ini Ning menangis?" tanyanya seperti tidak percaya Kalau hanya itu yang membuat Khalisa menangis sederas itu, khalisa menganggukkan kepalanya.
" astaga, mbak kira karena apa, kalau Ning mau mbak bisa buatin Ning yang bentuknya lebih bagus dari ini. "
" beneran mbak?" tanya khalisa antusias.
" iya, bentar mbak ambil cetakannya dulu" beberapa saat kemudian, ia kembali membawa beberapa cetakan berbagai bentuk.
" Ning maunya yang mana?" tanyanya, memperlihatkan semua cetakan itu.
" aku mau yang ini dong, kita buat bareng bareng ya mbak" khalisa pun tidak kembali ke ruang tengah, ia asik membuat puding bersama dengan Sik mbak.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi Khalisa seperti tidak menghiraukan keberadaan Kahfi di antara mereka, ia sibuk bermanja-manja dengan suaminya.
Kahfi yang melihat itu merasa sangat pedih di matanya, sejak tadi ia mencuri pandang pada sang adik, tapi Khalisa tidak pernah melirik kearahnya.