Khalisa Humaira

Khalisa Humaira
61



Khalisa menghampiri Kahfi yang sedang melihat ke arah dirinya, melihat ke hadiran khalisa, Kahfi berdiri sebagai bentuk penyambutannya.


Keduanya duduk dengan hening, satu sama lain masih sibuk dengan pikiran masing masing masing. Dan lada akhirnya kata maaf terucap dari mulut Kahfi.


" Maaf " ucap Kahfi dengan menundukkan kepalanya " Abang tahu kamu pasti marah, sedih setalah membentak mu kemarin. Abang tidak suka di acuhkan seperti itu dek, lebih lebih itu kamu dek. Rasanya hati Abang seperti di hujani anak panah. " curhatan hati Kahfi.


" aku hanya kecewa dengan Abang, sebelumnya Abang pernah bilang kalau akan ada waktu untuk Khalisa, tapi nyatanya Abang tidak menepati janji itu. Khalisa hanya ingin waktu Abang, walau pun ada mas Yusuf di samping ku, tapi tetap saja aku menginginkan kehadiran Abang juga. "


Hening


" Hanya Abang tempat ku pulang, ketika aku ada masalah dengan mas Yusuf. khalisa ngerti kalau Abang itu sibuk, tapi sesibuk apapun, tolong kabari khalisa. Apa Abang sudah melupakan Khalisa?"


" dek bukan begitu?"


" lalu apa bang? Akhir akhir ini, aku seperti tidak punya keluarga, walau pun mas Yusuf, ummi, Abi selalu ada untuk ku tapi tetap saja aku merasa kurang bang. dari kecil hingga menikah cuma Abang tempat curhat ku, tapi apa? sekarang aku seperti tidak punya keluarga lagi"


Tangis khalisa tidak bisa di bendung, ia terus mencurahkan isi hatinya dan disertai isakan tangisnya. Kahfi yang mendengar itu langsung mendekat dan memeluknya.


" maaf, Abang salah. Maaf " ucap Kahfi memeluk khalisa, ia juga sama terisak setelah mendengar ungkapan hati khalisa.


" bang janji kan selalu ngabarin aku, aku khawatir bang. cuma Abang yang aku punya, jika terjadi sesuatu nanti, kemana aku pulang bang" ucap khalisa terisak di pelukan Kahfi.


" Abang janji, maafin Abang" keduanya sama sama terisak di dalam pelukannya. Sedikit tenang, Kahfi melepas pelukannya, ia mengusap air matanya. Keduanya tangannya ia gunakan memegang kedua pundak khalisa.


" maaf sudah membuat mu menangis" Kahfi mengusap air mata yang membasahi pipi khalisa. " kamu mau kan maafin Abang" kata Kahfi berharap mendapatkan maaf dari sang adik.


Bukan hanya pada khalisa ia merasa bersalah, ia juga merasa bersalah pada sang Abi, dulu ia berjanji akan menjaga khalisa, tapi apa sekarang, Putri kecil mereka menangis karena dirinya sendiri.


" apa dia baik di dalam sana?" tanya Kahfi mengelus perut khalisa.


" iya, dia baik. Bagaimana kelanjutan ta'arufan Abang sama Aretha? Sudah sejauh mana?"


" masih tahap awal dek, Abang belum membaca semua CV Aretha, masih separuh. " khalisa mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


" Aku doakan semoga Abang dan Aretha berjodoh." khalisa menatap Kahfi " walau pun Abang sudah menikah nanti, aku ingin Abang menghubungi ku"


" aamiin, iya. Abang akan selalu menghubungi mu, Abang janji tidak akan ingkar janji kali ini. "


Sementara di meja makan, Gus Yusuf sudah selesai menyiapkan makanan malam. Cukup lama ia berdiam diri disana sampai akhir ia memutuskan untuk melihat apa yang sedang istri dan kakak iparnya lakukan.


melihat istri dan kakak iparnya sepertinya sudah baikkan, baru lah gus Yusuf menghampiri mereka.


" Sayang makan malamnya sudah siap" ucap Gus Yusuf. " bang ayok kita makan" ajak Gus Yusuf.


" ayok, yang masak malam ini mas Yusuf. Abang harus coba masakannya."


Mereka meninggalkan ruang tengah, dan pergi ke ruang makan.