
Masih di situasi yang sama...
Sedang di rumah tuan Ardan sepeninggal Jonathan dan yang lainnya saat ini Arneta sedang duduk berhadapan dengan sang ayah.
"Papah, jawab pertanyaan dari Anet dengan jujur" ucap Arneta benar benar dengan wajah yang serius.
"Pertanyaan apa sayang" jawab lembut sang ayah.
"Apa yang papah lakukan hingga tuan muda keluarga Yan itu marah seperti tadi" tanya Arneta dengan wajah serius menatap sang ayah.
"Papah gak ngelakuin apa apa sayang, tadi papah hanya bilang karena dia memilih Ana jadilah Lia kabur karena sedih orang yang dia sukai memilih gadis lain" ucap sang ayah yang hanya menoleh sebentar ke wajah sang anak.
Mata Arneta menyipit memandang ke arah sang ayah "Beneran cuman itu aja gak ada yang lain, tapi mengapa Anet lihat tuan muda itu sangat marah hem"
"Dia lebay sayang udah ah papah capek mau istirahat ya" ucap sang ayah berdiri dan mendekati sang anak lalu mengecup pucuk kepala Arneta.
Kita kembali ke kediaman paman Aran...
Saat ini semua orang masing masing berada di kamar mereka.
Tak terkecuali Aprilia, dirinya saat ini memikirkan perkataan dari Arneta tentang Juliana semalam.
Dirinya berpikir entahlah semua awalnya baik baik saja, dirinya dan Juliana saling sayang menyayangi. Kedekatan mereka seperti saudara kandung bukan seperti saudara sepupu.
Kedekatan itu berubah saat dirinya dan Juliana berkuliah. Entahlah tapi tiba tiba saja ada rasa tak suka dengan Juliana di tambah most wanted di kampus itu menyukai sepupunya itu.
Tapi mengingat semua perkataan dari Anet sedikit banyaknya membuka pikiran gadis itu.
"Ah, aku memang merasa sedikit keterlaluan selama ini padanya, oh bukan sedikit tapi banyak hah. semenyedihkan itu kau Lia" gumam gadis itu.
Sedang di kamar Juliana...
"Aku harus bagaimana, kalau aku melanjutkan perjodohan ini itu akan membuat luka yang semakin dalam pada Lia"
"Tapi kalau aku membatalkan entah apa yang akan terjadi pada keluarga bibi"
Juliana merenung di depan jendela kamarnya, sedih yang gadis cantik itu rasakan saat ini.
"Ya Tuhan aku harus apa sekarang?"
Kita pindah ke kediaman tuan Jerry Yan...
Jonathan masuk ke dalam rumahnya
"Sayang bagaimana acara kencan kamu lancarkan?" tanya sang ibunda yang muncul dari arah dapur dengan membawa nampan dengan 4 cangkir berisi kopi dan teh disana.
Jonathan menaruh nampan itu kemudian dirinya ikut duduk di sana
"Ada apa boy" tanya sang ayah saat melihat anaknya diam seperti itu.
Jonathan duduk tegap dan menceritakan semua hal yang terjadi hari ini pada semua keluarga nya itu.
"Heh tak menyangka kalau Ardan itu akan ikut campur masalah anak Aran itu" ucap tuan Jerry Yan.
Tuan Jerry Yan mengambil gadgetnya dan menelpon seseorang
"Halo, kamu mansion ku sekarang, ada yang ingin saya tanyakan"
"....."
"Baiklah saya tunggu kamu"
kemudian tuan Jerry Yan mematikan panggilannya.
"Papah memanggil Gibran kemari buat apa?" tanya Jonathan penasaran
"Nanti kau akan tau boy" balas sang ayah
Tak tak tak
Suara sepatu melangkah ke arah tuan Jerry Yan berada.
"Selamat malam tuan Jerry Yan" sapa seseorang dengan sedikit menunduk memberikan hormat pada pemimpin kerajaan bisnis Yan itu.
"Kau sudah tiba Gibran, duduklah kemari" balas tuan Jerry Yan.
Jeng jeng jeng
Ada pemeran baru lagi nih!😁
Nama udah tau ya Gibran siapa sih cowok satu ini
Nantikan di bab selanjutnya ya😉
📌 Gambar by pinterest
Jangan lupa untuk dukung karya receh Aya ini dengan cara like komen tambah favorit juga rate bintang lima bila berkenan gift atau vote terimakasih 😘.
...Salam hangat dari Aya ❤️...