
"Tapi Nyonya, apakah pantas keponakan saya itu menjadi menantu keluarga Nyonya?" tanya paman Aran.
"Memang siapa yang bilang tidak pantas pak Aran?"
"Saya sangat mengenal siapa Ana, dari itu saya sangat yakin bahwa Ana gadis terbaik untuk menjadi istri dari cucu saya" ucap grandma Lin lagi.
"Apakah bantuan Nyonya tadi sebagai jaminan untuk Ana dapat menikah dengan cucu Nyonya?" tanya paman Aran.
"Terserah pak Aran saja mau bagaimana menganggap masalah hutang pak Aran itu, satu yang pasti bahwa saya menginginkan Ana menjadi istri cucu saya" ucap grandma Lin dengan sedikit lebih tegas di karenakan grandma Lin melihat bahwa paman Aran sedikit tidak menyetujui bahwa Juliana harus menikah dengan cucunya.
Sedangkan paman Aran terdiam jujur saja dirinya enggan untuk menyetujui hal itu karena paman Aran ingin melihat Juliana sukses dan meraih cita citanya tapi jikalau keponakannya itu harus menikah dengan lelaki yang malahan tidak dikenalnya sama saja Juliana akan menderita.
Cukup lama diantara mereka bertiga terdiam, akhirnya grandma Lin membuka suaranya.
"Lusa saya akan datang untuk melamar Ana, jadi bersiaplah" ucap grandma Lin.
Paman Aran masih diam mematung mendengarkan hal itu.
Grandma Lin akhirnya berdiri dan berkata lagi "Urusan saya sudah selesai, kalau begitu saya pamit pulang pak Aran" sedangkan paman Aran tersentak kaget setelah mendengar suara grandma Lin ternyata sedari tadi paman Aran melamun.
"Ah iya Nyonya sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan Nyonya karena membantu saya melunasi hutang hutang saya" ucap paman Aran sembari menundukkan kepalanya.
Grandma Lin dan sang asisten pamit undur diri. Setelah sang istri, bibi Asih pulang dari pasar paman Aran menceritakan semuanya pada sang istri. Bibi Asih hanya diam mendengarkan, jujur saja beliau juga sedih mendengar hal itu tapi mau bagaimana lagi semua hutang mereka lunas tapi sang keponakan yang harus menjadi gantinya.
*****
Setelah sang bibi menceritakan semuanya, Juliana hanya tersenyum menanggapi semua itu. Dirinya membelai tangan sang bibi dan berkata "Ana tak apa bi, Ana akan menerima lamaran mereka, kalau bukan karena Nyonya itu mau membayar hutang kita mungkin saat ini kita sudah luntang lantung di jalanan".
Sang bibi hanya memandang wajah sang keponakan beliau sebenarnya tidak tega sama sekali harus menyuruh Juliana menikah hanya karena balas budi bayar hutang apalagi hutang yang tak ada sangkut pautnya dengan Juliana sendiri.
"Maaf sayang karena paman mu kau harus berkorban seperti ini" ucap sang bibi sambil terisak.
Juliana memeluk sang bibi dan menepuk pundaknya pelan dan berkata "Bibi Ana mohon jangan menangis, Aja serius tidak apa apa bi" mendengar hal itu makin terisak lah sang bibi.
"Doakan saja agar Ana bisa membangun rumah tangga yang harmonis nantinya semoga saja ini pernikahan pertama dan terakhir untuk Ana" ucap Juliana yang masih setia memeluk dan menepuk pundak sang bibi.
Bibi Asih hanya mengangguk anggukan kepalanya di karenakan sang bibi masih menangis.
Juliana melerai pelukannya dan menatap wajah sang bibi yang sembab karena menangis "Lebih baik bibi sekarang istirahat ya karena Ana juga mau membersihkan diri" sang bibi mengangguk.
Setelah itu mereka masing masing kembali ke kamar.
Jangan lupa untuk dukung karya receh Aya ini dengan cara like komen tambah favorit juga rate bintang lima bila berkenan gift atau vote terimakasih 😘.
...Salam hangat dari Aya ❤️...