
Flashback on
Arneta mengajak Aprilia untuk bertemu dengan Juliana dan calon tunangannya itu.
"Aku penasaran seperti apa cowok yang di sukai oleh Lia" gumam Arneta.
Mereka berdua sekarang sudah berada di mana Juliana dan yang lainnya berada.
"Hai semua" ucap Arneta sembari tersenyum.
Juliana dan yang lainnya menoleh. Juliana ikut tersenyum melihat sahabat lamanya.
Arneta melepaskan genggamannya di tangan Aprilia dan mendekati Juliana.
"Ana" sapa Arneta setelah itu mereka berpelukan.
"Anet, kapan kamu pulang? Aku sangat rindu padamu" balas Juliana.
"Aku pun sangat merindukan mu dan yang lainnya. Aku baru tiba malam tadi jadi belum kemana mana"
"Ah nanti kita jalan bareng ya"
"Ok, next time kita jalan bareng Ana"
Setelah itu pandangan Juliana berpindah ke arah belakang Arneta.
Juliana hanya melihat kesedihan di mata sepupunya itu.
"Duduk lah Lia" ucap tuan Ardan, dan di angguki oleh Aprilia.
Mereka saat ini berhadapan satu sama lain.
"Lia, kau paham apa akibat dari kamu kabur dari rumah" ucap Jonathan dingin.
Sedangkan Aprilia hanya menunduk, jujur saat ini dia merasa takut ada hawa yang sangat menyesakkan melihat Jonathan yang berbicara sangat dingin itu.
"Hei kau anak tuan Jerry Yan terhormat, bisa tidak bicara dengan seorang gadis lembut sedikit jangan terlalu dingin" ucap tuan Ardan sinis.
"Hahaha, Anda sadar dengan apa yang Anda ucapkan barusan"
"Sadar, sangat sadar. Memangnya kenapa?"
Jonathan tersenyum remeh "Lalu sebelum kedua gadis ini berada disini, apa yang Anda lakukan pada kekasih saya?".
Tak kalah kaget Aprilia dan yang lainnya juga.
"Ternyata pria ini sangat mencintai Ana" gumam dalam hati Arneta, dirinya tersenyum mendapati hal ini.
Sedangkan Aprilia hanya menunduk sedih. Kalau tuan Ardan, dia tetiba saja mengepalkan tangannya.
Entah apa alasan sebenarnya bahwa tuan Ardan sangat tidak suka dengan Juliana.
"Tapi.." belum sempat tuan Ardan melanjutkan perkataannya sang anak tiba tiba saja memotong
"Apa maksud Anda? Apa yang papah saya lakukan sebelumnya?" tanya Arneta
"Ah sayang papah tidak melakukan apa-apa dia saja yang lebay" balas sang ayah.
Arneta memandang sang ayah kemudian pandangan nya beralih ke arah Jonathan seakan minta penjelasan.
Dilihat dari keadaan sekarang, satu hal yang Jonathan simpulkan bahwa tuan Ardan sangat menjaga perasaan sang anak gadisnya, dirinya itu tak ingin terlihat buruk di hadapan sang anak.
Baiklah Jonathan mengalah tidak melanjutkan lagi pembicaraan tentang sikap tuan Ardan terhadap Juliana tadi.
Semua kembali hening, akhirnya Arneta lah yang angkat bicara.
"Lia, bukan aku mengusir mu, hanya saja lebih baik masalah ini di selesaikan dengan kepala dingin dan secara terbuka. Ingat pesanku malam tadi! Pulanglah bersama Ana, nanti kapan kapan kamu bisa kemari lagi tapi tidak dengan alasan kabur dari rumah"
Aprilia memandang ke arah Arneta setelah itu dirinya mengangguk.
"Tuan Jo maaf atas sifat papah saya kalau ada membuat diri Anda tersinggung dan Ana maafkan papah juga ya" ucap Arneta lagi.
Tuan Ardan hanya diam melihat mereka semua. Entah apa yang dipikirkan nya saat ini.
Akhirnya Jonathan Juliana dan Aprilia berpamitan pulang dari sana.
Dalam perjalanan semua diam, tak ada yang berbicara satu katapun.
Sedang di rumah tuan Ardan sepeninggal Jonathan dan yang lainnya saat ini Arneta sedang duduk berhadapan dengan sang ayah.
"Papah, jawab pertanyaan dari Anet dengan jujur" ucap Arneta benar benar dengan wajah yang serius.
"Pertanyaan apa sayang" jawab lembut sang ayah.
"Apa..."
Jangan lupa untuk dukung karya receh Aya ini dengan cara like komen tambah favorit juga rate bintang lima bila berkenan gift atau vote terimakasih 😘.
...Salam hangat dari Aya ❤️...