
"Terimakasih atas jamuan makan siang nya pak Aran" ucap tuan Jerry.
"Kami yang sangat berterima kasih karena kalian suka rela mau makan makanan sederhana yang di siapkan istri saya ini, di bandingkan dengan makanan kalian pasti sangat jauh berbeda" ucap paman Aran merendah.
"Tidak juga pak, makanan yang di buat oleh Bu Asih dan Ana sangat enak, tak jauh berbeda dengan chef chef itu" ucap tuan Jerry.
"Iya pak, makanan kalian sangat enak sangat pas di lidah kamu" ucap nyonya Aini.
Nyonya besar Lin dan Jeslin mengangguk kan kepala mereka menyetujui ucapan dari nyonya Yan itu.
Sedangkan Jonathan tidak keliatan di antara mereka, kemana pria tampan satu itu?
Ternyata oh ternyata Jonathan saat ini masih di dalam rumah bersama Juliana. Jonathan pulang belakangan karena dia bawa mobil sendiri. Pria tampan satu ini masih enggan untuk pulang.
Saat ini Jonathan dan Juliana sedang duduk di ruang tamu.
"Besok ada acara Ana?" tanya Jonathan membuka obrolan mereka.
"Selain ke kampus tidak ada" balas Juliana.
"Kalau begitu bisa pergi bersamaku Ana" pinta Jonathan dengan suara memelas dan wajah di imutkan.
Juliana tersenyum melihat wajah Jonathan seperti itu "Bisa" jawab singkat dari Juliana tapi mampu membuat pria di depannya itu bersorak bahagia.
"YESSS" sembari berdiri dan memukul angin.
Juliana tersenyum melihat hal itu.
"Ah kalau begitu aku pamit sekarang ya kau istirahatlah" ucap Jonathan yang sebenarnya enggan pergi tapi melihat wajah lelah di gadisnya itu tak tega membiarkan dirinya berlama lama di sana.
"Iya, terimakasih. Kamu juga balik hati hati di jalan terus langsung istirahat juga" ucap Juliana dan hal itu membuat Jonathan sangat bahagia.
*****
Setelah kepulangan keluarga Yan dan disusul oleh Jonathan saat ini paman Aran dan bibi Asih sedang duduk di ruang tamu dan Juliana juga ada di sana.
"Sayang, kamu beneran gak apa menikah dengan Jonathan?" tanya sang bibi sembari membelai rambutnya
Deg
Juliana baru teringat dengan Aprilia. Bagaimana dengan sepupunya itu.
Juliana menoleh ke arah sang bibi dan mengangguk kan kepalanya.
"Baiklah sayang"
Sepeninggal Juliana terjadi obrolan antara dua suami istri itu.
"Yah, menurut ayah bagaimana keluarga Yan itu"
"Hm, kalau menurut ayah sih mereka baik bu. Meskipun mereka orang kaya tapi mereka menghargai orang lain tidak memandang dari status ataupun kasta"
"Dan ya, ayah lihat nak Jo itu menaruh hati pada Ana. Sangat terlihat jelas dari nak Jo memandang Ana"
"Iya sih yah, ibu juga liat nak Jo tidak lepas pandangan dari Ana"
"Kita percayakan saja pada takdir bu, semoga Ana dapat yang terbaik hidupnya akan bahagia selalu"
"Iya pak, rasanya sudah cukup kesedihan yang Ana lewati selama ini"
Sedangkan Juliana saat ini sudah berada tepat di depan pintu kamar Aprilia.
Tok tok tok
"Lia, ini aku Ana, boleh masuk gak?"
Tak ada sahutan dari dalam dan Juliana kembali mengulang ketukan di pintu
Tok tok tok
"Lia, aku masuk ya"
Krieet
Pintu terbuka Juliana berjalan ke arah tempat tidur sepupunya itu.
Juliana duduk pelan di samping ranjang, dirinya memandang wajah Aprilia yang sedikit memerah serta lebih dominan merah di hidungnya.
Juliana membelai lembut wajah Aprilia.
"Apakah kau menangis?" gumam Juliana dengan wajah sendunya.
Jangan lupa untuk dukung karya receh Aya ini dengan cara like komen tambah favorit juga rate bintang lima bila berkenan gift atau vote terimakasih 😘.
...Salam hangat dari Aya ❤️...