IceCream

IceCream
65:[ Panass



"Pelangi pelangi, alangkah indahmu merah kuning hijau dilangit yang biru... "


Dibalik pagar berwana hijau kini dua orang remaja tengah menatap bosan barisan murid anak TK yang kompak menyanyikan lagu 'pelangi-pelangi' dipimpin oleh gadis cilik bertopi merah.


"ONAAA!! MANGAP YANG LEBAAARR!!" Ucap si bocah pemimpin dengan lantang.


Anak yang diketahui bernama Ona itu hanya bisa mengangguk dengan takut tanpa berani menatap sang ketua.


"Ebuset adek lo mirip kakaknya"


"Ya kan emang sedarah!" Mila menjawab tanpa menolehkan wajahnya dari cermin kecil.


Kini Liza tengah berada di TK AWANG-AWANG yang menjadi sekolah adik Mila. Tempatnya cukup jauh dari rumah Liza oleh karena itu Mila harus rela panas-panas menjemput Liza demi menemani dirinya mengawasi sang adik yang saat ini tengah bersiap ikut lomba yang entah apa namanya, Mila tidak perduli bahkan dia terlihat masa bodo dengan adiknya.


"MIA! KAMU JUGA NYANYINYA YANG BENER, JANGAN SALAHIN ONA TERUSS!!" Ucap salah satu bocah lelaki yang berdiri di samping anak bernama Ona.


Mia tampak tidak perduli dengan protes temannya, bahkan bocah yang merupakan adik dari Mila itu sibuk merapihkan rambut pendeknya.


"MIAA!! KALO ORANG NGOMONG TUH DI DENGERIN!!"


"APASIII?? KAN AKU KETUANYAAA!!"


"KAMU BURUK JADI KETUA"


"A-AKU BURUK??!" Mia tampak emosi. Bocah itu berjalan mendekati temannya yang protes tadi lalu—


BAGHH!


"Mil, Mil!!" Liza menepuk pundak Mila berulang kali namun karena Mila masih tidak meresponnya, terpaksa Liza menolehkan kepala Mila dengan paksa hingga mengeluarkan bunyi kretek khas tulang lansia. "Apasih?!!"


"Adek lo jotos-jotosan!"


"Masih TK wajar lahh" Mila menatap sebal temannya itu sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.


"Wajar matamu Mil?! itu adek lo udah ambil ancang-ancang buat SmackDown temen— Ck!" Pada akhirnya Liza melompati pagar kecil yang menjadi pembatas antara area luar dan halaman TK. Liza berlari menerobos ibu-ibu yang terlihat tidak perduli dengan keributan di tengah halaman itu.


Dengan sekuat tenaga Liza menarik tubuh Mia menjauh dari anak lelaki yang sudah babak belur tidak karuan dibawahnya.


"Mia istigfar Mia!! Astaghfirullah" Liza semakin kalang kabut ketika Mia melayangkan bertubi-tubi pukulan yang beberapa mengenai wajah juga mata kanan Liza. Walau matanya kini nyut-nyutan Liza masih tidak melepaskan tangannya dari tubuh Mia. Sungguh dibandingkan matanya kondisi bocah laki-laki dibelakangnya jauh lebih parah.


Liza menoleh ke arah Mila yang ternyata masih memandangi cermin kecilnya. Percuma saja jika ia berteriak meminta pertolongan pada temannya itu.


Prittt!!


Suara peluit mengambil alih arah mata Liza. Dengan rok pilsket serta cardigan serba biru, gadis yang sepertinya bukan guru itu berjalan cepat ke arah mereka dengan membawa pita merah panjang. Dengan sekali tarikan gadis itu menarik tubuh anak lelaki mengenaskan itu menjauh dari Mia.


Walaupun anak lelaki itu sudah pergi dari hadapan Mia, gadis kecil itu masih tetap meraung-raung layaknya orang kesetanan.


"Ini di iket aja gimana?" gadis itu menoleh pada Liza lalu melepas topi yang menutupi wajahnya.


"Gebi?!"


###


Kini di bangku taman TK, Liza, Mila, Gebi beserta Mia—adik Mila dan Ona yang ternyata adik Gebi, duduk sambil menyantap ice cream dibawah teriknya matahari siang ini.


Mia tampak menjahili Ona dengan menjilat ice cream milik Ona yang terlihat masih utuh dibanding milik Mia yang tinggal setengah.


Nampaknya perdebatan kecil antara dua bocah itu tidak diperdulikan oleh kakak mereka. Mila dan Gebi masih asik memainkan ponsel mereka, bahkan mereka membiarkan ice cream nya menetes membasahi celana.


Menghela napas, Liza bangun dari duduknya lalu berjalan santai mendekati dua bocah yang masih berdebat kecil.


Bugh!


Dengan sekali dorongan kecil Liza berhasil menumbangkan tubuh kecil Mia hingga anak itu terjatuh dari kursinya pendeknya. "sekali lagi lu gangguin si Ona lihat aja, gue sumpelin mulut lo pake sandal" ucap Liza tajam membuat Mia dan Ona ketakutan.


"Biarin aja elahh... bocah mah kalo temenan emang gitu. Entar kalo udah jotos-jotosan baru dipisah"


Liza menoleh pada Mila lalu menekuk tangan kanannya dipinggang "Gue tuh bukan kasihan sama adek lo mil, tapi sama si Ona. Lihat noh dia korban bully nya adek lo"


"Ck, dia di rumah juga gitu" Gebi menyahut


"Kayaknya adek lo ga pernah bahagia deh geb"


"Yang penting adek gue ga se cengeng lo"


Liza menggigit bibir bawahnya, ia mengkode Gebi agar tak membahasnya saat ini apa lagi di samping Gebi terdapat Mila yang antusias menyimak.


"Gimana?" Tanya Mila meminta penjelasan lebih lanjut dari Gebi.


"Lo temennya kan? masa dia ga cerita kalo habis kekunci di toilet kemaren?"


Liza menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Wasalam sudah, nanti malam grup chat kelasnya akan ramai orang-orang yang menggibahi dirinya.


Gebi menceritakan kejadian kemarin dengan sangat rinci pada Mila, Mila pun terlihat sangat senang bahkan dia sempat-sempatnya bertanya apa Gebi memfoto wajah Liza yang menangis ditoilet kemarin.


Saat ini Liza hanya bisa pasrah semoga saja Mulut ember Mila tidak bocor dikelas mereka... juga kelas lain.


###


[ADA UJIAN HARAP BERSABAR!]


Kaylalala


Gimana ualngan nya teman-teman??


lancar kah?


Sisca


Not bad


Putra


Halah, sok enggres


Dion


Lambemu meneng o put


Putra


Dih


Mental tempeee


Dion


_-


Putra


Sono kalo berani besok


Dion


Lo apaan dah? Masih ga Terima yang kemaren?


Putra


Lo yang apaan?! udah bagus gue kasih tau!


Dion


Lo ga ada hak buat ikut campur


Putra


Emang harusnya gue suruh dia ngomong sekarang daripada nunggu lo kelamaan. Besok jangan nyesel ye🙏


Dion


Apaan??


Kayla


Apa ini semua berawal karena gue?


Apa gue yang salah?


Tapi gue penasaran sama ulangan kalian tadi:(


Kalo gue ada salah maap ya😭


Ayo baikan lagi😀


Alya


Iya kay, salah lo


Jadi besok traktir kita bakso ya


Entar baru kita maafin


Sisca


Kay! jangan mau Kay!!


Milaa


Assalamu'alaikum aing datang bawa kabar hot!


Triya


Apa?


Alya


Palingan juga ada diskon kosmetik terus dia mau ngutang 💅


Mila


Dih sotauuu


Triya


Apa apaa?


Mila


Liza...


Kayla


Kenapa?


Sisca


Wah apa nih


Triya


Apaaaaaaaa?


Sisca


Jangan bersambung oy!


Ting!


Bug!


Liza membanting ponselnya ke kasur, membiarkan notifikasi grup chatnya terus berbunyi tanpa henti. Ia yakin orang-orang yang tadinya hanya menyimak kini mengeluarkan seribu satu pertanyaan pada Mila.


###


Bulan ke berapa ini? Apa kemarau sudah datang?


Baru pukul 11.00 siang terik matahari sudah sepanas ini, bahkan angin yang berhembus pun ikut terasa panas. Alan yakin bila ia memanggang daging di aspal pasti akan matang sempurna.


Dengan kaos putih polos serta celana se lututnya ia beserta adiknya pergi ke minimarket dengan membawa selembar kertas catatan belanja mereka.


Alan membiarkan adiknya berdiri di depan kulkas yang terbuka sementara dirinya mencari satu persatu hal yang tertulis di kertas dengan tulisan khas ibunya.


Alizya Claura Angkasa, gadis 100% waras yang kini kewarasannya mulai diragukan orang-orang karena memakai mantel hitam tebal yang membungkus tubuhnya disiang yang teramat panas ini. Ia rela banjir kringat hanya karena takut teman-temannya mengejeknya karena mulut ember Mila di grup kelas tadi.


Liza mengipasi wajahnya yang memerah dengan telapak tangannya, ia sudah tidak tahan dengan panasnya hari ini, bahkan AC dalam minimarket pun tak berasa.


"Mbak, pop es anggur ada?" Tanya Liza pada pegawai yang ada di dekatnya


"Maaf—"


"Lo pikir warung hah?" Alan menyahut dengan suara bak speaker dari rak buah yang cukup jauh dari Liza. Untung pelanggan di minimarket ini hanya mereka berdua.


Ia sudah tidak kuat lagi. Liza membuka mantel tebalnya lalu menarik napas dalam-dalam.


"Liza??!"


Entah saat ini dia harus senang atau sebaliknya melihat sosok yang kini tengah menuding nya bak memergoki orang yang tengah melakukan hal tidak senonoh.


"Oi, utang lo kemaren mana?"


Antares menatap Alan lalu mengangkat tangan kanannya "Sorry Bang, gue gak ada urusan sama lo" Antares berjalan menghampiri gadis yang memasang muka datar di depan rak minuman "Lizzzzz.... za! Apa kabar neng? Makin butek ae tuh wajah"


Liza melirik Antares sekilas lalu bergeser menatap kakaknya yang sedang membayar belanjaan mereka. Syukurlah, ia sudah tidak sanggup merasakan panasnya hari ini apalagi ditambah dengan kedatangan Antares yang akan membuatnya semakin emosi.


Mengabaikan Antares, Liza berjalan menghampiri kakaknya berniat membantu membawakan belanjaan mereka yang cukup banyak.


"Bang, rumah lo ada es teh kan?"


Kini Alan mengangkat tangan kanannya kearah Antares "Sorry bro, gak ada urusan"


Alan berbalik, agak kaget melihat keberadaan bocah yang datang bersama Antares tadi masih berdiri di tengah pintu. "Lo ngapain bawa bocah SD??"


"hah, siapa? ga kenal"


Liza sudah tidak kaget lagi melihat Antares yang tidak memperdulikan adiknya. Bahkan kini Liza pun ikut memaklumi tindakan Antares yang ia anggap hampir sama dengan kakaknya. mungkin.


Mereka bertiga keluar dari minimarket, masing-masing membawa satu kresek penuh yang nantinya akan ditaruh didalam mobil. Benar saja Antares ikut pulang dengan Liza dan Alan tanpa membawa adiknya, ia hanya memberi Bella ongkos untuk pulang lalu meninggalkannya sendirian.


Untunglah Liza dapat pulang dengan tenang walaupun satu orang luar ikut bersamanya dengan tujuan yang tidak jelas. Bahkan Antares tidak membeli apa-apa, alasannya masuk kedalam minimarket tadi pun murni karena numpang ngadem. Aneh tapi mengingat sifat Antares yang sangat.... unik? sepertinya Liza bisa memakluminya.


Sayang karena terburu-buru tadi Liza tidak sempat membeli coklat dan juga ICE CREAM! Huh! padahal disaat panas-panasnya begini makan es adalah hal yang paling tepat.


Jika diingat-ingat Liza memiliki stok ice cream yang cukup untuk 3 hari namun kali ini hanya dengan sehari ice creamnya ludes entah siapa yang memakannya.


Tidak hanya Ice cream, jajanan yang lain juga ikutan habis tanpa jejak.


Liza mengamati belanjaannya yang ia bawa masuk kedalam rumah. Kali ini lebih banyak banyak dari pada saat ibunya sendiri yang belanja.


Sepertinya bahan didapur juga habis seperti jajanannya. Tidak ingin menuduh tapi kakaknya patut dicurigai karena akhir-akhir ini Alan sangat doyan makan apalagi saat tengah malam.


"Dek, daripada ngelamun mending anterin ini ke depan" Ibu Liza menyerahkan dua es teh di atas nampan yang baru saja ia buat untuk dua lelaki yang sedang bermain PS di ruang tengah.


Tidak menolak, Liza pasrah membawa dua gelas penuh itu pada dua orang sangat ribut diruang tengah bahkan suara mereka terdengar sampai dapur. Terbesit ide gila di otak Liza untuk meludahi dua gelas itu, siapa tau saja mereka bisa sedikit menurut padanya? haha, ia akan melakukannya jika ia benar-benar sudah gila.


"Alhamdulillah" ucap Antares begitu Liza datang tidak dengan tangan kosong.


Liza meletakkan gelas itu diantara dua lelaki yang kembali fokus pada layar lalu duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.


Drtt!


Getaran dari saku celananya. Semoga saja bukan pesan dari teman sekelasnya.


Liza menekan aplikasi hijau lalu tertera jelas sebaris nama diurutan paling atas.


Zio💩


Besok bawa baju ganti


Liza hanya menatap pesan dari Zio tanpa berniat membalasnya.


"Jangan ditelen es batunya!" Suara kakaknya membuat Liza ikut menatap Antares yang tengah meneguk es tes hingga tumpah-tumpah bahkan Liza dapat mendengar suara air yang menuruni tenggorokan Antares.


Antares menundukkan kepalanya saat gelasnya hanya menyisakan es batu. Ia menoleh pada gadis yang menatapnya heran "Amer sayang"


Plak! — tersangka tangan Bang Alan