IceCream

IceCream
42:)Balon Air



Lomba Pantun


Liza naik keatas panggung kecil yang terletak ditengah-tengah halaman sekolah. Sorakan orang-orang terdengar sejak nama Liza disebut sebagai peserta lomba pantun


"Gilak. Si Liza beneran ikut lomba pantun"


"Bakalan seru nih!"


"Gue kok gak yakin ya"


"BUBAR YOK BUBAR!"


Kuping Sisca dan Kayla mulai panas mendengar ucapan orang-orang yang berkumpul dibawah pangung


Sisca melepas sepatunya dan menatap orang-orang disekelilingnya "DIEM WOY! GUE SUMPELIN MULUT LO PADA PAKE DUIT NIH!"


"Katanya pake duit, tapi kok malah pake sepatu" Bisik seseorang yang masih bisa didengar Sisca


"Apa?! Diem lo!" Sisca bersiap melempar sepatunya tapi dihalangi oleh Kayla "Udah heh! Gue malu nih!"


Sisca diam dan kembali memakai sepatunya. Entah kenapa Kayla malu, padahal yang seharusnya malu tuh Sisca


"Liza silahkan membacakan pantun yang telah dirangkai" Ucap Pak anto lalu memberikan mic pada Liza


Liza menatap teman-temannya yang berada dibawah. Dia mengetuk mic memastikan mic itu sudah nyala


Oke nyala. Liza mengarik nafas panjang lalu menatap kembali orang-orang yang sudah tak sabar ingin mendengar pantun Liza


"Ehemm" Bagoss! mendadak pikunnya Liza kumat. Liza menatap langit-langit, berusaha mengingat


Para juri juga ikut melihat keatas, takut ada contekan diatas


Hah udahlah pasrah ae aku mah**!


"Ajakan jalan-jalan dari mantan


Apakah ini tanda-tanda jadian


Negara yang telah diperjuangkan


Akan selamanya aku pertahankan"


Orang-orang bertepuk tangan semakin keras


Liza mengetuk mic ditangannya "Enaknya apa lagi ya?" Tanya Liza tanpa sadar berbicara didepan Micnya yang masih menyala


Oh iya!


"Makan semangka harus dibelah


Setelah itu dipotong jangan asal makan ae!


HEH! Yang suka mecah belah


Emang gak ada akhlak lu ya! Malu woy sama pahlawan!"


Orang-orang bertepuk tangan sambil berbisik satu sama lain "Keren sih. Tapi kenapa endingnya gitu?"


"Gais ada satu pantun lagi—"


PRITTttt!!


Orang-orang menatap Pak anto yang tadi meniup peluit


"Trima kasih untuk Liza karena sudah mengikuti lomba ini, tapi ANDA DI-DISKUALIFIKASI!"


"Lah? Kenapa?"


"Koreksi sendiri dengan pantun kedua kamu"


"Lah?—"


"Heh! Udah! turun! peserta selanjutnya sudah dalam perjalanan kesini" Pak anto menunjuk cowok yang sedang berjalan menuju kemari


Liza dan para penonton kompak melihat Zio yang berjalan dengan sesekali mengusap rambutnya yang jatuh menutupi mata


"Ih sok banget!" Gumam Liza yang masih bisa didengar orang-orang karena dia berbicara didepan mic yang masih menyala


###


Liza dan Sisca membawa satu ember balon kecil berwarna warni yang belum diisi air sedangkan Kayla membawa balon besar yang juga belum diisi air


Dengan sangat hati-hati mereka menuruni anak tangga satu persatu


"Semangat kawan! Tinggal 99 anak tangga lagi" ucap Sisca mengkira-kira


"Gak gak. Gue gak kuat lagi" Liza duduk lalu meletakkan ember berisi balon itu disebelahnya


Balon tiga ember siapa yang mau ngisi air ya?. Entahlah, Liza bisa memikirkannya bersama dengan teman sekelasnya


Liza menoleh kebelakang saat mendengar suara Bu ratih yang mengeluh karena membawa ember berisi air kotor


Liza segera mengambil HPnya dan berpura-pura sedang menelepone


"Eh, untung ada kalian" Bu ratih segera menghampiri Liza dan kedua temannya


Sisca dan Kayla segera menunduk sambil merapalkan doa yang mereka hafal


Liza dan kedua temannya sudah tau pasti tujuan Bu ratih menghampiri mereka untuk meminta belas kasihan yang berujung salah satu dari mereka harus membantu Bu ratih


Apabila tidak mau ya wasalam, tangan mungil Bu ratih dengan cekatan akan mengurangi nilai yang berujung dimarahi emak


Mata tajam Bu ratih langsung menatap Liza. Senyum licik terukir diwajah Bu ratih


Ini pasti targetnya Liza!


Oooo tak semudah itu Suratih! Otak kecil Liza selalu bisa dipercaya kalau hal menghindar


Liza menempelkan HPnya ketelinga dengan dahi berkerut "Heh! Antares. Tanggung jawab lu!" Liza memulai aktingnya


Sisca, Kayla dan Bu ratih langsung menatap Liza. Pikiran mereka sudah menebak yang tidak-tidak


"Kemaren lu bawa motor ngawur banget! Lutut gue yang kemaren masih lecet ya!"


Sisca dan Kayla saling menatap. Seingat mereka berdua, kemarin Liza masak seblak bersama Kayla dan sisca untuk dibagikan keteman-teman mereka


"Bodo amat dah! Lutut gue sakit banget sekarang! Pokoknya besok lu anterin gue kerumah sakit, gue mau pijat urut disana" Ucap Liza asal


Bu ratih menggelengkan kepalanya. tak bisa diharapkan nih!


Mata Bu ratih tak sengaja menatap Sisca. Senyuman licik kembali terukir saat Bu ratih mengingat minggu lalu Sisca memfoto dirinya saat sedang tidur saat mengajar dikelas Sisca


Saat itu Sisca memfoto Bu ratih saat sedang tidur sambil ngiler banyak dan Sisca menyebarkan foto itu hingga Pak radin mengetahuinya


"Sisca~" ucap Bu ratih dengan senyumnya yang mengerikan


"Kenapa gue yang kena?" Ucap Sisca berbisik pada Kayla


"Nasib!" Balas Kayla juga berbisik


"Bisa tolong saya?" Tanya Bu ratih sok ramah


Sisca tersenyum kecut "sebenernya gak bisa sih bu" ingin sekali Sisca mengucapkan itu, tapi dia sadar apabila ucapan itu keluar nilainya akan bermasalah


Sisca menghembuskan napas panjang. Dia tetap tersenyum kecut hingga Bu ratih memberikan ember berisi air kotor itu pada Sisca


Dengan berat hati Sisca menerimanya


"Tolong buang air ini taman yang dibelakang sana ya"


"Saya turun tangga dong bu?" Bawa balon aja udah pengen pingsan rasanya lah ini bawa air!


"Kamu siram dari atas aja gapapa" Bu ratih segera pergi sebelum pertanyaan lain keluar dari mulut Sisca


"Semangat" Ucap Kayla yang sebenarnya mengejek


"Semangat pala buyut lo!" Sisca segera berbalik dan—


Bruk!!


"Eh!" Sica mengigit bibir bawahnya saat mengetahui dia menabrak Abi hingga air dalam ember tak sengaja tersiram kebaju Abi hingga air dalam ember berkurang setengah


"Kayaknya semenjak gue putusin, lo dendam banget sama gue" Ucap Abi sambil menunduk menahan emosi


"Apasih!" Sisca segera pergi sebelum ingatan masa lalunya kembali melintas dikepalanya


"Hahaha! Kena hujan dimana lo?" tanya Reyhan yang datang bersama Zio dari arah belakang Abi


Pandangan Zio terpusat pada tiga ember berisi balon. Jualan balon mereka?


"Gue pulang dulu" Abi melesat pergi dari hadapan mereka


"Heh! lo belum jawab pertanyaan gue!!" Ucap Reyhan tidak diperdulikan Abi


Reyhan menggelengkan kepalanya lalu tak sengaja matanya menatap ember berisi balon disebelah Kayla "Kayla. Lo disuruh Liza jualan balon?!"


Kayla menggeleng hendak menjawab tapi ucapan Reyhan membuatnya kembali menutup mulut


"Liza! Kalo susah jangan ajak-ajak dong! Masa anak orang cantik cantik lo suruh jualan balon"


"Heh lambe tetangga! Kalo ngomong jangan asal! Duit gue banyak. ngapain jualan balon. Unfaedah banget!"


"Lo ngapain?" Tanya Zio


Liza menatap Zio datar lalu tak lama kemudian tersenyum karena terpikir suatu hal "Lo harus bantu gue!"


###


"Hem"


"Ya jangan gede-gede jugaa!" Ucap Liza


"Banyak maunya" Gumam Zio


"Gue suruh orang aja buat ngisiin balonnya" Reyhan sudah tak kuat mengisi balon-balon ini.


"Hah~ oke!" Ucap semua orang, lega


Reyhan berdiri membuat semua menatapnya


"Gue mau nyusul Abi. Dari tadi dia gak kelihatan" Reyhan menarik tangan Zio agar berdiri


"Gak ikut" Ucap Zio singkat


"Dia tuh temen lo woi!"


"Oh"


###


Sisca menyenggol bahu Liza pelan "Lo denger gak?"


"Apaan?"


"Suara motor"


"Eh iya!" Kayla memukul bahu Sisca


ya gak usah mukul!


"Suara orang nyanyi nih!"


"Kuping kanan lo masih make earpone!"


"Hehe" Liza melepas earponenya lalu dia mulai memfokuskan pendengarannya


BRAKkk!


Akh! kuping gue!! Liza mengelus telinganya


Orang-orang menatap Dion yang masuk kelas tergesa-gesa hingga menabrak pintu


Orang-orang berpikir Dion dikejar mbak kantin karena teringat utang Dion yanh sejak kelas X masih belum dibayar "Mbak kantin ngejar lo?"


Dion menggeleng sambil mengatur nafasnya


"Kalo buka pintu bisa kalem kagak?!" Teriak Liza, masih mengelus telinganya


Dion kembali menggeleng "Anak motor sekolah sebelah pada kesini!"


"Apa?! Ngejak tawuran nih mereka!" Putra mengambil sarung dalam tasnya


"Ngapain lo bawa sarung?" tanya Liza


"Buat mukul mereka biar insap!"


"Oke kalo gitu gue bawa air buat nyembur mereka" Liham mengambil botol minum milik Kayla


"Eeh itu punya guee!!" Kayla berusaha mengambil botol minumnya tapi tak sampai karena Kayla terlalu pendek


"Pinjem bentar paling baliknya entar cuma lecet dikit"


"Kawan-kawanku doakan kita berhasil oke!" Dion menyikap lengan bajunya


"Ngapain lo? Mau tonjok-tonjokan lo sama mereka?" Tanya Sisca


"Gak sih, cuma biar keren aja hehe"


"Udah ayok! Mumpung gue masih hafal ayat kursi nih!" Ucap putra


"Emang kenapa?" Tanya Liza


"Doa sebelum menyembur anak orang. Dah lah!" Putra menarik tangan Dion dan Liham keluar kelas


"Eeh gue ikut!" Mila berlari kecil menyusul Putra


"Lah ngapain?"


"Sekolah sebelah muritnya bening-bening tau!" Ucap murit lain yang juga akan munyusul Mila


"Eh iya gue juga ikut!" Alya sang ketua kelas juga ikutan


Orang-orang keluar dari kelas menyisakan Liza Sisca dan Kayla yang menatap kebingungan


###


"Calon imam Liza datangg!!!"


Tanpa melihat pun Liza sudah tau itu suara milik orang yang selalu mengganggunya


"Balon segini banyaknya buat apaan?" Leo dan beberapa anak dari sekolah SMA Pancasila memainkan balon berisi air itu dengan berulang kali melemparnya keudara lalu menangkapnya


"Jangan sentuh itu!" Ucap Liza tajam


"Buat apaan sih?"


"Lempar air sama kelas Zio"


"ZIO?" Ucapan kompak dari anak sokolah SMA pancasila


Beberapa anak sekokah pancasila mulai berbisik


"Zio yang waktu itukan?"


"Antares masih dendam kan ya sama dia gegara dua tahun lalu"


"Ya iyalah kalo gue jadi Antares mah gue juga gak bakalan ikhlas!"


"Lo tau kan seberapa pentingnya Aqisa buat dia"


Telinga Antares terasa panas ketika nama 'itu' disebut. Rasa bencinya terhadap Zio semakin membesar


Aqisa? Siapa dia? apa hubungannya dengan Zio


"Kenapa sama dia?" Ucap antares dingin


"Menurut lo?" Ucap Zio yang tiba-tiba datang bersama teman cowok sekelasnya dan ditambah lagi puluhan kakak kelas dan adik kelas yang entah bagaimana bisa ikut kemari


"Gak adil nih! lo bawa orang segitu banyaknya" Ucap Leo


"Suka hati kita lah!" Ucap Reyhan


"Udah udah! Ini udah jam empat. Ayo main lempar balon air!" Liza dan beberapa anak lainnya mengangkat ember berisi balon air


"Taroh ditengah halaman ya!" Ucap Liza sedikit berteriak


"Sini Liza gue bantuin!" Antares mendekat pada Liza


"Gue aja!" Zio mengambil alih ember berisi balon air dari tangan Liza


"Gak usah!" Antares mengambil paksa ember dari tangan Zio


"Kalian angkat berdua aja deh! Gue mau bantuin Putra aja" Liza berlari kecil menuju Putra


"Lo aja deh" Antares meletakkan ember hingga mengeluarkan bunyi yang cukup keras


"Lo aja" Zio segera pergi dari hadapan antares


###


"Aaaaa!!" Liza, sisca dan kayla membalas melempari Dion dengan puluhan balon air


"Apa manfaatnya sih kita ikut beginian?" Ucap Reyhan pada Zio


"Nyenengin gebetan"


Reyhan memukul pelan bahu Zio "Bucin lo!"


Zio memutar bola matanya hingga tak sengaja matanya menatap Antares yang tengah menatapnya tajam


Keduanya saling bertatap lama hingga Liza melempar balon air pada punggung Antares


Antares berbalik, mengambil satu balon air besar lalu berlari mengejar Liza


"Kenapa" Tanya Zio pada dirinya sendiri


"Kenapa apanya?" Ucap Reyhan kebingungan


"Gak" Zio hendak melangkah pergi tapi teriakan Liza yang memanggil namanya membuat langkahnya terhenti


"Zio!! Kenapa baju lo masih kering?!!!!!" Liza tersenyum saat Zio menatapnya. Satu balon air berukuran berdiri ia lemparkan tepat diperut Zio


Liza mendekat pada Zio "Terkadang kita harus ngerasain dingin untuk suatu kebahagiaan" Ucap Liza asal lalu tangannya mengusap wajah Zio. Liza tersenyum berusaha menahan tawanya yang akhirnya lepas juga


Liza tertawa lepas. Dia memberikan cermin kecil pada Zio lalu Liza berlari kencang menjauh dari Zio


"Liza!" gumam Zio saat melihat pipi kanannya terdapat cat merah yang pasti karena tangan Liza


Untuk hari ini Antares dan Zio melupakan semua masalahnya. Mereka tertawa lepas karena ulah aneh Liza yang menjahili anak lain hingga dia mecoret sendiri wajahnya dengan cat merah


###