
"Pi, bangunin mereka gih!"
Suruh fani pada randi yang sedang memakan chokolate yang ditemukannya dikamar liza
Randi menyuil chokolate itu menjadi potongan kecil lalu memasukkannya kedalam mulut tiga bocah remaja yang sedang tidur dengan posisi...........mengenaskan
Tangan alan menutupi muka zio. Kepala liza berada diperut zio sedangkan kakinya diperut dan didada alan, sebelah tangan liza mencengkram leher zio. Tangan zio yang sebelah dikepala liza dan sebelahnya lagi dikepala alan
"iyww! *** cicak!"
Alan meludahkan chokolate kesembarang arah
"Heh! itu chokolate mahal! jangan disamain sama *** cicak"
Ucap randi
Randi mengemati mulut liza yang malah mengunyah chokolate itu, sedangkan zio diam saja
"Tidur kamu paling anteng loh lan"
Ucap fani
"Iya dong!"
Alan bangun lalu mengamati liza dan zio yang masih diposisi yang sama
"Anteng apaan?! yang paling anteng tuh noh, yang dipojok. Tidurnya dah kayak mayit"
Randi menunjuk zio
"Anteng banget. Kalo orang lain yang lihat bisa langsung dikubur"
Ucap fani
"Haha, iya dikira udah mati"
"Eh, mending bangunin liza dulu deh. Kasihan itu, leher zio dicengkram sama liza"
Mata Alan langsung terbuka lebar
Randi menepuk pipi liza berulang kali tapi liza masih tidak bergerak
"Alan, tolong ambilin papa air"
Tak lama kemudian alan datang dengan secangkir es jeruk
"Air biasa aja. Buat guyur adek kamu"
Seharusnya randi menyuruh fani saja
"Yaudah deh gapapa. Entar kalo adek kamu dirubungi semut jangan salahin papa lo ya!"
Randi mengguyurkan setengah es jeruk itu kemuka liza
"Ampuni liza ya Allah... jangan buat liza jadi miskin.... tolong kembalikan atap rumah liza... pliiiissss"
Liza bangun dengan kedua tangan didepan dadanya (berdoa)
"Heh. heh. sadar! sampai tujuh turunan pun harta papa gak bakalan habis"
Ucap randi
Sekarang mereka berempat sedang memikirkan bagaimana cara membangunkan zio
Bagaimana kalau ditusuk jarum? emm tidak. Liza tidak ingin mengambil masalah
"Apa?"
Tanya zio yang sudah bangun
"Lah?"
Percuma saja liza memikirkan cara membangunkan zio, karena zio sudah bangun dengan sendirinya
Zio selalu bangun setiap jam lima pagi. Sengantuk apapun itu zio tetap akan bangun jam lima pagi
Zio bingung karena mereka menatap zio seperti... meminta penjelasan
Apa yang harus dijelaskan???
###
"Ayo bang berangkat!"
Liza menggandeng alan kegarasi
"Eh, gue gak anter lo"
Alan melepaskan tangan liza lalu kembali keteras
"? ohh yaudah berarti papa kan yang anterin?!"
Liza melangkah kearah randi tapi randi mengangkat tangannya
Liza bingung. Masa mamanya sih yang nganter
"Yaudah deh, gapapa. Ayo ma!"
Liza memeluk fani
"Mama mau kesalon sama bang alan. Kamu berangkat sama zio oke?!"
Ucap fani sambil mengelus kepala liza
"Gak oke"
Liza mengeratkan pelukannya
"Tante. Zio sama liza berangkat dulu ya"
Zio menyalami fani lalu menyeret liza naik kemotor
"Liza sayang mama. Jangan lupain liza ya ma. Doain liza tenang ya ma"
Liza naik kemotor sambil dadah-dadah dengan fani
Randi yang melihat itu hampir menangis. Rasanya seperti melepaskan anaknya untuk hidup bersama orang lain
Fani memeluk randi. Air mata fani sudah menetes deras
"Baik-baik sama zio ya nak"
Fani melambaikan tangan kearah liza
"Aelah! keluarga gue drama amat dah!"
Alan masuk kedalam, setelah motor yang dinaiki liza dan zio sudah pergi
###
Liza dan teman sekelasnya sedang duduk berselonjoran didepan pintu kelas sambil ngemil gorengan dan merumpi ria
"Ati-ati loh! Rambut lo bisa dibotakin sama Bu lia"
Ucap sisca
"Tenang aja~"
Ucap liza santai
"Denger denger kemarin liza sama zio pulang bareng ya?"
Tanya mila
"IYA!!"
Sisca langsung duduk dengan tegak, mengambil nafas panjang dan mulai bercerita
"Kemaren Bu lia cerita digrup guru SMA Nusa Bangsa"
Ucap sisca, bersemangat
"Gimana?"
Dion mendekat kesisca
"Ya lo gak usah deket deket!"
Sisca mendorong dion menjauh
"Modus ae lu kang DhIyON!"
Ucap putra
"Diem lu dasar Cogan Lokal!"
Ucap dion yang sudah kembali ketempat asal
"Lo akuin juga kalo gue cogan"
Putra mengambil kacamata hitam milik liham yang sedang dipakai untuk berfoto
"Main ambil aja lo!"
Ucap liham yang tidak terima
"Penerus bangsa gaboleh pelit!"
"Lidah gue tadi keseleo. Yang bener tuh colek lokal! (Cowok jelek)"
Dion meluruskan perkataannya
"Ngeles aja lu kayak mantan!"
Ucap putra
"Betul itu!"
Sisca nenganggukkan kepalanya
"Penerus bangsa yang bijak!"
Ucap liham
"Heh gue mau cerita ini..."
FLASHBACK ON
Grup guru sma nusa bangsa
Lia (BK)
Tadi saya lihat liza sama zio pulang bareng
Titin (Mate)
Masa sih... setau saya mereka gak pernah akur
Lia (BK)
Beneran... baju mereka juga basah kuyup loh
Adiana (B indo)
Jangan-jangan mereka pacaran?!
Lia (BK)
Gak mungkin lah
Titin (Mate)
Iya. mana mungkin zio mau sama anak bandel seperti liza
Intan (B ing)
Tapi mungkin aja loh. Anak muda jaman sekarang itu punya prinsip (Cinta ditolak mbah dukun solusinya)
Adiana (B indo)
Iya, saya juga sering denger itu
Lia (BK)
Wahh, menurut Bu tiara sebagai wali kelasnya gimana?
Tiara (Sejarah)
Itu urusan mereka, bukan urusan saya. Lagian Pak radin sebagai kepala sekolah sekaligus ayah dari zio, gak masalah. Pak radin fine fine aja. Saya hanya wali kelas bukan wali murid, dan saya tidak berhak mengikut campuri urusan percintaan mereka
FLASHBACK OFF
"Bu tiara kereeen!"
Kayla kagum pada wali kelasnya
Liza hanya tersenyum
"Lo gak mau komentar za? Kalo gue jadi lo, udah abis tuh guru!"
Ucap sisca yang marah marah sendiri
"Kemaren lo sama zio kemana aja?"
Tanya mila
"Kerumah gue"
Liza memejamkan matanya dan menutup telinganya
"APA?!!!"
###
Liza dan Bu lia sedang berdebat didalam kelas liza. Banyak siswa kelas lain yang melihatnya melalui jendela. Zio yang mendapat kabar dari reyhan bahwa liza sedang menangis langsung menghampiri liza
"Kalo Liza kenapa napa, nyawa gue taruhannya"
Batin zio
Brakk!
"Ya ini bukan salah saya!!"
Liza menggebrak meja
"Sudah saya bilang berkali kali, ganti warna rambut kamu, tapi kamu malah mempermainkan saya!!!"
Muka Bu lia memerah
"Sudah saya ganti berkali kali sampai rambut saya tebel kayak lipsticnya Bu inin!"
Ucap liza yang sontak membuat orang-orang yang melihatnya tertawa
"Perut gue lama-lama sakit disini"
Dion tertawa sambil memegangi perutnya
Zio kebingungan. kenapa semua orang tertawa. Zio ingin melihatnya tapi tidak bisa karena seluruh jendela sudah penuh pintu kelas liza juga ditutup
"Coba lihat rambut kamu! apa seperti itu bagus?!"
Bu lia menunjuk rambut liza
"Woii! menurut kalian rambut gue bagus gaakk???????!"
Liza berteriak hingga zio dapat mendengarnya
"BAGUS!!!!"
Ucap seluruh murit
Liza mengibaskan rambutnya, menatap Bu lia dengan salah satu ujung bibir terangkat
Sekarang liza butuh kacamata hitam untuk bergaya
"Maksud saya bukan warna seperti ini!!"
Ucap Bu lia yang masih belum ingin menyerah
"Apa perlu saya ulangi perkataan anda?"
Liza mencium bau bau kemenangan
"Tidak perlu! ini memang salah Bu lia"
Bu tiara masuk kedalam kelas bersama zio, reyhan dan abi
"Saya sudah mendengar semuanya. Ini semua karena perkataan Bu lia yang terlalu bertele tele"
"Ya kalau saya tidak bertele tele bagaimana liza bisa mengerti?!"
Bu lia yang sudah hampir kalah masih mencari cara supaya tidak menjadi dalang dari masalah ini
"Ya kenyataannya liza malah tidak mengerti"
Ucap Bu tiara
"Jangan cuma salahin saya dong bu! salahin juga orang tuanya!"
Ucap Bu lia
"Lah?! emak gue ngapain dibawa bawa coyy!"
Batin liza
Zio sangat ingin tertawa melihat ekspresi liza yang seperti seorang anak yang kebingungan
Sangat imut
"Orang tua liza juga salah karena sudah membiarkan anaknya merwarnai rambut dengan sangat aneh!"
Ucap Bu lia
"Ngawur! ini aja emak gue yang warnain! yang milihin warna juga emak gue!"
Ucap liza
"Saya tidak percaya! kamu kan tukang tipu!"
Bu lia mengambil HPnya lalu menghubungi Fani
"Maaf mengganggu, saya mau tanya masalah rambutnya liza"
Ucap Bu lia
"Kenapa? itu saya yang warnain! yang milih warna juga saya! kenapa? warnanya tidak cocok? itu semua ya salah kamu! siapa suruh ngomong panjang lebar! lain kali kalo ngomong langsung keintinya aja! udah saya mau nyalon dulu! biar gak cepet tua kayak kamu!!!"
Telephone dimatikan oleh fani
Semua murit bersorak (kecuali zio pastinya)
"Maaf mengganggu, saya ingin membawa liza pergi keruang perpustakaan untuk mengambilkan liza buku yang belum dia dapat"
Zio menarik tangan liza keluar dari kelas yang sangat riuh
Semua murit mengucapkan nama Lizo
"LIZO,LIZO,LIZO,LIZO"
Ucap mereka dengan kompak
Lizo? liza dan zio tidak mengerti kenapa semua orang menyoraki mereka dengan kata lizo
"Bu lia di kill sama murit +62 sma nusa bangsa"
Bisik sisca pada abi yang entah sejak kapan berada disebelahnya
"Gue sayang lo"
Ucao abi tepat pada telinga sisca
__________________
KALO SUKA LIKE:)