
"Kalo gitu nikah yuk"
Liza diam menatap Antares yang bersungguh-sungguh dengan ucapannya "kapan"
Hening beberapa saat. Mereka menatap Liza tak percaya. Heii seorang Alizya Claura menerima lamaran dari saudara Antares yang merupakan salah satu sumber amarahnya
Antares pun sama kagetnya sampai tak sadar sendok di mulutnya terjatuh
"Buahahahaha!!" tawa Liza meledak, ia memukul lengan Liham berulang kali membuat sang korban menyesal mengambil kursi di samping Liza
Wajah orang-orang kembali datar. Antares pun sama, ia kembali memainkan game di ponselnya seakan tak terjadi apa-apa
"Kayaknya UAS nanti gue ga akan siapin contekan dah" ucap Putra
"Ck, ya emang harusnya ga boleh nyontek! Jujur oyy!!" Ucap Alya selaku anak terpintar dikelas
"Lu mah enak Al, otak lo agak tinggi dari kita"
"Ya mangkanya belajar. Kalo nyontek mulu mah kapan pinternya"
"Dih, kayak situ gak pernah nyontek aja"
"Eeeeeh ga pernah ya! Nyontek lo pada mah malah bikin nilai gue anjlok"
"Sudahlah~ kita doa aja" Kayla tersenyum ramah entah mengapa terasa memuakkan mengingat ulangan semester lalu ia berhasil menempati posisi 10 besar
###
Bell pulang sekolah sudah lewat sepuluh menit lalu namun Liza masih enggan beranjak dari bangku taman di bawah pohon mangga besar
Dia sesekali membenarkan kacamata beningnya yang turun lalu melanjutkan menggerakkan bolpoinnya ke buku tulis. Jika orang asing melihatnya pasti akan berpikir anak pintar yang tengah belajar padahal si Liza mah cuma coret-coret random aja, mirip bocah umur dua tahun yang lagi seneng-senengnya coret-coret
"Liza? Wah anak kesayangan ibu lagi belajar" Bu Lia datang dengan senyum teduh
Liza mendongak menatap sang guru BK, tak lama ia memalingkan wajahnya "anak kesayangan apaan, lebih mirip anak tiri"
Bu Lia masih tersenyum, kini ia duduk di sebelah Liza mengintip apa yang Liza kerjakan, satu detik setelahnya senyum Bu Lia luntur, seharusnya ia tak menaruh harapan terlalu tinggi pada Liza "kamu mirip anak saya yang umurnya masih dua setengah tahun"
Liza menoleh cepat lalu tersenyum "makasih. Saya tau saya imut"
"Bukan imutnya!! Tapi ini lhooo" Bu Lia mengetuk-ketuk coretan Liza "bentar lagi mau UAS belajar sana jangan malah coret-coret ga penting gini"
"Suka-suka saya dong"
"Emang kamu ya, kalo di omongin ga pernah nurut. Pasti nanti ga naik kelas"
"Astagfirullah Bu, doa nya jelek banget"
"Ya belajar mangkanya. Anak saya yang baru umur dua setengah tahun aja udah bisa berhitung. Yang SD menang olimpiade lingkat nasional yang SMP udah bisa bikin pesawat remot yang SMA udah punya bisnis sendiri, sebulan bisa dapet uang 20jtan"
Liza mulai kesal. Ia paling anti di banding-bandingkan "Hemm ya. lihat aja nanti saya bisa jadi guru BK yang lebih baik dari pada situ"
Tak menggubris ucapan anak muritnya, mata Bu Lia kini terfokus pada gadis rupawan bak idol yang sedang berjalan seorang diri "Alura, sini deh" Bu Lia melambaikan tangannya pada gadis tak jauh darinya
"Oh?" menoleh lalu mengangguk sekilas, gadis itu menghampirimu sang guru "Iya ada apa Bu?"
"Kamu tau dia siapa?" Bu Lia menunjuk Liza
"Alisya? Aliza? Ali...."
Ali?! Liza mengerutkan dahinya ia tidak suka dengan perempuan bernama Alura itu
"Nah za, kenalin ini Alura kakak kelas kamu. Yang tahun lalu menang olimpiade"
"Hai Ali" Gadis bernama Alura itu mengulurkan tangannya
Uhuk! Ali?!! Liza tetap menjabat tangan Alura
"Cantik ya za? Pinter lagi. Cocok banget sama Zio" celetuk Bu Lia
"Uhuk! Zio?!"
###
Sesampainya dirumah Liza terus memikirkan ucapan Bu Lia. Mulai tentang kemungkinan ia tak naik kelas, beban keluarga sampai Zio dan Alura. Ia merasa kesal entah kenapa Bu Lia sangat senang memancing emosinya
Tanpa sadar tangannya mengambil kertas juga bolpoin, menuliskan perkataan Bu Lia yang sampai sekarang masih berputar-putar di kepalanya. Ia mengamati tulisan itu lamat-lamat
Brak!
Liza membanting bolpoinnya lalu pergi mencari ibunya disetiap sudut rumah "maaaa.... Lagi mandi ya?" ia membuka pintu kamar mandi lalu mengintip, kosong
Kini kakinya melangkah menuju kamar kakaknya yang cukup dekat dengan kamar mandi lantai atas "Maaa...."
Alan mengangkat sedikit kepalanya dari bantal "Apa?! gue bukan emak lo!" ucapnya lalu kembali memainkan ponselnya
"Ck" Liza memutar tubuhnya melupakan pintu kamar kakaknya yang masih terbuka lebar
"Tutup pintunya Lizaaa!! Astagfirullah punya adek gini amat" mau tak mau Alan sendiri yang harus turun tangan
Liza memuruni tangga menuju dapur ternyata benar, ibunya tengah sibuk memindah minyak goreng dari plastik ke dalam botol "sini aku bantu"
"Gausah gausah. Minyak mahal, sayang kalo nanti tumpah"
"Yaelah ga percayaan amat sama anak sendiri"
Fani tak membalas ucapan anaknya, ia terus fokus memindahkan minyaknya dengan sangat hati-hati, ia tak akan membiarkan minyaknya tumpah barang setetes pun
"Ma tanya deh"
"Hem"
"Kalo semisal Liza ga naik kelas gimana?"
"Jangan lah. Nanti mama sama papa dikira ga bisa ngurus anak. Kamu juga masa ga malu kalo sekelas sama adik kelas kamu? Lagi nih ya, kamu mau Zio panggil kamu 'dek Liza' mau emang?"
Deg!
Liza mengedipkan matanya, benar juga. Ia menarik kursi lalu duduk di sebelah ibunya "tadi Bu Lia bilang kalo kemungkinan Liza ga naik kelas. Katanya juga Liza ga bakal bisa sukses, mana tadi di banding-bandingin sama si Alura itu lagi. Huh!"
"Ya buktiin dong kalau kamu bisa. Tunjukin nilai terbaik kamu di depan Bu Lia, zio sama Alura itu. Kamu itu sebenernya pinter, cuma ga pernah belajar aja"
Liza diam meresapi ucapan ibunya kata demi kata
"Kamu kalau ulangan ga belajar dapet nilai berapa?"
"Emm paling-paling 50-75an"
"Nah ga belajar aja bisa dapet segitu. Apalagi kalau belajar kan?"
Liza mengangkat kepalanya. Ia merasa pintar seketika bahkan ia yakin bisa melampaui Zio juga Alura "huwaa mamaaa" kini sudah ia putuskan. Ia akan belajar sampai dia muntah!
###
Besok pagi UAS dilaksanakan. Pembagian ruang juga mapel sudah di sebar dan benar saja, tak ada teman Liza yang sekelas dengannya. Satu kelas berjumplah 23 orang dan Liza satu-satunya anak kelas XI sisanya kelas XII
Liza meletakkan pensilnya. Ia menepati kata-katanya seminggu lalu untuk belajar sampai muntah. Ia menatap jam yang menunjukkan pukul 02.40. Tumben ia belum muntah, biasanya pukul 12 malam lewat ia akan muntah karena terlalu banyak belajar
Hari pertama mapel Matematika dan Bahasa inggris. Dua pelajaran yang sangat ia benci
Liza mengucek matanya yang kini mulai memerah. Ia bangkit dari kursi belajarnya yang akhir-akhir ini terasa sangat nyaman, berjalan ke arah dapur tujuan kini membuat kopi untuk ke tiga kalinya
Menuruni tangga dengan sangat hati-hati. Rumahnya terasa sangat damai
Langkahnya memelan ketika mendengan suara samar di ruang kecil dekat TV. Tempat solat. Ia mengintip siapa dibalik mukena putih itu dari suaranya sepertinya itu Fani yang tengah tahajud
Samar-samar ia mendengar namanya beberapa kali disebut oleh sang ibu. Bibir Liza terangkat, setelah Fani menurunkan kedua tangannya Liza tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk ibunya
"Astagfirullah liza! Bikin kaget aja" Fani mengusap dadanya "Kamu tahajud sana biar nilainya bagus"
"Oke"
###
"Ruang 19 hemm mana ya" gumam Liza. Matanya bergerak kesana kemari mencari ruang 19 di gedung kelas X
Hanya dua orang dari kelas Liza yang di tempatkan di gedung kelas X, hanya dia dan Liham. Liza di ruang 19 sedangkan Liham di ruang 21
Sisca dan Dion sekelas dengan Abi, Kayla sekelas dengan Zio dan Agus, Mila dan Putra sekelas dengan Reyhan sisanya Liza tidak tau tapi hampir seluruh penghuni kelas Liza di tempatkan bersama orang-orang yang tak terlalu akrab dengan mereka
Bibir Liza terangkat membayangkan keributan yang nantinya akan terjadi. Sisca yang pasti gedek melihat Abi ditambah lagi Dion yang semakin gemar mengganggunya, Mila dan Putra yang tak akan bisa damai, dan Zio yang akan pusing menghadapi segala ke lemotan otak Kayla (Zio dan Kayla se bangku hohoho)
"Ali?" senyum Liza luntur seketika, ia menoleh menatap gadis yang kemarin berkenalan dengnnya. Merasa namanya bukan Ali, Liza tak menggubris ucapan Alura, dia meninggalkan Alura tanpa sepatah katapun
"Eh Aliii lo mau kemana?" tangan Alura menahan tangan Liza "Ruang 19 kan? Ayo ikut gue" Liza pasrah ditarik mengikuti langkah Alura hingga menemukan ruang bertulis 61— 61?!!
Liza menarik tangannya menatap Alura "ngapain ke sini?"
"Hemm..." tangan Alura terulur menarik kertas nomor di pintu lalu membaliknya "jeng jeng jengg~~"
Liza menoleh pada gadis di sebelahnya. Tak lama ia memalingkan wajahnya lalu pergi meninggalkan Alura yang masih tersenyum dengan wajah polosnya
Begitu Liza datang para penghuni kelas tampak kaget. Termasuk kumpulan cewek-cewek di bangku guru yang menatapnya sinis sejak kakinya melangkah masuk. Salah satu dari mereka menatap Liza seakan ingin muntah, ia gebi. Gadis yang mengecap Liza sebagai pelakor
Dengan langkah santai Liza menuju bangkunya yang sudah tertempel nama dan nomor urutnya. Mengeluarkan buku catatan dari tasnya, Liza memantapkan kembali hafalannya, mulai dari rumus hingga kosakata bahasa inggris yang sudah ia catat serapih mungkin
###
Ulangan diruang 19 berlangsung dengan sangat damai, tidak seperti dugaan para guru di kantor
Liza merasa bisa menjawab semua soalan dengan sangat mudah. Benar kata ibunya, sebenarnya Liza itu pintar cuma sayang ketutup sama malesnya yang mendarah daging
"Dek dek" Liza melirik orang bertubuh besar nan tegap yang sebangku dengannya. Cepat-cepat ia mengarahkan pandangannya kedepan kembali. Ia merasa ngeri melihat otot-otot yang terlihat sangat terlatih serta tubuhnya yang berwarna kecoklatan membuatnya terlihat seperti pegulat yang biasa papanya Lihat di televisi
"Dek... Alisya?" Ucap cowo sebangkunya, mengeja namanya
Perlahan Liza memutar kepalanya menghadap kakak kelas yang sebangku dengnnya "apa kak?" menarik bibirnya, Liza tersenyum kaku
"Ada bolpoin ga? Punya aku habis"
Beli lah, ya kali minjem! Seharusnya kata itu yang keluat dari bibirnya namun otak kecil Liza masih memikirkan kelangsungan hidupnya. Ia membuka kotak pensilnya mencari-cari bolpoin yang bisa dipakai namun tak ada, bahkan di dalamnya hanya terisi beberapa pensil dan satu TipX. Dengan berat hati ia memberikan bolpoin kesayangannya "pake ini aja kak"
"Lah kamu pake apa?"
"Aku udah selesai" Jawabnya dengan senyum canggung
"Beneran gapapa nih??"
"Gapapa kok aku ikhlas, demi kelangsungan hidup" ucap Liza memelan di akhir kalimat
"Okee. Oh iya kamu kelas berapa?"
"XI ips 3"
Senior itu mengambil bolpoin Liza dengan senang hati "Oh boleh ya panggil adek?"
"B-Boleh"
Tiba-tiba otak Liza menampilkan kehidupan rumah tangga di sebuah rumah tua di dekat hutan "dek, abang akan berburu naga kembar di dekat jurang. Doa'kan abang selamat"
"Iya bang, nanti kita bikin sop jantung naga, jangan lupa susul anak mu si samsul itu di sungai. Sudah tiga hari tiga malam dia semedi di sana, katanya supaya putri duyung elsa mau beranak-pinak dengannya"
"Baiklah abang akan berangkat sekarang, adek hati-hati dirumah. Jika ada manusia berakal binatang yang masuk rumah segeralah meniup seruling pemberian mbah tompel niscaya aku akan datang secepat sinyal cintaku padamu"
"Baiklah abang, nanti jikalah anakmu samsul itu tak mau pulang, hanyutkan saja dia kedalam sungai"
"Pftt" dengan cepat Liza menutup mulutnya lalu melirik seniornya
"Ada apa?"
"Gapapa kok bang. Eh?" Liza membekap mulutnya lagi
###
Liza memasukkan segala barang-barangnya ke dalam tas. Ia sudah janjian dengan teman-temannya akan makan di kantin dekat kelas Liza. Dengan semangat yang sudah sampai di ubun-ubun Liza membuka ponselnya menampakkan chat dari teman-temannya yang tengah galau di ulangan hari pertama ini
"Si pelakor senyum-senyum nih"
Seketika senyum Liza luntur. Ia menatap dua gadis asing yang dengan se enaknya duduk di mejanya. Tangannya yang berwarna keabu-abuan itu menyentuh rambut Liza "dih pake cat murahan" Dua gadis itu tertawa bersamaan
Sabar-sabar....
"Lihat-lihat. Kelihatan banget cuma pake liptin sama bedak doang" ucap temannya yang lain
Liza memiringkan kepapanya menatap dua orang di depannya. Jelas sekali mereka kakak kelas, teman sekumpulannya gebi "tumben dia diem aja. Biasanya kan koar-koar cari masalah" ucap yang tadi memegang rambut Liza
Liza tersenyum lalu Srekk! "wah poninya palsu. Kalo di lihat-lihat gini mendingan jangan pake poni deh, kalau alami sih gapapa tapi kalau palsuu..." Liza berdiri keluar dari bangkunya lalu mendekat pada telinga lawan bicaranya"... kek dora—ups!"
Liza mendorong pelan tubuh cewek itu lalu berjalan santai "Hai monyet, apa kamu melihat poni palsu milik wanita itu?" Mata Liza terarah pada teman si pemilik poni palsu, membuatnya merasa geram karena di panggil monyet
Oh sepertinya setelah bertemu dengan senior sebangkunya itu Liza mulai senang bermain peran
Liza tersenyum "ada di mana?"
"a-apaanada sih?!"
Liza mendekatkan telinganya "Katakan lebih keras!"
Senyum Liza semakin merekah walau telinganya agak sakit "monyet ku sangatlah pintar" menepuk kepala 'monyetnya' sekali, Liza kemudian keluar dari kelas, dan tanpa ia sadari kini seisi kelas telah menjadi haters nya
###
Kedatangan Liza disambut dengan berbagai sorakan, tentu saja diantara orang-orang ini, Liza lah yang paling ngenes "za za, sini gue mau curhat" Satu persatu dari mereka mengeluarkan unek-unek yang mereka pendam sejak pagi hari tadi
"Kenapasih diantara banyaknya siswa gue harus sekelas lagi sama si putri?!"
"Putra weh!!" Putra memukul kepala Mila dengan sendok bekas es teh manisnya
"Ohh rame-rame tadi gegara lo berdua ribut?? Demi apa kedengeran sampe kelas gue" Alya menatap Mila dan Putra tak percaya padalah jarak kelas mereka terpisah dua kelas
"Sisca gimana? Dia sekelas sama mantan loh" ucap Putra yang sebenarnya memancing Dion
"Gue sama Abi sebangku masa!!" Ucap Dion cepat membuat Sisca kembali menutup mulutnya "tapi belakang gue Sisca siii" Dion kembali duduk tenang
"Pindah kelas bisa ga sih?" Sisca merasa jengkel. Tidak saat pembelajaran biasa tidak saat ulangan mengapa harus Dion lagii?? Ditambah lagi tingkah sang mas mantan sangat menggangunya
Orang-orang kompak menertawai ketidakberuntungan Sisca
"Kayla gimana sekelas sama Zio? Lo sebangku kan??" tanya Liza antusias
"Enak!" ucap Kayla dengan mata berbinar
"Beneran?" tanya Liza. Senyumnya kian melebar membayangkan kekesalan Zio menghadapi Kayla
"Ya lu ma enak zio nya yang enek" ucap Dion kelewat jujur
###
Ulangan bahasa inggris sudah dimulai sejak 10 menit lalu namun kertas jawaban Liza masih kosong. Liza melirik orang disebelahnya yang dengan santai menjawab soalan
"Udah ketemu jawabannya?" bisik kakak kelas, sadar dengan tatapan Liza
"Kepalaku mendadak ke reset hehe"
"Entar kalo udah nemu jawabannya panggil aku aja ya dek" Kakak kelas itu masih memakai bolpoin Liza. Lalu Liza? Gantian🙂
"Oke" ternyata kakak kelas ini tak semenyerankan seperti penampilannya
Kali ini Bu Lia menjadi pengawas utama di kelas. Guru yang terkenal galak juga banyak tingkah itu kini sibuk berkeliling dari meja-kemeja mencari contekan yang disembunyikan peserta ulangan
tok-tok
Bu Asri datang dengan wajah galaknya datang membawa pasukannya "Permisi mau Razia"
"Kok tiba-tiba begini bu?"
"Iya kunci jawaban bahasa inggris hilang"
Setelah di perbolehkan oleh Bu Lia, Bu Asri beserta pasukannya yang merupakan anggota osis segera menggeledah dari bangku paling belakang. Entah hanya perasaan atau apa tapi rasanya para anak-anak dikelas melihat Liza dengan tatapan tajam
Liza menoleh pada kakak kelas sebangkunya yang ternyata masih sibuk mengerjakan ulangan "apa?" ucapnya yang lagi-lagi sadar dengan tatapan diam-diam Liza
"Gapapa hehe"
"Tas nya mana?" Senyum Liza luntur saat salah satu anggota OSIS datang ke bangku mereka
"Lo nuduh gue nyuri kunci jawaban bahasa inggris? Ada-ada aja" Mau tak mau cowok sebangkunya menyerahkan tas hitam yang cukup kecil
Si anggota osis itu segera mengeluarkan satu persatu barang didalam tas
Liza penasaran, ia terang-terangan mengamati setiap hal yang keluar dari tas milik seniornya tersebut
Permen kis seplastik
Permen yupi berbentuk love sekotak
Permen kopi seplastik
Permen karet sekotak
Permen yupi lagi
Lagi
Lagi
Liza mengerutkan dahinya. Menatap senior yang wajahnya sangar-sangar serem yang ternyata maniak permen
"Ck, lo ga bakal ketemu kertas disana. Gue ga hobi koleksi kertas"
Anggota osis itu segera mengembalikan semua permen kedalam tas seperti semula. Kini dia berjalan ke samping Liza menggeledah tas nya tanpa permisi
Tas Liza berisi buku catatan, kotak pensil dan juga ponsel hanya—
"Ketemu"
Mata Liza terbelak sempurna "pemfitnahan ber-genre komedi macam apa lagi ini?" gumam Liza
Bu Asri berjalan dengan langkah lebar "Sudah saya duga. Emang kamu selalu bikin masalah!"
Tak terima di tuduh, Liza mengangkat kertas ulangannya "Coba deh ibu lihat jawaban ulangan saya. Kalau saya udah lihat kunci jawabannya pasti semua soal sudah saya kerjakan"
Bu Asri segera menyambar kertas ulangan Liza. Benar-benar kosong, namun bukannya mempercayai Liza Bu Asri malah memutar otak untuk menyudutkan Liza "ya mungkin kamu ngerjain ulangannya mepet"
"Buat apa saya ngerjainnya mepet-mepet waktu? Prinsip saya aja 'cepet selesaikan cepet pulang"
"Sudah kamu Jangan membantah terus!"
"Loh? Ini bukan membantah bu, ini pembelaan, hal wajar yang dilakukan semua orang"
"Ayo bawa dia"
"Loh bu sebentar, guru BK nya kan saya" Bu Lia menahan tangan Liza agar tak di bawa para anggota osis
"Mau saya bawa ke ruang kepsek" jawab Bu Asri lalu menepis tangan Bu Lia dan menyeret Liza keruang Kepala sekolah
Wah pak kepsek. Bapaknya Zio hehe
Sebelum bangkit dari kursinya, Liza merasa ada yang menggenggam tangannya. Ia menoleh ke arah senior sebangkunya. Pipinya memerah, apa dia— wajah Liza seketika menjadi datar ketika sadar ternyata senior itu hanya memberikannya beberapa permen. Bukan menggenggam tangannya apalagi mencegahnya dibawa pergi. Sudahlah jangan ke pede an
Liza pasrah dibawa oleh Bu Asri, sebelum keluar ia menyempatkan melirik Gebi yang ternyata tertawa sinis melihat bangkunya
###
Diwaktu yang sama di beberapa kelas yang lain ternyata teman-teman Liza juga kesusahan dengan penderitaan ala kehidupan masing-masing
(MILA PUTRA REYHAN)
"Permisi Bu, mau tanya—"
"Ulangan ga boleh tanya" Bibir Mila turun bersama dengan bahunya yang merosot, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, melirik Putra yang cengengesan di bangku sebrangnya. Mila menatap tajam Putra mengisyaratkan untuk diam
"Nah loh kena marah, pasti malu. Gue udah selesai hohoo" Putra mengibaskan kertas ulangannya, meledek Mila yang gampang emosi jika di ledek oleh Putra "Diem ga?! atau gue sobek kertas lo"
"Huhuu takutt xixixi"
BRAK!
SREK SREK SREK
"MAKSUT LO APAAN?!"
"Ga ada maksut apa-apa siiii"
"Wah anak satu ini" Putra menyingkirkan Kursinya ia menarik rambut Mila. Tak ingin diam saja Mila pun memukul kepala Putra dengan kotak pensilnya yang berbahan besi
Seketika kelas menjadi riuh. Para anggota osis yang berusaha memisah juga terkena serangan nyasar dari Mila maupun Putra
Di bangku terdepan dekat meja guru, Reyhan mengerjakan ulangannya dengan damai se akan berada di alam lain
(SISCA DION ABI)
"Sisca, kalo ada soal yang susah, tanya aja ke gue"— Dion
"Dih, ogah"— Sisca
"Pftt"— Abi
Hening beberapa saat. Sisca menghela nafas, rasanya sungguh tenang ditambah teman sebangkunya tidak hadir. Rasanya ia bisa dengan mudah menjawab semua soal
"Siscaaa~" Dion memanggil Sisca dengan sangat pelan "coba lo lihat soal nomor 13. Nanti di masa depan lo mau undangan nikahan lo kayak gimana?"
"Gatau"
"Kalo gue sih mungkin desainnya mirip sama lo"
"Dasar plagiat"
Abi menundukkan kepalanya menahan tawa namun sayangnya bahunya yang naik turun tak bisa membohongi baik Dion maupun Sisca "mas mantan diam saja ya" ucap Dion lupa tak memelankan suaranya
"Ditolak bwahaha" Tawa Abi semakin menjadi-jadi
"Dari pada lo, suka tapi cuma bisa diem aja"
"Tapi gue ga ngerasain paitnya ditolak"
Sisca mengangkat tangannya "Pak, saya mau pindah tempat. Disini berisik"
"Mau pindah dimana? Semua tempat penuh"
"Disini kosong kok pak" Dion mendorong Abi hingga terjatuh dari kursi "silahkan mbak Sisca"
"Apa saya boleh duduk di kursi bapak?"— Sisca
(ZIO KAYLA AGUS)
"Zio zio!"— Kayla
"Hm"— Zio
"Sekarang jam berapa??"— Kayla
"7"— Zio
"Lebih berapa??"— Kayla
"Pas"—Zio
"Okeee"— Kayla
10 detik kemudian
"Zio ziooo"— Kayla
"Hm"— Zio
"Kapan ulangannya??"— Kayla
"Sekarang"— Zio
"Kok soalnya belum di bagi??"— Kayla
"Gtw"— Zio
"Kok ga tau??"— Kayla
Zio menghela nafas tak tau harus menjawab apa
"kok napasnya panjang amat? Lagi pusing ya? Gue juga kalo pusing napasnya panjang-panjang, gatau kenapa, mungkin manusia emang gitu ya??" Kayla memiringkan tubuhnya menatap Zio yang masih diam dengan tampang datar andalannya. Kayla mengedipkan matanya dua kali masih menunggu jawaban dari Zio
Lima detik berlalu. Kayla kembali ke posisi awalnya dengan senyum dan semangat yang tak luntur sedikitpun "oh iya. Ziooo, kenapa gue duduk di sini? Nama gue kan awalanya K dan nama lo awalannya Z. Kok kita bisa duduk bareng??"
Bukankah sudah tertulis di lembar pembagian kelas bahwa kelas di acak dengan murit yang ikut teracak. Bisa huruf a sebangku dengan si huruf z. Entah Kayla membaca lembaran itu sampai habis atau tidak. Alih-alih Zio menjawab seperti itu, Zio malah memilih diam, mengingat rumus-rumus yang sudah ia hafalkan
"Eh zio—"
"Si liza kenapa bisa betah temenan sama lo sih"
Kayla mengedipkan matanya "ohhh jadi gini awalnya. Jadi waktu gue baru lahir...."
"Gus, nitip" memberikan bolpoin nya, Zio pergi tanpa tujuan
"Zio mau kemana??"
Senyum Agus mengembang "ngelamar Elsa projen"
"Ha?! Zio, Ikut!!!"
###
HUH! CEMUNGUT!