
Angin bertiup kencang membuat rambut Liza yang tertata rapi menjadi acak-acakan. Liza menghentikan langkahnya menghembuskan nafas pasrah lalu kembali berjalan
Angin bertiup semakin kencang. Liza memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya
"Kak Liza!"
Liza sedikit tersentak kaget saat merasakan tepukan dibahunya
"Kenapa kak Liza jalan kaki kesekolah?"
"Motor gue dilaundry" dalam hati Liza beristigfar karena telah berbohong. Liza jalan kaki karena motornya telah ia jual untuk membeli ratusan cokelat
Bella tidak paham dengan perkataan Liza tapi dia mengangguk saja dari pada nanti jadi panjang
"Lo kenapa jalan kaki juga?"
"Ah? Enggak tadi aku dianter kakak aku tapi diturunin dideket warung"
"Warung?"
"Iya, dideketnya belokan situ" Bella menunjuk belokan yang jaraknya cukup jauh dari mereka
Setau Liza warung itu sudah dijadikan sebuah rumah kecil yang tidak dipakai
"Bell masuknya udah mau bunyi nih. Aku duluan ya kak" Bella berlari sambil melambaikan tangannya
Liza melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.55. Percuma kalo lari juga gak bakalan sampai tepat waktu
Kalo Bella yang telat sih udah pasti pak satpam bakalan bukain gerbangnya, lah tapi kalo Liza yang telat ya sudah pasti Liza akan digeret menuju BK
Malas berurusan dengan BK. Liza berputar balik menuju pintu belakang sekolah
Liza menoleh saat melewati warung yang dimaksut Bella. Liza berhenti sejenak. Dia mengamati deretan motor berjejeran rapi didepan warung
Rasa penasaran Liza membuatnya memberanikan diri mendekat kepintu yang sedikit terbuka
Dilihatnya banyak cowok seumurannya yang berpenampilan seperti anak nakal (lebih nakal dari pada Liza)
Mata Liza tak sengaja bertemu dengan cowok yang penampilannya paling menonjol diantara lainnya. Rambutnya sepanjang leher, sedikit bergelombang dan berwarna hijau
Liza tersadar lalu ia segera menatap tajam cowok itu senyum sinis terukir dibibir Liza
Liza segera berbalik lalu berlari pergi. Hah! Liza sedikit menyesal karena dia tidak mengucapkan kata-kata seperti 'Sok keren lo!' atau 'jamet lagi ngerumpi ya?'
Liza menghentikan langkahnya. Dia menatap kebelakang dimana warung itu sudah berada jauh darinya
Liza memantapkan niatnya untuk kembali kewarung lalu mengatakan ucapan kasar yang sudah tak tahan untuk ia lontarkan terhadap cowok berambut hijau tadi
Baru saja selangkah dia berjalan eh ada motor yang berhenti disebelahnya
"Ngapain gak sekolah?!?!"
Liza memutar bola matanya. Dia sudah hafal betul ini suara siapa
"Balik sono kesekolah!" Antares mendorong pelan punggung Liza
"Heh! Ngaca! Lo juga ngapain keluyuran?!!"
"Gue ada urusan!"
"Gue juga ada urusan!" Liza melanjutkan langkahnya menuju warung
"lo mau kemanaa?!!"
"Hotel!!" Liza berucap asal berharap Antares tidak akan bertanya lagi tapi dia salah karena semakin aneh ucapan Liza juga akan semakin banyak juga pertanyaan dari Antares
"Ngapain? mau jadi tukang bersih-bersih lo?! Jangan! mending lo jadi tukang gali kubur aja. kan kalo lo mendadak mati, lo bisa kuburin diri sendiri, lo juga bisa milih mau ditempat yang mana"
Amarah Liza sudah tidak bisa dia tahan. Liza berbalik, melepaskan kedua sepatunya lalu melemparkan kearah kepala Antares
Tak hanya itu saja, Liza juga melemparkan tasnya dan beberapa bolpen didalam sakunya
"Sakit woi!" Antares menjadikan kedua tangannya sebagai pelindung kepalanya dari serangan Liza
Liza mengambil HPnya, hampir saja dia melemparkan HPnya tapi untung tidak jadi karena mengingat HPnya adalah hadiah ultah dari dang papa
"Gue marah sama lo!" Liza berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju pintu belakang sekolah
"Gue gak nanya sih. Eh tapi jangan marah woi!! duit gue udah habis gegara beliin lo ice cream tiap hari!!"
###
Liza mengamati orang-orang yang ada dikelasnya satu persatu "sampah-sampah yang lain pada kemana?"
"Gak masuk" ucap Mila yang sibuk menatap pantulan wajahnya dikaca kecil yang selalu dia bawa
"Sisca. Dion kemana?"
Sisca memutar bola matanya "gak taulah. Emang gue istrinya apa"
Dalam hati orang-orang kompak mengucapkan ammin
"Coba lihat ada pesan masuk dari Dion apa enggak" usul Mila
Dengan ogah-ogahan Sisca mengambil HPnya "Ada"
"Apa katanya?"
"Baca sendiri!" Sisca menyerahkan HPnya pada Liza
Mila mendekat pada Liza
____________________________________________
_____________________________________________
Liza mengembalikan HP Sisca "Nanti lo jangan jenguk Dion"
"Emang gue ogah jenguk dia"
Orang-orang mengulurkan jempol tangan mereka pada Sisca
"Yang lainnya kayaknya juga sakit perut deh" Alya sang ketua kelas bersuara setelah sekian lama menyimak
"Kenapa pada sakit perut berjamaah gini sih? Sisca, coba lo telepone Kayla"
Sisca kembali mengambil HPnya
"Kay"
"Iyaaa~"
"Kenapa gak masuk?"
"Reyhan sakit perut"
"Kok bisa"
"Katanya sih kebanyakan makan seblak"
Liza dan sisca saling bertatapan. Mereka berdua seperti tersangka sudah meracuni orang-orang
"Yaudah kay" Sisca memutuskan sambungan
"Perasaan kita bikinnya gak pake bahan yang aneh-aneh" Ucap Liza
Sisca menganggukkan kepalanya
"Tas sama sepatu lo kemana? lo gadai'in?" Ucap Mila baru sadar ada yang aneh dari Liza
"Gue sumbangin keorang gila deket pintu belakang sekolah" ucap Liza asal
###
Guru berjenis kelamin laki-laki dengan ciri-ciri bertubuh mungil, kulit sedikit hitam dan kepala licin hingga gajah pun bisa kepleset masuk kedalam kelas
Nama guru itu Ahmat. Guru yang terkenal galak
"Assalamuallaikum. Kumpulkan tugas dimeja guru SEKARANG!!"
Tak hanya Liza, bahkan seluruh murit tersentak kaget hingga beberapa dari mereka refleks memukul meja
Mila berdiri, tubuhnya sedikit mendorong kursi hingga membuat suara yang cukup mengganggu "penipuan ini! bapak kemaren gak ngasih tugas apa-apa!!"
"Saya ada rekamannya"
"Iya deh saya percaya bapak ngomong kalo ada tugas" ucapan pasrah dari Mila yang tak ingin masalah ini menjadi panjang
"Terus mana tugas kalian?"
"Ga ada" ucapan kompak dari seluruh murit
"Kenapa?!!"
Liza mengatur nafasnya, berusaha agar suaranya nanti terdengar jelas dan keras "gini ya pak. Bapak kalo ngajar dikelas sini bosen gak?"
"Ya jelas"
"Bapak pernah gak semangat ngajar dikelas ini?"
"Ya gak!"
"Terus kalo bapak bosan, bapak ngapain?"
"Tidur"
"Terus kalo bapak tidur siapa yang jelasin materi pelajarannya?"
"Ya gak ada toh. Masa setan!"
"Oke. Misal gini ya pak. Bu lia nyuruh bapak ambil motor terus Bu lia pergi gitu aja, terus apa yang bapak lakukan?"
"Ya pergi ambil motor!"
"Bapak tau tempatnya dimana?"
Pak ahmat diam sejenak "maksut kamu apa" Pak amat menatap Liza tajam
Liza tersenyum sinis "maksut perkataan saya tadi, bapak ngasih kita tugas tapi bapak gak ngasih tau apa tugasnya. Terus yang mau kita kerjain tuh apa? Kita bukan dukun pak! Kita bukan peramal! Jadi tolong jangan perlakukan kita seakan kita tau masa depan seperti apa" Liza duduk kembali
Para murit didalam kelas menatap Liza tak percaya
Liza menatap Pak ahmat yang masih diam dan masih menatap Liza
Tok tok!! "Permisiii!!! Paket!!"
Orang-orang kompak menoleh kearah pintu
Antares_-
###
:)