IceCream

IceCream
61:] Salah Cicak?!



Malas duduk diam sendiri, Liza memutuskan kembali ke kelas. Ia berjalan pelan tangan kanannya masih mengkompres jidatnya yang benjol


Sepanjang jalan orang-orang menatap Liza. Ada yang merasa kasihan, ada juga yang tertawa ngakak membuat Liza jengkel setengah mampos


Astagfirullah. Liza menghela nafas, ia harus sabar


"Liza? Jidat lo napa dah?" Leo memandang Liza dengan satu alis terangkat, terlihat di tangannya terdapat sebungkus camilan besar


Mata Liza berbinar. Seketika rasa pusing dikepalanya lenyap "Buat gue ya? Huwaa makasihh!!" tangan Liza terulur namun langsung di tepis oleh Leo, bahkan Liza belum menyentuh plastik camilan itu


"Ini stock camilan gue seminggu"


Liza memutar bola matanya "dasar pelit!"


"Eh, ini di jual sih di toko mama gue. Kalo lo mau..." Leo menggangtungkan perkataannya. Ia teringat kejadian piring pecah yang membuat mama nya tidak lagi mengijinkan teman Leo terutama Liza datang berkunjung lagi


"Apa?" Liza masih menunggu lanjutan ucapan Leo


"Aaaa enggak"


Wajah Liza kembali datar, ia mendorong tubuh Leo agar menyingkir dari hadapannya. Lalu berjalan lebih cepat, mengabaikan rasa pening yang kembali menyerang kepalanya


"Eh Za! Jangan lewat sana, anak kelas X pada kerja bakti ngurus tanaman!!" Liza tidak memperdulikan ucapan Leo, ia terus berjalan dengan langkah panjang. Huh! Memangnya jika anak kelas X tengah kerja bakti menanam tanaman apa urusannya dengan Liza?


Sesekali Liza mengetuk kepalanya, membuatnya terasa lebih baik walau sedikit


Memasuki kawasan kelas X ternyata benar para murit beserta para guru tengah menanam bunga hias berbagai macam warna. Kepala Liza mendongkak melihat anak kelas atas juga melakukan hal yang sama. Terlihat jelas di samping masing-masing pintu kelas terdapat rak tanaman yang tertata rapi dengan pot berisi bunga hias berbagai macam jenis


"Aww" Liza menundukkan kepala melihat sinar matahari yang semakin terik membuat kepalanya semakin pusing. Ia menatap es batu yang tinggal setengah. Benjolan dikepalanya tak kunjung mereda. Ia ingin—


"LIZA!!"


BUK


PRANKK!!


Pantat Liza kembali merasakan perihnya aspal untuk kedua kalinya. Ia menoleh ingin memukul orang yang mendorongnya barusan. Zio. Ia berdiri agak jauh dari Liza, terlihat di dekatnya terdapat pecahan pot yang cukup besar. Mata Liza terbelak


"Z-Zio?! Lo gapapa??" Dengan susah payah Liza bangun, mengabaikan perih di pantatnya


Liza membolak-balik tubuh Zio memastikan tidak ada yang terluka. Zio mendongkak ke atas, lebih tepatnya kelantai atas untuk mencari siapa pelaku yang ingin mencelakai Liza


"Za, awas" Zio mendorong pelan tubuh Liza lalu berlari menuju lantai dua


Beberapa orang terheran-heran, mengapa seorang kakak kelas berlari tergesa-gesa seakan mengejar pencuri di gedung kelas X. Tidak ingin ditabrak, orang-orang menepi membukakan jalan lebar untuk Zio


Zio memelankan langkah kakinya saat sampai kelantai dua, tempat yang menjadi asal-usul jatuhnya pot


"Siapa yang jatuhin pot tadi" Beberapa diantara mereka menggeleng, ada juga yang hanya diam seakan tidak mendengar ucapan Zio, ada juga yang langsung masuk kelas tidak ingin ikut campur


Zio mengangkat kepalanya, mencari-cari keberadaan CCTV namun nihil, satupun tidak ia temukan. Gedung kelas X memanglah baru dipakai setelah beberapa minggu selesai dibangun, wajar saja belum dipasangi CCTV


"Siapa pelakunya" percuma saja. Tidak ada yang mau mengaku. Atau mungkin.... Pelakunya sudah kabur sebelum Zio datang


###


"Lo kenapa dah? Rambut lo kutuan?" Reyhan datang, duduk kursi kosong samping Zio mengamati raut wajah sang teman yang terlihat gundah


Abi menoleh menatap ke dua temannya "Lo kutuan? Kebetulan banget. Adek gue punya obat kutu, masih sisa setengah. Lo mau?"


Zio diam. Tangannya kembali mengacak-acak rambutnya


"Oyy bang agus datang membawa segenap cinta untuk neng Rachel yang tak kunjung terbalas. Neng Ra— Lho? siti mana??!" Bahu Agus merosot, ia menatap dua teh botol dingin ditangannya dengan sayang. Bola matanya tergeser menatap Zio yang masih dalam posisi 'kutuan' dengan senyum ala-ala pembisnis ia melangkah "nih. 10ribu aja" Zio memutar bola matanya. Ia pikir agus akan memberikannya secara gratis


"gausah"


Senyum Agus kembali luntur "lah? napa dah? lo bangkrut?"


"Dia kutuan" jawab Reyhan


Agus menatap Zio tak percaya. Jikalah benar Zio kutuan pasti ia telah membotak habis kepalanya karena geram. Agus teringat ucapan beberapa orang dikantin yang menceritakan kejadian pot pecah. Agus tersenyum, otaknya sangat cepat tanggap


"Nih gue kasih gratis kalo lo mau beli teh botol gue" Agus memberikan sehelai benang bening yang cukup panjang


Zio merampas benang itu dari tangan Agus. Ia tak sebodoh itu untuk paham maskud Agus. Ia mengamati lamat-lamat benang panjang itu. Benang yang cukup kuat untuk sebuah pot


Reyhan dan Abi menatap Zio dan Agus bergantian. Otak mereka tak sampai "lo mau jahit baju?" tangan Reyhan terulur menoyor kepala Abi "Ck, sekarang itu musimnya main layangan. Masa otak lo ga sampai sih?"


###


"Assalamuallaikum" Liza membuka pintu kelasnya lalu segera masuk tanpa memperdulikan tatapan aneh dari teman-temannya


Kayla dan Sisca saling menatap sebentar sebelum akhirnya menundukkan kepala mereka bersamaan diatas meja. Menahan tawa


"Za?" Mila menepuk pundak Liza


"Hem?" Liza menoleh menampakkan wajah lemas dan benjolan besar dijidatnya yang terlihat jelas. Sontak seluruh penjuru kelas tertawa termasuk Kayla dan Sisca yang sudah tidak tahan


"Jidat lo kemasukan bakso?"


"Bukan-bukan... Kayaknya jidat Liza abis kena getokan ilahi"


"Astagfirullah" Liza menghela nafas, ia tak memiliki tenaga untuk menggetok satu-persatu kepala temannya


"Pantes tadi Sisca sama kayla dateng-dateng ketawanya kek orang kesetanan"


Tidak memperdulikan ucapan teman-temannya, Liza melanjutkan langkah menuju bangkunya. Menyingkirkan tasnya dari meja, liza merebahkan kepalanya masih dengan es batu yang terus melekat pada jidatnya


Liza menghela nafas, melihat sekelilingnya. Masih sangat berisik seperti hari-hari sebelumnya. Oh? tunggu, Kemana perginya Antares beserta rombongannya?


Liza menatap jam tangannya. Dua mapel lagi sebelum pulang sekolah, mungkin Antares beserta romboongan sudah kembali ke sekolah asal mereka. Ia kembali merebahkan kepalanya


Teman-teman sekelas kembali membahas topik mengenai kunjungan mereka ke rumah Dion yang direncanakan nanti sore. Beberapa perbedaan pendapat mengenai warna pakaian sampai memakai sandal atau sepatu, saling sahut menyahut


"Voting deh" saran dari Alya sang ketua kelas


"Okeh! Kawan-kawanku yang berbahagia... Tolong yaa!!" Putra naik ke atas kursi, ditangannya terdapat buku tulis yang digulung siap menjadi pengeras suara "Dimohon pilih memakai sandal saja oke. Hargai kaki saya yang sedang dilanda cantengan"


Mila ikut-ikutan naik keatas kursi. Hendak menyuarakan pendapatnya "Jangan pada setuju ya man-temann... Kita sebagai umat manusia harus menjaga kaki dari panasnya sinar matahari yang bisa membumi hanguskan kaki kita"


Anak-anak kelas mulai mempertimbangkan memakai sandal atau sepatu. Bahkan ada yang sampai meminta pendapat dari gugel


Liza? Dia dalam situasi gawat untuk dirinya sendiri. Pasalnya benjolan di kepalanya masih terasa nyut-nyutan tiada henti padahal sudah lebih dari satu jam dari kejadian kejedot pintu kelas


"Pake sandal ajalah. Lebih enak juga" Putra berusaha membujuk


"Plis ya make sepatu aja. Kaki gue belang ngebentuk sandal jepit, malu woee" Mila ikut-ikutan membujuk teman-temannya


Liham mengangkat tangan kanannya "Sandal gue putus. Gue ikut vote sepatu"


"Gue vote sepatu deh. Sepatu gue kan baru. Hohoo, bukan pamer ya gaisss. Jangan iri dengki!"


"Gue juga deh. Kasihan si Mila, udah mati-matian pake skincare masa gosong lagi gegara sandal jepit"


"Sepatu deh. Kasihan si Mila, mukanya melas amat"


"Gue ngikut vote terbanyak"


Kini sebagian besar penghuni kelas memilih memakai sepatu


"Jahat lo pada. Masa lebih kasiahan sama kaki gosong Mila dibanding cantengan gue" Putra turun dari kursinya lalu pergi keluar kelas dengan gaya ala-ala bocah ngambek


Alya selaku ketua kelas segera mencatat sepatu sebagai salah satu benda yang harus dipakai "terus baju atasannya warna apa?"


Kelas kembali riuh dengan segala perbedaan pendapat mengenai warna sampai ada yang menyangkutpautkan arti dari warna yang ia rekomendasikan


Dion menjatuhkan kepalanya diatas meja hingga berbunyi cukup keras. Liham yang berada tepat di sampingnya tentu mendengar jelas benturan kepala temannya itu, namun bukannya kawatir ia malah melarikan diri tidak ingin disangkutpautkan jika ada apa-apa dengan Dion


Dion menghela nafas. Ia pikir teman-temannya akan berdebat masalah buah tangan yang akan diberikan untuknya, bukan malah memperdebatkan masalah sandal-sepatu juga pakaian. Ia yakin setelah ini akan ada perdebatan tentang masalah 'berangkatnya mandi dulu apa enggak?'


"Oke karena Kayla ga ada baju biru kancing dua, maka saya selaku ketua kelas memutuskan memberi keringanan bagi saudara Kayla. Baju biru polos tanpa kancing menjadi atasan kita nanti"


Diam-diam Putra mengintip dari balik jendela kelas. Kayla yang tidak punya baju biru polos tanpa kancing saja di beri keringanan, sedangkan dia? Kaki cantengan yang belum sembuh sejak dua hari lalu sama sekali tidak di beri keringanan. Putra ingin komplain namun ia terlalu malas jika nantinya Mila yang akan maju untuk berdebat dengannya. Tetangga sekaligus temannya sejak lahir itu memang tak pernah mau mengalah padanya


"Jadi nanti berangkatnya jam berapa? Jangan terlalu sore ya, gue males mandi"— Mila


"Nahkan!!" Dion mengebrak mejanya. Tebakannya benar 100% malas mendengarkan perdebatan tak bermutu dari kawan-kawannya, ia memilih pergi menyusul Putra


"Jadi maksutnya lo nyuruh kita semua ga mandi?!! Lo jangan semena-mena dong!! Mandi tuh kebersihan! Gue tau lo males kena air, tapi perhatiin gue dong! Kalo gue ga mandi 3× sehari badan gue gatel-gatel"— Sisca


"Ya lo pake sabun kucing sih"— Mila


"Kucing gue sabunnya lebih mahal dari skincare kaki lo ya!!"— Sisca


"Lo beneran pake sabun kucing?!"— Mila


"Ya enggak lah. Lo pikir ada manusia kayak gitu?!"— Sisca


Mila mengarahkan dagunya pada Kayla "tanya aja temen lo"


Kayla meringis, kedua jari relunjuknya tertaut "Tau aja. Tadi pagi gue kramas pake shamponya zizi" zizi merupakan nama kucing betina Kayla yang baru berusia lima bulan


###


Liza membuka dompetnya. Dompet tebal yang berisi beberapa kartu tidak penting, uang mainan juga selembar uang asli lima puluh ribu. Ia menghela nafas berat. Pagi tadi rupanya ia salah mengambil dompet. kini ia menyesal tak membeli dompet dengan warna yang berbeda


Liza menegakkan punggungnya. Tak apa! Lima puluh ribu pun cukup untuk ongkos ojeknya. Jarak rumah Liza memang tidak cukup jauh, namun tidak dekat juga jika ditempuh dengan berjalan kaki, kurang lebih setengah jam ia akan sampai rumah. namun tentu saja Liza tidak akan nekat berjalan kaki dibawah langit yang kian menggelap tertutup awan


ia mengamati ponselnya yang menampakkan deretan kontak yang ia simpan. kira-kira siapa yang dengan senang hati mau menjemputnya? orang tuanya? tidak-tidak. ia tak ingin mengganggu pekerjaan mereka. lalu... kakaknya? haha, mustahil. Seminggu terakhir ini Alan sangat jarang menyentuh ponselnya dikarekanan trauma ditipu habis-habisan oleh orang yang mengaku-ngaku sebagai pesulap yang bisa melipatgandakan uang. Seperti yang sudah disangka-sangka, uang milik Alan bukannya bertambah justru hilang tak menyisakan sepeserpun


Matanya kini tertuju pada satu kontak yang tak pernah ia hubungi. Liham. Ia bahkan tak mengetahui bahwa ia memiliki kontak orang satu itu. Jempol tangannya memencet kontak dengan nama Liham. Meneleponnya


Beberapa detik berlalu, layar ponselnya masih menampakkan tulisan berdering


Satu menit berlalu. Sudahlah. Liza memilih menelepon temannya Liham saja. Dion, yang selalu bisa di sogok dengan martabak Bu neneng


Tanpa menunggu lama tulisan berdering itu terganti dengan tersambung. Liza menempelkan ponsel dengan telinganya "Assalamuallaikum"


.


.


.


Liza menaikkan volume ponselnya, ia tak mendengar suara Dion, yang ia dengar hanyalah percikan air seperti orang mandi "Dion, lo mandi ya?!"


"Mbekk"


"Lo mandiin kambing lo?"


"Kancil, hp nya jangan di injek... Eh eh, jangan di makaaaan"


"Oh Liza? apa?"


"Lo lagi ngapain dah?"


"Mandi"


"Sama... Kambing?"


"Ho'oh"


"Diooon... mandi ga boleh sambil teleponan ih, serem" terdengar suara milik ibu Dion cukup jelas


Brakk


"Dion?"


"Heh, woii cek cekk"


Jauh disebrang telepon Dion benar-benar melempar ponselnya keluar dari dalam kamar mandi melalui lubang kecil di bawah pintu


Srakk


Dompet Liza di ambil oleh orang yang tak jauh darinya. Seorang kakek-kakek yang seharusnya berjalan teratih-atih namun sudah pasti penampilannya yang seperti kakek itu untuk mengelabuhi mangsanya. Dia berjalan cepat bahkan tak tersandung oleh batu


Tidak ingin hanya diam saja Liza mengejar pencuri itu "Pencuri!! Copet!! Maling!! Babi ngepet!!!" Langkah kakinya memelan saat si pencuri itu masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya seolah mengejek


"Huwaa uang biru ku!!"


Ia menoleh kekana-kiri mencari siapa saja yang mau menolongnya namun zonk bahkan orang-orang disekitarnya seakan tidak melihat kondisi Liza yang tengah nelangsa. Ia jadi teringat ucapan Kayla sewaktu diparkiran sekolah tadi yang mengatakan 'kejatuhan cicak tuh pertanda sial' ia tak ingin mempercayai mitos itu, Liza yakin ini semua hanyalah kebetulan. Ya kebetulan yang mirip kesialan


"Kak Liza?"


Liza menoleh. Bella "Apa bell?"


"Meratapi nasip. Huhuu aku kena musibah" melihat raut bingung Bella, Liza memperjelas perkataannya "dompetku ilang nduk . Kini diriku sebatang kara dalam jalanan seluas samudra meratapi harta yang kini tinggal asa dalam sebuah ingatan pahit bagai terlena dalam rekayasa belaka yang kian merenggut harapan dalam—"


"U-Udah-udah, aku paham"


Liza mengatupkan bibirnya lalu mengangguk sekali


"Emang isi dompet kakak ada berapa?"


"Banyaaak~ ada kartu mainan lima tahun silam, ada kartu perpustakaan dari SD sampe SMP, ada segengam uang mainan, ditambah puisi untuk ibu yang pernah gue tulis lima lembar waktu SD dulu. Mau denger?"


"Hehe ngak usah kak"


Liza menarik kedua ujung bibirnya ke bawah, celingukan layaknya anak hilang


Langit semakin menggelap, gemuruh datang beserta rintik hujan yang dalam sekejap membasahi jalanan. Liza melihat kanan-kirinya, tidak ada tempat berteduh. Sudahlah, dia pasrah lebih baik jalan kaki, capek, masuk angin tapi sampai rumah dari pada diem, masuk angin nunggu ada yang jemput


Bella mengangkat kepalanya menatap Liza yang lebih tinggi darinya. Bibirnya terangkat sempurna "bareng aku yuk kak" tanpa persetujuan dari Liza, Bella menarik tangan Liza berlari menuju mobilnya yang tak jauh dari mereka


"Pa, ini kak Liza. Sama kan kayak yang pernah Bella ceritain"


Sang ayah nampak sinis menatap Liza "oh ini"


"Iya. Papa udah pernah ketemu dulu. Masa lupa sih?"


"Lupa. Hehe"


"Gimana? Cantik?"


"Iya cantikan kamu"


"Ihh kok jadi Bella siii" Ayahnya itu hanya tersenyum menatap putri yang tak sedarah dengannya


"Oh iya kak. Ini papa aku— oh iya aku belum cerita ya"


"Kita ga sedeket itu. Lo ga perlu repot-repot ceritain kisah hidup lo"


Bella menunduk "aku banyak omong ya? Maaf"


"Normal sih" iya normal mengingat lingkup hidup Liza dikelilingi orang-orang aneh nan berisik


Bella mengangkat kepalanya tersenyum lagi "ayo anter kak Liza pulang"


"Kamu baik ya walaupun omongan dia jahat gini. Papa bangga banget punya kamu" Jangan lupa lelaki paruh baya ini papa kandung Antares


Dari pada jalan kaki, capek, basah, masuk angin, lebih baik ia ikut Bella saja toh gratis. Pikir Liza saat ini


Sepanjang jalan Liza hanya mendengarkan percakapan antara ayah dan anak tiri yang harmonis ini. Sesekali mereka tertawa bersama, sesekali juga orang tua itu melirik Liza sinis. Ketara sekali ia tak menyukai Liza padahal berkali-kali anaknya itu memuji Liza namun bukannya meng'iyakan ucapan Bella agar pembicaraan cepat berakhir, pria itu malah memuji Bella dengan sangat berlebihan. Entah kenapa Liza merasa dibandingkan dengan Bella


"Pah, disana ada lomba mancing ikan. Ayo nanti kesana" Bella menoleh pada Liza disampingnya "Kak Liza mau ikut?"


Liza menggeleng mengingat nanti ia harus hadir dalam kunjungan ke rumah Dion. Hem~ kira-kira apa yang akan ia bawa nanti?


###


Di sinilah mereka sekarang. Di halaman belakang rumah Dion yang semakin 'manusiawi'. Kasur lantai dengan ukuran cukup besar tertata sempurna di tengah mereka lengkap dengan bantal, guling serta selimut, galon air yang masih tersisa setengah berada tak jauh dari kasur juga ada TV yang menampilkan si kembar yang tak kunjung besar


"Heh! Kok ada kasur di sini sih?! Lo beneran tidur sama kambing?" Mila menunjuk kasur berwarna pink bergambar rapunzel di depannya dengan horor


"Itu buat kancil sama anaknya" ucap Dion santai seakan itu hal wajar


"Pake ada galon air segala"


"Itu juga buat kancil sama anaknya. Gue ga mau mereka minum air kotor"


Kini Liza yang sejak tadi diam mengangkat tangan kanannya. Orang-orang kompak menoleh padanya "rada aneh ga sih kalo dua hewan di tengah-tengah kita ini pake baju daster sama baju bayi" Kancil memakai baju daster berwarna biru. Pastinya baru. Sedangkan anaknya yang baru lahir itu memakai baju anak bergambar semangka. Entah apa yang dipikirkan Dion


"Jangan-jangan lo pakai in pempes juga ya?" Mila menunjuk kambing kecil didepannya


"Iya lah. Masa bocah baru lahir ga di kasih pempes"


Teman-teman Dion kompak membatin 'bocah?'


"Lo dapet ilmu dari siapa sih? Siapa guru yang ngajarin lo kek gini?" ingin sekali Liza menonjok otak Dion yang semakin hari semakin menciut saja


Dion mengarahkan kedua tangannya membentuk pelangi besar di atas kepalanya "Penulis~"


Teman-temannya kompak menghela nafas.


Dion mengangkat kepalanya, menatap teman-temannya "Bantuin mikir nama yang bagus buat anaknya kancil dong"


Putra dengan cepat mengangkat tangannya "Anu..."


"Anu apa he? Yang jelas"


"Anu bledek miber nduwur langet jemah keliwon"


"Horor ih" Mila melempar Putra dengan casing ponselnya tepat di wajah membuat perdebatan kecil di antara mereka


Alya mengangkat satu tangannya sebelum melepas satu earpone nya "Gue ada usul! Love is natural" Percayalah itu lirik lagu yang baru ia dengarkan saat ini


"Bagus Agung Sutejo!! Bagus kan?!" Ucap enteng Liham tanpa dosa. Disebrangnya Dion menatap nyalang Liham dengan tangan kanan mengepal ke atas "Nama bapak gue! Tak sumpeli dolar lalisa we engko!!"


"Gimana kalo Tambang rejeki makmur abadi?"— Triya


"Macam nama toko ga si?"— Dion


"Queen Pink Barbie" —Kayla


"Dion Junior" — Liham


"Beban Keluarga" —Liza


"Calon Sate Mama" —Sisca


"Embek Celembek Belebeq Blebeq" — Putra


"Kurban somat idul adha" — Mila


"Gimana kalo Cahaya Bintang Ujung Semesta?"— Kayla


Semua orang kompak diam "Kek pernah denger"


"Itu namanya si Aya ga sih? Yang abis minum racun racikan abang Erlan hanya demi si gublu Ansean?"


"Ohh, yang di cerita sebelah itu kan"


Liza menoyor pelan kepala Kayla yang mengusulkan nama "promosinya nanti!!"


Mereka mengusulkan berbagai macam nama


#####


Menyadari anaknya tak kunjung pergi ke masjid ibu Dion datang membawa sapu lidi siap menggebuk anaknya. Pada akhirnya anak-anak remaja itu ingat rumah, sebagian ada yang langsung pulang sebagian lainnya memutuskan sholat di masjid dekat rumah Dion karena tidak baik menunda-nunda sholat!!


"Lah? Za? Lo sholat juga?" Dion nampak terkejut melihat Liza memakai mukena milik ibunya


"Lo pikir agama gue apa??"


"Ya gue kan ga pernah lihat lo sholat. Gue pikir lo males sholat, kan emang lo dasarnya gitu"


"Walaupun sifat gue seakan nabung dosa tapi ya tetep sholat lah! Gue aja yang emang dasarnya ga mau pamer. Riya, tau gak?"


"Hemm iyee"


Liza memalingkan wajahnya kembali menyimak Kayla dan Sisca yang tengah membahas persiapan mereka dalam menghadapi ulangan yang tinggal menghitung hari


"Hai— Astagfirullah! Liza ngagetin!!"


"Apa?"


"Wajah lo bening banget!! Lo gosok berapa kali pas wudhu tadi?"


"3×"


"Huwaaa emakk!!" Putra datang dengan berlari menjinjing sarung coklatnya dan peci putih yang agak miring di belakangnya ada Mila yang juga berlari mengejar Putra


"Mil plis mil. Gegara lo gue batal lima kali. Airnya dingin astagfirullah mill"


###


Sudah lima menit Liza diam memandangi mie ayam di depannya dengan tatapan kosong. Sejak pagi tadi dia belum makan namun anehnya siang ini perutnya seakan sudah terisi penuh tak menyisakan ruang untuk sesuap mie ayam. Tak hanya Liza, teman-temannya juga mengalami hal serupa, bahkan Mila merasa mual melihat baksonya


Mereka menghela nafas bersamaan lalu menyandarkan punggung disandaran kursi masing-masing, tak ada pembicaraan, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Antares pun sama, ia ingin bersuara namun tak ingin merusak suasana


Jawal UAS sudah disebar keseluruh penjuru sekolah. Tata tertib UAS kali ini tidak sama dengan tahun lalu. Kali ini kelas di acak, mereka akan sangat bersyukur jika bisa kembali sekelas dengan salah satu teman namun Bu Lia memberi bocoran bahwa anak kelas Liza tidak akan ada yang sekelas saat masa ulangan berlangsung


"masa ga ada yang sekelas sih?" Suara Alya memecah keheningan. Beberapa detik kemudian terdengar helaan nafas dari teman-temannya


"Gue takut sekelas sama kakel. Iya kalo anak anak kelas lain yang se angkatan sama gue, lah kalo gue sendiri yang anak kelas XI gimana???!" Kayla menyuarakan hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi


"aish, gue jadi tambah was-was" Mila mejatuhkan kepalanya keatas meja


"Kayaknya kita ga bisa nyerpek deh. Anak osis pada jaga keliling"


"Kita?" Liza mengulang kembali perkataan Dion "Lo aja noh sama dua temen lo. Gue mah ga pernah nyerpek ya"


"Masa sih za?" Sisca menatap Liza penuh kecurigaan


"Dih gapercaya"


Antares menoleh ke kanan-kiri merasa sudah boleh berbicara "emmm jadi kapan ulangannya?"


Mereka menghela nafas "minggu depan" jawab kompak anak-anak kelas ips-3


"sama, gue juga minggu depan"


Liza menoleh menatap Antares malas "Gue ga mau ngakuin ini sih tapi, Lo kan pinter antareeeess!!" Liza menjatuhkan kapalanya keatas meja menimbulkan suara yang lebih kencang dari Mila tadi


Antares merasa bosan. Ia melirik Liza dengan senyum jahilnya "Za"


"Hm"


"Lo cantik deh"


"Hoekk!!" Liham yang berada di sebelah Antares merasa mual. Ia memilih pindah kesebelah Kayla


Liza mengangkat kepalanya, menatap Antares dengan serius "Cantikan gue atau bunda lo?"


Antares tersenyum tidak berniat menjawab perkataan Liza "Za, pacaran yuk"


"Gak. nambah-nambahin dosa aja" Jawab Liza kurang dari sedetik


"kalo gitu nikah yuk"


Liza diam menatap Antares yang bebersungguh-sungguh dengan ucapannya "kapan"


###


☀ Dalam hidup kita harus merasakan kebahagian, penyesalan dan kehilangan bukan?


Kebahagiaan yang membuat kita mengetahui berapa indah dan berharganya hidup ini


penyesalan yang selalu menjadi guru terbaik


dan kehilangan. memang setiap yang bernyawa pasti mati. itu perkara yang biasa namun sakitnya luar biasa


☀ Haiii yuk mampir ke ceritaku di sebelah dengan judul 'PESAWAT KERTAS' jangan lupa mampir yaa (karena masih sepi banget huhuu😭)


Bercerita tentang Cahaya (Aya) gadis yang disukai Adhen dan Erlan namun malah menyukai Seorang Ansean, cowo dengan otak minus yang menjadi korban bully oleh Erlan dkk. Sesuai dugaan karena Ansean sangat ga peka maka Aya hanya dianggap angin lewat (jahat emang. Lihat aja tuh orang entar)


Aku kasih spoiler dikit




Aku meneguk minuman itu sampai habis dihadapan Erlan lalu aku menoleh pada Ansean "kalo gue mati, lo harus nikahin mayat gue" tak lama kemudian semuanya menjadi gelap


Trimakasih yang sudah membaca promosi dan IceCream. Saya harap kalian terus mendukung karya saya


Salam dari author yang lagi pingen melihara anak kambing alias cemple


Babai semuanya👋