
Liza memasukkan telapak tangannya kedalam ember berisi cat merah berbentuk bubuk "Mumpung ada cat nih. mendingan kita sekalian foto buat lomba"
Mila menutup bedaknya hingga mengeluarkan bunyi "Lo mau ngecat tubuh gue gitu? Tolong ya, gue kemaren abis duit banyak buat perawatan"
Sisca menarik tubuh Kayla lalu berbicara lirih disamping telinga Kayla "Buat apa perawatan kalo mukanya tetep sama aja. Lagian kalo udah tua mukanya juga bakalan kendor juga"
Kayla menghela nafas. Memang ya, kalo jiwa gosip udah mendarah daging tuh susah ilangnya
"Udahlah, lagian itu kan udah pilihannya. Lagian kan dia perawatan gak peke duit lo" Kayla pergi menghampiri Liza. Dia ikut-ikutan mencelupkan tangannya kedalam cat bubuk
"Tenang! ini catnya aman. Kemaren gue langsung suruh orang buat datengin pabriknya dan kalo lo pake dari ujung kepala same ujung kaki juga gak bakal bikin darah lo jadi ijo" Ucap Liza diakiri dengan ucapan sinis
"Oke" Lagian cat bubuk kan cepet ilangnya
"Mendingan nanti aja deh soalnya baju kita kan basah. Gue juga belum mandi" Ucap Kayla
Telinga Dion dengan cepat menangkap ucapan Kayla "Gue mandi disekolah aja deh. Mau minjem sabunnya Bang viro" Dion tersenyum sakras Siapa tau bisa jadi cakep hehehe
Anak-anak cowok penggemar Bang viro ikut bersama Dion meminjam Sabun wajah milik Bang viro yang selalu disimpan diwarungnya
Mereka pikir sekali pake bisa langsung glowing gitu? Mila yang habis duit berjuta-juta aja sampe sekarang belum bisa ngalahin mbak jenni
"Heh! nanti mandinya gantian!" Ucap putra
Dengan cepat tangan Dion memukul kepala Putra "Ya iya lah! Lo pikir gue apaan mau mandi sama lo!"
"Yaa siapa tau yang lain mau"
Orang-orang menyorak'i Putra dengan sesekali memukul kepala Putra supaya otaknya bisa bener dikit
"Awas ya kalo ada yang ngintip gue!!" Ucap putra
Orang-orang meneriaki purta dengan beberapa kata seperti
"Gak sudi woi!"
"Jijik!"
"Najis!"
"Gue pecat lo jadi temen gue!!" Ucap Dion keras
"Malu gue punya temen kayak lo!!" Ucap Liham tak kalah keras
Liza menggelengkan kepalanya lalu dia teringat sesuatu "Sisca lo nanti kerumah gue ya buat ambil 'maha karya' yang kita buat kemaren" Liza menaik-turunkan alisnya
Zio dan Abi mengalihkan pandangannya dari Liza dan Sisca. Mereka ngapain lagi???
##
Liza dan Sisca datang dengan membawa satu baskom besar berisi seblak komplit dengan bermacam toping
"Apa tu, apa tu?" Para kaum kelaparan segera berbondong-bondong mendatangi Liza dan Sisca
"Alhamdullilah, ada juga yang memberi donasi makanan pada kaum jones ini"
Dion segera menatap tajam Liham. Dia sangat sangat sangat tidak setuju dengan perkataan Liham "Siapa yang jones? Gue gak ya!"
Semua orang menatap Dion dengan sinis, mengingat sudah lebih dari tiga tahun Dion suka pada Sisca tapi hingga detik ini sang pujaan masih belum memberikan respon sama sekali
"Hidup ini keras. Kadang saat telah berjuang keras sang doi malah menunggu sosok yang sangat mustahil untuk ia dapatkan" Agus, murit satu kelas Zio yang dicap sebagai orang paling meratap'i hidup padahal hidupnya gak bermasalah
Dion menepuk bahu Agus "selamat! lo terpilih menjadi salah satu pengikut gue!"
"Gak makasih! Gue masih menunggu Zio menganggap gue sebagai salah satu kawannya"
Zio memalingkan wajahnya, pura-pura tak mendengar semuanya
Sudah sejak SMP Agus ingin berteman dengan Zio karena berharap bisa mendapat contekan seperti Abi dan Reyhan yang hampir setiap hari mencontek Zio bahkan tugas merangkum pun mereka berdua tetap mencontek Zio
Abi dan Reyhan memang pintar tapi kepintaran mereka tertutupi oleh kemalasan mereka. Sedangkan Agus hanya pintar dipelajaran tertentu saja
Selain ingin mendapatkan contekan alasan agus ingin menjadi teman Zio karena sudah sejak SMP dia mengagumi Zio. Bahkan waktu kelas tiga SMP Agus pernah seminggu penuh membututi Zio baik disekolah maupun dirumah
"Liza minta seblaknya dong" Dion menjadi orang pertama yang berhasil mendapatkan mangkok plastik dari Sisca dan sekarang dia berada tepat didepan baskom berisi seblak yang dijaga ketat oleh Liza
"Eittt!! antri dulu!"
"Gue udah diposisi antrian paling pertama ini!!!"
Liza memiringkan tubuhnya, dilihatnya dari balik tubuh Dion orang-orang sedang berlomba-lomba mendapatkan mangkok plastik dari tangan Sisca
"Oke" Liza menuangkan seblak hingga setengah mangkok
"Thanks Liza cantiq!" Ucap Dion asal, dia tak menyadari keberadaan Zio yang tak jauh dari mereka
Zio melemparkan sendok plastik yang ia dapat dari Reyhan "Pergi!" Sendok plastik itu melayang tepat dikepala Dion
"Sejak kapan lu disitu??!"
Zio memalingkan wajahnya, tak berminat menjawab pertanyaan Dion
"Sejak mamak kau masih pacaran dengan bapakku!" Celutuk Agus yang berada disamping Zio
"Mamakku tak sudi pacaran dengan bapak kau ya!!" Dion segera melesat pergi sebelum Agus membalas ucapan Dion
"Mau kemana lu??" tanya Putra saat Dion berjalan melewatinya
"Ambil nasi dikantin" ucap dion tanpa menghentikan langkahnya
"Makan seblak pake nasi gitu?"
"Kalo gak pake nasi rasanya gak lengkap" joko iku-ikutan menyusul Dion untuk meminta nasi dan krupuk dikantin
"Dion aja kalo makan roti juga pake nasi" Ucap Liham yang berada tak jauh dari Putra
Putra menganggukkan kepalanya. Dia teringat dulu saat masih SD Dion sangat tak suka nasi karena hambar dan sekarang entah bagaimana dia bisa makan sesuatu yang seharusnya tidak dimakan bersamaan dengan nasi
Satu ide konyol terlintas dikepala Liham "seblak dicampur roti enak gak ya?"
Tiba-tiba saja Putra teringat roti yang sudah dua hari dilokernya "Kita coba yok gaess!!"
Putra dan para anak-anak yang kurang kerjaan mulai berjalan bersama-sama menuju loker putra
Malas menanggapi anak-anak kurang kerjaan itu, Liza memilih mengambil satu mangkok seblak yang sudah dia siapkan untuk Zio
"Zio"
"Hm"
"Cobain deh"
"Gak"
"Sedikit aja"
"Gak"
"Pleaseee!!"
Zio menunduk, melihat wajah Liza yang sengaja diimutkan "wajah lo jangan diimut-imutin! makin jelek"
"Mau seblak dong"
Zio dengan cepat menyuapkan satu sendok penuh seblak kemulutnya
"Itu punya gue. udah gue makan" Ucap Zio
"Apaan sih lo! gue maunya yang itu!" Antares menunjuk seblak ditangan Liza
"Lo mau makan bekas gue?" Tanya Zio membuat Antares tersadar
Antares mengambil paksa mangkok seblak ditangan Liza lalu dia memberikannya pada Zio "Ambil seblak lo!"
Antares menarik Liza menjauh dari Zio "Ambilin juga ya buat gue"
"Ambil sendiri!" Liza mendorong Antares pelan lalu berjalan menjauh "Dipikir gue pembantunya apa!"
###
Gadis dengan rambut sepanjang bahu berwarna hitam yang sedang berdiri bersandar disamping kelasnya seorang diri sambil mengamati murit-murit SMA pancasila
Bella kah?
Liza berlari kecil dengan membawa satu mangkok kecil berisi seblak buatannya
Melihat Liza berlari menuju kearahnya Bella langsung berisi tegak, tersenyum menatap Liza
"Hai kak" Sapa Bella saat Liza sudah berada didepannya
"Lo ngapain?"
"Mau pulang tapi papa masih diperjalanan"
"Ooh" Liza menganggukkan kepalanya lalu menyerahkan mangkok berisi seblak pada Bella
"Kak, itu bukan murit sekolah sini kan?" tanya Bella setelah menerima seblak
Pandangan Liza mengikuti telunjuk Bella yang tengah menunjuk kumpulan anak sekolah sma pancasila
"Iya"
"Itu... yang rambutnya agak kecoklatan itu..."
"Ooh itu—" Ucapan Liza terpotong oleh suara yang berasal dari hp Bella
"Papa aku udah sampai nih. Aku pulang dulu ya kak"
###
Acara makan seblak sudah selesai. Sekarang ini Liza sedang duduk dibawah pohon mangga bersama Antares, melihat jejeran motor tertata tak beraturan
Ya bersama Antares. Terpaksa! Sedari tadi Liza tak menemukan teman-temannya yang biasanya selalu menempel dirinya seperti parasit
"Lo kesini bawa tas ternyata" tangan Liza dengan lancang mengambil tas yang terlipat tak beraturan dijook motor Antares
"Gue tinggal dulu ya. Jangan ambil apapun dari tas gue!"
tak terima dibilang pencuri, Liza melemparkan bolpen kearah punggung Antares
Antares tak menganggapinya, dia terus berjalan lurus tanpa melihat Liza yang sedang menggeledah tasnya
Sedari tadi menggeledah Liza tak menemukan buku ataupun bolpen
Liza menghembuskan napas, gak bener nih orang. seakan tak sadar bahwa dirinya sendiri juga jarang membawa buku
Tangan Liza tak sengaja menyentuh benda kecil didalam tas Antares. Dengan cepat Liza mengeluarkan benda kecil itu
"Waaah"
Keninginan untuk mencuri mulai tumbuh dibenak Liza. tapi tidak! dia tak akan mencuri, lebih baik meminta papanya membelikan ini
Liza mengambil HP, memfoto ganci itu lalu memasukkannya kembali dan kembali menggeledah
Banyak barang tak penting yang dia temukan seperti kertas-kertas, isi bolpen yang sudah habis hingga karet bekas nasi pecel
Setelah lama menguarkan sampah-sampah itu akhirnya Liza menemukan benda unik
"Bagus kan"
Liza menoleh kesamping, melihat Antares yang entah sudah sejak kapan bersandar ditembok sebelahnya
"Lo mau?"
Liza menganggukkan kepalanya, semangat dengan wajah yang seperti habis menang dapet undian
"Lo mau ngasih kegue?? Makasih!!"
"Gak"
Ujung bibir Liza seketika turun
Huh! gapapa lah. Liza masih bisa minta kedua orang tuanya untuk membelikannya
"Eh lu bisa ngerajut ternyata" Liza membolak balik boneka rajut ditangannya
"Itu gue dikasih"
"Siapa?"
Antares tak menjawab, ia hanya tersenyum hingga matanya tertutup
Liza hanya melihat Antares tanpa berminat bertanya lebih jauh
Liza menggeledah tas Antares bagian samping. Dia menemukan benda berbentuk seperti....
!!
Dengan cepat Liza mengeluarkan benda itu
"Lo ngerokok ternyata??!"
"Engggg dikit" Antares menggaruk belakang kepalanya
"Bagus ya! gue doa'in lu cepet mati!" Liza membanting rokok itu
"Mau gue sebar bunga apa nanti kuburan lo? gue cuma punya daun mangga sih. Gue sebar itu aja ya"
"Ha?" Antares benar-benar masih mencerna ucapan Liza
Liza berdiri dan mengangkat kedua tangannya lalu berucap "Lo mati gue BEBAZ!!"
"BEBAS!"
"BEBAS!"
Liza berjalan menjauh dengan posisi tangannya yang masih diatas dan sepanjang jalan dia mengucapkan 'bebas' berulang kali hingga orang-orang melihatnya dengan aneh