IceCream

IceCream
56:]Rumah Antrs



Liza merebahkan tubuhnya diatas bangku panjang ditengah taman. Saat ini ia sedang menunggu Antares untuk menagih janji kemaren


"Lizaaaa!!!" Antares berlari kearahnya


"Paan?"


"Ayok!" Antares menarik tangan Liza hingga ia bangun lalu Antares menyeret Liza untuk berlari bersamanya


"Apaan nih?" Ucap Liza yang terpaksa ikut berlari


"Ayoookk!!" Antares menarik tangan Liza lebih kuat hingga langkah Liza sejajar dengannya


"Kemanaa???" Ucap Liza mulai jengkel


"Nikah lari!" Ucap Antares asal. Liza memukul kepala Antares cukup keras "Ngawur!"


Antares tertawa terbahak-bahak "Udah, pokoknya lari aja! Jangan lihat belakang!"


Karena pada dasarnya Liza adalah orang yang bandel, maka wajar kalau Liza melakukan larangannya


Liza menoleh kebelakang mendapati mobil berwarna hitam dan dua motor mengejar mereka. Mata Liza terbelak tak percaya "Lo abis nyuri ya?" Tuduh Liza


"Itu orang suruhan bokap gue! Ya kali gue nyuri!"


"La terus apa hubungannya sama gue??" ucap Liza tak percaya. Antares hanya tersenyum tak menjawab


Mereka berlari hingga belok kesebuah gang kecil. Mereka terus berlari hingga menemukan pasar tradisional yang sangat teramat ramai


"Jalan pelan-pelan" Ucap Antares berbisik


Dimana-mana terdapat tulisan Diskon


Pantas saja para ibu-ibu merasa terpanggil_-


"Ayo!" Antares menarik tangan Liza menuju penjual baju yang tak begitu tak begitu ramai


Antares mengambil asal sarung yang berada didekatnya lalu memakainya


"Nih!" Antares memberikan baju gamis lengkap dengan jilbabnya "Pake yak?!"


"Buat?"


"Entar ke KUA"


"Gue tabok sampe ginjal lo keluar ya!!"


Antares terkekeh pelan lalu mendorong tubuh Liza, menyuruhnya cepat mengganti banjunya dibalik tirai yang memang tempat ganti


Dengan terpaksa Liza memakai baju itu lengkap dengan jilbabnya


"Wah" Gumam Liza, matanya tak henti-hentinya menatap pantulan dirinya dicermin "Tambah cantik aja gue"


Liza melangkah keluar dan mendapati Antares yang masih menunggunya


Liza menatap Antares dari atas hingga bawah. Sarung kotak-kotak berwarna merah-hitam, baju koko dengan ukiran batik disekitar dada dan peci putih terpasang apik ditubuhnya


Tunggu! Liza menatap baju yang saat ini dipakainya. kok motifnya sama?!


"Kok—"


"Mbak siapa ya?" Tanya Antares membuat Liza menutupkan kembali bibirnya


"Mbak?" Antares kembali bertanya karena tak ada respon


"Sini pala lo! Gue gosok!!"


"Eh elo ya za, gue kira janda anak satu" Ucap Antares bohong. Ia tadi mengira Liza adalah anak dari seorang ustad


"Haish"


Liza dan Antares berjalan bersama keluar dari pasar. Sesekali Liza menyeret Antares menuju penjual jajanan pasar yang terlihat sangat cantik


"Lo makan mulu dah dari tadi"


"Ya karna gue manusia! bukan amuba kayak lo!" Liza melengos pergi mendahului Antares. Perut Liza terasa sangat penuh tapi mulutnya bersikukuh ingin mengunyah seperti pemotong rumput


Mata Liza bergerak kesna-kemari melihat bermacam-macam kue tradisional yang terjejer rapi "Antares! Mau ini, itu, yang disana itu, yang sebelah sana, yang dipinggir itu, sama yang paling atas itu" Liza menunjuk satu-persatu kue yang terlihat paling menggiurkan


"Lo pikir gue bapak lo?"


Liza menoleh pada Antares "Bukan, lo kan babu gue"


"Teserah za" Antares menyerahkan selembar uang lima puluh ribu pada sang penjual setelah Liza menerima kue-kue yang dia inginkan


Mata Liza bergerak lagi, kali ini dia ingin mencoba semua minuman disini


"Antares!" Ucap Liza. Antares menoleh sambil mengangkat satu alisnya, firasatnya mulai tak enak


"Makan!" Diantara jari telunjuk dan jempol Liza sudah terdapat kue kelepon. Liza mengarahkan tangannya kedepan mulut Antares "Aaaaa~"


"Dah kenyang gue" Antares memegangi perutnya


"Makan."


"Gamau zaaa—" Dengan cepat Liza menyumpal mulut Antares dengan kue kelepon ditangannya


"Enak?" Tanya Liza dengan senyum andalannya


"E-enak" Antares bersusah-payah menelan kue kelepon yang sebagian telah ia kunyah. Dirinya terlalu lemas untuk mengunyah kue itu


"AYOK!!!" Liza menarik Antares menuju penjual es cendol didekat mereka


"Wah, istrinya lagi nyidam ya mas?" tanya salah seorang ibu-ibu yang juga mengantri membeli es cendol


"Bukan bu, ini pembantu saya"


minta dihujat emang


###


"Emak lo ada didalem gak?" tanya Antares dingin


Bella menggeleng lalu membuka pintu lebar mempersilahkan Antares dan juga Liza untuk masuk "Engga, tadi—"


"Minggir" ucap Antares memotong ucapan Bella


Bella masih diam menatap Antares hingga tubuhnya digeser paksa oleh Antares


Antares berjalan cepat melupakan Liza yang masih berada didepan Bella "Bell"


Bella tersadar lalu menoleh pada Liza "Iya?"


"Gue saranin jual aja ginjalnya Antares"


"Ha?


Liza berjalan mendekat Bella lalu merangkul bahu Bella "Kalo lo gak tau caranya, entar aja lo kerumah gue, gue kasih tutorialnya beserta praktek"


"P-praktek?"


"Iya, tenang ada kucing gue yang siap jadi bahan praktek😉👍"


Bella masih diam mencerna ucapan Liza


Hening~


"Kak boleh minta tolong?" tanya Bella tiba-tiba


"Apa?"


"Sini" Bella berlari menarik tangan Liza menuju kamarnya


Bella membuka pintu kamar berwarna pink lalu segera menarik kursi belajarnya untuk dijadikan tempat duduk Liza


Bella membuka tasnya, mengambil jaket hitam lalu mrberikannya pada Liza "apa?" tanya Liza tak mengerti


"ini punya kak Antares. kemaren waktu dia jemput aku, jaketnya ketinggalan. emm.. tolong balikin ke kak Antares ya"


Liza semakin tak mengerti. untuk apa Bella menyuruhnya? padahal Bella dan Antares satu rumah?


"Hubungan aku sama kak Antares kan gak baik" ucap Bella seperti mengerti apa yang dibingungkan Liza


"kok bisa?" Liza mulai merasa simpati


Setelah dipikir-pikir benar juga. Bella hanyalah korban amarah Antares karena Papanya dan ibu tirinya


Bella lagi-lagi menghela napas. Ia mengambil foto kecil dilaci meja belajarnya lalu meberikannya pada Liza


ini...


Liza ingat betul itu foto sama yang ia lihat pada kamar Antares, hanya saja yang ini ururannya lebih kecil


"Orang itu salah satu penyebab kak Antares gak suka sama papa. Dari dulu kak Antares emang udah kecewa sama papa karena papa nikahin mama aku, tapi kak Antares jadi lebih gak suka sama papa karena ngira papa yang udah bunuh Aqisa"


Tunggu! bukankah Zio? Bukankah Zio yang membunuhnya seperti ucapannya episode lalu?


"Tapi papa gak bunuh Aqisa! Papa emang ga suka sama Aqisa dan mungkin karena itu Kak Antares ngira papa yang udah bunuh Aqisa" Ucap Bella sejak tadi kepalanya terus menunduk


"Kak" Bella menatap Liza yang tepat berada didepannya "Kakak pacarnya kak Antares ya?"


"Amit-amit" Liza mengetuk kepalanya sebanyak dua kali lalu mengetuk lututnya juga sebanyak dua kali


Bella tertawa kecil "Baguslah. Karena pada akirnya papa bakalan jodohin kak Antares sama temen bisnisnya biar perusahannya makin maju"


Liza mrmangguk lalu matanya terbelak saat mengingat papanya juga seorang pengusaha sukses. Jangan-jangan....


Hayoloh😳— Author


Liza menggelengkan kepalanya, tak mungkin papanya akan menjodohkannya dengan Antares Jika perusahaan papanya semakin maju ya Alhamdullilah tapi jika semakin turun ya wasallam Alan yang harus banting tulang sedangkan Liza? Ah dia hanya akan menikmati hasilnya saja


"Papa tuh suka ngejar harta. Dia dulu nikahin bundanya Kak Antares karena dijodohin Biar perusahaannya makin maju. Papa nikahin mama juga karena biar perusahaannya makin maju"


Liza merasakan ponselnya bergetar dibalik saku bajunya. Pasti Antares_-


"Lu nyasar dimana nyet?! Persaan rumah gue gak segede labirin dah!"


Liza menutup telinga kanan yang ia dekatkan dengan ponselnya


"Dikamar Bella" Ucap Liza


Hening. Liza memeriksa ponselnya apakah masih terhubung dengan Antares. Masih


"Gue didapur" Antares mematikan sambungan


###


Setelah mengikuti arahan dari Bella kini Liza menemukan dapur yang rupanya tak jauh dari kamar Bella


"Apatuh-apatuh?" Liza berlari kecil mendekat Antares untuk melihat Antares sedang minum apa


"Air selokan" Antares mengarahkan gelas berisi cairan hijau pada Liza


Liza mengamati isi gelas itu dan setelah yakin, Liza meminum isi gelas itu hingga habis. Benar, jus alpukat


"Lo sama Bella tadi ngapain?"


"Tadi—eh lo mau dijodohin sama bokap lo ya?"


Antares agak terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka Bella bercerita pada Liza hingga sejauh itu


"Masih lama tuh"


"Terus lo mau aja?"


"Kalo cantik gue mau. Kalo jelek gue kabur"


"Tadi..." Liza merasa ragu mengatakan ini tapi... tak apa lah! "Lo nuduh bokap lo yang bunuh Aqisa ya? Emm sebenernya tuh Zio apa..."


"Oke Flashback!"


Flashback


Antares POV


Hujan, dan seperti biasa suaranya pasti berisik. Tangan gue bergerak mengambil kunci motor diatas meja


Mau gak mau gue harus jemput anak itu! Aish, sial banget emang! Punya adek tiri bisanya nyusahin mulu, pingen gue bantai tapi entar nama gue dicoret dari KK, kan gue jadi gak dapet warisan


"Nanti bawa Bella baik-baik! Awas aja kalo Bella lecet!" Ucap mak lampir saat gue berjalan didepannya


"Gue ceburin di sungai amazon entar! biar dijadiin permaisuri anaconda" Sebelum mulut mak lampir kembali komat-kamit, diriku segera menundurkan diri berlari menuju garasi teruntuk mengambil motor tercintah


Hanya bermodal motor beserta jaket tebal, gue melesat menerobos hujan dengan sangat keren


Sebenarnya tempat les Bella tak begitu jauh, Bella bisa berangkat sendiri memakai sepedanya, tapi karena mak lampir itu terlalu sayang pada anaknya maka gue lah yang dijadikan babu berjalan


Gue berhenti didepan gerbang hitam yang ternyata Bella sudah menunggu gue sambil duduk jongkok


"Pulang gak?!" Tanya gue ketus sambil menyerahkan helm bergambar kuda pony miliknya


"Iyaa" Bella memakai helm'nya lalu segera naik ke atas motor


"Jangan pegangan!" Ucap gue sebelum Bella memegang perut gue


"K-kenapa?"


"Pokoknya jangan pegangan!" Kerena nanti gue bakalan narik gas sekenceng-kencengnya, bair dia jatoh dijalan dan dengan senang hati gue gak peduli dan gak akan nengok kebelakang sedikitpun


"Eh bentar-bentar" Ponsel gue sejak tadi berdering, untunglah HP gue tahan air leo, tarnyata dia yang nelepon "Apa?" tanya gue buat orang disebrang telepon


"Bini lo tabrakan!" ucap orang diseberang


"Siapa? Gue masih lajang woi!"


"Aqisa!!"


Gue segera menarik gas motor hingga Bella kaget dan tubuhnya terhuyung kebelakang dan jatoh kelubang yang berisi genangan air bercampur lumpur


Gue sih bodo amat. Yang gue pikirin cuma Aqisa


Dibelakang masih terdengar teriakan Bella yang memanggil-manggil nama gue


Ah sial! Gue lupa tanya tempatnya! Gue bener-bener cuma asal tebak dimana tempat Aqisa beberapa menit berlalu, perasaan gue bener-bener gak enak


Mata gue menatap motor yang tergeletak tak jauh dari genangan darah yang mulai melebur bersama air. Motor Zio


Benar-benar sepi tak ada satu kendaraan bahkan orang yang lewat


Tanpa pikir panjang tangan gue menarik gas menuju rumah sakit yang tak begitu jauh dari sini. Saat ini gue bener-bener berharap Aqisa ada disana


Sepanjang jalan benar-benar sepi hingga pada belokan kedua kendaraan mulai berlalu-lalang menghalangi jalan gue menuju rumah sakit disebrang jalan yang sudah cukup dekat


Saat itu juga gue lihat Zio disebrang jalan yang membawa Aqisa dalam gendongannya. Kepala Aqisa mengeluarkan darah yang cukup banyak hingga sepanjang jalan zio terdapat jejak darah dari kepala Aqisa beberapa meter dari mereka terdapat rumah sakit


Gue segera turun dari motor tak memperdulikan motor gue yang tergeletak dengan mesin yang masih menyala


Jalan raya tepat didepan gue, masih bayak kendaraan berlewatan tak ada habisnya


Muak menunggu! Tanpa pikir panjang gue berlari kencang ketengah jalan sampai suara kelakson motor melesat menabrak gue


Flashback Off


"Flashback lo gajelas banget"


Antares memutar bola bola "Biarin yanh penting dah cerita"


Liza menatap Antares datar. Ah sudahlah! "Jadi, kesimpulannya lo nebak bahwa Zio yang dah nabrak Aqisa?"


"Bukan nebak! Tapi emang gitu!"


"Serah lo dah! Terus apa hubungannya sama bapak lo dugong?!"


"Motor yang nabrak gue waktu itu pasti suruhan bokap gue! Karenaaaa mana mungkin pak tua itu biarin gue lihat Aqisa buat terakhir kalinya"


Liza mengangguk


Antares menghela nafas. Sampai saat ini pun ia tak tau dimana letak makam Aqisa


Antares sudah ribuan kali bertanya pada Zio tapi Zio pun tak tau. Antares juga bertanya pada keluarga Aqisa tapi mereka pun bungkam


Entah mengapa Antares tak diperbolehkan mengetahui makan Aqisa


###


MAAPKAN BAHASANYA YANG AMBURADUL