IceCream

IceCream
14:}Upacara



Hari senin. Hari yang sangat dibenci liza karena pasti PANAS dan terdapat mata pelajaran para guru yang sangat senang mencari cari kesalahan liza


Seperti biasa saat jam sembilan liza akan colut bersama seluruh siswa kelas 11 IPS 3


Liza memakai sweater kuningnya lalu mengambil satu buku tulis kosong yang kemudian dimasukkan kedalam tas kuning cerahnya


Liza berdiri didepan cermin, melihat pantulan dirinya dari atas kebawah


Liza mengamati warna rambutnya dengan tidak puas



Liza menghembuskan nafas pasrah lalu keluar dari kamarnya


"Liza udah mau telat. Cepet berangkat" Fani mengelus bulu lebat cemeng yang sedang menatap tajam kearah liza



"Mama! kok kucing syialan itu balik lagi??!" Liza menatap tajam kearah cemeng yang sepertinya mengejeknya


"Itu papa yang bawa" Randi mengambil cemeng dari pangkuan fani


"Imut kan?" Randi mengarahkan wajah cemeng keliza


"Gak! udah lah liza berangkat Assallamuallaikum!" Ucap liza


"Ehh, pakek kaos kaki dulu!" Ucap fani


Liza menundukkan kepalanya. Kaki liza masih memakai sandal rumah


Liza berbalik, pergi kekamarnya lalu mengambil kaos kaki berwarna kuning putih yang tergeletak diatas tumpukan bungkus chokolate


"Sejak kapan kaos kaki gue disini? ini pasti kerjaannya sicemet!" Batin liza


Liza memakai kaos kaki itu lalu pergi keteras rumah yang ternyata sudah ada alan sedang memainkan boneka besar berwarna pink ditangannya


"Apa lo liat liat?!" Alan memeluk boneka itu supaya tidak direbut oleh liza


"Bang! ngapain lo beliin gue boneka?! gue kan gak suka boneka!!" Ucap liza


"Ih najis! pede amat lo! ini tuh buat gebetan gue!" Ucap alan


Liza menatap alan dengan datar


"Motor lo entar gue pa—" Ucapan alan terpotong


"Gak!"


"Ayolah deekk... motor gue masih dibengkel" Ucap alan, memohon


"Bukannya lo punya mobil ya?" Tanya liza


"Emmm itu... udah... gue jual. hehe"


Liza menaikkan satu alisnya. Meminta penjelasan


"Ituu... buat... beli..... make up gebetan gue" Alan tersenyum masam


"Papaaaaa...... liza punya Info pentinggg....." Liza berjalan masuk tapi tangannya ditarik oleh alan


"Jangan bilang papa!" Ucap alan berbisik


Liza menaikkan satu alisnya


"Emm... gue beliin ice cream deh!" Alan berusaha membujuk liza


Liza mengerutkan dahinya


"Dua deh!" Ucap alan


Liza menghembuskan nafas kasar lalu memutar tubuhnya masuk kedalam rumah


"27" Ucap alan, terpaksa


"OKE!" Liza mengangkat jempolnya


"Eh gue hampir telat nih! gue naik apa? apa pesen ojek onlone aja?" Liza merogoh saku roknya, mengeluarkan HPnya


"Dah gue pesenin" Ucap alan


"Hai! selamat pagi adek adek"


Ucap pak ojek online yang baru datang


Liza naik kemotor


"Diem! gak usah banyak omong! cepet berangkat!"


###


Liza turun dari motor dan melepaskan helm hijau yang dipakainya


"Jangan lupa kasih—"


"Bodo amat" Ucap liza cepat


Eh! tunggu kaki liza terasa tidak nyaman. Sepertinya ada sesuatu yang kurang


Liza menundukkan kepalanya dan—


"Sepatu gue mana?!!" Sepatu kuning liza masih berada diteras rumah


Liza berlari menuju kelasnya, mengabaikan orang-orang yang melihatnya dengan aneh


BRAKK!!!


Liza membuka pintu dengan kasar lalu menghampiri tiga cowok yang sedang mabar (main bareng)


"Sepatu gue ketinggalan!" Ucap liza yang membuat seluruh penghuni kelas menatap kaki liza


"Hahaha kok bisa?!"


"Pikunnya kumat kali"


"Sini gue ketok kepala lo!"


"Mari kita viralkan"


Begitulah ucapan orang yang bahagia dibawah penderitaan liza


BRAKKkk!


Liza menggebrak meja, membuat semua orang diam


"Dion sama liham, ambilin sepatu gue diteras rumah gue!" Ucap liza


Putra menghembuskan nafas lega


"Kok gue sih?" Liham melanjutkan bermain game diHPnya


"Ogah" Dion juga melanjutkan bermain game diHPnya


"Gue teraktir dikantin" Ucap liza. Dion dan liham hormat kepada liza lalu pergi tapi langkah dion berhenti disamping sisca


"Eneng sisca tolong doain akang dion selamat sampai tujuan" Dion menyalami sisca tapi tangan dion ditepis oleh sisca


"Gue doain lo selamat sampai tujuan dan celaka saat kembali!" Sisca mendorong bahu dion pelan, lalu melangkah kearah mila


Dion dan liham keluar dari kelas


"Liza sini deh, gue mau cerita!" Ucap sisca yang sudah berkumpul dengan mila dan kayla


Liza berjalan kearah mereka lalu duduk disamping mila


"Gue rasa dion suka sama lo deh!" Ucap mila


Liza dan kayla menganggukkan kepalanya


"Mungkin" Ucap liza dan kayla bersamaan


"Gue sih gapeduli. Eh, kemaren tuh siabi—" Perkataan sisca terpotong oleh Bel sekolah


TTTTTEEEETTTTT!!!!


"Itu bel ngegas amat dah!" mila mengambil topi upacaranya ditas


"Eh! Gue gabawa topi!!!" Liza panik! Dia tidak mau dihukum, karena hukumannya adalah hormat didepan tiang bendera selama tiga jam dan hari ini sangat panas!


"Hai gaesss! nih za, sepatu lo" Dion memberikan sepatu kuning yang dibawanya keliza


"Ada yang bawa topi dua gak????" Tanya liza. Semua orang menggeleng


"Ehemm!"


Semuanya menatap orang yang berada didepan pintu


"Apa? jangan bikin gue tambah pusing deh!" Ucap liza pada zio


Zio berjalan kearah liza lalu memberikan topinya


"Pakek!" Ucap zio gemas, karena liza tak kunjung memakainya


Ha? apa? kok liza yang makek!


"Ha?" Liza sangat tidak paham


Haishh! Sudah lah! Zio memasang topinya kekepala liza lalu menepuknya dua kali


Tidak hanya liza yang diam membatu tapi semua orang dikelas juga diam membatu


Zio melangkah pergi dari kelas liza


"Mata gue gak salah kan?" Tanya sisca yang sadar duluan


"Eh, jangan-jangan mata gue punya kelainan?!" Kayla mengucek matanya


"Ini mimpi gak sih?! Sisca, tolong tampar gue!" Suruh dion


PLAKKkkk!!!!


Sisca menampar dion sekuat tenaga hingga dion jatuh


"Sakit wooiiiii!" Dion memegangi pipinya yang terasa sangat panas


"Eh! berati bukan mimpi dong?!" Ucap dion


"AAAAAAaaaaaaa!!!" Liza berteriak sambil memegangi pipinya


###


Upacara dimulai. Semua murit berbaris sesuai kelas dan tugas masing-masing


Seperti biasa, barisan liza berada dibelakang, tepat disamping pohon mangga


Sisca menggadap kebelakang


"Itu bukannya zio ya?" Sisca menunjuk zio yang berdiri sendiri ditempat khusus untuk murit yang artibutnya tidak lengkap


Liza yang sedang bersandar dipohon langsung berdiri tegak. Mata liza mengikuti telunjuk sisca


Zio sedang menunduk, wajahnya tertutupi rambutnya yang basah karena keringat


"Liza lo mau ngapain?" Tanya sisca saat liza melepaskan dasinya


"Simpen dasi gue! Jangan ilang! Jangan rusak! Jangan kotor!" Liza berlari mendekati Bu lia yang sedang memantau atribut anak kelas sepuluh


"Yuhuuu~ Bu liaaa~ Hai~" Ucap liza didekat Bu lia


"Apa?!" Tanya Bu lia, ketus


"Aelah! punya dendam apa sih sama gue?! Gue doa tuh guru cepet pensiun, biar gak ada korban selanjutnya. Xixixi!"


Batin liza


"Bu lihat saya deh!" Ucap liza dengan senyum manisnya


"Bosen saya lihat kamu! mendingan saya lihat cogan yang lagi keringetan disana!" Bu lia menunjuk zio


Liza mengikuti telunjuk Bu lia


"Astagfirullah! Zina mata gue!"


Gumam liza


"Bu saya gak makek dasi nih!" Ucap liza


"Emangnya dasi kamu dimana?!" Bu lia masih memandangi zio


"Dasi saya dipipisin kucing papa saya bu!" Ucap liza, berbohong


"Ya sudah! kamu berdiri disamping zio!" Ucap Bu lia, tegas


Liza tersenyum pada Bu lia lalu berjalan kearah zio


"Cowok! sendirian aja! mau ditemenin tante gak?" Liza menggoda zio


"Gak!" Ucap zio cuek


"Aelah! gak seru lo!" Liza menyikut lengan zio


"Ngapain lo disini?" Tanya zio sambil melihat wajah liza yang cemberut


"Dihukum!" Liza tersenyum


"Baru kali ini ada yang seneng dihukum panas-panas gini! Apa saraf otak liza putus?"


Batin zio


Zio menghembuskan nafas


"Kenapa dihukum?"


"Gapake dasi" Ucap liza, santai


"Kenapa gak bilang dari tadi?!!"


Aishh kepala zio pusing


"Emang kenapa kalo gue bilang? lo mau minjemin?!" Ucap liza


"Ya" Ucap zio datar


"Gak usah! dasi gue ada kok! tadi sengaja gue lepas, biar bisa dihukum bareng lo!" Jelas liza


Zio menaikkan satu alisnya


"Ya kalo lo menjemin gue dasi lo, gue bakalan lepas sabuk gue!" Ucap liza


"Kenapa lo mau dihukum sama gue?" Tanya zio


"Gini deh! sekarang gue tanya! kenapa lo minjemin topi lo?" Liza menaikkan satu alisnya. Meminta penjelasan


"Biar lo gak dihukum lah" Ucap zio datar


"Dan gue juga gak mau lihat lo dihukum" Ucap liza


Zio menolehkan kepalanya kearah liza yang juga sedang menatapnya


"Eh tuh liza sama zio tatap tatapan jirr!" Ucap Kayla pada sisca


"Apa mereka berantem?" Batin sisca


Sisca melepaskan sabuknya, memberikannya pada kayla lalu pergi menghampiri liza dan zio. Abi yang melihat sisca berjalan menuju tempat orang yang dihukum, langsung melepaskan topinya dan memberikannya pada reyhan lalu menyusul sisca


Kayla tidak terima ditinggal dua temannya. Dia melepaskan topinya dan meletakkan dasi liza, sabuk sisca dan topinya dibawah pohon mangga lalu kayla menyusul liza dan sisca


Reyhan juga tidak terima ditinggal oleh abi dan zio. Reyhan melepaskan dasinya lalu menitipkannya keorang disebelahnya. Reyhan menyusul zio dan abi


Mila menepuk pundak dion lalu berkata


"Gue mau nyusul temen gue dulu"


Mila melepaskan topinya dan memberikannya kedion


Dion menatap liham dan purta


"Doain keselamatan kulit gue" Dion melepaskan topinya dan memberikan topinya dan topi mila kepurta dan liham lalu pergi menyusul mila


Liham dan putra saling menatap


"Temen kita kepanasan kenapa kita masih diem aja disini?" Tanya liham


Putra menganggukan kepalanya


"Orang gaguna itu yang ninggal temen pas lagi susah susahnya!"


"Itu namanya bang—" Ucapan liham terputus


"Tahan! jangan dilanjutin! nanti dosa!" Putra mengambil topi yang ada ditangan liham lalu melepas topinya dan topi milik liham lalu meletakkannya dibawah pohon mangga. Putra menarik tangan liham menyusul dion


Teman-teman sekelas liza dan juga para fans liza dan zio, pergi menyusul liza dan zio


Dibawah sinar matahari yang sangat terik, mereka mengobrol dan sesekali tertawa dengan keras, mebuat Bu lia mendatangi mereka


"Kalian berisik sekali! Kembali kekelas masing - masing! kalian tidak dihukum!" Ucap Bu lia lalu pergi


Liza merangkul zio sambil berkata


"Keren gak?"


Tanya liza yang sudah tau akirnya akan seperti ini


__________________


KALO SUKA LIKE:)