IceCream

IceCream
60:|Salah Cicak



Diluar langit tampak mendung, suasana kelas juga hening. Para murit menundukkan kepala mereka tak terkecuali Liza yang sejak tadi menunduk sambil merapalkan doa-doa agar namanya tidak disebutkan oleh guru di depan kelas


Suasanya yang mulanya hening kini menjadi horor ketika sepidol ditangan guru itu mulai terdengar diketukkan diatas papan tulis "kenapa diam semua?! PUNYA MULUT TIDAK?!!"


Hening~ tidak ada satupun murit yang berani menjawab bahkan mereka tidak berani mengangkat kepala mereka


"Jawab pertanyaan didepan!! Murit 30 lebih tidak ada yang bisa menjawab?! Lantas apa yang kalian pelajari selama ini?!! Kalian pikir pelajaran saya hanya main-main?!" anak-anak dikelas masih diam


BRAKK


Gebrakan meja berhasil membuat seluruh murit mengangkat kepala mereka


"Jantung gue mau copot rasanya" ucap Mila berbisik pada Kayla yang merupakan teman sebangkunya


"Telinga gue bunyi ngingg~~~" jawab Kayla tak kalah pelan


Liza yang awalnya duduk seorang diri kini akhirnya ditemani oleh Alya, sang ketua kelas yang otaknya sedikit lebih pintar dibandingkan murit lainnya dikelas ini


"Kenapa masih diam saja?! Hanya satu soal dipapan tulis!! Bukan 100!! Kalaupun salah tidak akan saya penjarakan!!"


Dion menunduk "Iya sih kagak dihukum, tapi dipermaluin di sekolah" ucapnya pelan nyaris tak terdengar


"Bisa-bisa dihukum kayak dulu" balas putra


Mereka berdua kini mengingat kembali moment saat tengah dihukum berlari memutari halaman luas sekolah tanpa memakai baju bahkan tubuh mereka dicoret dengan sepidol bertulis 'inilah hukuman orang bodoh dikelas bu ani' tidak hanya sampai situ, mereka berlari sambil melantunkan kata yang tertulis ditubuhnya. Hukuman itu bukan dilaksanakan saat pelajaran sedang berlangsung atau saat istirahat, melainkan saat pulang sekolah dimana seluruh murit pulang melewati halaman itu


Bukan hanya mereka berdua yang pernah dihukum. Liza dan dua temannya itu pun juga pernah dihukum, tapi tentu saja hukuman mereka tidak sama dengan Dion dan kawannya


Liza dan dua temannya hanya dicoret wajah mereka lalu disuruh mendatangi satu persatu kelas sambil mengatakan 'kamilah orang bodoh yang tidak mampu menjawab soal anak SD dikelas Bu Ani' setelah itu mereka juga harus menyanyikan sebuah lagu pilihan Bu Ani. Tidak berhenti disitu, mereka juga harus pergi kekantin saat sedang jam istirahat. Bukan untuk makan melainkan untuk berdiri diatas meja tepat ditengah kantin, menghadap bendera kebangsaan yang terpasang disamping kantin selama satu jam. Dan soal tidak mampu menjawab soal anak SD itu tentu saja tidak sungguhan! Mana mungkin Bu ani memberikan soal gampang anak SD pada anak muritnya


"Kamu yang sejak tadi melototin saya!!" Tangab Bu Ani terulur, menunjuk siswa yang duduk dikursi paling pojok


Seluruh murit kini menatap anak itu, benar saja dia menatap Bu Ani tajam seakan memiliki dendam pribadi. Siapa lagi jika bukan Liham. Murit yang kakinya pernah di lindas oleh ban motor Bu Ani sewaktu masa PLS


"Kenapa lihatin saya kayak begitu?!! Kamu dendam sama saya?!"


"Tidak! Hanya mengingat masa lalu yang kelam"


"Lalu kenapa lihat saya seperti itu?!!"


"Gegara ban motor ibu kaki kiri saya cantengan tiga hari. Itu sangat sakit bu. Saya benar-benar menahan sakit saat bapak saya memplotot jempol kaki saya supaya nanahnya pada keluar. Tiga hari tiga malam saya tidak bisa jalan"


Bu Ani memutar bola matanya, menekuk kedua tangan dipinggang "itu sih salah kamu aja yang mainnya ga pake sandal! Jorok! Mangkanya kaki kamu bisa sampe cantengan!"


"Tidak—"


"Haaaais! Sudah! Sekarang jawab soal dipapan tulis!"


Mau tak mau Liham bangkit dari kursinya berjalan kearah papan tulis. Dalam satu menit dia kembali metelakkan sepidol kembali ketangan Bu Ani


Liza dan sebagian anak-anak dikelas bertepuk tangan sambil menggelengkan kepala mereka


"HEBAT!!" Ucap Dion melupakan ketakutannya pada Bu Ani


'Saya merasa di anak tirikan oleh bu ani!! Saya mau di hukum saja!! Saya mau meratapi nasib!! Teruntuk bu ani yang sudah mengecewakan saya.... Ay lop yu walaupun anda tidak membalas perasaan saya. Trimakasih semuanya!!! Saya pamit ngambek dulu!! Jangan cari saya kalau gak bawa sogokan'


Setelah seisi kelas membaca tulisan dipapan tulis, liham menyalami Bu Ani lalu memeluknya sambil berbisik "saya pamit ya bu. Trimakasih untuk Semua kenangan pahitnya"


Liham melambaikan tangan kesemua murit sebelum pergi dari kelas


"Eh tapi saya belum tentukan hukuman kamu!!"


"Tak apa bu, tak usah repot-repot. Sudah saya pikirkan hukuman untuk diri saya sendiri" pada akhirnya Liham benar-benar pergi dari kelas


"Drama banget ga sih?" Bisik Alya pada Liza


"Itu namanya bolos pelajaran dengan gaya" ucap Liza juga berbisik


"Kenapa pada lihatin pintu?!! Pintu lebih cantik dibanding wajah saya?!!!" Ucap Bu Ani kembali galak seperti biasa. Seluruh murit kini juga kembali menunduk


Hening~ hingga Dion memberanikan mengangkat kepalanya "Ndak bu. Bu Ani cantik! Nayeon tuis mah lewat" ucap Dion dengan kedua jempolnya yang terarah pada Bu Ani berhasil membuatnya salting dengan dua pipi merah merona


"Pftt!!" mantap!! Kini seluruh penghuni kelas menatap Liza. Bisa-bisanya dia menertawakan Bu Ani. Dasar! Kini Liza memejamkan kedua mata erat, ikut menyalahkan dirinya sendiri


"Kamu! Alizya claura!!"


Liza mengangkat kepalanya. Pasrah ae dah pasrah!!


"Kamu—"


"Assalamuallaikum" kini semua orang menatap seseorang yang berjalan masuk kedalam kelas. Orang itu menyalami Bu Ani lalu berdiri didepan papan tulis "Perkenalkan nama saya Antares Farezal dari SMA Garuda, untuk sehari ini saya akan belajar di kelas ini. Mohon bantuannya~" Antares melambaikan tangannya sambil tersenyum


Liza memiringkan kepalanya, berbisik pada Alya "baru kali ini gue tau nama lengkapnya"


Kini Alya pun ikutan memiringkan kepalanya kearah Liza "temen sekelas gue waktu SD tuh"


Bu Ani mengangguk "yaa... Tambah satu orang gapapa lah ya. Yasudah duduk di kursi yang kosong"


Antares mengangguk lalu berjalan menuju kursi liham yang kosong


"Kalau gitu oke kita lanjut—"


"Assalamuallaikum"


"Assalamuallaikum"


"Assalamuallaikum semua"


"Permisi"


"Selamat pagi"


"Apa kabar"


"Hai semuanya"


"Hai para manusia tiada akhlaq"


"Pagi siang sore semuaa~"


"Apa kabare"


"Wah kelas ini mirip kandang ayam"


"Apa ini bau orang bodoh?"


"Kelas ini terlihat sangat suram"


"Permisi~ Permisii~~ Numpang belajar numpang makan numpang ridurr~~"


"Selamat pagi semua— aduh belet e'ek"


Satu persatu teman Antares masuk ke dalam kelas dengan membawa kursi dan meja kecil yang mereka ambil dari gudang sekolah ini


"Eh? Apa ini?" ucapan Bu Ani berhasil membuat orang-orang itu menghentikan langkah mereka "mau belajar dikelas ini" ucap salah satu dari mereka"


"Belajar? Okelah. Jangan ngerusuh ya!"


Kini orang-orang itu menata meja dan kursi mereka di belakang kelas yang kosong. Melihat salah satu temannya meletakkan meja dan kursi di belakang tempat Liza, Antares segera mengangkut tas nya lalu pindah kesana


Antares menepuk pundak temannya itu "Gue ambil tempat lo ya. Lo bisa duduk di tempat gue tadi" temannya mengangguk lalu pergi dari sana menuju tempat yang tadi dipakai Antares


Melihat Antares duduk dengan nyaman dibelakang Liza membuat Leo ikutan menyeret meja dan kursinya ke samping tempat Antares. Mereka kini duduk bersebelahan dengan dua meja kecil yang dijadikan satu


"Eh Liza lama ga ketemu" ucap Leo begitu duduk dikursinya


Liza yang merasa namanya disebut pun menoleh menatap leo dengan kepala sedikit miring "siapa ya?"


Leo membelakkan matanya, tak menyangka Liza akan merupakannya secepat itu "teganya...."


"DIAM SEMUANYA DIAMM!!" Kelas kembali sunyi


"Ya jadi—"


"Assalamuallaikum...."


"Astagfirullah... Kenapa setiap saya ngajar di sini pasti adaaaa saja halangannya" Bu Ani menatap Liza, berpikir Liza lah yang menyuruh orang-orang untuk mengganggu dirinya mengajar


Liza tidak sebodoh itu untuk mengerti arti tatapan tak sedap dari Bu Ani "eyyy tolong sesekali berpikirlah hal baik tentang saya. Saya tau nama saya di sekolah ini memanglah sudah kotor tetapi agak berlebihan jika saya yang membuat anak-anak lain mengganggu ibu saat mengajar di kelas ini" Terang Liza panjang lebar. Tentu saja seorang Bu Ani tidak akan mempercayainya begitu saja


"Emm permisi... Saya di sini selaku penjaga Perpustakaan yang tengah bertugas ingin mengambil buku semester lalu yang belum di kembalikan" Ucap salah satu dari dua orang tamu tidak di undang tadi


Sisca selaku sekertaris kelas mengangkat kepalanya mengingat seluruh murit sudah mengembalikan semua mapel semester lalu


"Baiklah saya akan sebutkan beberapa anak yang belum mengembalikannya.... Ehemm pertama Faurel—"


"Sudah-sudah!! Tidak ada dia di kelas ini!! Sana pergi! Ganggu saja!!" Bu Ani mengibaskan kedua tangannya bermaksut mengusir dua penjaga perpus


"O-Oh maaf Bu, saya salah. Bukan ini. Saya ulang lagi" Salah satu dari mereka, yang memegang buku besar kini membalik lembar demi lembar untuk mencari catatan kelas Liza "Nah... Oke Tolong yang namanya saya sebut segera ikut saya... Liham—"


"Haisjdjs!! Orangnya sedang di hukum. Sana samperin!! Jangan balik lagi ya, sebelum saya keluar kelas" Bu Ani mendorong dua penjaga perpus itu hingga keluar kelas lalu beliau menutup pintu kelas


"Huh! Oke—"


TETTTTT!!! Istirahat pertama dimulai


Bu Ani tersenyum pasrah "Kerjakan halaman 59, 62, 65, 71, 75 soal nya juga di tulis serta rangkum halaman 60 sampai 100. Bagi yang tidak mengerjakan siap-siap di beri hukuman"


Sabar


Tak apa


Pertemuan berikutnya Liza akan memelas pada mama nya untuk membolos 👍


###


Senyum Bella mengembang saat melihat Antares yang berada di lingkungan selolahnya tanpa berpikir dua kali dia menghampiri Antares dengan sejuta harapan dalam hatinya "kak Antares, hai~" Bella melambaikan tangan mungilnya di depan antares, berharap sang kakak membalas sapaannya


Selang sepuluh detik Bella menurunkan tangannya. Ada perasaan kecewa saat Antares tidak membalas sapaanya bahkan tidak memandangnya. Meskipun begitu senyum Bella masih bertahan, ia yakin Antares suatu hari nanti akan memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat baik! Ini semua hanyalah persoallan waktu


"Woi!!" Leo berlari meghampiri Antares dengan membawa dua botol teh yang baru saja ia beli di kantin "ngapain dah?" mata leo bergeser menatap Bella, tidak suka. mencoba mengabaikannya, leo menyerahkan satu botol teh miliknya pada Antares "kantin yok! dah ditungguin noh!"


"siapa?" ia berharap Liza mengunggunya. tapi itu sangatlah tidak mungkin karena sepengetahuannya Liza kini tengah dekat dengan musuhnya itu, yaaa~ walaupun mereka selalunya ribut tapi antares tau betul Zio menyukai gadis galak itu sejak lama dan mungkin Liza pun begitu, mereka hanya terlalu gengsi untuk mengatakannya


Leo meirik bella yang ikut menunggu ucapan selanjutnya "emm... adalah"


"emm... aku boleh gabung ga"


"maaf tidak terima member baru" leo menarik baju seragam Antares. Mereka kini pergi ke kantin


begitu sampai kantin titik fokus mata antares dan leo langsung terpusat pada gerombolan anak kelas liza yang terlihat menonjol diantara anak-anak lain


Antares dan leo berlari kecil menghampri mereka


"nanti kita bawain oleh-oleh ga? dion kemeren minta" ucap Alya tiba-tiba teringat percakapan mereka di grup kelas


"duitku abis gaess, kemaren khilaf beli skincare kebanyakan" mila menangkupkan kedua telapak tangannya


"gue ga enak sama emaknya. kemaren waktu kita kesana kayak ga sopan banget" ucap Liza, tak sadar bahwa itu ide darinya


"iya weh, mana si triya pake segala bawa kwmbang lagi"


"oh, gimana kalo bawa perlengkapan bayi aja, kan si siapa tuh mau lahiran"


"ya lo pikir lah wahai manusia berakal separo, siapa yang jual perlengkapan bayi kambing?!"


"gimana kalo kita bawain rumput aja yang banyak, buat jatah makan setaun"


"emm permisi gure ada masukan nih. gimana kalo kita bangun rumah yang layak buat kambing sama calon anaknya" Menurut Triya, hidup si kancil memang mengenaskan pasalnya saat dia berkunjung ke rumah Dion, ia melihat kancil hanya di beri kandang kucing yang menurut pandangan seorang Triya tak terlalu besar dan hanya ber alas handuk bekas sebagai kasur tak di beri bantal, guling ataupun selimut pula


"Si Dion mah dibawain batu kali udah seneng kali"


"Heh! Ini orang yang di omongin masih disini wehh!! Mbok ya biarin aku pergi dulu... Baru di bahas, biar ala-ala surprize gituuu"— Dion


"Lah, gak usah surprise-surprise'an. Hidup mu aja dah banyak drama" Celutuk Liham selaku teman sekaligus tetangga Dion


Kini mereka semua diam memikirkan apa yang harus di bawa saat mereka berkunjung ke rumah Dion nanti


"Kira-kira berapa organ yang harus gue jual buat biaya persalinannya kancil?" Tanya Dion berniat melucu namun orang-orang di sekitarnya menanggapnya serius, bahkan beberapa di antara mereka ada yang sudah memikirkan untuk mencari rumah sakit terbaik ada juga yang sudah membayangkan tampang-tampang lemes-melas nya Dion setelah organnya di ambil


"Loh? Apa ini? Nggak serius woee!! Kayaknya lo pada seneng dah kalo gue tersiksa"


Orang-orang di meja kompak tertawa cekikikan, membenarkan ucapan Dion. Entah kenapa setiap Dion mendapat kemalangan itu menjadi hiburan tersendiri bagi teman-temannya


Awalnya Dion merasa kesal, namun saat melihat Sisca yang ikut tertawa lepas membuatnya ikut tersenyum. Dion berharap dia bisa mendapatkan hati sang gadis pujaan namun sepertinya tidak. Selera Dia terlampau tinggi untuk di sandingkan dengan Dion yang selalu apa adanya bahkan terkadang tampilannya ke sekolah seperti pengemis. Sungguh


Namun jikalah Dion tidak bisa menggapai Sisca biarlah dia membuatnya bahagia dengan caranya sendiri tanpa harus memilikinya


"Permisi" Kini semua penghuni meja menoleh pada Bella yang entah kenapa tiba-tiba datang


"Oh apa?" Tanya Mila yang berada tak jauh dari Bella


Antares menatap Bella tajam. Entah apa yang akan Bella lakukan kali ini. Sungguh jikalah bisa, ia ingin membuang Bella ke planet lain, jauh dari bumi dan kehidupannya


"Boleh gabung ga?" Bella menundukkan kepalanya, memainkan jari-jarinya


"Duh tempatnya udah ke isi semua" ucap Milla


"Eh, kalo mau, lo bisa duduk di tengah meja" Ucap Liza. Anak-anak kompak menyingkirkan makanan mereka ke tepi meja


Diam-diam Antares menahan tawanya, merasa senang. Liza memang luar biasa dalam mempermalukan orang walau dia tidak sadar tindakannya barusan termasuk mempermalukan seseorang. Antares saja tidak berani berbuat demikian pada Bella


"Sini-sini bell" Liza mengayunkan tangan saat melihat Bella tak kunjung naik ke atas meja


"Kek jadi persembahan jir. Haha" Ucap Putra lantang. Memang anak-anak di sini IQ nya rendah. Mereka hanyalah orang-orang yang selalu melucu tanpa malu untungnya anak-anak di kelas merupakan tipe tidak gampang marah


"Sini bell... Eh apa mau di hias pake ijo-ijo dulu biar kayak nasi tumpeng?" Tanya Liza. Teman-temannya lantas mencari dedaunan di sekitar, menghias meja menggukanan daun


"Ga usah kak. Aku balik ke meja temen-temen aku aja" Tanpa menunggu jawaban dari Liza, Bella langsung berbalik menunggalkan meja Liza dan teman-temannya


"Lah? Gue pikir dia ke sini gegara gak kebagian meja di kantin" ucap Milla menyesal merasa kasihan pada Bella


Leo diam melihat pergerakan Antares sejak awal Bella datang


Sementara itu jauhhh di pintu kantin Zio dan Agus menatap gerombolan Liza. Tidak ada percakapan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing


###


Bosan berdiam diri di kelas, Liza, Sisca dan Kayla sepakat untuk jalan-jalan mengelilingi sekolah, mengamati segala hal baru di sekolah. Mulai dari tanaman serta cat kelas yang di ganti lagi menjadi serba hijau. Sangat sejuk, namun Liza menyayangkannya. Jangan lupa gadis itu pencinta warna kuning hingga akhir hayat


Rasanya sudah sangat lama mereka tidak melihat-lihat keadaan sekolah. Sangat banyak yang berubah, seperti bukan sekolah mereka. Bahkan mereka baru tau ada pembangunan gedung baru di dekat musola


"Coba bayangkan kalo sekolah kita di cat serba kuning. Hem~" Liza menutup matanya, tersenyum membayangkan


"Astagfirullah Jangan sampe. Bisa-bisa matahari kalah terang"


"Makin panas yang ada. Kek simulasi di neraka"


"Astagfirullah!" Liza dan Sisca kompak memukul kelapa Kayla "jangan bawa-bawa neraka kaylaaa!! Serem tau!"


"Mangkanya tobat!"— Kayla


"Nan—"


"Nanti mulu lo za. Kalo semisal se jam lagi lo mati gimana? Ga jadi tobat gitu?" Ucap Sisca memotong ucapan Liza


"Astagfirullah serem weh!"


Semoga saja mereka cepat di beri kesadaran untuk tobat segera. Dan tolong jangan di tiru perbuatan buruk mereka


"Kopsis yuk, beli minum sekalian ngadem" Kebetulan sekali letak kopsis tak jauh dari mereka. Tanpa menunggu jawaban dari kedua temannya, Liza segera menarik tangan Kayla dan Sisca menuju kopsis


Tangan Liza terulur membuka pintu kopsis. Bersamaan dengan terbukanya pintu, Liza merasakan ada benda jatuh tepat di kepalanya


"Z-Za...."


"Ihh, apa tuh"


Tubuh Liza kaku seketika saat merasakan ada hewan kecil yang bergerak di kepalanya. Dengan agak ragu Liza memberanikan diri menggosok kepalanya, yang ada di pikirannya kini adalah seekor capung atau hanya air


"Kyaa ada darahh!!" pekik Kayla setelah Liza menggosok kepalanya


Mata Liza terbelak sempurna, dia mengamati darah di tangannya. Jangan-jangan... CICAK?!!!


"Kyaaa!!!" Liza berlari menuju toilet manapun yang ia temui. Sementara itu Sisca dan Kayla mengejar Liza yang sudah jauh di depannya


Mata Liza terfokus pada pintu hijau-biru tak jauh darinya dengan tulisan Toilet yang sebagian lainnya sobek. Tanpa pikir panjang Liza menarik pintu itu lalu segera masuk ke dalam


Baru satu langkah memasukki toilet itu, jantung Liza terasa berhenti sekejap hening menyisakan suara pancuran bak air kran


Sungguh sial ternyata Zio juga ada di dalam sana bersama dengan banyaknya anak lelaki yang tengah menikmati buang najis kecil alias pipis. Tau kan cowo tuh kalo pipis jejer-jejer kek lagi ber jama'ah. Mana tak ada penghalang satu sama lain membuatnya semakin jelas (jangan di bayangkan!!)


Wajah Zio pucat pasi, segera ia tutup resleting celananya lalu melempar kepala Liza dengan ponsel di sakunya. Membuat Liza tersadar lalu berteriak "KYAAAA!!! APA ITU SEMUA!!!" Liza berbalik lalu lari sekuat mungkin keluar dari toilet cowok. Tujuannya kini tak pasti, yang penting kabur dulu


Apabila ditanya menyesal atau tidak, pastinya Liza sangat menyesal telah tidak sengaja mengamati privasi milik kaum-kaum lekaki itu. Dan bila ditanya malu atau tidak, YA PASTINYA MALU!!


"KYAAA!! MAU MATI AJA YA TUHAN!!!" Ucap Liza sambil berlari hingga tidak sadar ucapannya karena saking malunya


"Liza awas!!!"


Liza menoleh melihat orang yang memperingatinya tadi lalu dia kembali menatap depan dan—


BRAKK!!!


Oh, apakah tuhan mengabulkan permintaannya?


Hidung Liza mengeluarkan darah kepalanya benjol tepat ditengah. Sebelum kesadarannya hilang Liza menyempatkan melihat oknum yang membuka pintu hingga membuatnya seperti ini


"Tepat sasaran haha" Ucap tersangka yang membuka pintu kelas. Mata Liza menjadi buram namun dia merasa familiar dengan suara gadis itu. Belum sempat Liza mengamati wajah gasis itu, kepalanya terasa pusing hingga membuka mata saja rasanya sangat sulit


Ya Allah beri Liza kesempatan hidup sebentar lagi. Ada harapan yang belum Liza raih, ada pelaminan yang belum Liza rasakan, ada Zio yang belum minta maaf juga ada utang bakwan jagung kemaren yang belum Liza bayar


###


"Di mana nih??" Mata Liza bergerak mengamati langit-langit yang serba putih "Oh, ternyata akhirat tuh gini ya"


"Sadar za, astagfirullah anak orang kok gini amat" Liza menoleh ke kanan mendapati temannya yang menatapnya malas


"Sisca? Gue masih hidup ya? Alhamdullilah" ia merasa lega namun ingatan buruk kembali membuatnya gelisah. Cicak, satu nama berjuta ke sialan. Liza semakin membenci hewan itu


Liza menoleh ke samping berharap Kayla juga ada namun yang ia dapati malah manusia dengan wajah merah menahan malu. Zio. Kasihan sekali anak itu


Liza tau, Zio pasti sangatlah malu. Dia menghela nafas melupakan segala gengsinya. Kini Liza tau perbuatannya sangatlah salah "Emm Zio, maaf ya—"


"Jangan-jangan!! Jangan lihat gue" Zio memalingkan wajahnya. Malu luar biasa


"Tapi... Gue ga sengaja lihat—"


"Liza! Jangan di sebut!" Zio menutup wajahnya dengan bantal


"Apa sih?" tanya Sisca tidak paham


"Dah lah" Zio pergi masih menutupi wajahnya dengan bantal putih milik UKS


Liza dan Sisca mengamati Zio sampai ia hilang di balik pintu


"Sisca" Sisca menoleh pada Liza "apa?"


"Tolong colok mata gue"


"Kenapa emang?"


"Gue ga sengaja lihat panjang—"


"LIZAAA!!!" Rupanya Zio masih berada di luar memantau ucapan Liza


###


Setelah pusingnya hilang, Liza langsung pergi mencuci rambutnya di toilet guru yang sepi dan di jaga ketat oleh kedua temannya. Ia merasa trauma karena salah masuk toilet tadi


Dan kini mereka duduk di sebuah bangku tak jauh dari UKS dengan es batu untuk mengkompres benjolan di tengah jidat Liza yang tak kunjung kempes. Sungguh sangat mengganggu mana temannya itu tak henti-hentinya menertawakan segala kesengsaraannya hari ini


"Pingen gue coblos aja biar cepet kempes" Sisca dan Kayla kompak menatap Liza horor, tawa mereka seketika lenyap "jangan aneh-aneh ya za!" Kayla mengangguk, menyetujui ucapan Sisca


Kini mereka diam menatap lurus ke depan


"Eh ga kerasa ya bentar lagi kita kelas XII. Bentar lagi kita out dari sekolah ini" Liza memandangi halaman sekolah. Sebentar lagi ulangan kenaikan kelas di mulai. Entah Liza akan belajar atau tidak


"Heh za, satu tahun itu lama. Yang bakalan cepet keluar dari sekolah ini tuh kakel kita"


Kayla mengangguk "Huhu... Jaemin KW mau lulus"


Liza memutar matanya "iya kalo dia lulus, kalo semisal enggak gimana?"


Kayla dan Sisca mengatap Liza, tidak terima "maksut anda kak ardi itu gblk? Asal sampeyan tau ya, dia itu masuk 10 besar kakel terpinter di sekolah ini" Kayla mengangguk mengiyakan perkataan Sisca


"Huh teserah"


Kini mereka bertiga kembali menatap halaman sekolah juga mengamati hal-hal aneh yang di lakukan anak-anak di sekitar halaman


"Eh katanya kalo ke jatuhan cicak tuh bisa kena sial"— Kayla


"Mitos tuh"— Liza


"Eh za, setelah lo ke jatuhan cicak tadi kan, lo langsung kena sial dua kali malah"— Sisca


"Ya semoga aja jangan lah"— Liza


"Siap-siap aja za kalo beneran kena sial lagi"


Mata Liza terbelak menatap Kayla "Astagfirullah, lambe nya Kayla minta di aspal"


Kayla tertawa pelan lalu mereka kembali diam sibuk dengan pikiran masing-masing


"Ardii!!"


Liza beserta dua temannya menutup mata mereka sesaat, di siang yang awalnya tenang kini menjadi hancur oleh satu teriakan cempreng milik gadis di depan pintu UKS, tidak terlalu jauh dari Liza dan kawannya


Mereka kompak menoleh, mendapati dua pasang manusia tengah beradu mulut. Yang perempuan terlihat mengeluarkan seluruh suaranya memakai tenaga dalam sedangkan sang lelaki hanya menatap malas. Hah, jaemin KW sangatlah kasihan


"Dia mantannya kak Ardi bukan sih?" Kayla menatap Liza. Liza menaikkan bahunya tanda ia tak tau


"Iya. Namanya Gebi" Ucap Sisca


"Ngapain lagi mereka?" tanya Kayla penasaran


"Maaf Ar. Gue cuma salah paham!! Masa lo ga mau ngasih gue kesempatan?"


"Kangan kayak bocah deh" Ardi melangkah meninggalkan Gebi. Gebi membelakkan matanya, dia masih belum selesai bicara. Dia lalu mengejar Ardi


"Noh, si jaemin KW" Ucap Liza malas


"Kak Ardii~~" Ucap Sisca dan Kayla kompak saat Ardi melewatinya


"Eh iya" Ardi menatap Liza yang hanya diam saja mengamati halaman "Liza? Hai~ tumben keluar kelas, biasanya kalo ga di kelas ya di kantin emm kalau ga ya ngadem di BK"


Liza tersenyum itu sedang di hukum kakak:) ganteng-ganteng kok bodo sihh~~


Sementara itu Sisca dan Kayla menatap Liza iri


"Ohh... Jangan-jangan lo ninggalin gue gegara pingen ngejar ni cewe?" Gebi menatap Liza rendah


Liza hanya menghela nafas. Malas meladeni manusia satu itu


"Emang kenapa kalo gue ngejar dia? Lo sekarang udah ga berhak larang-larang gue" ucap Ardi berusaha tenang


Gebi menatap Liza tajam se akan mengatakan 'awas aja lo!' dia pergi dengan langkah panjang


Liza? ia terus menatap burung kecil pohon mangga yang juga menatap balik dirinya


"Kak, minyak kayu putih ada di UKS ga?"— Sisca


"Kak, ada teh anget gratis ga di UKS?"— Kayla


"Ada" Jawab Ardi


"Oke!! Ayo ke UKS!!"


Pada akirnya tiga orang itu pergi menginggalkan Liza sendiri


###


PROMOSI DIKIT


Hai semuanyaa~~~


Aku ada cerita baru nih, judulnya Pesawat Kertas


Yuk langsung di baca


Sekian trimakasihh~~