
Ulangan selesai, semua kertas jawaban maupun soal ditumpuk di meja guru. Tentu anak-anak berlomba-lomba menumpuk agar bisa cepat pergi ke kantin untuk menghindari antrian panjang dari kaum kelapan SMA kami. Namun satu gadis kelas XI yang duduk dibarisan paling depan masih santai menatap murid lainnya dengan mengetukkan bolpen nya diatas meja.
"Eh geb," Liza menahan tangan Gebi saat dia melewati mejanya.
Gebi menoleh menatap liza terheran-heran
Liza tersenyum lalu menyerahkan lembar ulangannya pada Gebi yang masih diam mematung menatap kertas Liza "nitip dong" ucap Liza enteng.
Menatap Liza tajam, Gebi menyahut kertas ulangan Liza, entah mengapa ia mau disuruh-suruh juniornya itu.
Mengabaikan tatapan heran dari teman-temannya, Gebi berjalan lurus menuju meja guru dengan membawa soal serta jawaban ulangannya dan juga milik Liza. Bisa dia lihat dari ekor matanya, tangan Liza terulur keatas membentuk love besar yang di tujukan untuknnya.
Setelah mengumpulkan kedua kertas ulangan, Gebi menyempatkan melirik ke bangku Liza yang ternyata kosong. bocah itu sudah melesat pergi beberapa detik lalu.
###
Toilet khusus tamu. Tentu sepi disaat-saat seperti ini. Untunglah toilet yang jarang buka ini kini terbuka lebar dengan aroma wangi seakan habis dibersihkan.
Dan disinilah Liza berada untuk saat ini. Berjongkok dengan elegant walaupun perutnya sudah tak karuan rasanya, walau begitu Liza masih bisa memikirkan hal-hal random yang seakan sudah menjadi kebiasaannya ketika tengah buang air besar.
Ia tidak mengerti mengapa sejak kemarin perutnya terus sakit, padahal jika di ingat kembali, kemarin ia tidak melihat tanda-tanda mules mencr*t dari keluarganya bahkan kakaknya yang semalam paling banyak makan.
Liza menggehela napas, untung kali ini ia membawa sabun pribadi yang ia taruh dalam wadah bekas parfum kecilnya. Sabun cair aroma semangka yang sudah sejak lama ia pakai dan tentu saja ia sendiri yang membelinya menggunakan uang tabungannya namun beberapa hari lalu kakak tiada akhlaknya itu menumpahkan sabunnya hingga sisa setengah.
Adegan paling tidak adil baginya saat itu ialah ucapan ibunya yang dengan enteng mengatakan 'tinggal beli lagi apa susahnya?' Hei emak! Ini dibeli pakai uang tabungan! uang hasil kerja keras aing! Udah capek-capek sekolah demi uang saku eh malah tumpah separo gegara abang—(sebagian kata-kata di sensor karena kurang baik) Batin Liza menjerit dengan rasa dongkol yang masih tak kunjung hilang.
Brak Brak!!
inilah hal paling tidak Liza sukai saat tengah e'ek di sekolah. Adaaaa aja yang gedor-gedor pintu! ini perjuangan Liza jadi kembali ke titik nol, dan lagi kaki Liza sudah kesemutan jongkok sejak setengah jam lamanya.
Brak brakk!!
Liza meremat gayung bentuk love yang sejak tadi ia genggam. Ingin sekali ia berteriak namun ini toilet, yang setannya tidak boleh berbicara apalagi berteriak.
Merogoh saku bajunya untuk mengambil selembar tissue lalu mengelap keringatnya tak lupa ia bercermin agar tak dipandang aneh oleh orang-orang yang akan ia temui nantilah.
Liza terlebih dahulu memeriksa keadaan sekitar memastikan toilet masih aman untuk dipakai orang lain nanti sebelum menarik pintu.
Aman. Batinnya
Tangan Liza terulur mendorong pintu namun terasa berat. Mungkinkah seret? kini ia mendorong pintu dengan tubuhnya namun tetap gagal.
Liza mulai panik, mungkinkan terkunci? atau dikunci? mengingat kemarin banyak yang mengiranya mencuri kunci jawaban b.ing.
Tangannya kini mencari-cari ponselnya disemua saku namun tidak ada. Tidak sampai situ saja, kini Liza mencari-cari ponselnya sekitarnya siapa tau ponselnya jatuh saat ia menyiram toilet tadi.
Tidak ada...
Brak Brakk!!
"Woii!! Buka pintunya!"
"Jangan main-main!! WOIIII!!"
Jika sedang tidak banyak tamu yang datang toilet tamu ini biasanya akan dikunci hingga berhari-hari tujuannya demi menjaga kebersihan karena yang pihak sekolah tau, para murid disini lebih memilih toilet khusus murid yang sengaja dibuat didekat kelas.
Wajah Liza memerah dengan air mata yang hampir tumpah. Ia yakin pasti ada yang akan menolongnya. Pasti!
"Mah... "
"Bang Alan..."
"Papa... " Liza memanggil satu persatu keluarganya masih dengan mendobrak pintu walau tidak sekeras tadi.
Mulutnya memanggil nama semua orang yang ia rasa bisa menolongnya. Ia mulai lelah, wajahnya pun sudah memerah dengan air mata yang akan tumpah. "Zio... " ucapnya pelan berharap Zio benar-benar datang.
Beberapa menit berlalu, kini Liza bangkit. Ia sadar bahwa ia tidak bisa hanya menggantungkan harapnya yang tidak jelas. Syukur kalau memang ada yang membangun namun jika tidak? apa ia akan bermalam disini?
Menepuk beberapa kali lengannya, kini Liza menyakinkan diri mendobrak pintu sekuat tenaga. Setidaknya ia tidak boleh mengerah minimal sampai lengannya terasa mau patah.
"huh!" mengusap kedua matanya yang panas Liza mulai berhitung mundur.
3
2
1
Cklek!
Buaghh!
Liza mendobrak pintu bersamaan dengan terbukanya pintu, alhasil dia jatuh menimpa sosok yang membukakan pintu untuknya.
Beruntung bagi Liza karena hanya sikunya yang merasa ngilu, berbeda dengan sang penyelamat nya yang kini pantatnya serasa hancur.
"Gebi?!"
"Lo ngapain pake segala dorong pintu?!!"
Liza mematung, masih tak menyangka Gebi akan membantunya "huwaaa!! gue tadi panik bangett" Tanpa aba-aba Liza memeluk Gebi yang akan berdiri membuat pantatnya terhantam lantai untuk kedua kalinya oleh Liza. "Lizaaa!!"
###
Derap sepatu seorang gadis dengan pita kecil terdengar disepanjang koridor, kepalanya menoleh kesana-kemari mencari-cari keberadaan manusia yang tidak sengaja ia dorong tadi, berbekal bola hasil pinjaman dari guru PJOK dan juga minyak gosok saran dari Dion, Liza berlarian mencari keberadaan Gebi yang hilang sejak lima menit lalu.
"kak Liza? kok lari-lari??"
Liza menghentikan langkahnya lalu mundur beberapa langkah menyamakan dengan Bella. Ia menatap Bella yang entah mengapa terlihat agak berbeda. Rambut Bella sedikit lebih pendek dan tubuhnya juga lebih kurus dari pada sebelumnya. Membuang nafas panjang sekali lagi, Liza kemudian berdiri tegak menatap Bella sepenuhnya "lo tau Gebi gak bell?"
"kak Gebi?"
"iyaaaa yang wajahnya songong- songong centil ituu"
Bella mengangguk sekali "tadi aku lihat dia di deket UKS. emang kenapa kak?"
"mau nawarin pijit kretek. duluan ya bell" Liza melambaikan tangannya sebelum melesat pergi
Menoleh kekanan-kiri Liza kini mencari keberadaan gebi di sekitar UKS. Tanpa bertanya pun ia sudah tau tujuan utama kedatangan Gebi kemari bukanlah untuk mengobati lukanya melainkan mencari sang mantang dengan menjadikan luka ditubuhnya sebagai alasan. Liza, pun tak habis pikir, entah apa yang Gebi lihat dari manusia yang 'katanya' mirip jaemin itu.
Liza melangkahkan kakinya masuk kedalam kopsis yang terletak tepat di sebelah UKS. Ia mengambil satu jajanan coklat lalu menyerahkan uang pada murid yanng bertugas menjaga kopsis "lo tau Gebi gak?"
"kak Gebi? tadi ke TU ambil kapas. eh duit lo kurang tiga ribu"
Mata Liza terbelak menatap jajan coklat yang sudah ia gigit. Uang sakunya tadi pagi ketinggalan dan ini ia hanya membawa uang sisa kemarin "ehem. masa gini doang lima ribu sih? perasaan kemaren gue beli di warung harganya dua ribu deh"
"ini kopsis plis. di sini kualitas makanan no 1 jadi harganya juga mahal"
Liza menatap gadis di depannya tak percaya, masih dengan menggigit jajan coklatnya walau kini terasa agak hambar "eee... utang deh. besok gue kesini lagi"
"ini kopsis plis bukan warteg deket rumah lo"
Bahu liza marosot "terus gimanhaaa?? masa gue balikin??" menatap jajan coklatnya yang tinggal setengah, ia bermaksut mengembalikannya.
Brak
keduanya menoleh pada lelaki yang memborong sekardus coklat yang sama dengan yang kini ratapi Liza. Mata Liza berbinar ia menatap zio bak menatap sesosok pahlawan "wahh... gue ga nyangka lo sesayang ini sama gue" ucap Liza dengan gaya terharu yang dibuat-buat
Zio menatap Liza sekilas lalu menyodorkan sejumplah uang yang pas untuk jajan coklat yang ia beli "oke pas ini minus punya liza ya" ucap si penjaga kopsis.
Mata Liza terbelak "Zio. lo... tega"
"Lizaaaaa"
"huwaaaa bebebkuuuu"
Zio menghela nafas ketika melihat dua gadis yang berlari memeluk Liza seakan satu bulan tak bertemu "huwaaa berapa jam kita ga ketemu??" kayla menarik turun bibirnya membuatnya terlihat seperti bayi dengan matanya yang beribinar menatap Liza
Zio mengangkat kardus berisi jajanannya, bersiap pergi. ia tidak ingin telinganya kembali sakit seperti tadi pagi.
"eh gue ada permintaan mulia" ucap Liza
"tolong baryarin urtang gue satu menit lalu"
###
Keluar dari Kopsis mata Liza tertuju pada gadis berkuncir ungu tinggi, siapa lagi jika bukan Gebi yang kini tengah bersama Ardi berdebat kecil. Senyum Liza mengembang dengan semangat ia berlari menghampiri Gebi.
Tanpa di sangka Liza memeluk Gebi dari arah belakang membuat tubuh Gebi hampir terdorong ke depan.
Gebu menoleh, ia mendapati puncak kepala yang lebih rendah darinya dengan jepit kuning bergambar pita kecil. Gebi menghela napas, lagi-lagi bocah ini memganggunya padahal satu hari ini dia tidak menganggu Liza.
Sementara itu beberapa orang yang lewat merasa aneh juga terheran-heran tak terkecuali Ardi yang kini hanya bisa mematung menatap dua gadis di depannya yang setaunya rival.
"Za lo lupa gue abis jatoh gegara lo??!"
Liza menarik tubuhnya menjauh satu langkah dari Gebi.
Liza menampakkan bola tolak peluru di hadapan Gebi lalu menatap seniornya itu "nih!"
"Hah?"
"Gue buka jasa pijat kretek khusus hari ini gratis bagi tiga pelanggan pertama. Moto kerja saya amanah terpercaya tuntas!"
Tuntas...
"lo... dapet itu dari mana?"
Liza tersenyum polos dengan entengnya dia menjawab "di pinjemin guru pjok hehe.. " Liza mengangkat bola tolak peluru seberat 5 kilo dengan kedua tangannya.
"Za... jangan main-main" Gebi menelan ludahnya, Bisa-bisa Liza melemparkan bola dengan berat 5 kilo itu ke arah kepalanya jika dia membuat Liza emosi.
###
MAAF KALO TYPONYA BANYAK 😭
###
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN SEMUANYAAA!! JANGAN LUPA NANTI MINTA MAAF YANG TULUS DAN MEMAAFKAN DENGAN IKHLAS (WALAU BERAT😭)
SEMOGA TAHUN INI KITA DAPAT THR LEBIH BANYAK DARI TAHUN SEBELUMNYA😌