IceCream

IceCream
54:) Cita-cita?



"Makanan dikantin sini enak-enak"


Kayla mengangguk lalu dengan cepat menelan makanannya "Tapi sayangnya mahal"


"Tenang kawan! kan ada princess Liza yang siap membayar makanan kita" ucap Dion lalu semua orang dimeja Liza kompak bersorak gembira


Liza membelakkan matanya sebelum akhirnya menggebrak meja tempat mereka makan hingga orang-orang terlonjak kaget "Kagak ya! lama-lama bangkrut juga kalo bayarin kalian terus!!"


Diantara seluruh meja, hanyalah meja Liza yang paling berisik karena tak hanya Liza, Sisca dan Kayla yang berada disitu tapi hampir sekelas ikut makan bersama Liza dimeja yang terletak ditengah kantin


Nasip'lah, mereka harus merelakan uang saku mereka untuk makanan kali ini


"Kay, boleh utang lagi gak?" Tanya Liham disela-sela makannya


Kayla menatap Liham lalu menelan baksonya yang telah ia kunyah "tanya Reyhan dulu"


"Emang kenapa?"


"Kemaren Reyhan nge-cek tabungan gue dan ternyata hampir habis. Dia tanya kok bisa cepet abis? buat beli apa? lah terus gue jawab kalo banyak yang utang kegue"


Liham, Dion dan Putra berkeringat dingin. Liham kembali berbicara "lo kasih tau gak, siapa aja yang utang?"


Kayla menggeleng "enggak, gue udah lupa siapa aja yang utang" ucap Kayla dengan polosnya


Liham, Dion dan Putra bersorak gembira dalam batin mereka. Inilah manfaatnya punya temen yang polos+pikun


"Selamat siang para hadirin yang berbahagia"


Orang-orang yang berada dikantin kompak menoleh pada sumber suara yang kini berada didepan pintu masuk kantin


"Mungkin sebelumnya kalian belum mengenal saya. Baiklah kita perkenalan dulu. Nama saya Asher anak kedua dari kepala sekolah kalian"


Liza menjatuhkan kepalanya diatas tangannya yang terlipat dimeja. Kenapa manusia receh itu datang?!! teriak Liza dalam batin


"Ganteng gaess!!" Teriak mila tanpa sadar. Lalu tak lama kemudian mila mebekap mulutnya sendiri yang terlalu jujur


Asher menatap mila dengan tawa kecil lalu bola matanya bergeser kearah Liza


"Mbak Liza kenapa? beban hidup semakin bertambah kah? atau mendapat kartu PHP dari Zio??"


Liza mengangkat kepalanya lalu menatap Asher "ngapain disini?!"


Asher menghampiri Liza lalu bebicara menggunakan megapon tepat disamping telinga Liza "Bebep lo jual HP baru gueee!!!!"


Liza memejamkan matanya. Kupingnya berdengung "Gue gak budek!"


"Lah?! Siapa yang bilang lo budeekkkk?!!!!" semakin menjadi-jadi membuat Liza benar-benar ingin membuang Asher ketempat pembuangan sampah terjauh


Brakk!!


Zio mengambil paksa toa dari tangan kakaknya lalu membuangnya kesembarang arah


Liza menyuapkan satu sendok batagor kemulutnya lalu ia memiringkan kepalanya saat melihat Zio yang tiba-tiba datang


"Apa?" Tanya Asher seolah tak terjadi apa-apa


"Mama tadi telepon" Ucap Zio tanpa menunjukkan ponselnya


Asher diam sambil mengangkat satu alisnya. menunggu kelanjutan dari perkataan Zio


"Ustad ali"


Asher mengerutkan dahinya, semakin tak paham dengan sang adik. Kenapa tiba-tiba jadi ustad ali? Mama punya utang di ustad ali kah?


"Lo ambil toa masjid"


Asher memepuk kepalanya. Ia lupa tak mengembalikan toa milik ustad ali ke masjid


Singkat cerita, jadi kemain Asher meminjam toa dari masjid untuk menyorak'i cacingnya yang sedang berlomba lari /(ngesot) dengan cacing milik Alan yang mereka tangkap dikebun rumah Adam(Kakaknya Kayla). Asher terlalu asik hingga lupa tak mengembalikan toa ke masjid. Dan pada akhirnya Asher membawa toa itu untuk membantunya meneriak'i Zio dengan sesekali pamer suara emasnya


"Hehe lupa gue. Entar aja deh" Asher menggaruk kepalanya "Eh lu apain hp baru gue?!!" ucap Asher setelah tersadar tujuan utamanya kemari


"Jual" Ucap Zio enteng tanpa rasa bersalah


Asher menatap datar adiknya. Ia sudah kebal dengan sikap semena-mena adiknya "Mana uangnya?"


"Gue kasih ke pengemis"


"Gimana?!"


"Di pinggir kali"


"Gimana gimana!???"


-_- Zio malas menanggapi abangnya. Ia memutar badannya berlalu pergi dari kantin menginggalkan Asher yang masih mencoba mencerna ucapan Zio


Liza menggelengkan kepalanya. Mulutnya masih tak melepaskan sendok berisi batagor. Wah wah! si Zio makin gila aja. Kali ini Liza menggeleng dengan tepukan tangan saat Asher berlari mengejar Zio


###


"Anak-anak, mungkin pertanyaan saya kai ini sedikit kekanak-kanakan, tapi tolong dijawab meski terpaksa" Bu lia membuka buku absen untuk memanggil satu persatu murid dikelas Liza


"Dion Agusena"


Dion dengan cepat menoleh pada Bu lia, tangannya tetap memegang botol plastik milik kayla yang tadi menjadi alat pemukul kepala bagi yang kalah bermain gunting-batu-kertas dengan putra


"Apa?" Tanya Dion bingung saat seisi kelas menatapnya


"Cita-cita kamu"


Dion mengusap rambutnya kebelakang "Kang parkir"


Satu kelas kompak tertawa membayangkan Dion benar-benar menjadi tukang parkir


"Tapi jangan anggap enteng dulu~ Yang saya maksut kang parkit tuh bukan parkir sepeda, motor atau mobil, melainkan pesawat"


Satu kelas kompak menoleh kearah Dion hingga benerapa diantara mereka hingga beberapa diantara ada yang bertepuk tangan


Lumayan Bu lia mengangguk lalu kembali menatap buku absen "Putra vsi... zi... vesi...besi—"


"Vszextionerz bu" Ucap mila membenahi


"Bikin nama susah amat!"


"Dulu tangan bapak kepleset waktu nulis nama saya" satu kelas kompak tertawa mendengar ucapan Putra


Bu lia menggelengkan kepalanya "Udah. Jadi apa—"


"Jualan pentol" potong Putra cepat lalu ia menggambil cepat botol plastik ditangan Dion untuk mengembalikannya ke sang pemilik. Kayla dengan wajah geramnya langsung mengambil botolnya yang sudah penyok sana-sini


"Putra, beneran?"


Putra mengangguk "Punya banyak cabang pentol kan bagus"


Bu lia mengangguk owalah pengusaha toh gumamnya


"Lih—"


Liham segera mengangkat tangannya. Ia tau betul apabila nama putra dan dion disebut maka namanya lah yang pasti kemudian disebut


"Guru bahasa indonesia diluar negri"


Bu lia diam sebentar "emmm baiklah lalu....Mila..."


"Istri bos besar" Ucap Mila diiringi tangannya yang menyelipkan rambut belakang telinga. Matanya tak henti-henti menatap pantulan dirinya dikaca kecil yang selalu ia bawa


"Iya saya doa'in aja. Terus.... Gardenia Permata Etria"


Triya mengangkat satu tangannya lalu menghela nafas


"Waduh" Dion menyenggol bahu Putra "namanya ada bau-bau duitnya nih" Putra mengangguk "Orang kaya kalo bikin nama sambil lihat duit" Dion dan Putra kompak mengangguk lalu ber'tos


"Saya gapunya cita-cita"


"Maklum lah bu, dia kan anak tunggal. Bapaknya pengusaha suskes. Pasti jadi Triya bakalan jadi penerus"


"Oke lanjut" Mata Bu lia kembali bergerak dari atas kebawah "Nah ini. Adeliya kayla"


Kayla mengangkat tangannya "Cita-cita saya banyak buuuuu. Waktu TK pingen jadi Dokter, waktu kelas SD pingen jadi TKW biar bisa keluar negri, waktu SMP pingen jadi tukang sapu jalan biar gak mikir, waktu kelas 10 dulu pingen jadi penjaga alpamart aja biar bisa ngemilin jajanannya. Nah sekarang bingung pingen jadi apa"


"Bu," Sisca mengangkat tangannya sebelum Bu lia membacakan namanya


"Oh, peka ya kamu"


"Iya bu peka, peka BaNget~! malah" Ucap Dion lalu menidurkan kepalanya diatas lipatan tangannya


Sisca memutar bola matanya "Saya pingen jadi ibu rumah tangga yang baik buat anak-anak saya nanti"


Hening~ Lalu dion bertepuk tangan dengan kencang lalu disusul Putra dan Liham yang memukul meja membuat gemuruh


"Sudah sudah. Lalu...." Tangan Bu lia naik ke absen paling atas, nomor tujuh. Bu lia tersenyum miring lalu menatap Liza yang dengan santainya makan dikelasnya "Apa?" Tanya Liza dengan satu alis terangkat


"Kamu dimasa depan mau jadi apa?"


Liza menghembuskan napas panjang "Pengangguran sukses, sekali kedip duit pada jatoh"


###


Liza mengayunkan kakinya, menatap matahari yang hampir tertutup awan hitam, lalu kembali menghela napas "Cita-cita lo apa?" Tanya Liza untuk orang disebelahnya


Antares pun juga menghela napas "Menurut lo kenapa cita-cita orang pada tinggi?"


Bukannya menjawab, Antares malah mengajukan pertanyaan. Liza menggelengkan kepalanya


"Itu karena orang-orang pingen ngangkat derajat mereka. Biar gak dipandang remeh sama orang lain"


Liza diam mengangguk


"Za" Antares menyenggol bahu Liza membuat Liza menoleh dengan malas


"Orang-orang tuh mikirnya yang status nya tinggi pasti uangnya banyak padahal juga kagak. Penjaga warnet sebelah rumah gue aja tahun kemaren naik haji"


Liza mengangguk. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat malas


"Aqisa pernah bilang gini kegue 'Orang lain akan menganggap kita remeh karena pekerjaan kita lebih rendah darinya tapi akan iri kalau pekerjaan kita lebih tinggi darinya dan akan merasa tersaingi kalau pekerjaan kita sama dengannya"


Liza kembali menganggukkan kepalanya. Ya perkataan Aqisa itu sangat benar. Tetangganya selalu menatap Liza dengan sinis. Mereka pikir Liza mandi kembang supaya bisa terlihat cantik


Keduanya lagi-lagi diam hingga Antares kembali membuka suara "kenapa lo suka banget sama ice cream?"


"Dingin-dingin manis gitu"


"Kayak gue yak?"


Liza menatap Antares sinis "Dih, kagak lah!" Liza menghela nafas lalu menatap Antares "Lo tuh ibarat stick ice cream"


"Hah? Otak se anjlok itu kah? Sampe gak bisa bedain mana manusia mana kayu"


"Artinya, lo tuh gak guna! Karena ujung-ujungnya juga ini stick ice cream bakalan dibuang"


Antares tersenyum lalu menundukkan kepalanya mengamati sepatu putihnya yang sudah lebih dari tiga tahun ia pakai


Liza menoleh pada Antares lalu mata Liza ikut menatap sepatu Antares "Baru ya?"


Antares menggeleng "Dah tiga tahun lebih nih. Jarang gue pake sih"


"Kenapa?"


"Takut rusak"


"Beli lagi lah, susah amat"


Antares menunjuk tanda tangan disamping kanan sepatunya "Sepatu yang ada tanda tangan ini cuma ada satu"


"Aelah, lo beli aja sepatu kayak gitu lagi, entar gue yang tanda tanganin"


"Se enak jidat lo ae" Antares mendorong jidat Liza dengan telunjuknya


"Aish! pasti tuh tanda tangannya si Alis... Adis... Anis... Anisa?"


"Aqisa_-"


"Iya itu lah pokoknya. Nama lengkapnya siapa sih?"


"Aqisa Faraneza. Lo mau denger suaranya?"


Liza mengangguk. Antares merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya


Liza mendekatkan telinganya keponsel Antares


"Ares ngapain?" —Aqisa


Liza mebelakkan matanya. Dari suaranya Liza tau Aqisa ini tipe orang yang kalem pake banget


"Gpp" — Antares


Nah kalo suara yang mirip panci diketok barusan tuh pasti suara Antares! Suara yang bisa bikin tangan gatel pengen nyumpel mulut Antares


"Hidup tuh berat ya sa"— Antares


"Kalo dihidup kamu yang kamu lihat sisi nagatifnya terus ya bakalan berat" — Aqisa


"Emm enaknya jadi gue tuh apa?"— Antares


"Kamu setiap hari dapet uang jadi bisa beli yang kamu mau terus kamu punya temen banyaaak dan walaupun ada tugas banyak, kamu gak pernah ngerasa terbebani"— Aqisa


"Ya gimana mau terbebani kalo tugas aja kagak gue anggap ada"— Antares


"Ya harusnya kamu anggap masalah hidup kamu enggak ada biar gak ngerasa terbebani"— Aqisa


"Gak bakalan bisa. Orang baru buka pintu rumah aja masalah udah pada dateng" — Antares


!!


Antares dan Liza kaget setengah mati saat ponsel milik Antares direbut paksa lalu dilempar begitu saja kejalanan


Liza terlonjak kaget saat seseorang menarik tangannya dengan kasar. Zio


Apa-apaan ini orang?! Dateng-dateng bikin masalah


Antares menarik sebelah tangan Liza membuat langkah Zio dan Liza terhenti. Mereka—Zio dan Antares saling menatap penuh benci


Hah~ saat ini Liza benar-benar ingin menyayi Aku siapa? kamu siapa?


Kenapa Liza bisa bisa berada disituasi seperti ini?? Punya dosa apa Liza dengan mereka??


"Lepas" Ucap Zio dingin


"Kenapa emang?" Antares tersenyum miring


Zio menatap Antares tajam


Antares tersenyum sinis "Belum gue ceritain semuanya. Jadi lo masih bisa make wajah tanpa dosa lo itu"


Aish! sekarang ini Liza hanya bisa diam mendengarkan pembicaraan yang tak ia pahami


"Lo udah bunuh Aqisa! Lo gak ada rasa bersalah sedikit pun apa?? Dia punya salah apa sama lo hah??"


Zio diam menunduk "Kenapa lo selalu nyalahin gue hah?!"


Gimanaa?? Liza mengerjapkan matanya. Apa telinganya tak salah dengar?


"Karena emang lo yang salah!!!"


TIN TIN!!


Ketiganya kompak menoleh pada mobil putih yang kini berhenti disamping mereka


Kaca mobil terbuka menampilkan wajah suntuk Alan


"Heh! Curut! Berani ya lo main tarik tambang pake tangan adek gue!!" Alan turun dari mobil lalu berjalan menarik kedua tangan adiknya dari Zio dan Antares


"Dah, lanjutkan debatnya! Baku hantam pun tak papa, yang penting kalo mukul jangan tanggung-tanggung" Alan menepuk bahu Zio dan Antares lalu pergi sambil menyeret adiknya yang kini masih terdiam tanpa perkedip


Sementara itu Agus (Pernah muncul di eps 43) berada dibali pohon tak jauh diantara mereka sambil melahap sosis yang baru ia beli