IceCream

IceCream
58:)Begitulah



Dimalam hari yang sangat indah, burung milik toko sebelah berkicau nyaring dan cowok disebelahnya pun sama berisiknya membuat Liza semakin stres


"Za, percaya deh cowok se komplit gue tuh cuma ada satu! yaitu gue!"


"Nyenyenyenyenye a~ku gapedulii~" ucap Liza bernada


"Za lo kalo makan dikunyah apa langsung telen?"


Liza memutar bola matanya, sudah berapa kali Antares mengatakan hal unfaedah "Gue plototin terus gue ajakin negoisasi baru telen"


"Za—"


"Langsung ke intinya aja!"


"Sebenernya gue gabut dirumah"


"Oke gue pulang!"


"Yailah belom juga lima menit kita duduk"


Liza menatap cowok disampingnya dengan dongkol "tapi dah ada lima detik kan?" Liza menaikkan sebelah alisnya


"Ya tapi kan—"


"Hai kak"


Antares dan Liza menatap seorang gadis didepan mereka yang telah memotong perkataan Antares


Antares mengigit bibir bawah bagian dalamnya. Ia merasa malas sekaligus muak melihat kedatangan Bella


"Ngapain lo kesini? Disuruh emak lo buat ngangkut gue pulang?!"


Bella menunduk tak berani menatap Antares. Perlahan Bella menggeleng "A-aku nyariin kak Liza kok"


Antares diam seribu bahasa. Dia sedikit merasa malu, matanya bergeser menatap Liza yang tengah sibuk mencemili cokolat nya


"Apaa???" Ucap Liza yang sadar ditatap oleh kedua orang didekatnya


"Bisa ikut aku bentar?" tanya Bella


Sebelum Liza berdiri dengan tegak, Antares terlebih dulu menarik tangan membuat tubuh Liza kembali duduk dan kepalanya terbentur ketembok dibelakangnya


"Aww!!" Liza segera memegangi kepalanya dengan salah satu tangannya yang tak memegang choklat


Antares yang merasa bersalah pun segera mendekap kepala Liza, mulutnya tak berhenti mengatakan maaf


###


Liza kini berjalan didekat sungai yang di hiasi lampu warna-warni disekelilingnya membuatnya nampak cantik


Liza tak sendirian, dia bersama Bella yang tadi mengajaknya jalan-jalan disekeliling sungai yang tak begitu jauh dari rumahnya


Liza memakai piama kuning, sendal bulu putih serta memakai bando bulu yang cukup tebal mengingat cuaca yang sangat labil dan karena ini sudah malam jadi begitu Liza pulang, dia bisa langsung tidur tanpa mengganti bajunya


Angin berhembus membuat rambut Liza berhembus, terlihat cantik. Bella terus menatap Liza hingga tak sadar Liza menoleh menatapnya bingung "kenapa?" tanya Liza


"A? Ahh enggak" Bella menggeleng tersadar lalu menatap pantulan sinar bulan dari air sungai


Keduanya sama-sama diam hingga Liza berkata "Lo tuh baik Bell. Gue jarang ketemu orang kayak lo"


Bella tersenyum masam, agak perih rasanya ketika orang lain mengatakan hal itu "Enggak juga, aku tuh jahat. Banget malah"


Liza diam bingung harus berkata apa


"Kadang aku mikir kalo aku ini jahat. Kayak pemeran antagonis" Ucap Bella yang masih tersenyum masam


Liza memutar bola matanya "Kurang-kurangin deh nonton sinetron"


Bella tertawa renyah "aku tuh jarang nonton sinetron. Seringnya nonton barbie atau princess gitu"


"Yang paling lo suka yang mana?"


"Banyak sih tapi yang paling gak bisa aku lupain tuh ceritanya purti salju. Dulu sebelum aku tidur mama sering cerita itu"


Liza mengangguk lalu mengingat masa kecilnya sebelum di tidur kakaknya selalu bercerita hal-hal seram yang membuatnya terngiang-ngiang hingga kemimpi


Tapi berbeda dengan fani. Mamanya itu dulu selalu mendongengi Liza dengan cerita masa kecil fani bersama para mantannya yang berakhir mengenaskan hingga membuat Liza takut berpacaran hingga saat ini


"Orang antagonis sebenernya itu abang gue" ucap Liza sambil mengingat segala hal yang pernah dilakukan kakaknya terhadapnya mulai dari hampir membuat kakinya patah hingga sengaja menguncinya dikamar mandi


"Kalo kak Antares sih...." Bella mengingat hal-hal seru yang pernah ia lakukan dengan Antares tapi... tak ada. mereka saja jarang berbicara bahkan jarang bertemu karena Antares lebih suka menghabiskan waktunya dikamar dan kalau dia bosan dia akan keluar lewat jendela untuk menemui teman-temannya


"Kak! Kak!" Bella menepuk pundak Liza berulangkali sambil menunjuk sesuatu didalam air yang terlihat sangat jernih


"Ikan kak!" Bella masih menunjuk sesuatu yang bergerak didalam air


"Mana?" Liza membungkukkan tubuhnya, memastikan yang dilihat Bella itu benar ikan bukan ular


"Ituuu"


Liza semakin membungkukkan tubuhnya. Angin berhembus kencang membuat tubuh Liza terdorong kedepan dengan sigap, tangan Liza menarik baju Bella supaya Bella dapat menahan tubuh Lkza yang hendak terjebur tapi karena tubuh Bella tebih ringan dari Liza alhasil mereka berdua terjebur kedalam sungai yang cukup dalam bersama


Tebak siapa yang tidak bisa berenang? Itu adalah—


BYURRR!!


Seorang cowok berlari lalu masuk kedalam sungai membantu Liza menuju ketepi sungai


Liza mengucek matanya menatap orang yang 'menolongnya' tadi


"Apasih?!" Liza mendorong tubuh seseorang disampingnya hingga dia nyaris jatuh


"Ini cara lo bertrimakasih?" Antares


Liza mengusap wajahnya. Menghilangkan air yang terasa mengganggu lalu dia menatap Antares "Gue bisa berenang! Gue bisa jaga diri sendiri! Lo pasti tadi ngikutin gue!!"


Antares diam menatap Liza. Benar sejak tadi Antares mengikuti Liza. Dia tak ingin Bella yang ceroboh itu membuat Liza terluka


Keduanya sama-sama terdiam hingga Liza menepuk-nepuk pundak Antares. Ia baru teringat dengan Bella "Bella!! Bella!!" Liza menunjuk kedalam danau


Antares mendecak. Ia memutar bola matanya. Bella memang selalu merepotkannya


Dengan sangat terpaksa Antares kembali mesuk kedalam air mencari Bella yang sudah tenggelam


###


Hari ini entah kenapa sekolah terasa sepi. Orang-orang yang biasanya bermain kejar-kejaran seperti orang gila ditengah lapangan entah kenapa tak menampakkan wujudnya


Zio? Sudah seminggu lebih mereka tak bertemu padahal mereka masih satu sekolah


Mata Liza bergeser pada sosok yang kini berlari ketengah halaman yang sepi dengan membawa setumpuk kertas


Liza membelakkan matanya saat tumpukan keras yang dibawa orang itu jatuh berceceran hingga sebagian terbawa angin


Liza masih terdiam melihat Zio yang kesusahan memungut satu persatu lembarannya


Liza menggelengkan kepalanya, melangkah berniat membantu Zio tapi langkahnya terhenti saat Agus berlari cepat membantu Zio, menangkap satu persatu lembar yang terbawa angin


Liza memundurkan lagi kakinya lalu menyeret tangan Antares untuk segera pergi


Liza sempat melirik Agus yang terlihat tersenyum teduh kearahnya. Entah kenapa Liza merasa seperti diejek olehnya


Dengan perasaan dongkol Liza melepaskan salah satu sepatunya lalu berniat melemparkannya kearah kepala Agus, tapi karena jarak yang cukup jauh sepatu Liza berakhir tergeletak mengenaskan berjarak dua meter dari Zio dan Agus


Zio hanya diam menatap kepergian Liza


"Haish!" Melupakan sepatunya, Liza semakin memperpanjang langkahnya tak lupa menarik siku Antares


Liza bahkan tak memelankan laju langkahnya saat sudah melewati beberapa lorong


Antares yang berada dibelakangnya benar-benar menahan nyeri disikunya yang terluka akibat kejadian semalam


"Emmm za, coba lo lepasin tangan gue. Lo gak kasihan apa sama gue"


"G" Liza semakin menarik tangan Antares hingga Antares memejamkan matanya saat merasa nyeri ditangan kirinya sungguh hebat, ia bahkan tak berani menggerakkan jari-jari tangannya


"Z-za—"


Liza menghentikan langkahnya lalu menarik tangan Antares. Ia membelakkan mata saat mendapati banyak luka ditangan kiri Antares yang ia tarik saat ini. Luka yang terlihat mengenaskan terpampang jelas didepan mata Liza, bodohnya dia tak menyadari itu sejak tadi


"Kenapa gak lo perban aja tangan lo?"


Ditengah-tengah rasa sakitnya Antares masih bisa tertawa pelan sambil menggaruk kepala belakangnya dengan tangan kanan "Saking sakitnya gue gak berani nyentuh"


"Ayok kita ke UKS! Kita kasih kerjaan buat para PMR yang suka alasan bolos mapel"


###


"Assalamuallaikum... kerjaan datangggg!!!" Liza membuka pintu UKS membuat ketiga PMR yang sedang rebahan menoleh


"Apanih?" tanya salah satu anggota PMR


"Nih! Obatin tangannya"


"Kok mukanya asing gini? Hai orang mana anda" ketiga Anggota PMR itu menghampiri Antares


"Orang sana" ucap Antares apa adanya


Salah satu anggota PMR itu mengambil kotak P3K "Eh gaess betadinenya abis woeee!! Na, lo sih gambar pake betadine, abis kan!"


"Lha kok aku? Salahin si puput noh! Dia ngobatin kecoa yang udah dimutilasi pake itu tadi"


"Yailah kecoa doang"


"Ya tapi lo siram tuh kecoa pake betadine!!! Pinternya kebangetan sih lo!"


"Ooo ya jelas dong"


"Terus mana kecoa nya?" tanya Liza yang sejak tadi menyimak


"Tuh dipojok lagi meratapi nasip"


Liza berjalan sesuai dengan arah telunjuk anggota PMR tadi dan benar saja terdapat tiga kecoa yang terlihat mengenaskan


"Yaudah yuk buruan ambil betadine" Ketiga PMR itu pergi menginggalkan Liza dan Antares


"Za, lo gak ada niatan minta maaf gitu ke gue?"


"Maap"


Tak lama kemudian ketiga anggota PMR itu datang kembali sambil membawa tiga betadine "Mana yang mau dobatin nih?"


Antares mengulurkan tangannya


"Eh astagfirullah, kenapa tangan lo bisa gini dah?"


"Gitulah, keren kan?"


"Dengkulmu" Celutuk Liza


Salah satu anggota PMR itu mengguyur tangan Antares dengan betadine tak tanggung-tanggung


"Aaaaaaaa perih banget woeee!! Yang bener lah! Ini orang bukan hewan"


"Ya ini dah bener lo nya aja yang lemah"


Antares menutup mulutnya lalu bersikap tengan walaupun benar-benar perih


"Kapas kapasss!! cepet woii!! Kasihan tangan orang!!" Ucap salah satu anggota PMR yang masih memiliki rasa kemanusiaan


"Eh kapasnya abisss!!"


"Huwaaa terus gimana ini? duh dibungkus pake kertas aja gimana? ini ada kertas bekas ulangan gue" salah satu anggota PMR itu mengambil kertas ulangannya yang tergeletak menampilkan nilai 30 yang terpampang jelas


"Tangan gue bukan nasi pecel ya!"


"Terus gimana ini???"


"Ehh ambil di TU ada pasti!"


"Gue aja yang kesana! Biar cepet!" Antares segera melesat pergi dari UKS menginggalkan ketiga PMR yang masih syok serta Liza yang sesekali menguap tak peduli


###


Brukk!!


"Yailah pake nabrak lagi!" Antares menatap orang yang ia tabrak tadi. Zio


"Aish kenapa lo sih?" Ucap Antares


Zio menarik tangan Antares yang terluka membuat Antares memekik tertahan "Sakit woi! Seenggaknya lo punya rasa kemanusiaan kek!"


Zio tersenyum sinis, tangannya bersiap memukul tangan Antares yang terluka


"Jangan woi! Plis lah" Antares berusaha menarik tangannya walau rasa sakitnya semakin bertambah


"Ehemm gue tabok pake sepatu gimana ya?" Zio mulai meraih sepatunya untuk melepasnya


"Zio zio... coba lo bayangin di posisi gue sekarang!" Antares masih memasang wajah memelas


"Ya gue kabur dari tadi"


"WOI! Kenapa ribut disini?" Tanya salah satu guru yang kebetulan lewat


"Bu... tolongin saya buuuu!! Tuh Zio mau mukul luka saya" Antares memasang muka memelasnya lalu menunjukkan tangannya yang terluka


"Zio!!" Guru itu menatap Zio marah


"Lukanya gemes banget bu, pingen saya tabok"


###


"Za gimana kalo gue pindah ke sekolah sini?" ucap Antares mebuat orang-orang dimeja itu menoleh serempak


"Jangan! Gue gamau cerita ini makin panjang!" Liza menggeleng sambil mengetukkan sendoknya pada meja


Orang-orang disana kompak menghela nafas


"Temen lo banyak banget dah!" Antares mengamati orang-orang yang duduk sekitarnya. Mereka teman-teman sekelas Liza yang selalu makan bersama dikantin


"Kita kan udah kayak sodara" ucap Dion


"Dih?! Kita?! Gue sih gamau sodara-an sama lo" ucap Liham menatap Dion jijik


"Sudah-sudah Jangan ribut terus nanti makin cinta" Ucap Mila tanpa melihat lawan bicaranya


"Dih mana ada yang begitu!" Sisca memutar bola matanya menghindari tatapan langsung dari Dion


"Ada tuh temen lo si Liza sama Zio"


"Jangan ngadi-ngadi ya! Jangan sebar tipu-tipu!" Liza mengacungkan garpunya didepan Mila


"Bener tuh!" Tambah dari Sisca


"Tapi gue sering baca di novel banyak kok yang begitu" Ucap Dion menatap Sisca


Liza memutar bola matanya "Ya lo pinter dikit lah wahai manusia! Cerita di novel jangan lo sama-sama'in sama kisah nyata! Kalo di novel benci bisa jadi cinta, kalo di kehidupan nyata malah benci bisa jadi saling gibah-mengibah menutupi mitos dengan sebutan kayaknya"


"Nah!" Ucap mereka serempak untuk Dion


Antares mengangkat samar bibirnya, ia baru tau Liza bisa menjadi 'sedikit bijak' seperti ini


"Eh lo pada sebel gak sih sama Dion? Gue sih sebel banget!! Gegara dia, gue amnesia tiga hari" Ucap Milla


"Rasa sebel gue tiga kali lipat dibanding lo!" ucap Sisca


Mereka mengangguk memaklumi yang dirasakan Sisca. Orang-orang juga sudah tau Dion adalah parasit nomor satu dalam hidup Sisca. Pernah Sisca kedapatan Dion sedang memata-matainya hampir sehari penuh


"Lo masih mending tiga hari gak ada yang vidioin lah gue cuma sehari tapi ditontonin sekampung! direkam lagi! Malu banget gue" Ucap Putra. Dia menutupi wajahnya sangat malu padalah sudah seminggu lebih tapi masih saja ada yang meledekinya


Anak-anak lainnya tertawa mengingat vidio yang tengah viral di sekolah. Vidio yang menampakkan Putra hanya memakai semvak lalu berkeliling sambil berteriak mengatakan saurr!! saurrr!! sambil membawa kentongan


"Lu masih mending! lah gue langsung dibawa kerumah sakit jiwa sama emak gue! Udah di daftarin sekolah di SLB juga!!" Ucap dion


"Elon lo gimana?" tanya Liza. mereka semua menatap cowok gendut yang sibuk melahap mie ayam, somay dan juga bakso secara bergantian


Elon menatap Liza seolah mengatakan bentar. Elon menyeruput mie nya yang langsung masuk kedalam tenggorokan tanpa ia kunyah


"Kata bapak gue sih, gue hampir motong lemak gue pake pisau daging"


Antares yang berada disampingnya segera menarik baju elon hingga terbuka lebar menampakkan salah satu dari tiga lemak diperut elon yang tergores cukup dalam


"Woi!" Elon menarik bajunya kebawah lalu mengancingkan bagian bawah bajunya yang terbuka "Main buka-buka aja!"


"Duh tangan gue gatel pengen motong ketiga lemak loo!!" Ucap Milla sambil memukulkan sendoknya kemangkok bakso


"Jangan lah! psikopat lo!" Elon memengangi perutnya


"Obesitas lo dah an! Berat badan lo berapa?" Tanya Liza


"Emm terakir nimbang sih.... 65" ucap elon, yakin


Mereka saling menatap tak percaya "Masa sih? terakir nimbang kapan?" tanya Alya


"Kelas 6 SD"


Hampir semua orang dimeja Liza hendak melemparkan sendok masing-masing


"Dahlah! Lelah gue" Sisca memijat pangkal hidungnya


Mereka kembali fokus pada makanan masing-masing hingga satu nama melintas dikepala mereka


"Triya?" ucap mereka sambil menoleh dengan konpak


Triya perlahan menelan mie ayamnya lalu meletakkan sumpitnya "Yang gue inget sih kepala gue digosok pake emas batangan"


###


Hujan


Berkali-kali Zio menatap payungnya dan juga Liza bergantian


Ia ingin meberikan payungnya pada Liza tapi entah kenapa ia tak berani memberikannya secara langsung tapi beruntung sekali ada agus yang lewat disampingnya bersiap menuju teras sekolah untuk menerobos hujan


"Heh" Zio menarik kerah baju Agus membuat Agus mau tak mau berbalik menatap Zio yang terlihat suntuk


"Kasih ini ke dia"


Agus menatap bingung panyung bening ditangan Zio "Dia siapa dah? Yang jelas kalo nyuruh orang, dah baik hati lo gue mau bantuin lo"


Zio menunjuk Liza menggunakan pangkal payungnya


"Ohh, oke" Agus mengambil payung milik Zio dan sebelum dia pergi, agus menyempatkan 'menasehati' Zio "Jangan biarin Liza makin deket sama Antares"


Zio memutar bola matanya "Gue juga tau"


"Gak! Gue lebih tau, gue udah berbaik hati buat ikut campur urusan lo. Kalo aja lo gak bantuin adek gue dulu, sekarang ini pastinya gue ogah banget ngotorin tangan gue buat bantuin lo" Seletah mengatakan itu Agus pergi menginggalkan Zio yang kembali mengingat hal baik yang sudah ia lakukan meski nyawanya sendiri hampir melayang


Saat itu rumah Agus kebakaran, tak banyak orang yang mebantu memadamkan api bahkan pemadam kebakaran belum datang. Seluruh anggota keluarga Agus sudah berkumpul diluar rumah hanya kurang adik prempuan Agus yang buta. Zio pun masuk kedalam rumah lewat pintu belakang, ia tak memikirkan apapun saat itu. Walaupun kejadian itu membuat adik Agus mengalami patah tulang dibagian kakinya tetap saja Agus sekeluarga benar-benar merasa bersyukur. Saat itu Zio meninggalkan adik Agus dibawah pohon mangga lalu Zio menelepon Agus untuk segera menemuinya. Ia tak ingin orang-orang melihat Zio sebagai penyelamat


Zio mengangkat kedua sudut bibirnya. ia masih mengingat jelas ucapan trimaksih dari adik agus yang saat itu terdengar jelas disela-sela tangisnya


###


🙂


"Dibeli-dibeliii!! Payung cantik cuma 100 ribuan aja udah bisa buat nangkal ujan.... Mumpung diskon mumpung lagi promoo!!!"— Liza yang duduk didepan mini market sedang menawarkan payungnya eh bukan! payung Zio!


"Berapaan neng?" — Calon pembeli


"200 ribu aja buk"— Liza


"Lah, perasaan tadi cuma 100 ribu dah"— Calon pembeli


"Salah denger kali" —Liza


"Yaudah deh dari pada basah kuyup"—Calon pembeli


"Ini buk payungnya. Totalnya 300 ribu yak"—Liza


"Lah kok jadi 300 ribu sih? Gajadi lah mending pulang basah kuyup daripada digblk'in bocil!" — Calon pembeli berjalan pergi menerobos hujan


"Lah buk, kok gak jadi?!?! Bukkk!!! 500 ribu aja udah Saya lepas nih payung!!! Bukk!! Astagfirullah kasihan saya buk! belom chekout sopi dari kemaren!!" — Liza yang masih teriak-teriak mangil ibu tadi


🙂