IceCream

IceCream
57:} Kecubung



Jam 11 siang Liza sampai disekolah setelah sekian lama merengek pada papanya agar diperbolehkan sekolah walaupun keadan badannya yang masih tak enak


Yang penting masuk sekolah. Walaupun telat, karena ilmu berawal dari manapun! Bukan cuma berawal dari jam 7 pagi


Liza berjalan tergesa-gesa menuju kelasnya. Tadi ia mendapat kabar dari Kayla bahwa hampir setengah teman sekelasnya gila karena memakan buah kecubung


Tangannya bergerak mendorong pintu kelasnya tapi... dikunci dari dalam. Aish! "Woiii!! Bukaaaa!!" Liza mengambil ponselnya dari dalam tas lalu segera menghubungi Kayla. Beberapa detik kemudian telepon tersambung "BUKA PINTUNYA!!!"


Kayla memutuskan sambungan tanpa menjawab Liza. Tak lama kemudian pintu terbuka menampakkan keadaan kelas yang sangat kacau


Liza segera masuk tak lupa kembali menutup pintu agar para temannya yang gila tak keluar


"Kok bisa gini sih?!"


Kayla menunjuk buah kecubung yang sedang diamankan oleh Alya dan Sisca dipojok kelas "Mereka gila abis makan buah itu dan yang bawa buah astagfirullah itu adalah... Dion yang katanya dikasih tetangganya. Entah tetangganya punya dendam apa sama Dion sampe-sampe pingin Dion jadi gila"


Liza mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Mereka benar-benar mirip orang gila!


"Yang paling aneh siapa nih?" Tanya Liza


Kayla menunjuk gadis dipojok kelas yang tubuhnya diam tapi kepalanya berputar pelan "dia jadi debu" Lalu tangan Kayla bergeser pada cowok disebelah gadis itu "Dia muter-muter karena jadi angin" Lalu tangan Kayla menunjuk orang yang berada dibawah meja "Dia jadi virus"


Liza mengangguk, lalu berjalan menghampiri Triya yang sejak tadi diam, tangannya menyentuh pundak triya tapi segera ditepis oleh triya "Mahal!" ucap Triya singkat


Melihat Liza yang sepertinya gagal paham, Kayla segera menghampiri mereka "Dia cosplay jadi emas"


"Ha?"


"Ngengg~~~" Liza dan Kayla menoleh pada Dion yang mendekat kearah mereka


"Surat kabar lama...Eh? Upen ipen??" Ucap Dion. Liza dan Kayla saling menatap bingung


"Kate tok dalang opah kau nak kawen lagi ye?" Liza dan Kayla spceachels menatap Dion yang sedang cosplay menjadi uncle ah tong


Dion masih diam menunggu jawaban dari Kayla dan Liza. Beberapa detik berlalu, Liza dan Kayla masih diam hingga Dion tertawa sendiri "Haha iye iye! Ha! Ipen!" Dion menarik tangan Kayla lalu menyumpal mulut Kayla dengan buah kecubung sebelum Kayla berbicara lalu Dion pergi begitu saja


"Kay-Kayla!!" Liza mengungcangkan tubuh Kayla


Kayla mengerjapkan matanya lalu menggeleng "Kok gue gak ngerasain apa-apa?"


Liza dan Kayla diam beberapa saat hingga Sisca memanggil mereka untuk datang membantunya mengikat Mila yang terlihat mencoba kabur dari Sisca dan Alya


Melihat kedatanggan Liza dan Kayla, Mila pun tertawa terbahak-bahak hingga nyaris terjungkal untung saja tangan Alya siap menariknya hingga duduk dikursi yang telah mereka siapkan untuk mengikat Mila


"Dia kenapa sih?" Tanya Liza, tangannya kini sibuk mengikat tangan Mila menggunakan dasi Alya sementara Sisca dan Alya sibuk memegangi tubuh Mila yang meronta-ronta ingin pergi, dan didepan mereka Kayla berdiri diam memperhatikan


"Dari tadi teriak mulu, gak jelas" Ucap Sisca


Mereka menghela nafas bersama saat selesai mengikat tangan Mila


Mata Liza tertuju kearah poster yang dipeluk Mila erat "Oppa~ toloongg!!" Ucap Mila, suaranya menggelegar


Liza mendekati Mila mencoba mengambil poster ditangan Mila "Sini'in posternya Milla!!!" Liza dengan sekuat tenaga berusaha mengambil poster ditangan Mila


"Jangan... ambil.... oppa nasar kiyowo kuuuuu!!!!"


Seketika Liza diam membeku dengan ucapan Mila barusan. Beberapa detik kemudian Liza sadar lalu menggeleng dan melanjutkan mengambil poster Mila yang sudah bertekuk-tekuk "Bantuin!! Jangan jadi penonton!!"


Sisca dan Alya segera membantu Liza sedangkan Kayla masih bengong. Tak lama kemudian poster itu berhasil Liza dapat walaupun hampir terbelah menjadi dua


Liza memiringkan kepalanya untuk melihat wajah seseorang yang tetap tampan walau diposter yang sudah lecek


"Kay! Lo tau gak?" Liza mengarahkan poster ditangannya kearah Kayla yang kini matanya sudah sedikit tertutup


"Heh!" Sisca menepuk bahu Kayla pelan tapi anehnya tubuh Kayla hampir terjatuh "Lo ngapa dah?" Tanya Sisca


"Ah? A.. Enggak" Kayla menatap Poster ditangan Liza, terasa familiar


Kayla mengangguk "Ohhh ini jeno—Eh bukan-bukan! Itu jaehyun! Eh tapi..." Kayla mendekati Liza lalu memiringkan kepalanya "Kok dari samping mirip taeyong? Hemm...." Kayla semakin memiringkan kepalanya hingga terjatuh dilantai


Kayla menggelus kepalanya. Sudah jelas itu poster jaemin_-


"Eh Kay lo gapapa kan?" Tanya Liza was-was


Liza memebelakkan matanya saat teringat Kayla telah memakan buah yang bernama 'kecubung' itu "Kay! Lo tadi makan buah itu kan?!"


Sisca dan Alya menatap Liza kaget lalu mereka segera menghindari Kayla "Hehe..." Ucap Kayla


"Gue.... tidur.... dulu.... yaaa!!!!!" Kayla berjalan menuju Putra yang kini cosplay menjadi kucing. Kayla duduk disebelahnya


"Mbekkk!!!" Ucap Putra saat Kayla tertidur disebelahnya


"Eh katanya lo cosplay jadi kucing?!" Ucap Alya


Putra diam sebentar "Oh iya! meongg!"


Liza kembali melihat keadaan teman-temannya satu-persatu "yang waras cuma kita kah?"


"Liham? Eh Liham dimana??" Sisca celingukan mencari Liham hingga dia melihat Dion yang sedang berbicara dengan papan tulis


Sisca, Liza dan Alya menghampiri Dion "Lo tau dimana Liham?" Tanya Alya


Dion memiringkan kepalanya "Kak Ros? Haa!! Nasi lemak ade ?"


"Entar gue congkel'in lemaknya si Liham kalo dah ketemu" Ucap Alya asal


Dion memiringkan kepalanya bingung dengan ucapan Alya


Alya mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan foto Liham yang ia foto diam-diam saat Liham tertidur pulas dengan wajah penuh iler dan Lipstik (Ulah Liza) yang baru saja ia ambil kemarin


Lagi-lagi Dion memiringkan kepalanya "Siape tu??"


"KAWAN LO INI MASIH SATU HABITAT SAMA LO!!" Ucap Alya, ngegas


"Wahh cantiknyeee~"


Liza menggelengkan kepalanya lalu menepuk bahu Alya "Telepon Bu Lia aja. Dah gak bener nih" Sebelum Alya mencari kontak Bu Lia, Sisca segera menghentikannya dengan cepat


"Jangan! Kita telepon kepala sekolah aja" Tanpa disetujui, Sisca segera menelopon Kepala sekolah mereka


Tak usah ditanya dari mana Sisca mendapatkan nomor HP sang kepala sekolah karena Sisca memiliki nomor telepon orang-orang disekolahnya


"PAK!!!!!!!" Sisca menjerit seolah ada kebakaran


"Apa?" Dijawab lesu oleh orang disebrang telepon


"Cepet kekelas sayaaa!!!"


"Males ah"


"Beneran ini pakkk!! Sebelum virus ke g*blok'an menyebar luas"


"Hemm okeh otw nih"


Sisca segera mengantongi ponselnya setelah Panggilan selesai lalu Sisca mengangkat satu jempolnya yang dibalas anggukkan oleh Liza dan Alya


Setelah beberapa puluh menit berlalu, terdengarlah suara ketukan pintu tak salah dan tak bukan pelakunya adalah kepala sekolah mereka tercintah dan juga wakilnya yang selalu mengekor, Bu lia eh ada juga.... Zio dan dua pengikutnya dan juga yang baru menyusul adalah... Agus. Entah kenapa anak satu itu ikutan


Sang kepala sekolah mengamati orang-orang yang benar-benar terlihat seperti orang gila. Ia sudah mengerti dan paham betul dengan situasi seperti ini


Sang kepala sekolah menoleh pada Bu lia "Bu, cepat carikan anak-anak jomblo disekolah Garuda! Mereka ini kelamaan nge'jomblo mangkanya jadi aneh gini"


Orang-orang waras disana tercengang mendengar ucapan Kepala sekolah mereka


"Ehem, pak, sepertinya mereka ini....." Bu lia menatap satu-persatu murit 'aneh' dikelas ini "Kesurupan" Lanjut Bu Lia


Liza, Alya dan Sisca menghela nafas pasrah. Entah apa yang akan dilakukan oleh kedua orang dewasa itu


"Zio! Telepon pak Ali! Suruh dateng kesini! Kita akan bersama-sama me'ruqyah mereka" Perintah dari kepala sekolah teruntuk anaknya


###


Sekolah yang didirikan kakek Zio memanglah sangat besar, banyak tempat yang belum Liza datangi, bahkan sudah setahun lebih Liza bersekolah disini, belum sekalipun ia mengelilingi seluruh penjuru sekolah


Dan dari sekian banyaknya tempat, Liza memilih mengunjungi toilet cewek yang terletak dikelas X IPA entah apa yang akan ia lakukan disana


Liza berjalan menunduk, tangannya perlahan mendorong pintu berwarna pink yang merupakan toilet cewek


BYURRR...


Dengan refleks Liza semakin menunduk membiarkan guyuran air semakin membasahi tubuhnya dari atas


Liza memejamkan matanya, kepalanya sedikit bergeser kesamping "Berasa dibuly dah gue... tapi mana ada yang berani buly gue" Gumam Liza kini kepalanya mengarah keatas yang ternyata terdapat seember air yang telah di siapkan


Tangan Liza mengepal, ia masuk keseluruh penjuru toilet berusaha menemukan pelakunya


"Heh!" Liza menarik bahu orang yang tengah berkaca didekatnya


"A-apa kak" Ucapnya sambil menunduk


"Siapa yang masang ember diatas pintu?!!"


"A-anu..."


"Gue bisa cek CCTV dan walaupun bukan lo yang ngelakuin, lo tetep bisa kena masalah" Liza memiringkan kepalanya didepan sang adik kelas. Salah satu ujung bibir Liza terangkat "Lo tau kan siapa gue"


"Arum! Dia yang masang!!"


"Arum siapa?!! Arum kembang?! arum manis?!! Yang jelas!!""


"Arum kelas X Ipa 3"


"Panggil" Liza mendorong bahu sang adik kelas hingga ia berlari kaluar ketakutan


Liza menggeleng, kenapa ia seperti pemeran antagonis. Hah biarlah


Liza memutar tubuhnya menghadap kaca besar, melihat penampilannya


Tak lama kemudian adik kelas tadi datang beserta tiga cewek dibelakangnya, salah satunya pasti bernama arum


"Udah kak. Saya pergi dulu" Sang adik kelas tadi pergi meninggalkan tiga temannya dihadapan Liza


"Maaf kak, kita salah sasaran" Mereka bertiga menundukkan kepalanya dalam


"Salah ya, hemm..... gue gak peduli" Ucap Liza, kepalanya miring menatap ketiga orang didepannya, datar


"M-Maaf kak"


"Terus"


Ketiganya saling tatap, bingung harus berbuat apa hingga salah satu diantara mereka berkata "Kakak mau uang berapa? Biar saya kasih"


Liza maju selangkah mendekat pada orang yang berkata tadi "Lo pikir gue miskin?!"


Orang itu semakin menunduk ketakutan


"Siapa target lu pada?!"


"B-Bella"


Liza membelakkan matanya lalu mengangguk "Bella ya, oke!" Liza mengeluarkan lima butir buah dalam sakunya. Kecubung, buah yang membuat teman-temannya menjadi 'sedikit gila'


"Makan" Liza mengulurkan tangannya yang terdapat buah itu


"Ha?"


"Gue gak mau tau pokoknya kelima buah ini harus kalian makan sama rata!"


Setelah mereka bertiga menerima buah pemberian Liza, Liza langsung berjalan pergi, tersenyum licik


###


Liza tetap berjalan dengan pakaiannya yang basah, membuat orang-orang menatapnya aneh, tapi dengan pede nya Liza berjalan dengan memasukkan kedua tangannya disaku rok sekolah tak lupa ia memakai kacamata hitam yang ia ambil paksa dari seorang siswa yang melintasinya


Tujuannya kali ini ialah kelas Bella. Entah kenapa Liza ingin mendatanginya


"Assalamuallaikum" Liza masuk dalam kelas, matanya sedikit terbelak saat melihat Bella yang tengah membersihkan mejanya menggunakan kertas yang ia basahi


Keadaan kelas tak begitu sepi tapi tak ada seorang pun yang membantunya


Liza mendekat kearah Bella yang sepertinya belum sadar dengan kedatangan Liza


Meja dan kursi Bella penuh dengan tinta bolpen, tipX, dan juga es batu yang mulai mencair


"Jangan dibersihin" Pinta Liza. Bella menoleh kebelakang terkaget dengan kedatangan Liza


"K-Kak Liza?!"


"ULAH SIAPA INI?! NGAKU! ATAU GUE CEK CCTV" Ucap Liza lantang hingga terdengar jelas oleh kelas sebelah


Seorang cewek berambut pendek mengangkat tangan kanannya dengan takut


"SINI!" Suruh Liza. Mau mau cewek tadi berdiri melangkah kearah Liza


"Lo duduk sini. Bella duduk ditempat dia. Oh iya bell, lo tuh punya guru BK, manfaatin kek, gaji guru BK juga banyak. Ngerepotin tuh guru juga gapapa, karena itu tugasnya. Enak banget BK sini cuma ngabsen bisa dapet duit"


Bella menunduk sekarang ia tau kenapa Liza selalu bermasalah dengan Bu Lia yang juga merupakan guru BK


###


Perpustakaan. Tempat membosankan yang kerap kali dijadikan pelarian dari pelajaran-pelajaran tak mengenakan kini menjadi tempat Liza menghabiskan jam terakir sekolahnya untuk makan mie instan


Ditempat itu hanya terdapat dua manusia, Liza dan penjaga perpus


Diperpustakaan memanglah tak diperbolehkan makan dan minum, tapi kalo Liza beda lagi. Dia bersikukuh makan ditempat ini dengan alasan akan mati kelaparan


Keadaan sangat hening sampai kedatangan lelaki yang datang tergesa-gesa untuk menemui Liza


Yak! Zio:)


"Za!"


Liza tak menyahut, dia masih menyibukkan diri melahap mie rebus yang masih hangat


"Lo tadi dimana?!"


Liza meletakkan sumpit diatas meja membuat suara yang cukup kencang


Liza mengangkat kepalanya, menatap Zio "tadi—" Ia tak melanjutkan kalimatnya. Entah kenapa cerita Antares tentang Zio tiba-tiba melintas dikepalanya


"Ehem" Liza menunduk, kembali mengambil sumpitnya melanjutkan memakan mie-nya


"Za—Oh" Zio pun menunduk, ia sudah paham betul "Lo udah tau ya?" Zio mengangguk, terasa sedikit menyakitkan mengetahui Liza juga mempercayai ucapan Antares


Liza pun tak tau harus percaya atau tidak pada Antares, Liza hanya merasa... ah entahlah


Zio ingin mengatakan bukan aku, bukan aku pelakunya, tapi... bukankah sangat percuma? Dia tak memiliki bukti, dia juga pelaku pembullyan Aqisa sewaktu mereka SMP dulu. Zio merasa dia memang patut disalahkan


Zio menghela napas lalu berbalik pergi dari hadapan Liza


"Maaf, gue bingung" Gumam Liza setelah jarak dirinya dan Zio sudah cukup jauh


Liza menggeleng lalu menepuk kepalanya "apasih?!"


###


:)