
"Lizaaaaa!!! Parahh! Lo digosipin!!"
"Kakak kelas kan? Hah! Dah biasa"
"Iyaaa! Tapi ini gosipnya beda!! Gak kayak biasanya" Sisca duduk disamping Liza
Biasanya Liza hanya digosipkan membolos, ngeprank guru dan hal-hal lainnya yang tidak pantas ditiru
"Liza digosipin kenapa?" Tanya Kayla
"Liza digosipin jadi pelakor!" Ucap Sisca sambil membelakkan matanya dengan sangat lebar
"Hem. Suami siapa yang gue rebut? Selera gue bukan om-om ya! Itu yang ngomongin gue kebanyakan lihat sinerton! Haish! Emak gue yang udah tua aja tontonannya masih sidua bocil kembar itu"
"Bukan suami tapi pacar!"
"Oh"
"Tadi gue denger kakak kelas ngomong kalo lo tuh godain kakak kelas kita yang namanya kak Ardi"
"Emang pacarnya kak Ardi pacarnya siapa?"
BRAKkk! Sisca menggebrak meja didepanya lalu disusul Kayla yang berbicara sangat heboh
"Lo gak tau? Seriusan? Gue gak salah denger kan?! Pacarnya kak Ardi tuh—"
Sisca menaruh telunjuknya tepat dibibir Kayla membuat Kayla berhenti berbicara
"Biar gue aja yang jelasin. Ilmu gue lebih lebih lebih banyak dan lebih lengkap dari pada lo" Ucap Sisca. Kayla hanya menghembuskan nafas pasrah
"Pacarnya kak Ardi? Itu tuh, yang dulu juga anggota PMR. Namanya Gebi, dan Kak Gebi tuh sekelas sama kak Ardi! Dia tuh—"
"STOP! Percuma lo jelasin panjang lebar sampai urat malu lo putus juga gue gak bakalan mau inget-inget itu. Karena hal yang gak penting gak usah diinget! Ngabisin memori otak gue aja!" Ucap Liza
"Hah! Terserah lo dah! Yang penting dah gue bilangin"
"Kak Ardi kok masih ikut PMR sih? Kan dia udah kelas 12" Tanya Liza
"Mungkin karena dia pinter" Ucap Sisca masa bodo
"Emm bisa jadi karena kak Ardi ganteng" Ucap Kayla disetujui oleh Sisca
"Hemm atau mungkin karena dia gabut terus dia maksa buat jadi PMR lagi. Atau mungkin dia digaji sama kepala sekokah. Atau mungkin dia—"
"Stoppp!!" Sisca memotong ucapan Liza karena kalo dibiarin, omongan Liza bisa kemana-mana dan pasti semuanya ngarang
Liza diam menatap Sisca sambil cemberut
"Sisca" Panggil Dion sambil berjalan kearah Sisca dan Liza
Tidak hanya Sisca yang menoleh, tapi Liza dan kayla juga ikutan menoleh kearah Dion
"Paan?!" Ucap Sisca judes
"Gue punya kabar bagus yang pasti buat lo seneng"
"Oh"
"Kabarnya apaan?" Tanya kayla sangat antusias
"Bang Viro Jualan dikantin lagi karena ibunya lagi sibuk nonton sinetron baru"
Seketika Liza, Sisca dan Kayla berlari kekantin meninggalkan Dion Didalam kelas sendiri
###
"Bang beli dong" Ucap Sisca didepan warung kecil Milik ibu dari Bang viro
"Beli apa?"
"Nomer HP" Ucap Kayla cepat membuat Sisca yang sudah membuka mulutnya berisap untuk bicara kembali menutupnya
"Maaf gak dijual" Ucap bang viro ramah
"Kenapa?" Ucap Sisca dan Kayla bersamaan
"Enggggg.... Ya gapapa"
"Kalo gak papa kenapa gak dijual—"
"Stttt!!" Liza menaruh telunjuknya dibibir Kayla membuat kayla diam
"Cara minta nomer HP tuh gak gitu. Lihat, amati dan pelajari!" Liza mengeluarkan bolpen yang sejak kemarin disaku roknya
"Kasih nomer lo dan gue gak akan bocorin alamat rumah berserta ciri-cirinya keorang-orang"
"Lo tau?"
Liza mengibaskan rambutnya sebagai jawaban. yang pasti ada atap sama pintunya kan?
"Ini gue catet dimana?" Ucap Bang viro
Mata Liza bergerak kesana kemari mencari kertas tapi tidak ada
Pandangan mata Liza terhenti dijidat Sisca
"Tulis disitu" Ucap Liza sambil menunjuk jidat Sisca
"Ih ogak apaan dah!" Sisca menutupi jidatnya
"Terus dimana??" Ucap Liza
"Dikertas aja" Ucap Kayla
"Kertasnya manaa??" Ucap Liza. Apa Kayla tidak tau dari tadi Liza mencari kertas
"Ini" Kayla mengeluarkan kertas yang dilipat
"Kenapa gak bilang dari tadii?!!" Ucap Liza, Sisca dan Bang viro bersamaan
"Lo gak nanya"
"Sisca" Liza menepuk pundak sisca yang berada disampingnya
Sisca menoleh
"Bunuh temen dapat pahala berapa?"
"Makan temen aja gak boleh apa lagi bunuh temen"
Liza mengambil kertas Kayla lalu memberikannya pada Bang viro
"Jangan sebarin nomer HP gue" Ucap Bang viro saat mulai menulis
"Tenang aja~ Paling gue jual kesisca sama Kayla
Bang viro pasrah. Hanya tiga cewek ini gak masalah lah. Yang penting jangan sampai satu kelas atau lebih
"Inget! Jangan disebarin informasi pribadi tentang gue"
"Tenang aja. Gue gak tau apapun tentang lo"
"Terus ancaman lo tadi apaan?!"
"Ya... Cuma buat amcaman doang sih. Tapi kalo lo gak ngasih nomer lo, gue bakal melakukan ancamannya. Gue bakalan cari info tentang lo dari sumber terpercaya yaitu ibu lo!"
###
"Za, jangan-jangan nomer hp ini palsu?!" Ucap Sisca saat tiba dikelas
"Kita coba dulu" Liza mengambil HPnya dan mulai menelepone
tersambung
"Hallo? Ini pasti Liza ya?" Ucap Bang viro
"Ciee kok tau sih?!" Ucap Liza lalu bang Viro diam
"Hallo?"
"Hmm"
"Bang Viroo! Lo kok ganteng banget siiih!! Pacaran yuuuk!!" Ucap Kayla
Sambungan dimatikan oleh Bang viro
###
"Za! Lo gak mau bales dendam gitu? Kan lo difitnah" Ucap Sisca
"Boleh juga sih"
"Hemm" Satu ide terlintas dikepala Liza membuat Liza mengangkat satu ujung bibirnya
"Panggil mila" Suruh liza kesisca
"DION!!!" Ucap sisca tak lama kemudian dion datang
"Apa?"
"Panggil mila!"
"Mager"
"Entar gue bolehin lo poto bareng gue"
"Siap!" Dion memberi hormat lalu pergi dan tak lama kemudian Mila datang sambil memakan tempe
"Dandanin gue dong!" Ucap Liza
Sisca mila dan Kayla segera mengerti apa yang direncanakan Liza. Mila segera mengambil tasnya lalu menumpahkan semua isinya yang pastinya make up kemeja Liza
Liza menatap Sisca "Sisca cari tau nomer hpnya kak ardi. Gue tau lo bisa"
"Itu sih hal gampang" Sisca mengeluarkan HPnya lalu menelepone temannya yang merupakan kakak kelas dan sekelas dengan Ardi
Sisca mempunyai banyak teman mulai dari kakak kelas, sebaya, adik kelas, hingga staf
"Halo? Ada apa?"
"Lo punya nomernya kak ardi gak?"
"Punya emang kenapa?"
"Bagi dong"
"Otw gue kirim"
Setelah mendapatkan nomer Ardi sisca langsung mengirimkan keHP liza dan Liza langsung menelepone kak Ardi
"Ini siapa ya?"
"Hai kak. Gue Liza. Bisa ketemuan gak?"
"Dimana? Emang ada apa?"
"Enggg...." Mata liza bergerak kesana kemari mencari alasan
"Itu Bella. Lo kan biasa ngurus dia. Jadi gue mau tanya-tanya aja"
"Oooh ketemuan sekarang nih?"
"Iya. Dibawah tiang bendera aja ya. Soalnya kelas lo jauh. Kita ketemuan sebentar aja. Gak ada lima menit kok"
"Oke. Gue kesana sekarang"
###
Saat Ardi datang Liza langsung tersenyum sehingga membuat Ardi salah tingkah
"Lo udah nunggu lama?" Tanya Ardi sambil menunduk
"Gak juga sih"
"Emmm langsung aja ya" Ucap Ardi masih menunduk
Liza memutar bola matanya. Iya tau situ dah punya pacar!
"Kak. Kepalanya diangkat dong! Masa ngomong sambil nunduk!" Ucap Liza lalu Ardi mengangkat kepalanya tapi tidak menatap Liza
"Jadi gue tuh dah anggep Bella sebagai adek sendiri. Dan akhir-akhir ini dia kayak lemes terus gitu" Ucap liza lancar
Liza melihat sekeliling. Orang-orang mulai melihat liza dan ardi sambil berbisik ada juga yang merekam ada juga yang berlari menuju kelas putri
"Masa lo gak tau sih?! Bella tuh punya penyakit anemia!"
"HA?!" Liza menutup mulutnya. Akting pura-pura kagetnya sangat bagus sehingga membuat orang-orang semakin menatapnya
"Masa sih?! Gue gak nyangka Bella nutupin penyakitnya dari gue. Gue gak becus banget ya jadi temen. Padahal gue udah deket banget sama Bella sejak lama"
Ardi memegang pundak Liza "Tenang aja. Dirumah Bella udah dijaga sama keluarganya, disekolah Bella dijaga sama Guru dan PMR"
PLAKkk!
Satu tamparan mendarat dipipi Liza. Pelakunya adalah Diba
Diba datang bersama pasukannya. Pasukannya bukan cuma tiga atau lima, tapi pasukannya ada puluhan. Hampir seluruh siswa kelas 12 dia bawa
"Kamu apa apaan sih?!" Ucap Ardi
"Kamu tuh! Ngapain kamu deket-deket Liza?!" Ucap Diba
Mereka berdua berdebat hingga melupakan Liza yang berdiri diantara mereka
Orang-orang disekitar mulai berkumpul
Tak lama kemudian Sisca, mila, kayla, dion, putra, dan liham datang. Ditangan Sisca terdapat megapone
Mereka membelah kerumunan lalu sisca memberikan megapone pada Liza
"Mohon tentang woiiii!!! Ini yang kena masalah gue ngapain lo pada teriak-teriak gak jelas?!!" Ucap Liza keras didepan megapone tapi mereka semua bukannya diam tapi malah semakin berisik
"Kalo gak diem gue tutup kantin selama seminggu!" Zio datang bersama Abi dan Reyhan menuju bawah tiang bendera sambil berbicara menggunakan megapone
Seketika semua orang diam
Reyhan merebut megapone dari tangan Zio lalu berbicara "Sukurin lo! Kelaparan seminggu cuma bisa minum air keran!"
Liza memutar bola matanya "Anaknya kepala sekolah mah bebas!" Ucap Liza menggunakan megapone
Zio menggambil kembali megaponenya lalu berkata "Oke! Untuk Liza mulai hari ini hingga seminggu kemudian tidak boleh makan dikantin"
"Ih! Apaan sih lo! Sok berkuasa banget!"
"Emang gue berkuasa"
Liza sudah mengangkat megapone didepan mulutnya tapi Liza kembali meletakkannya karena bingung harus bicara apa
"Sekarang kalian bubar!" Ucap Zio. Seketika mereka melangkahkan kaki mereka untuk pergi tapi terhenti karena ucapan Liza
"Jangan jangan!! Gue mau ungkap kebenaran dulu! Biar kak Gebi gak asal tuduh!" Liza segera mengeluarkan HPnya yang ternyata sejak tadi merekam semua pembicaraan dia dan Ardi
Semua orang berkumpul kembali mendengarkan rekaman suara dari HP Liza
"Kamu denger sendiri kan? Kamu tuh daru dulu curigaan banget sih! " Ucap Kak Ardi
Diba menatap Ardi sebentar lalu berlari keluar dari kerumunan. Ardi mengacak-acak rambutnya lalu berlari menyusul Diba
Dasar BUCIN!
"Apa lo?!" Ucap Liza saat matanya tidak sengaja menatap Zio yang ternyata sedang menatapnya dari tadi
"Apa?!" Ucap Zio
"Ya apa?!" Ucap Liza ngegas
"Ya apa?!!" Ucap Zio tak kalah ngegas
"Apaan sih lo?!" Liza memutar bola matanya
"Gimana sih lo?!" Zio memutar bola matanya
"Btw remidi bahasa inggris lo gimana?!" Ucap Zio masih tidak mau melihat Liza
"Bagus lah! Kan gue pinter!"
###
L♥
I♥
K♥
E♥
~~
♪♥