
"Potong bebek angsa, masak di kuali
Nona Liza cantik, mau nggak di kawin?"
PletaK!
"Aww!" Antares mengusap dahinya yang memerah. Melirik Liza tajam dengan bibirnya yang cemberut, ia ngambek
Liza meringis melihat jidat Antares yang memerah, ia merasa bersalah namun juga puas
"Gue mau pulang aja!" Ucap Antares. Pipinya mengembung. Ia memutar tubuhnya meninggalkan Liza di jalanan yang cukup ramai
Mata Liza bergerak mengikuti kepergian Antares "Lah? Terserah"
"Eh ga jadi. Nantikan jamkos" Baru lima langkah, Antares kembali berjalan di sebelah Liza
Memutar bola matanya, Liza berusaha memaklumi Antares yang sudah ia kenal hampir setahun
"Eh" Liza menoleh pada lelaki tinggi di sebelahnya, ia teringat sesuatu "lo sendiri aja? Bella mana? Biasanya kan sama dia"
"Gtaudh. Dia akhir-akhir jarang keluar kamar, jarang ngerepotin gue, jarang caper juga sih. Alhamdulillah semoga awet sampe gue ketemu Doraemon"
Liza menganggukkan kepalanya, ia tau Bella merupakan salah satu murid pintar di sekolah yang sering menduduki peringkat satu di angkatannya, namun Bella tak pernah sekalipun mengikuti lomba. Hal itu membuat para murid serta guru menyayangkan kemampuannya. Ya~ mungkin Bella hanya ingin hidup tenang tanpa terbebani oleh sekolah
Langkah Liza terhenti lagi, tiba-tiba ia teringat tidak pernah mengamati Antares dari ujung kepala hingga ujung kaki "Res!" Liza menarik bahu Antares menghadapnya. Kini ia penasaran mengapa orang-orang sering membanding-bandingkan Antares dengan Zio
"Pa? W msi sbl. Jan bnyak-bnyak tnya!" Menolehkan kepalanya, ia tak ingin berkontak mata dengan gadis yang jauh lebih pendek darinya ini
Pipi Antares mengembung dengan matanya yang berkilau karena matahari di tambah bulu matanya yang lentik serta rambutnya yang acak-acakan membuatnya seperti anak TK yang ngambek abis pulang les, membuat Liza gemas sendiri. Entah mengapa ia terlihat mirip dengan kucingnya waktu baru dua bulan "Huwa cayangkuuu" Tangan Liza terulur menundukkan kepala Antares lalu menguyel-nguyel pipinya yang masih mengembung "Gemoiy gemoiy~" Ucap Liza berulang kali dengan nada imut ditambah jarak mereka yang cukup dekat membuat Antares salting. "
"Pipi lo ternyata chubby. Ga kek cowo sebelah"
"Siapa"
Menghela nafas sekilas, Liza kembali menarik tangannya "Zio. Dia mah luar dalem sama-sama datar. Lo kan enak kalo di uyel-uyel"
Senyum Antares mengembang. Ia menekan pipi Liza hingga terlihat seperti ikan "lo juga enak"
"Aa it!" (Sakit)
PletaKk!!
"Aww! Lagi seneng juga" Antares mengusap dahinya lagi. Dua kali loh, padahal jitakan yang tadi masih merah
"Lo berangkat sekolah sendiri aja deh, lagian jauhan sekolah lo" Pagi tadi Antares datang ke rumah Liza menawari tumpangan namun tertolak dengan alasan ingin sekalian olahraga padahal bukan itu namun karena Liza tidak ingin datang ke sekolah terlalu pagi.Ia terlalu malas karena kejadian kemarin
"Gapapa bareng aja, gue males sendiri"
"Gue juga males sama lo" Liza melirik Antares yang masih diam tersenyum dengan tangan kanan mengusap dahinya "Entar di pertigaan itu gue belok kiri, lo lurus kan?"
"Lurus lah" Jawab Antares tak terlalu fokus dengan pertanyaan Liza
Liza mempercepat langkahnya, malas berlama-lama dengan Antares yang semakin hari semakin aneh
Gerbang sekolahnya sudah mulai terlihat dengan suara bising yang berasal dari anak-anak yang ribut dengan anggota osis
Liza menoleh mendapati Antares masih mengekorinya bahkan saat dia telah sampai di depan gerbang sekolahnya "lo ngapain masih disini?" Tanya Liza ketus
Antares tersadar, ia menggaruk kepala belakangnya "kok agak nyesel ya sekolah di SMA Garuda"
Memutar bola matanya malas, Liza segera melangkah masuk meninggalkan Antares tanpa mengucap salam perpisahan
Menoleh ke kanan-kiri tanpa menghentikan langkahnya, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Ia mulai was-was ketika sekumpulan lelaki seniornya berjalan mendekat dengan wajah sangar yang dibuat-buat
Langkah Liza memelan, ia tak mengerti mengapa orang-orang itu menghalangi jalannya. Melihat tampilan mereka yang mirip anak kesayangan guru, ia mulai paham. Situasi ini akan menyulitkan
"Ehem! Minggir" Ucap Liza malas
Orang-orang di depannya masih diam ditempat membuat Liza mulai jengkel, ia ingin memukul salah satu diantaranya namun ia yakin para guru di kantor akan sangat teramat marah dan bisa berimbas pada nilainya "lo pada bisa minggir ga sih?!!" Pada akhirnya Liza memilih menahan tangannya
"Ck galak bet dah"
"Ini yang kemaren nyolong kunci jawaban?!"
"Kita dah susah-susah belajar, eh dia tinggal jiplak kunci jawaban aja"
"Jadi adkel ga sopan-sopannya"
Balalala... Menatap jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 7 kurang 5, ia mendecak teringat belum mengulang kembali bacaannya sekalam
"Emang napa kalo gue nyolong kunci jawaban?!" Ucap Liza tanpa sadar membenarkan tuduhannya
"Wah wah~" Gebi dan dua temannya lewat. Menanggukkan kepalanya lalu tersenyum "lanjutkan~ anggap aja gue angin lewat. Ngeng~~" Memutar tubuhnya dengan cepat, Gebi beserta dua temannya memilih lewat jalan lain— tidak, mereka hanya menjauh untuk mencari tempat aman
Liza menghela nafas lalu mengeluarkan pisau lipat dari saku rok nya "Lo pada pernah denger kata-kata ini gak. Ehemm... Jika ada semut yang mengganggu jalan lurusmu makan bunuhlah bahkan jika ia adalah ratu semut yang membawa seribu pasukannya" Liza mengangkat kepalanya mengatap lurus seniornya "gue gak masalah kok kalo bunuh 15 orang. Kan emang tujuan hidup gue ya mati, apalagi emang? Lumutan di penjara sampe matipun—AAAA!!"
"Ngomong apaan lo barusan?" Zio datang meminting leher Liza membuatnya kesusahan bernafas "gue ga ikhlas lo pergi ke sel"
"Wah... Anak pak kepsek dateng nih, pasti mau belain pacarnya"
"Haha, bener. " Zio sedikit memiringkan kepalanya tersenyum menatap orang yang tadi berbicara. Terlihat seram karena baru pertama kali melihat Zio tersenyum kakak kelas tadi langsung menundukkan kepalanya, membenarkan bajunya yang sebenarnya rapi
"Dih, sok jadi pahlawan mentang-mentang keluarganya yang punya sekolah!" Suara nyaring berasal dari orang di barisan paling belakang, benar-benar tak terlihat siapa orangnya
"Lah? terserah dong. Sekolah ini kan... punya gue" Senyum Zio makin melebar, mengejek orang-orang didepannya. Makin songong, Zio mengibas tangannya "minggir, yang punya sekolah mau lewat" Benar saja mereka semua menyingkir atau lebih tepatnya bubar
Sepanjang jalan Zio masih memiting lehernya, tidak sakit tapi sangat tak nyaman. Orang-orang yang lewat pun memperhatikan kedua rival itu terang-terangan
Hingga memasuki kelasnya, Liza tak henti-hentinya menatap Zio dengan mulut terbuka. Sungguh, ia merasa jiwa Antares memasuki tubuh Zio
"Apa?" Zio menundukkan kepalanya, menatap gadis yang lebih pendek darinya
Berkedip sekali lalu menutup mulutnya. Liza mengarahkan kepalanya ke depan, menyikut sekali perut Zio lalu berjalan dengan tenang "lo ketulatan Antares ih"
"Ga tuh. Gue jarang ketemu dia. Gue sama lo terus"
Liza menghela nafas lalu duduk dengan tenang di kursinya "jadi sifat gue mirip Antares gitu?"
"Emm, dikit"
Liza mengangguk "berarti gue sana dia cocok"
"Dia siapa?"
"Antares lah ya masa mas nana" Liza memutar tubuhnya, berjalan ke bangkunya
"Ga. Ga cocok. B aja"
"Ih masa sih"
"Ya"
"Terus cocoknya sama siapa dong"
"Sama orang yang udah lama deket"
"Siapa? Bang Alan? Kita sedarah oy"
"Bukan"
"Terus??"
"Orang yang selalu ada buat kamu"
"Siapaaa perasaan gue ga punya temen sedeket itu deh"
🙂🗡 sungguh Zio ingin mencekik leher Liza detik ini juga
"Emm siapa ya. Masa emak gue, kan ceweee"
"Yang ada di deket lo se—"
"Wah, adek udah dateng? Hari ini abang bawa bekal nih, mau makan bareng"
Wajah Zio semakin ter tekuk melihat lelaki yang baru saja duduk di kursi sebelah Liza
"Dia? Dia yang lo maksut cocok sama gue??" Liza menunjuk lelaki di sebelahnya dengan mata yang masih menatap Zio lekat. Melihat Zio yang tak mengucapkan apapun membuat Liza semakin geram "yaudah!" Liza menatap seniornya dengan mantap "Abang kapan ngelamar adek?"
"Ikut" Zio memiting leher Liza lagi, menyeretnya entah kemana
###
Tetttt!!!
Tak! Srek!
senior di sebelahnya refleks menoleh kepadanya yang langsung berlari cepat keluar dari kelas tanpa menumpuk jawaban ulangannya dan tanpa membereskan barang-barangnya
Menggeleng dengan kalem ia berusaha memaklumi juniornya itu. Ia lantas mengambil kertas ulangan Liza, menumpuknya di bagian anak kelas XI
Tersenyum puas melihat koridor yang sepi, Liza yakin kantin pun sama sepinya.
"Buk, seperti biasa~~mie ayam seporsi. Saya ada 'rapat' bentar, jadi nanti pesanan saya taruh aja di meja yang biasa" Setelah memberikan selembar uang berwarna biru, Liza segera berlari kencang menuju 'ruang rapat'
BRAKK!
"Permisiiii ada rapat dadakan~!" Liza berlari menerobos anak-anak lain yang tengah bercermin hingga ada yang tercoret lipstik nya sendiri sampai ke pipi juga ada yang kebablasan memotong poninya hingga tersisa jauh di atas alisnya
Ya, rapat versi Liza adalah buang ampas dadakan
###
Pintu yang lima menit lalu tertutup kini telah terbuka menampakkan gadis dengan tampang juteknya karena 'rapat'nya tak berjalan dengan lancar
"Liza?"
Liza menoleh pada gadis tak jauh darinya. Matanya menyipit mencoba mengingat siapa orang itu
"Aluraaa, masa udah lupa?"
"Maklum ga penting"
Tersenyum kalem, Alura kembali membuka bibirnya "Muka lo kok jutek gitu?"
"Mules"
"Jangan-janhan rumor itu bener?!" Tiba-tiba gadis lainnya muncul ikut nimbrung pembicaraan mereka
"Rumor?" Ucap Liza dan Alura bersamaan
"Iyaa rumor setaun lalu yang katanya Liza dihamilin orang aneh di kolong jembatan"
"Eh tapi siapa tau bener. Coba lo ke dokter deh"
"Lah ngapain gue masi suc— aww!" Liza memutar tubuhnya masuk kembali kedalam toilet. Hahh pasti karena nasi basi tadi pagi
###
Satu jam berlalu akirnya pintu toilet paling ujung terbuka menampakkan gadis yang setengah basah karena keringat. Penampilan yang tadinya rapi kini jadi tak karuan
Menoleh ke kanan-kiri. Sepi. Liza menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 13.00. Waktu istirahat sudah lewat
Menghela nafas pasrah, ia berusaha mengikhlaskan mie ayamnya karena tak mungkin ia yang sekarang pergi ke kantin dan melewatkan ulangannya
Tak sempat berkaca, Liza langsung melesat pergi ke ruang kelasnya sambil merapihkan rambutnya yang keluar dari ikatan
"Kamu yang di sana! Tunggu!!"
Langkah Liza terhenti, dia menoleh mendapati pria berumur 40 tahunan yang berseragam seperti guru berlari kecil ke arahnya "kamu tau ruangan kepala sekolah ada di mana?" Ucapnya ketika mereka berjarak semeter
Liza mengangguk sekali "Tau"
"Bisa antar saya ke sana?"
Berpikir sebentar. Ruang kepsek dari sini cukup dekat "Emm boleh deh" Liza menuntun pria yang ia duga guru sekolah lain itu menuju ruang kepsek
"Kamu tadi habis ngapain?"
"Rapat"
"R-Rapat??"
"E'ek"
"O-Ohh... "
Langkah Liza terhenti lima meter dari pintu ruangan kepala sekolah. Liza memutar tubuhnya lalu menunjuk pintu bertulis 'ruang kepala sekolah' "di sana pak. Saya ga ikutan masuk ya"
"Oh iya Terima kasih— eh tunggu sebentar" Lelaki dewasa itu menyentuh kepala Liza membenarkan ikatan rambutnya yang masih berantakan
"Anda seperti ayah saya"
"?! Ahahaha maaf. Kalau begitu saya masuk dulu" Menundukkan kepalanya sekali lagi, pria itu melangkah pergi ke ruang yang tadi ditunjuk oleh Liza
Melangkahkan kakinya kembali menuju tujuan utama, ruang kelas.
Ia melirik jam tangannya lalu mempercepat langkahnya. Satu jam lagi ulangan selesai. Bisa saja Liza meminta waktu tambahan tapi kebanyakan guru di sini tidak menyukainya, masih syukur jika diperbolehkan masuk kelas
"Wah, apanih?"
Langkah Liza terhenti. Ia menoleh mendapati Alura dan Gebi tengah berjalan dari arah UKS, di tangan Alura terdapat Kotak pertolongan pertama. Sepertinya Liza melewatkan sesuatu yang seru
"Abis dari mana? kok berantakan? Om-om tadi siapa??"
Liza tak menjawab, ia hanya memandang Gebi dengan tajam
Mata Alura bergerak kesana-kemari menyadari suasana kurang mengenakkan "aa.. emm.. k-kita ke kelas aja yuk bertiga"
###
Pukul 16.30 hujan turun disertai petir yang sangat menakutkan. Kebanyakan orang lain pasti memilih berdiam diri di rumah sambil menyantap mie kuah dengan 2 telur atau memilih meredupkan lampu lalu tidur, namun berbeda dengan Liza. Ia memilih mengambil payung bening miliknya, berjalan seorang diri membawa uang 10ribu yang entah akan mendapatkan apa
Sepanjang jalan tampak tak ada satupun kendaraan atau pejalan kaki lain yang lewat. Dengan baju daster putih milik ibunya, rambut yang ia gerai tanpa ia sisir terlebih dahulu juga dengan sandal jepit merah kebesaran milik kakaknya, ia berjalan loyo menyeret sandalnya membuat suasana kian suram. Ia terlihat seperti setan yang tengah putus aja
Liza merogoh saku daster nya mengambil earphone yang sudah terhubung dengan ponselnya. Menyetel lagu Beautiful dengan suara para bujang yang di rekomendasikan Kayla semalam. Sudut bibir Liza terangkat saat ingatan semalam melintasi kepalanya
"Kalian harus dengerin lagu ini! Nyanyian para bujang anak asuh bapak soman dari cabang encitih minus mas menang sama mas kopi tapi Alhamdulillah babang jaemin ikutan!! Huwaaa visualnya~~ Za! lo harus dengerin ini! Sini HP lo! Di jamin lo bakalan lupain segala masalah lo termasuk Zio kalau lo dengerinnya sambil meresapi para visual bujang ini!"
Bukan karena ucapan Kayla yang lucu namun reaksi Zio yang grecep mencari para member ensitih, membandingkan masing-masing member dengan dirinya. Apalagi saat menyadari senyum Jaemin yang sesuai tipe Liza membuat bahu Zio lemas
Liza menundukkan kepalanya. Bahunya naik-turun untunglah suara hujan menyembunyikan tawanya yang seperti orang sesak napas
GREP!
Brakk!
"LO GILA?!!"
Mata Liza bergerak mengikuti arah motor yang mungkin berniat menabraknya. Motor berwarna hitam tanpa plat nomor. Orang yang mengendarainya memakai pakaian serba hitam bahkan tak terlihat sedikitpun warna kulitnya, di helm orang itu terdapat sticker panjang berwarna putih
"Lo mau bunuh diri?! Gila lu ya!"
Liza tersadar, ia menatap gadis di depannya lalu kaget saat menyadari ternyata Gebi. Orang yang ia curigai memfitnahnya. Pandangan Liza jatuh pada kedua lutut Gebi. Celananya robek cukup besar ditambah darah segar yang mengalir membuat Liza merasa bersalah "Gebi, lutut lo.... "
"Ya ini gegara lo" Ucapnya santai seakan tak terasa apapun
"Ayo ke RS!!"
"Ck, ga usah gue ada urusan penting" Ucap Gebi masih santai tak memperdulikan gadis yang lebih muda darinya tengah kalang-kabut
"Sepenting apa?!! Lo mau nyalon jadi presiden? Iya entar gue coblos pake jarum pentul" Ucap Liza asal "RS!" Liza menarik tangan Gebi mengabaikan payungnya yang entah kemana
Di bawah derasnya hujan yang tak kunjung mereda, sepasang rival berjalan dengan saling menggenggam tangan. Sangat manis
"Gue jijik lepasin!"
"Yaelah cuma gue pegang kagak gue jilat juga"
Pada akhirnya Gebi pasrah di seret hingga sampai di rumah sakit terdekat
Mata Liza dengan cepat membaca papan nama di depan rumah seseorang. Tanpa basa-basi ia menarik tangan Gebi mengajaknya berlari, melupakan lutut Gebi yang semakin berat
"Eh za, bentar deh. Kita ngapain ke dukun lahiran?! Katanya ke RS?!!"
"Bukan dukun geb, kalo baca papan nama tuh yang bener! Lagian RS jauh"
"Tapi rumahnya kek dukun, serem banget. Takut gue, mana lagi hujan deres"
"Aman elah, ga ada setan yang doyan nyaplok lu"
"Ck, gue takut di apa-apa sama dukunnya"
"Dokter. Astaghfirullah. Lagian lu kebanyakan lihat film horor tahun 90an!" Tanpa persetujuan dari Gebi, Liza menarik tangannya masuk ke pekarangan rumah yang semakin gelap
Tok Tok
Tok
"Permisi... "
Tengar suara langkah yang semakin mendekat dari dalam "Iya, sebentar"
JEDERR!!
Jantung Gebi berasa tersambar bersamaan dengan suara petir. Dipikirannya kini di penuhi dengan wajah kakek-kakek cabul berpakaian serba hitam. Sungguh ia ingin kabur detik ini juga namun kakinya tak sanggup
Cklek!
Gebi menunduk, dadanya berdebar tak karuan
"Ada apa?"
"Bisa berobat kek?"
"Oh masuk dulu. Gapapa basah tapi kalau duduk di kursi pantatnya harus ngambang ya"
"Eh? I-iya" Liza tak paham tapi iyain ajalah biar cepet
Mereka masuk kedalam. Pandangan Gebi langsung terpusat pada lilin, beberapa uang berserta boneka sapi pink yang berjejeran. Jangan-jangan.... Mata Gebi terbelak babi ngepet—eh sapi ngepet?!!
Gebi menepuk pundak Liza membuat obrolannya dengan kakek terhenti "ada sapi ngepet" Ucap Gebi yang ternyata di dengar oleh kakek
"Ooh, itu punya cucu saya. Tadi habis mati lampu jadi dia mutulasi bonekanya di sana"
"M-Mutilasi?"
"Iya mau di bikin celengan. Jadi ini siapa yang mau di urut?"
"Urut?? Kakek bukan dokter?" Ucap Liza agak ngegas, lupa mem filter suaranya
"Lho. Jauh nak, saya dulunya pegulat tapi wajah saya sampai sekarang memang terlihat seperti dokter muda tapi jangan salah. Bakat saya kini dalam urut mengurut. Bahkan tulang geser pun bisa selesai dalam sekali tek tek sreg grep breg buak bagh bihh! Tuntas"
"Tuntas hidupnya" Bisik Gebi di setujui oleh Liza
Liza menelan ludahnya. Otaknya berputar "j-jadi bukan dokter ya—"
"Istri ke tiga saya yang dokter"
Liza dan Gebi menghela nafas lega "temen saya mau berobat kek" Ucap Liza
temen? Gebi melirik Liza sinis
"Sebentar ya saya panggilkan" Sang kakek berbalik dengan pantatnya yang bergoyang bersamaan dengan langkah kakinya, ia pergi meninggalkan Liza dan Gebi "ayang bebeb ada tamu~~"
Liza dan Gebi saling menatap bingung. Baru kali ini mereka berhadapan dengan kakek lanjut usia yang sifatnya sangat.... Emm... Wah
Beberapa menit menunggu akhirnya muncul istri ke tiga kakek yang merupakan dokter. Dalam beberapa menit kedua lutut Gebi telah ter perban dengan layak
Melihat betapa ngenes penampilan kedua gadis di depannya, sang dokter tak tega mengambil upahnya. Bahkan ia sempat berpikir untuk mengasuh kedua gadis dengan pakaian lusuh karena bercampur tanah
"Mau mandi dulu disini?" Tawar sang dokter di dukung 100% oleh kakek
"G-Gak usah makasih. Kita pamit" Gebi menarik tangan Liza
Hujan sudah berakhir namun baju Liza dan Gebi masih basah kuyup. Liza melupakan niatnya untuk pergi ke supermarket kini ia mencemaskan kaki Gebi karena bagaimanapun juga dia yang menyelamatkannya
Ternyata Gebi tidaklah semenyebalkan itu. Dia memang sangat keras kepala namun juga sangat baik hanya saja sifat baiknya itu tertutup oleh ego nya
"Geb, gue anterin lo pulang aja"
"Ga usah liza. Eh, lu manggil gue dari tadi gab geb gab gep kek ga ada sopan-sopannya jadi adkel"
"Jarak beberapa bulan aja segala pake embel-embel 'kak' ga sekalian aja tante?"
"Ck, serah lo dah. Lo jangan ngikutin gue! Gue mau pulang, awas aja lu"
"Lah pede amat. Lu mah pulang-pulang aja kali. Lagian ga ada kerjaan banget gue ngikutin elu"
"Lah lu kan tadi emang mau nganter gue pulang. Lu plin-plan banget si?!!"
"Itu tadi ya! Sekarang mah udah kadaluarsa. Udah sana-sana" Liza mendorong tubuh Gebi membuatnya kembali kesal dengan Liza. Malas berdebat dengan Liza, Gebi memilih melesat pergi dengan langkah yang teratih