IceCream

IceCream
59:}Apalah ini



Mata Liza tak henti-hentinya menatap Mila yang dengan 'pintar'nya mengoles es batu bekas es tehnya ke wajahnya dengan merata. Entah kenapa ia rela melakukan itu


Pagi yang sangat cerah ini— bukan bukan! Pagi yang sangat PANAZzz ini, kantin didekat kelas Liza mendadak rame. Bukan karena makanannya enak atau tempatnya nyaman, melainkan karena sebuah kipas kecil yang berada dipojok ruangan. Hanya kantin ini yang memiliki kipas: )


Kini mata Liza bergeser menatap kipas angin yang lagi-lagi mati dengan sendirinya "Listriknya mati kah?"


Mila menggeleng dengan mulut menganga lebar dan masih mengoles es batu pada wajahnya "Biasalah, kipas angin dah berumur. Bentar lagi ketempat rosokan tuh"


"Iyalah. Lagian gak dijual 5000 pun gak akan ada yang mau" timpal Dion


"Tapi biarpun gitu, tuh kipas senior kita. Udah lebih dari lima tahun disini"


Liza menatap Putra tak percaya "kok bisa? jangan sebar tipu-tipu"


"Kata abang gue" Putra berdiri hendak membenarkan kipas antik yang merupakan seniornya. Putra hanya tinggal memutar baling-baling kipas dan dia akan bergerak lagi


Liham yang melihatnya kini menggelengkan kepalanya. Memang kipas itu membutuhkan dorongan agar tetap hidup


"Ehemm!! tolong ya bilangin bapaknya, suruh beli kipas baruu!!! masa kepala sekolah ga bisa beli kipas" Ucap Dion lantang. Matanya bergerak sesekali menatap Zio yang berjarak tiga meja darinya


Zio benar-benar tak perduli dengan omongan Dion. Kini dihadapannya terdapat tiga kipas portable yang ia kuasai sendiri. Sedangkan abi dan Reyhan memakai satu kipas portable yang ia pakai bersama


"Arghh!! gak kuat gue!" Liza berdiri dari kursinya, membuat suara decitan dari kursinya terdengar jelas. Liza berjalan menuju salah satu toko yang berjejer rapi "Kulkas ibu segede apa?"


"Emm kira-kira sih setengah tubuh kamu" Ucap ibu itu ragu, takut-takut apabila Liza ingin masuk kedalam kulkasnya


"Saya kurus kok bu! pasti muat💪!'


" T-tapi didalem kulkas ada ikan..."


"Ndak papa. yang penting dingin!"


"Tapi ikannya masih hidup, ada belut hidup juga se baskom gede"


Liza memutar balik tubuhnya, membayangkannya saja ngeri rasanya


Baru beberapa langkah, Liza membelokkan kakinya pada toko dipojok tak jauh dari Zio "Bu, es tehnya satu. Tehnya dikit, es nya banyakin"


"Oke, bentar!"


"Anak ibu yang ganteng itu kemana?" tanya Liza mengingat beberapa hari ini ia tak melihat bang viro


"Siapin lamaran"


"GIMANA?" ucap Liza disusul Kayla dan Sisca yang telinganya sangat peka


"Waduh, saya belum siap bu" ucap Kayla


Ibu pemilik warung tertawa pelan "Tapi cantik loh calonnya"


Liza dan dua temannya memutar bola mata mereka. dalam batin mereka kompak berkata Cantikan juga saya


"Dia berjilbab" sambung ibu pemilik warung


"Saya juga bisa pake jilbab" ucap Liza


"Saja bisa macem-macem model jibbab" Kayla berdiri membuat orang-orang berfokus melihatnya


Brakk!! kini giliran Sisca yang berdiri sambil menggebrak meja "Saya pernah jadi guru les pivat perjilbaban"


"Calonnya anak saya tuh rajin, dia suka bersih-bersih. Walaupun belum nikah sama anak saya tapi setiap dia dateng kerumah pasti selalu bersih-bersih. Menantu idaman banget"


Kayla duduk "Oke saya menyarah kawan! saya tidak bisa ber akting menjadi pembantu😔"


"Gak cuma bersih-bersih tapi dia juga nurut sama anak saya, kalo anak saya gak ngasih izin buat pergi, si calonnya itu bakalan nurut. Dia juga suka ngabarin kalo lagi ngapain aja, kalo mau makan dia ngabarin, mau tidur ngabarin pokoknya sehari dia bisa telepon akan saya lebih dari 30× cuma buat ngabarin kesehariannya"


Kini Sisca menarik kursinya bersiap duduk dengan elegan "Baiklah, saya mundur, saya tidak bisa munafik dan tidak akan ber akting menjadi munafik🙃"


Ibu pemilik toko itu menggelengkan kepalanya. Kini tangannya sibuk mengaduk teh sebelum es batu dimasukkan. Ibu itu menoleh, mendapati Liza yang masih menatapnya dalam


Liza kini tersenyum "saya masih bertahan☺"


"Kamu saya tolak, mewakili anak saya"


"Lah? K-kok..."


"Ada yang gak terima kalau kamu sama anak saya" ucap ibu itu sambil melirik Zio yang juga menatapnya dan Liza terang-terangan "Emm lagian sifat kamu terlalu luwarbyasah. Saya aja gak berani bayangin kalau kamu sama anak saya"


"Yaaah, kok gitu siiihh"


"Begitulah"


"Lupain anak saya dan lihat orang dibelakang kamu itu"


Liza memuar tubuhnya lalu mengangkat dagunya menatap orang jauh lebih tinggi darinya


"Minggir" ucap orang itu, dingin


Liza masih diam bahkan tak berkedip menatap Zio


"Minggir! Lo mau mati?!"


A-Apa zio mengancamnya?


Tak hanya Liza bahkan seluruh penghuni kantin terkaget hingga tak bisa mengeluarkan suara mereka, bahkan beberapa diantara mereka sampai menjatuhkan peralatan makannya


"Udah bagus lo jauhin gue! Lo takut mati kan? Hahah!" Zio menatap Liza sinis lalu tak lama ia memalingkan wajahnya saat melihat Liza yang sepertinya gagal mencerna ucapannya


"Jangan lihat gue!!" Zio mendorong pelan bahu Liza tapi tetap saja tubuh kecil Liza kehilangan keseimbangannya hingga hampir terjatuh. Liza pun masih tetap diam menatap Zio tak percaya


Tangan Liza mengepal dengan segala kata-kata mutiara khas'nya yang siap menghantap dada zio hingga tembus kejantung dan akan naik kepita suaranya


"ZIO! Lo kasar banget sihh!!" Sisca berdiri menunjuk Zio dengan garpu miliknya. Liza menatap Sisca tajam. Kerena Sisca pukulan mutiaranya tak jadi terlayangkan


"Ayo kita pergi" Kayla menghampiri Liza dan menarik pelan tangan Liza untuk pergi dari sana diikuti oleh teman-temannya yang lain


T-tunggu Liza bahkan belum mengucapkan sepatah katapun untuk Zio. Bahkan tangannyapun masih mengepal. Hah~ pada akhirnya kata-kata mutiara yang sudah sampai tenggorokkannya pun harus ia telan kembali


Sepanjang jalan Liza hanya diam teman-temannya pun ikutan diam tak berani bersuara, bahkan Dion sejak tadi menggaruk kepalanya dan sesekali menyenggol bahu Putra, ia bingung harus bagaimana


Sampai dikelas dengan cepat Dion mengambil kursi untuk Liza. Liham mengambil air minum Kayla dan langsung ia serahkan pada Liza


"Emm gimana ini?" Mila berbisik pada Sisca. Mereka kini berdiri melingkari Liza yang sudah duduk, masih tak bersuara


Liza mengambil ponselnya dan segera membuka aplikasi gugel "Woi gugel! tutorial bersikap ishlas tabah dan tenang terhadap fitnahan!!"


Oh jangan lebih baik "Okeh gugel cara


"Z-Za—"


"Zio...... kenapa......" Liza memotong ucapan Sisca


"KENAPA?!!" Liza berdiri membuat kursinya jatuh dengan suara yang sangat keras


Para lelaki dibelakang Liza segera mundur agar tak tertimpa kursi. Beruntung pintu kelas tertutup


"Gabisa!" Liza melepas sepatunya "Otak Zio pasti bermasalah! Bismillah Harus gue ketok! Pake bawa-bawa mati segala, emang dia author ini cerita?!!" Dengan cepat orang-orang mencegah tubuh Liza agar tak keluar dari kelas. Bisa bahaya kalau Liza sudah seperti ini "LEPAS!!"


Orang-orang tak menggubris ucapan Liza "Se enggaknya lo lihat HP lo dulu!!! Sejak tadi bunyi noh!" Ucap Mila yang memang disamping tubuh Liza yang terdapat HPnya disaku rok


"Haish!" Liza benar-benar tidak merasakan getaran penselnya bahkan suara nyaring dari ponselnya pun tidak ia dengar. Dengan asal Liza menerima panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya


"APA?! SIAPA LO?!! KENAPA?!! PERGI LO DARI BUMI INI!!" Liza bebas meneriakkan semua kekesalannya tak perduli pada telinga si pendengar


"G-Gue Antares"


"LENYAP SONO!" Liza membuang ponselnya asal


Disebrang sana Antares memijat kepalanya, entah ia punya salah apa dengan Liza


Putra memegang pundak Liza takut-takut "S-Sabar.... M-Mau ice cream gak? gue beliin sekilo"


"Mauuuu😍"


###


Liza terus-terusan mondar-mandir dirak parfum super market ditangannya kini terdapat tiga jenis parfum harganya satuannya pun sangatlah terjangkau, kurang dari 50ribu


masalahnya adalah Liza hanya membawa uang 50ribu. Ia harus memilih satu diantara tiga parfum ditangannya ini


Untuk ketuju kalinya Liza melewati rak parfum panjang ini. Matanya tak sengaja melihat parfum kecil yang terlihat familiar. Parfum kecil berwarna biru, parfum untuk anak-anak


Mata Liza bergerak turun menatap harga yang tertera dibawahnya. 20ribuan tanpa berpikir panjang Liza mengambil dua parfum itu lalu mengembalikan tiga parfum yang dipilihnya tadi ke dalam rak masing-masing


Awal Liza memakai parfum itu saat kelas 2 SD, dibelikan oleh Zio saat ulang tahunnya


Parfum berwarna biru yang selalu ia ingat aromanya. Ingat Liza membeli parfum ini bukan karena Liza teringat zio tetapi karena baunya memanglah enak. Ingat!!!


Ingat!!!


INGAT!!!


"Ehemm, geser"


Liza menolehkan kepalanya. Panjang umur. Hais kenapa ia harus menoleh tadi?! harusnya langsung pergi saja. Tapi ya sudahlah "ehemm, yang pagi tadi bentak-bentak gue, sekarang nyariin sampe sini" diliriknya Zio yang masih tak breaksi. Pantang mundur Liza masih tetap mengkode zio


"Duh yang tadi bikin sekolah gempar" kembali ia lirik zio yang ternyata tak juga bereaksi "ehemm......."


merasa kesal dedngan liza, zio pun angkat bicara "diem bisa ga si? kalo ngomongin orang tu langsung didepannya" setelah memasukkan beberapa parfum dikeranjang belanjaannya, zio pun pergi tak memperdulikan wajah liza yang memerah, antara malu dan marah


dasar zio! apa dia lupa kejadian tadi?! dari pada tambah malu dan marah lebih baik liza pergi. huhuu babai parpum 👋


mengembalikan dua parfum yang sangat ia inginkan, Liza melangkah lebar-lebar menuju pintu "ga jadi beli mbak, disini panas!" ucapnya saat melewati penjaga kasir yang sedang memeriksa belanjaan pelanggan lain


"Panas??" ulang penjaga kasir itu sambil menatap AC yang terpasang jelas


"ADHEN!!"


Liza menghentikan langkahnya, menatap dua remaja yang lebih muda darinya tengah berdebat tak begitu jaug darinya


"Ngapain sih pake ikutan kerumah nenek aku segala?!" ucap si cewe yang berterik tadi. Didepannya terdapat cowo yang jauuuh lebih tinggi darinya tengah tersenyum pasrah,bahkan liza dapat melihat matanya yang juga ikut tersenyum pasrah


jikalah mereka adalah liza dan kakaknya pasti Alan sudah menyeret liza pergi sambil mengatakan "JANGAN TERIAK-TERIAK BOCAH!! MALU-MALUIN GUA TINGGALIN ENTAR LU"


Kembali ke liza sekarang ini. Benda berwarna biru yang dibawa cewe itu mengambil penuh perhatian liza. Parfum yang tak jadi ia beli!!


Rasa malu dan marah Liza seketika meluap. Tanpa ragu sedikitpun Liza melangkah menghampiri mereka, dia sangat yakin bisa mendapatkan parfum legend itu!


"Assalamuallaikum wahai makhluk hidup, saya ingin parfum itu" liza menunjuk parfum yang ia incar


terlihat dua remaja didepannya saling menatap bingung "ini udah aku pake"


"gapapa bekas yang penting kualitas msih sama"


"tapi aku gak mau jual ini" ucap gadis itu dengan wajah datarnya. Oh ayolah Liza sangat menginginkan parfum ituu


"Udah kasih aja nanti beli lagi!!" bisik temannya yang samar-samar di dengar oleh Liza. Menghela nafas pasrah akhirnya parfum leged itu ia serahkan pada Liza "buat kakak aja deh" Ucapnya setelah memberikan pafrum "lain kali jangan ngemis gitu ya kak" setelah mengucapkan kata yang cukup menusuk Liza, gadis itu pergi dengan temannya yang seperti tiang


###


"Za, lo mikirin apaan dah? Zio?"


Tanpa pikir panjang Liza mengangguk


"Za,"


Tidak hanya Liza, tapi Sisca dan Kayla juga ikutan menoleh pada seorang gadis yang duduk bersandar pada pohon mangga besar "Mungkin nih ya, mungkin, lo—"


"Gamungkin" Dengan cepat memalingkan wajahnya, ia tau betul lanjutan dari perkataan Mila


"Tapi mungkin aja sih. Lagian siapa sih yang gak suka sama Zio"


Mereka kompak menoleh pada Sisca "Lo pernah?" tanya Mila


"Iya, cuma dua hari sih waktu awal PLS"


Mila mengangguk "Gue juga pernah sih, tapi ga sampe sehari waktu PLS juga"


Sisca menatap Mila sinis "Beneran?"


"Ya dulu dia populer banget, secara ka dia anaknya kepsek terhormat. Kalau aja Putra gak bututin gue pasti gue udah jadian sama Zio" ucap Mila dengan pedenya


"Kayla?"


"Ga pernah. Para cogan di HP gue lebih menarik" Kayla berjalan lalu duduk disamping Liza "Nih gue racunin biar lo gak mikirin Zio mulu"


Kayla menunjukkan kumpulan vidio pendek tepat didepan wajah Liza "Namanya haruto, cocok banget jadi temen ngayal lo"


Liza menghela nafas "Senyumnya mirip Zio" Liza berulang kali memukul ponsel kekepalanya. Entah kenapa mood nya semakin anjlok


"Oke ganti yang ini" Kayla kembali menunjukkan layar ponselnya pada Liza "Namanya Jay day6 yang bikin gue oleng kemaren"


Liza kembali menggeleng "Mirip bang viro. Huwaaa!!! nanti sore kita harus ikut ke lamarannya bang viro!"


"HARUS!" Ucap Mila, Sisca mau Kayla kompak


"oke deh ini yang terahkir" Kayla menggeser layar ponselnya, mengganti dengan cowok yang berbeda "Namanya jaemin dari enciti manis banget nih orang bias gue dari bertahun-tahun lamanya. Semenjak kenal dia berasa punya pacar gue"


Liza membelakkan matanya. Pantas saja Kayla sama sekali tak melirik Reyhan. Liza menatap Sisca dan Mila bergantian seolah mengatakan Reyhan mah lewat jauhhhh. Inilah saingan terberat Reyhan, untung saja sulit bahkan nyaris tidak mungkin bisa digapai oleh seorang Kayla


Liza mengamati cowok bernama jaemin itu lamat-lamat "Kok mirip cowok PMR dulu sih? Iya kan?" Liza mengarahkan ponsel Kayla pada Sisca


Sisca menyahut ponsel Kayla, ia menyipitkan matanya "Eh iya!! Tapi.. matanya beda dikitt!!"


"M-masa sih??"


"Iya kaylaaaa" Sisca membuka ponselnya lalu memencet aplikasi IG "Nih" Kayla merebut ponsel Sisca menatapnya sangat dekat hingga hampir menyentuh pangkal hidungnya


"Demi apa mirip anj—"


"Hustt!!" Liza mendorong kepala Kayla menggunakan telunjuk jarinya "Dilarang berkata kasar! Dosa!"


"Oh iya Astagfirullah. Tapi mirip benerr!!!" Kayla kini menatap Sisca "Sisca, target nih"


"Kuy lah gas!"


"Inget, dia dah ada yang punya. Sok tau banget lagi tuh cewenya" Ucap Liza mengingatkan


"Tenang~ dah selese mereka" Ucap Sisca


"Beneran? wah Siapa lagi nih yang berani bikin ulah?"


Sisca tersenyum sinis lalu matanya bergeser menatap Mila yang sejak tadi menyimak sambil sibuk mengoles bibirnya dengan lipbalm "Dia gak sengaja jatuhin lipbalm nya ditas anak PMR itu. Terus cewenya marah, Si cowo PMR juga ga bisa ngomong apa-apa karena emang bingung harus gimana"


Liza kini menatap Mila "Terus nasip lipbalm nya gimana?"


"Tuh cowo PMR buang Lipbalm Mila tepat disamping motor Mila, nah pas banget Mila juga mau ngambil motornya. Karena Mila pinter banget ngenalin barangnya, maka dengan sekali Lihat dia udah tau itu miliknya. Dengan gampangnya dia ambil tuh lipbalm"


Liza membelakkan matanya "yang dipake sekarang itu?"


"Iya itu lipbalm yang gue maskut"


"Wah wah" Liza bertepuk tangan "ketidak sengajaan Mila membawa mala petaka besar. Eh kok lo bisa tau"


Sisca mengibaskan rambutnya "Tiap sore gue selalu pantau cctv sekolah"


Kayla memegang kepalanga dengan dua tangan. Berusaha mengingat nama anak PMR tersebut "Siapa sih namanya???"


"Ah lupa. Lo tau gak za?"


Liza menggeleng, tak berminat mengingat orang itu


"Aish! dah lah! Biar kitq cari tau besok!" Ucap Kayla pada akhirnya


Liza langsung menolehkan kepalanya memghadap kayla "Kita? Gue enggak ikutan ya. Mager"


"Teserah. Okw kembali ke topik tadi"


"Gimana kalo lo baca Komik aja?"


"Yang ada gambarnya doang yang gue lihat"


"Kalo gitu novel aja deh. Judulnya IceCream, tapi lo harus sabar-sabar soalnya author nya lama UP"


Liza memutar bola matanya "Lo lupa mata gue alergi membaca?"


Kayla menyandarkan tubuhnya kekursi lalu menekuk kedua tangannya didepan dada dengan pipinya yang sedikit mengembang. Terlihat jengkel namun sangat imut "Dahlah gue nyerah"


###


Tiga remaja berjalan beriringan dengan gaun pengantin berwarna putih. Suara sepatu But Liza mendominasi setiap langkah mereka, untunglah gaun panjang Liza mampu menutupi sepatu butut milik ayah Liza


"Sepatu lo malu-maluin banget!" Bisik Sisca, pelan tapi ngegas hingga kuping Liza terasa panas


"Dari pada temen lo disebelah sono" Liza memajukan dagunya membuat Sisca menoleh, matanya langsung terfokus pada gambar kupu-kupu dibawah mata Kayla. Mata Sisca bergeser menatap kedua mata Kayla yang memakai soflens dengan warna yang berbeda, ungu dan pink. Tak sampai situ, Kayla juga memakai mahkota kecil yang terpasang rapi dikepalanya


Liza menghela nafas. Sudah pasti kupu-kupu dibawah mata kanan Kayla itu ia sendiri yang menggambarnya. Dan soflens itu ulah Ibu dan ayah Kayla yang memang berbeda keinginan. Tak lupa mahkota kecil itu pemberian dari abangnya yang tak ingin ketinggalan mengurusi adiknya


"Kay coba lihat sepatu lo" tanpa disetujui Sisca langsung mengangkat rok Kayla. Sandal jepit🙂 tentu saja kebesaran karena milik abangnya. Padahal kakaknya sudah menyiapkan sepatu kaca tapi karena terburu-buru Kayla malah memakai sandal jepit berwarna merah milik Kakaknya


"Plis tolong ini konsep lo apaan?!" Liza memijat pangkal hidungnya


Kayla mengangkat tangan kanannya yang membawa lightring "Am the mafia. Ma ma fia ya. we do it like a mafia. reng teng teng teng teng teng"


Sisca memejamkan matanya. Memang dia yang paling normal diantara pertemanan ini


Tanpa berlama-lama lagi ketiga gadis remaja itu memasuki rumah bang viro. Sesuai dugaan tamunya sangat banyak. Mulai dari guru TU hingga para penjual makanan dikantin turut kompak memakai baju hijau, berjejer rapi seperti kumpulan tanaman. Eh astagfirullah


"Ini yang mau dilamar ada empat orang?" tanya salah satu tamu


"Yang pojok kiri itu kayaknya mau karnaval deh bund" jawab orang disebelahnya


Mereka bertiga melangkahkan kaki menuju barisan terdepan. Tapi puncak rambut milik seseorang dibarisan baju ijo-ijo itu membuat mata Liza tak berhenti menatapnya "Loh, Kok Zio ada sih?!" Liza mengerahkan kelima jarinya kearah Zio


"Ooo harus.... anak kepala sekolah harus diutamakan juga" jawab ibu bang viro


Disaat Liza sedang menahan segala kata-kata kasarnya, disaat yang sama Sisca dan Kayla menatap tajam pada satu cowo yang kini sedang mereka incar. Siapa lagi kalau bukan anak PMR alias Jaemin KW itu


"Sebelahnya kosong tuh" Ucap Kayla berbisik


"Mata lo burem ya kay? itu jelas-jelas ada si agus dikanannya, sedangkan dikirinya udah diambil sama tembok!!"


Kayla memukul pelan lengan Sisca "lihat lagi!!! Itu masih ada sisa tempat!!"


"Yaelah cuma 3cm doang!! kaki gue juga ga bakalan muat!"


"Gue muat kok" Baru selangkah, Liza langsung menarik tangan Kayla juga Sisca "Kembali ketujuan awal"


Berada dibarisan paling belakan membuat ketiga perempuan itu tak sungkan untuk melahap habis hidangan disana. Bahkan Kayla dengan entengnya meminta tambahan makanan pada ibu bang viro


"Semua sah?"


"SAH!!"


"TIYDAKKKK!!!"—Liza


"BIG NOOOOOO!!!"—Sisca


"ANDWEEEEEEEEE!!!!!"—Kayla


sesuai dugaan. Keluarga Bang viro sudah mwnduga hal ini untunglah mereka sudah memiliki persiapan


"Ayo pak, angkut aja mereka keluar" Tiga orang bertubuh tinggi berotot serta memakai kaos, celana dan kaca mata serba hitam itu mengangguk. Mereka melangkah menyeret ketiga bocah aneh yang tak lain adalan Liza dkk


KalIian tau pada akhirnya apa yang terjadi pada mereka?


###


"Za, Gue tinggal dulu yak, ada yang harus gue lakuin"


"Sorry ya, tapi gue udah selangkah didepan lo" Ucap Sisca sambil menunjukkan ponselnya pada Kayla. Disana terdapat pesan dari anak PMR alias Jaemin KW yang sudah menunggu sisca toko buku


"Curang lo!"


"Dalam kompetisi ini ga ada yang namanya curang yang ada menang atau kalah"


"oke! sebelum lo gue yang akan kesana dulu" Kayla menjulurkan lidahnya, lalu berlari "Mari mengejar jaemin KW!!!" Kayla berlari dengan kedua tangannya mengepal keatas


Tak mau ketinggalan Sisca pun ikutan berlari sambil mengangkat sebelah tangannya "siapa cepat dia dapat"


Liza menggeleng melihat tingkah kedua temannya itu. Untunglah dia sudah tidak seperti mereka, semoga kedua temannya itu cepat sadar dan tobat


Dari pada duduk diam seoraang diri, Liza memilih menghampiri penjual telur gulung disebrang jala tak jauh dengan halaman rumah Bang viro


Tak ingin tertabrak Liza menunggu beberapa motor melewatinya. Melihat kekanan-kiri memastikan jalanan sudah sangat sepi, Liza berjalan dengan merentangkan kedua tangannya takut-takut ada motor atau kendaraan lain yang tiba-tiba melintas


Penjual telur gulung yang terlihat berusia 70 tahunan kini melambaikan tangannya melihat Liza yang berlari kecil menghampirinya


"telur gulungnya neng?"


Liza mengangguk kemudian menyerahkan selembar uang 10rb pada sang penjual


"Pak, saya cantik gak?"


Bapak itu tersenyum masih sibuk menggoreng "cantik kok, semua perempuan itu cantik kalau dilihat dari cara yang benar" ucapnya tanpa melihat lawan bicaranya


"kalo gitu kasih bonus dong satu aja gapaapa"


Penjual itu tersenym kemudian mengangguk "pedes gak?" bapak itu menatap liza, agak kaget saat baru menyadari pakaian Liza


"iya yang banyak ya"


"Emm mbaknya nikah muda ya? atau nikah lari? atau dijodohin? aduh padahal masih muda masa depannya masih panjang"


"Hah..... saya ditinggal nikah pak. hah" liza kembali menghela nafas. Ia menunduk lalu mengusap pipinya seolah-olah air matanya mengalir "udah hamil muda, di jodohin, batal nikah lagi. Hah sungguh hidup ini penuh lika-liku"


Bapak itu mengangguk merasa prihatin "nih neng saya kasih gratis"


Liza mengangguk, menerima telur gulung pemberian sang penjual "makasih ya pak tapi maaf"


"Maaf apa?"


Liza mengangkat kepalanya tersenyum jahil menatap penjual itu "Maaf saya bo'ong hihihi" secepat kilat Liza berlari, sedang penjual itu masih linglung mencerna ucapan Liza


"Wooo bocah kamvreth!! sini tak tebas otak mu nduk, ben rodok ngalor sitik!!". Walau lu telah hilang dibalik belokan, penjual itu tetap ancang-ancang melemparkan sutilnya


"Permisi pak maafin dia ya pak. Ini yang saya ganti 2× lipat" Zio


###


Dengan pesaraan sedikit bersalah Liza memandangi telur gulung itu lamat-lamat, merasa bersalah. Tapi pada akirnya Liza memakan juga telur gulung itu


Hah! Liza mengibaskan rambutnya kebelakang lalu mengangkat kedua tangannya "Maafin Liza ya Allah. Liza tadi khilaf. Lain kali Liza usahain enggak deh. Tapi bantuin ya. Ammin" Mengusap kedua telapak tangannya kewajah, Liza kembali makan telur gulung itu dengan suka hati


Hah~ semoga bapak tadi diberikan kelancaran rezeki


"Assalamuallaikum.... "


"Waalaikumsallam Siapa ya?"


"Makhluk hidup"


"Ohh ku kira angin berjalan"


"Teserah"


"Nih oleh-oleh. Kemaren gue abis dari rumah nenek gue. Gak sengaja nemu sampah, gue pungut deh. Karena gak sempet masukin ketempat sampah jadi gue bawa pulang"


"Ati-ati loh. Jangan asal ambil barang"


"Cuma pesawat kertas. Gue temuin dideket sungai, baru aja dilempar orang dari atap rumah"


Liza meutar tubuhnya menatap pesawat kertas berwarna hitam "Semacam kertas permohonan kah?"


"Lebih ke curhatan sih"


Liza membuka pesawat kertas itu, terdapat tulisan dengan tinta putih tertulis jelas


SEGERA CERITA BARU BUATAN AUTHOR LOP LOP♥ JANGAN LUPA MAMPIR—


"Aish! Promosi nih!!" belum ia baca habis kertas origami itu terlempar mengenaskan kearah danau hingga perlahan menghilang


"Eh za, besok gue mau kesekolah lo, pingen belajar bareng gituu. bosen gue di sekolah gue, ga ada yang menarik"


liza menoleh cepat. belajar? bareng? liza? haha


"eh emangnya boleh gitu sama gurunya?"


antater mengangguk "sama guru gur sih bolrh aja. yang penting ga bo'ong. kalo masalah guru lo nanti gampang lah"


liza menggelengkan kepalanya. mungkin antares pikir sekolahnya ada dua. tapi kalau antares saja sih tidak masalah "terserah lo aja dah"


"eh res," liza menarik tangan Antaresyang terbungkus


perban cukup tebal "tangan lo sebenernya kenapa sih"


Antares menggeleng lalu menarik tangannya "gapapa"


merasa kesal , liza mendorong dahi Antares "gapapa pala lu hah?!"


Antares tersenyum simpul mengingat suatu kejadian yang membuat tangannya menjadi seperti itu


"Za. Pulang!"


oh liza tau suara ini. bukan hanya liza, Antarespu hafal dengan suara satu manusia yang sangat ia benci ini. Zio


liza sedikit merasa aneh. bukannya mereka sedang musuhan— bukan-bukan! mereka memang selaalu musuhan tapi kali ini berbeda. mereka sedang diem-dieman


"lo bapak gua ha?"


"hem" zio berjalan menuruni tannga kayu menghampiri liza yang berada di tepi danau "abang lo nyariin"


"entar ajaaa... males berdiri guee"


"ada gerobak sampah buat ngangkut lo"


Liza menarik kaki Zio untuk duduk. Heii! zio sangatlah tinggi untuk melihatnya pun liza harus bersusah payah hingga membuat lehernya sakit "entar aja! males! atau lo pergi aja deh!"


Pergi? Zio melirik Antares yang tengah melempar kerikil kedalan danau. Cih, Zio tidak akan rela meninggalkan Liza dengan makhluk satu itu


"Kenapa diem aja? kenapa ga pergi?" ucap liza saat melihat zio duduk bersila mencari posisi yang nyaman


Zio menoleh lalu mengangkat satu alisnya "kenapa ngatur?"


Mata liza terbelak, tanda ia mulai kesal "ya lo tadi nyuruh gue pulang napa sekarangg malah duduk disini?! jangan mulai ya lo!!!"


"siapa suruh lo narik gue buat duduk" ucap zio masih kalem entah kenapa membuat liza makin jengkel


"YA SAPA SURUH LO TINGGI BANGET?! GUE BAKAR JUGA RUMAH LO!!" Ucap liza berapi-api. soal membakar rumah itu tentunya tidaklah sungguhan. ya mana mungkin liza senekat itu, yang ada nanti zio sekeluarga akan tinggal dirumahnya. Hah tolong membayangkannya saja sudah sangat kacau


Zio menyipitkan matanya "dasar pendek"


liza membelakkan matanya. Ia menoleh pada Antaresyang sejak tadi menyimak tanpa minat "res pegangin gue" liza mengambil tangan Antares


"berani lo pegang liza. awas aja"


merasa tertantang Antares kian menjadi-jadi bukannya memegang tangan liza, ia malah mendekap kepala Liza


"Bukan mukhrim bodo!" ucap liza samar-samar karena seluruh wajahnya menepel pada dada Antares. Bahkan tidak ada celah untuk ia bernafas. bisa-bisa ia mati


"lo—"


"Uhuk UhUkk!! T-To..long" Wajah liza memerah, dadanya sesak. Buru-buru Antares melepaskan dekapannya


Liza menarik nafas dalam. Bersyukur


Buagh! "b*go!" Zio memukul kepala Antares dengan tangan kosong tak tanggung tanggung


"Astagfirullah. Pala gue rasanya muter-muter woeee!!" Antares memegangi kepalanya yang benar-benar terasa berputar


###


"Jaga jarak! Kita lagi musuhan!!" Liza mendorong tubuh Zio hingga merka kini berjarak satu meter


"Tunda dulu" Zio menarik baju Liza membuat jarak mereka kurang dari setengah meter


"Gak gak!! Gue masih sakit ati sama omongan lo ya!!"


"Hem"


"Ham hem ham hem. Maaf kek beliin apa kek"


Zio menghela nafas


"Aish!"


"Serasa ga di aanggap manusia gue" — Antares


"Eh astagfirullah lupa ada satu lagi makhluk bernyawa disini"


Liza tertawa pelan lalu mengamati jalanan sekitar yang tampak ramai. Mata Liza berhenti pada satu gerobak di sebrang jalan yang tampak familiar. Gerobak telur gulung yang ia beli tadi


"PAK PAK!!! BERHENTI PAKK!!!" Liza mengambil ancang-ancang berlari saat jalanan mulai sepi disusul Antares sedangkan Zio memilih mengamati kedua orang itu sambil duduk di tepi pot bunga pinggil jalan


Teriakan Liza tak main-main, buktinya tak hanya penjual telur gulung saja yang menengok Liza melainkan beberapa penjual dan pejalan kaki juga menoleh


"Pak pak! Hahhh...."


"Ohh, eneng yang bohongin saya tadi ya?"


Antares seketika menoleh pada Liza. Etah apa lagi ulang Liza pikirnya


"Saya mau bayar yang tadii!!"


"ohh udah insaf? cepet amat ya. tapi gausah neng, udah ada yang bayar tadi"


"Siapa?"


"Duhh ga tanya namanya. Udah dulu ya neng"


"Ehh pakk!! Nih!" Liza memberikan beberapa lembar uang seratus ribu "buat ganti jajan saya tadi sama buat permkntaan maaf karena udah ga sopan, dan yang tadi bayarin jajan saya, anggap aja rejeki nyasar buat bapak"


"Aduh saya jadi ga enak"


"Kalo gitu gausah di rasain pak"


"Hehe terserah neng deh, kalo gitu saya pergi ya. Cari rejeki lagi biar bisa nikah lagi sama janda RT sebelah" Penjual telur gulung itu pergi dengan senyum nya yang masih tak luntur dan entah perkataannya tadi sungguhan atau tidak


Liza tersenyum entah kenapa hatinya merasa lega. Ternyata berbuat baik sangatlah menyenangkan. Liza melipat kedua tangannya didepan dada, dia merasa sepeti malaikat yang berhasil membahagiakan manusia


"Kak Antares!!" Antares menoleh mendapati Bella tengah melambaikan tangannya, tak lama kemudian Bella berlari menghampiri Antares dengan senyum lebarnya


"Hai kak" Sapa Bella. Antares hanya melirik Bella sekilas lalu menepuk bahu Liza pelan menyadarkannya dari lamunan memenjadi seorang malaikat


"Eh ada kak Liza" Ucap Bella yang baru menyadari ternyata sosok yang memakai gaun itu Liza bukan seorang pejalan kaki yang lewat


"Eh? Oh Bella... Lo ngapain di sini?"


"Apa? Eh aku lagi nyamperin Kak Antares. Kakak ngapain sama Kak Antares? Kok pake gaun?"


Antares merangkul Liza se enak jidatnya. Hah~ benar-benar! Liza ingin memukul jakun Antares hingga ndelep tertelan


"Kita abis dari KUA. Abis nikah lari" Ucap Antares kembali semena-mena


Liza menundukkan kepalanya berusaha sekuat tenaga menahan tangannya agar tak memukul Antares di keramaian


"Udah ya kita pergi duluan" Mereka kini menyebrangi jalan, masih dengan tangan Antares yang merangkul bahu Liza


"Astagfirullah sabar ....tahan..... jangan emosi... sabar..." Gumam Liza sedari tadi


Plakk!!


"Arghh!!" Antares langsung melepaskan tangannya dari Liza saat mendapatkan pukulan di punggung tangannya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Zio yang sedari tadi menahan diri agar tak melempar Antares dengan pot bunga besar di sebelahnya


"Zio, kalau cowo ga punya jakun ga masalah kan?" tanya Liza setelah memikirkan matang-matang tindakan berbahaya yang akan ia lakukan


"Ga" ucap Zio seadanya tanpa memikirkan nasib Antares


Antares yang sudah bisa membaca situasi pun mengamankan lehernya, ia tau walaupun Liza seorang perempuan namun tenaganya tak main-main


###


"Astagfirullah"


Liza menolehkan kepalanya menatap sang kakak dengan malas. seperti mengerti isi pikiran Alan, Liza dengan cepat menggeleng lalu menyilangkan kedua tangannya didepan dada "Tyidakkkk!! singkirkan pikiran kotormu itu"


"Gue bilangin emak lu yee!! awas lo" Alan menuding Liza lalu berjalan mundur, masih dengan sendok yang berada dimulutnya


"Gak gitu woii!! heeeiiii!! abang!!!!" Liza berlari menyusul kakaknya


memutari seluruh penjuru rumahnya Liza bersyukur orang tuanya sedang tidak ada di rumah. "kemana?"


"rumah nenek mungkin" ucap Alan yang kini berjalan ke arah kamarnya


Liza mengangguk lalu ia mengangkat kepalanya setelah teringat sesuatu "bang, tadi lo nyuruh Zio buat angkut gue palang ya?"


"Ga tauu!! Lupa!!!"


liza tersenyum datar. sabar!


Malas ganti baju, liza memilih duduk di kursi kecil dekat tangga sambil membaca chat teman-temannya di grup kelas


......Anak anak ber akhlaq......


Dion pokoknya mah


Kancil lahiran gaess


Jangan lupa dateng ke rumah ya


ada kondangan buat memperingati kehamilannya


Besok sore aja


dateng yang sopan! Jangan kayak duluu!!


bawa oleh-oleh yang banyak yak! hehe


____________


16.45


Liham


Gratis? kuy lah gas!!


_____________


16.45


putra putri xixixi


temen lo sapa yang hamilin?


______________


16.45


jaMilah


mau tanggung jawab gak?


_____________


16.45


Dion pokoknya mah


tetangga sebelah


pulang-pulang udah isi aja si kancil


Emang kambingnya pak tresna ndak ber ahklaq!


Kancil udah ndak suci huhuuu!!!


______________


16.45


Liham


Ohh itu yang kemaren bikin lo nangis semaleman


Gue kira gegara si sisca


_______________


16.45


Siscaaa!!


Gue kenapa?


_______________


16.45


jaMilah


Waduuu!! otaknya mbak sisca ndak nyampe lagi


_______________


16.45


Dion pokoknya mah


ehemm


rumah gue cat nya oren gaess


_______________


16.45


Kaylaaa lop lop


Pengalihan isu kah ini?


_______________


16.46


Putra putri xixixi


mau rumah lo transparan kek aku ndak peduli yee!!


_______________


16.46


Siscaaa!!


Masih menunggu jawaban


...


________________


16.46


Liham


Demi apa si dion chat gue sambil misuh misuh wee!!


_________________


16.46


Alya mbak ketua


Astagfirullah


_________________


16.46


Triya


Tobat yuk sebelum terlambat


_________________


16.46


Putra putri xixixi


Hohohoooo


Liham dah cerita ke guee!!


_________________


16.46


Dion pokoknya mah


Kalo ember bocor bisa di tutup pake sepatu ga sih?


_________________


16.47


Liham


Sepatu banyak di rumah


_________________


16.47


^^^Anda^^^


^^^jadi si sisca kenapa woee?^^^


^^^_________________^^^


^^^16.47^^^


Dion pokoknya mah


Di mohon mbak Liza jangan memanasi


_________________


16.47


^^^Anda^^^


^^^Lo panas? padalah kan gue ga kompor^^^


^^^__________________^^^


^^^16.47^^^


Kaylaaa lop lop


Hayoloh!!! ada apa iniii


__________________


16.48


Dion pokoknya mah


teruntuk kakak Liham tolong buka blockiran nya')


__________________


16.48


jaMilah


Sisca? masih hidup kah?


___________________


16.48


Siscaaa!!!


me nu nggu


___________________


17.48


Dion pokoknya mah


Apapun yang di bilang liham atau putra mohon jangan percaya


___________________


17.48


Kaylaaa lop lop


sisca kemaren lo sama siapa?


____________________


17.48


Siscaaa!!!


Sama kakaknya si anak PMR itu haha!!


Kakaknya dulu baru adeknya. Kayaknya kali ini gue yang dapet deh kay


____________________


17.49


Kaylaaa lop lop


Oh? Masa? Kayaknya gue deh. Solanya nih ya... tadi sore gue ketemu sama mama nya


_____________________


17.49


Liham


Gue yakin banget si dion sekarang lagi stalking seluruh anggota PMR


_____________________


17.49