IceCream

IceCream
47:[HUJAN[Antrs]



Liza sangat ingat pertama kali ia pergi kepanti. Saat itu Liza masih kelas 8


Singkat cerita Liza kesasar saat kabur dari rumah karena ia kesal dengan kakaknya yang memainkan ikannya hingga mati, pada akhirnya Liza memilih kabur dari rumah


Liza memesan taksi online, Liza menyuruh taksi itu untuk keliling kemana saja hingga Liza tertidur. Setlah satu jam kemudian pak supir membangunkan Liza. saat itu liza sangat kaget karena mereka berhenti dipanti


Bapak itu pikir Liza seorang anak terlantar karena saat itu Liza memakai baju buatannya sendiri jadi bapak itu mengantar Liza kepanti lalu tanpa berkata apa-apa bapak supir itu pergi tanpa mengambil uang dari Liza


Anehnya bapak itu tidak berpikir bagaimana bisa anak terlantar bisa memilik Hp dan bisa memesan taksi online sendiri


Dulu anak-anak dipanti ini masih lima orang dan sekarang sudah 17 anak dengan berbagai umur dan beragam cerita mulai dari yang sengaja ditinggal orangtuanya ada juga yang ditemukan dijalanan


"Za"


"Hem"


"Kayaknya anak-anak dipanti ini hidupnya enak ya?"


"Kagak lah! Mereka aja ditinggal orangtua kandung mereka, mereka kadang makannya cuma dikit karena Bu rani gak punya uang, mereka tidurnya bareng-bareng kasurnya kecil dan gak begitu muat buat mereka, mereka kalo mandi juga harus antri soalnya kamar mandinya kecil dan cuma ada satu"


Antares menunduk teringat segala perlakuan ayah dan ibu tirinya kepadanya "Walaupun begitu hidup mereka tetep aja enak"


"Emang hidup lo gimana?"


"Gak enak. Gue ditinggal dan dilupain"


Liza menepuk bahu Antares "Lo masih punya banyak temen, termasuk gue. Lu bisa cerita apa aja kegue"


Antares menunduk, menyembunyikan senyumnya


"Za, lo deket ya sama Zio?" sudah sejak dulu Antares ingin menanyakan itu tapi melihat tingkah mereka rasanya tidak mungkin tapi... entah kenapa mereka semakin lama semakin dekat


"Gue? Zio? Deket? Haha!! iya emang-_- Tuh bocah deket-deket gue mulu! risih gue lama-lama! dah lah jangan bahas tuh orang"


Antares dan Liza sama-sama diam


Antares mengeluarkan dompetnya lalu mengambil foto kecil yang terselip diantara kartu-kartu


"Lihat" Antares menunjukkan foto seorang wanita dewasa bersama anak laki-laki berusia lima tahun


"Ini lo?!!"


Antares menatap Liza tak percaya karena dengan sekali lihat Liza bisa tau itu Antares


"Masih mirip ya sama gue?"


"Gak juga sih. Eh rambut lo kok cokelat? nakal banget ya lo dulu, masih kecil juga!"


"Emak gue yang warnain😑 biar samaan katanya"


"Bunda lo semiran biar ubannya gak kihatan ya?"


"Emang warnanya gitu Lizaaaa!! pikiran lo kenapa gitu-gitu amat siihhh?!!"


"Hehe" Liza menggaruk belakang kepalanya "maklum lah, kebanyakan nonton dora"


Ah masa bodolah!


"Eh bunda lo bukan orang indo asli ya?"


"Blasteran indo US. Lahir di US besar di Indo"


Liza menganggukkan kepalanya "Kelihatan masih muda banget"


"Emang dipaksa nikah muda"


"Hah?!"


###


Liza menghela nafas berkali-kali, dia tak habis pikir dengan kakaknya yang meneleponnya berkali-kali padalah sudah ia katakan akan pulang kalau hujannya sudah reda


Hah sudahlah. Liza mengangkat telepone dari kakaknya yang entah sudah berapa kali


"Apaan? Hujan ini oy! Kalo cuma grimis sih gapapa lah ini deres woiii!!"


"Jangan bo'ong lu! disini aja kagak ujan!"


"Heh geblek! Ya lo mana kedengeran! kamar lo aja kedap suara!"


"Awas ya lu kalo sampe bo'ong! Santet gue sampe ke elo!"


Liza berdecak lalu memasukkan HPnya kedalam saku


Liza dan Antares sekarang ini sedang berteduh diwarung soto kecil yang tidak terlalu ramai dan sejak tadi ibu pemilik warung tak habis-habisnya bercerita tentang masa mudanya. Anehnya Antares menanggapi cerita yang kebenarannya masih diragukan


Gimana? Liza mengamati wajah pemilik warung tersebut. Pandangan Liza terfokus pada pipi tembam dengan warna kecokletan milik ibu pemilik warung lalu Liza membandingkan dengan pipinya


Pipi Liza setembab itukah? Liza segera mengambil cermin kecil dalam sakunya "beda buuuu!! pipi saya tirus, putih"


Ibu pemilik warung tertawa kecil "ya kan itu waktu saya muda dulu, sekarang sih udah punya tiga anak. Tapi kalo saya punya banyak uang mungkin saya bisa perawatan dan akan lebih cantik dari sekarang"


Ibu itu menghela nafas "andai dulu saya belajar sungguh-sungguh, pasti saya gak akan dikeluarin dari sekolah. Pasti saya jadi orang sukses"


Ibu itu mulai bercerita tentang dia yang dulunya pintar tapi memilih bersenang-senang. Nilainya selalu bagus tapi tingkah lakunya selalu buruk hingga sekolah mengeluarkannya


HP Antares bergetar menunjukkan pesan penting dari orang yang harus ia temui


"Za" ucap Antares membuat ibu itu berhenti bercerita


"Hem"


"Gue pergi bentar"


"Bentar!" Ibu pemilik warung memegang tangan Antares membuat Antares tak jadi berdiri


"Hujannya deras, saya ambilin payung dulu" Ibu itu pergi kedalam lalu tak lama kemudian dia membawa payung kecil berwarna merah


"Makasih bu, saya pergi bentar" Antares segera melesat pergi dia berjalan menerobos hujan menggunakan payung kecil yang masih membasahi tubuh bagian sampingnya


Liza kembali menghela nafas. Kali ini ia sendiri yang harus mendengarkan cerita ibu pemilik warung itu


"Oh iya, saya ceritain awal saya ketemu suami saya"


JEDERR!!


"Eh kambing disantet!" Ucap ibu itu refleks


Liza tertawa lepas melupakan jantungnya yang masih kaget


"Temen kamu kok masih belum balik sih?"


"Ketabrak mungkin" ucap Liza tak peduli


"Ini udah hampir satu jam loh"


Liza melihat jam ditangnnya. Sudah hampir jam 10 malam bisa-bisa Alan menjemput Liza menggunakan Ambulans karena kawatir sang adik kenapa-napa


"Pinjem payung bu. Saya mau nyusulin Antares"


Liza berjalan menyusuri jalanan disekitar warung. Untuk kedua kalinnya Liza belok kekanan entah akan sampai dimana yang penting kekanan aja sampai tiga kali kalo gak ketemu ya balik. Dari pada muter-muter entar kesasar kalo cuma kesasar sih gapapa paling-paling kakaknya hanya akan membawa helikopter untuk mencarinya lah kalo Liza diculik?


Liza menggelengkan kepalanya dia menepuk-nepuk pipinya supaya berhenti berpikiran aneh


Tunggu!


Langkah liza terhenti saat melihat Antares bersama seorang gadis


Liza tidak bisa mengenali siapa cewek itu karena jarak mereka yang masih jauh dan karena hujan yang membasahi tubuh cewek itu


Liza masih tak bergerak untuk menghampiri Antares


Cewek itu memukul dada Antares berulang kali dia berteriak didepan muka antares tapi Antares hanya menunduk ia seakan tak peduli dengan cewek didepannya lalu tiba-tiba—


Cewek itu memeluk Antares! Tangis cewek itu semakin pecah


Liza berlari menghampiri Antares yang masih diam seakan tak terjadi apa-apa


Liza hanya ingin berlari menghampiri Antares lalu setelahnya ia tak tau harus berbuat apa


Jarak Liza dan Antares hanya tersisa satu meter dari Antares dan cewek itu


Antares sangat kaget dengan kedatangan Liza dengan refleks Antares mendorong tubuh cewek yang ternyata lebih pendek dari Liza


Cewek itu mundur beberapa langkah lalu terjatuh


Liza melepas payungnya lalu membantu cewek itu untuk berdiri


"Bella?!"


Antares memegang tangan kanan Liza yang sangat dingin "Za! gue gak hamilin dia!"


Liza ingin marah tapi saat ini ia hanya bisa menonjok perut Antares "pikiran gue gak sampe segitunya ******!!"


###


BANYAK TYPOOO


TELAT KAH?