
Liza menatap Zio dalam diam sambil mengetukkan HPnya kekepalanya. Sudah sejak beberapa puluh menit yang lalu Liza melakukan itu sambil memperhatikan Zio
Hah~ Liza benar-benar tak habis pikir dengan Zio. Bagaimana bisa dia datang kerumahnya tanpa ada tujuan. Hah dah gila emang
Pandangan Zio masih terfokus pada ponselnya yang menampilkan game yang akhir-akhir ini sering ia mainkan
Ah, sudahlah. Liza sudah sangat kesal bercampur jengkel melihat Zio
"Ngapain kesini?" Tanya Liza sinis
"Gpp"
Minta ditampol ini emang bocah!
Tok tok!!
"Permisi... Diluar dingin nih!. Bukain kek!"
Hah! Liza sangat teramat tau suara siapa ini. Dengan malas Liza membuka pintu mebiarkan sang tamu tak diundang masuk
"Loh?! Eh!!" Antares menunjuk Zio yang masih melihat ponselnya
"Lo ngapain —" ucapan Antares terpotong kerena Liza memukul pipi Antares yang terlihat membiru
"Aww! Sakit woi!"
"Lo abis berantem ya?! Lo abis beramtem terus babak belur terus kesini buat minta diobatin terus abis itu lo pulang gitu aja kagak ngasih gue apa-apa!!!"
Antares menarik napas panjang. Entah kenapa cewek didepannya ini sangat cerewet dan sok tau
"Pertama! pipi gue abis ciuman manis sama aspal. Kedua! iya, gue minta diobatin tapi gak maksa juga sih. Ketiga! kalo lo mau obatin gue, gue bakalan kasih lo uang! Dan keempat.... emm... gue nginep disini sehari yak" ucap Antares yang diakhiri dengan wajah memelas
"Terus — Eh apa?!!!!!"
"Jadi gini—"
"Apa?!! gimana?? Gimana Antares?!! Gimana?!! Tolong lo bilang sekali lagi!!!"
Antares menutup telinganya. Liza benar-benar berteriak didepan wajahnya
Tuk!
Zio melempar botol minum plastik kearah kepala Liza. Lalu dengan santainya dia kembali memainkan game diHPnya
"Zio!! Lo—"
"Berisik" Potong Zio cepat
"Heh kecoa! Ini rumah gue ya!! Jadi kalo gue mau teriak-teriak, lari-lari ya itu teserah gue!" Liza mengibaskan rambutnya "lagian suara gue bagus juga"
Liza kembali menatap Antares yang masih diam didepannya "Jadi kenapa lo gak tidur dirumah lo aja???! Lo diusir??"
Antares menunduk "Emmm untuk satu hari ini iya. Gue diusir hari ini. Tapi cuma hari ini!"
"Kenapa emang?" Tanya Liza penasaran
"Gapapa"
###
Antares menatap Zio yang sejak tadi masih tak henti-hentinya bermain game
"Heh—"
"Bukannya dulu Aqisa pernah larang lo balapan?" Potong Zio cepat sebelum Antares bertanya hal-hal tak berguna
Zio benar. Luka diwajahnya itu akibat dijatoh saat balapan
Antares diam sebentar menatap Zio "S-sekarangkan dia udah gak ada" ucap Antares dan entah kenapa dadanya terasa sakit
Antares dan Zio sama-sama diam. Zio kembali menatap ponselnya sedangkan Antares menatap lantai-lantai rumah Liza
Antares mengingat kembali masa-masa dia dan sosok wanita bernama aqisa itu saat mereka masih berada dibangku SMP
Dimana saat Aqisa dengan sigap mengobati luka Antares tapi juga dengan mulut mungil Aqisa yang tak henti-hentinya berceloteh tentang bahayanya balapan liar. Hah seperti guru BK saja
Antares juga mengingat saat setiap kali dia mengeluarkan sebatang rokok Aqisa akan dengan cepat mengambil korek api yang dulu selalu berada disaku Antares
"Awas ya kalo lo dateng-dateng kesini buat minta diobatin lagi!" Liza datang membuyarkan lamunannya
"Lo tau dari mana?" Tanya Antares pada Zio
"Posisi gue dulu ketua kelas dan Aqisa wakil gue"
Antares sangat membenci fakta itu. Ia tak suka saat Aqisa selalu disuruh ini-itu oleh Antares. Memang tugas wakil adalah membantu sang ketua tapi Zio benar-benar menjadikan Aqisa seperti seorang budak
"Ha? Apasih?" Tanya Liza yang tak tau apa-apa
Antares bangun lalu ia berjalan keluar. Ia sangat malas melihat Zio
"Heh! Lo jadi diobatin gak sih?! Gue giling ya lu lama-lama!!"
###
Dan benar saja. Antares menginap dirumah Liza bahkan Zio pun ikutan menginap
Liza mengoleskan masker organik pell off menggunakan kuas masker kewajahnya. Ia tak ingin wajahnya terus panas karena sejak tadi ia emosi kepada seluruh keluarganya karena mengizinkan Antares dan Zio menginap
"Assalamuallaikum"
Liza membuka mulutnya lalu menutupnya kembali mengingat dia masih memakai masker
"Wajah lo abis kena t*i dimana?!!"
Liza memukulkan kuas maskernya kearah kepala Antares "ini masker woiii"
Antares mengelus kepalanya yang tak begitu sakit "Eh gue juga mau dong!!" Antares duduk didepan Liza
Karena Liza itu baik pintar dan tidak sombong serta cantik maka dia dengan sedikit malas memberikan Antares makernya
"Cara makenya gimana?" Tanya Antares dengan polosnya
Hah~ tak apa! Untuk sekali saja! Liza mengambil kembali maskernya yang tadi ia berikan pada Antares. Ia mengoleskan maskernya kewajah Antares dengan rata dan tak kalah tebal dari miliknya
"Hemm wangiiii~~"
"Masker mahal nih"
Liza kembali memukul kepala Antares "Ini masker organik ya! Bukan terbuat dari t*i, kotoran, e'ek atau semacamnya!!"
"Lah, bukannya t*i itu organik ya?"
"Eh?" Ah, entahlah Liza tak tau
"Za"
Antares dan Liza kompak menoleh kearah pintu dimana Zio tengah berdiri menatap mereka
"Gue juga" Ucap Zio
"Ha?"
Zio berjalan kearah Liza lalu duduk disebelahnya "mau"
"Eh, kondangan nih"
Mereka bertiga (Liza, Antares dan Zio) kompak menoleh pada pintu. Alan berjalan mendekat kearah sang adik
"Kondangan apaan!" ucap Liza lalu kembali mengoleskan masker pada Zio
"Gue juga dong dek!"
"Buat apaan sih bang?!"
"Biar gue glow up. Biar mantan gue nyesel"
"Yaelah lo maskeran cuma sekali doang ya kagak bakalan berubah jadi haruto"
"Siapa tuh"
Liza diam sebentar mencoba mengingat sosok bernama haruto itu "gatau lupa. Tapi kayla sering bahas tuh orang"
###
Pada akhirnya empat orang itu duduk diam sambil merasakan hawa dingin diwajah mereka
"Pokoknya jangan ada yang ngelucu ya. Entar maskernya retak"
"Ha? retak gimana za?"
Liza menggela hapas "pokoknya gitulah"
"Heh gue mau curhat nih! dengerin yak!" ucap Alan tiba-tiba
"Hah~ malez" Liza membaringkan tubuhnya, menjadikan paha Alan sebagai bantal
"Pokoknya dengerin! Jangan lupa kasih solusi juga! jangan jadi pendengar bisu!"
"Hem" ucap Liza, Antares dan Zio
"Jadi gue tadi abis berantem sama bebep gue"
"Alhamdullilah" —Liza
"Asik nih" —Antares
"Hem" (sumvah gw bodoamath) —Zio
"Terus kayaknya kita bakalan udahan"
"Awas ya lo kalo sampe minta nomer temen cewek gue!" —Liza
"Wahh!! Pajak putus mana nih"—Antares
"Ohh" (Kapan selese pliz!)—Zio
"Terus gue harus gimana?"
"Tau lah"
HP Liza yang berada diatas kasur berbunyi membuat. Hah! Dengan sangat malas Liza mengulurkan tangannya. Tapi tak sampai
"Males amat sih lu!" Antares yang berada didekat kasur segera mengambil HP milik Liza, lalu ia memberikannya pada sang pemilik
📞Kayla
"Apa kay?"
"PR woiii!! Bisa gawat kalo gak ngerjain!!!"
Liza membelakkan matanya mengingat teryata besok hari senin
"Bentar-bentar!! Besok jam pertama apa?"
"Si galak!!"
"Hah?! Si lipstic lima lapis itu?!"
"Iyaaa!! Eh lo udah ngerjain tugasnya kan?!! Gue lihat yakk!!"
"Yaelah soalnya aja belom gue intip! Coba tanya Sisca atau Mila atau Triya apa Bu ketua itu! Siapa tau dia udah"
"Sekelas udah gue tanyain. Tinggal lo aja yang belom!"
"Eh abang lo kan pinter, nah lo minta dia ngerjain aja"
"Barusan dia keluar!!!"
Aish! masalah! Hari senin ia terlalu malas untuk dihukum
"Ini gimanaa???"
"Lo minta siapa gitu buat ngerjain. Gue mah tinggal salin punya lo"
"Pala lu! Ah gatau lah pusing gue"
Kayla memutuskan sambungan
Liza menatap tiga cowok didepannya lalu senyuman terukir dibibirnya
###
TYPO BanyAKkkk