IceCream

IceCream
55:|Gw sabar kok



Liza berkali-kali menghela napas, mengekor dibelakang Mila yang mengabsen satu persatu make up yang sudah berada dikeranjang belanjanya


Tangan Mila terulur mengambil satu batang tiptin yang warnanya sama persis dengan yang saat ini dipakainya


"Lo mau beli yang itu juga?"


Mila mengangguk lalu memasukkan liptin berwarna pink kedalam keranjangnya "Gue belom punya yang ini"


Liza melebarkan matanya menatap Mila "La terus yang lo pake dibibir lo tuh warna apa maimunah?!"


"Beda" Kali ini Mila berjalan menuju rak berisi bedak meninggalkan Liza yang masih geleng-geleng menatapnya


"Butak kali ya mata lo?!" Liza berlari kecil menyusul Mila


###


Kali ini mereka—Liza dan Mila, sudah berada di depan mbak-mbak penjaga kasir yang menatap mereka dongkol, pasalnya uang Mila kurang! dan kini mereka sibuk berdebat didepan penjaga kasir itu


"Kurangi aja belanjaan lo!!!" Ingin sekali Liza melemparkan puluhan riasan, kosmetik atau make up atau apalah itu kedalam rak yang semula


"Tapi ini semua yang pingen gue beli!!!" Mila tak kalah ngegas membuat sang penjaga kasir memilih meninggalkan mereka berdua


Liza memutarkan kedua tangannya didepan keranjang belanjaan Mila yang sangat teramat bersar dan benar-benar penuh! "Ini semuah??!! Ini lo pake apa langsung lo telen hah?!"


"Ya gue pake lah! gilak banget langsung gue telen!!"


Liza memutar bola matanya "Yaudah! Beli sebagian aja! Besok balik lagi!" Usul Liza yang tetap tak disetujui Mila


Mila memeluk erat keranjang belanjaannya hingga orang-orang yang melewati mereka berhenti sejenak untuk memfoto Mila


"Ya terus ini gimana jamilah?!!" Liza mulai ngegas membuat orang-orang yang semulanya memfoto kini menjadi merekam mereka berdua


"Ya tetep gue beli lah!!!" Ucap Mila masih belum melepaskan keranjang belanjaannya


"Ya tapi duit lo kurang!!!"


"Ya kan ada lo, Lizaaa!!!"


"Ya emang Kenapa kalo ada gue?!?!?!"


"Ya gue minjem duit lo lah!!!"


Oke, kini kesabaran Liza sudah habis. Liza melepaskan salah satu sepatunya lalu mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya kearah kepala Mila


Mila yang sudah memiliki firasat buruk sejak tadi, segera berlari pergi dan masih menggendong keranjang belanjaannya


Sang penjaga kasir kembali datang dengan membawa dua satpam ditoko kosmetik tersebut lalu tak lama kemudian dua satpam dan mbak penjaga kasir juga ikut berlarian mengejar Liza dan Mila yang menabrak'i barang-barang hingga jatuh


Tak sekali-dua kali Mila mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya untuk kabur dari kejaran Liza yang kini melemparkan segala benda disekitarnya kearah Mila


###


Mila dan Liza menunduk dihadapan dua satpam, penjaga kasir, pemilik toko serta Alan


Keadaan dalam toko kosmetik itu kini benar-benar hancur banyak pecahan kaca, bedak dan warna-warna Lipstik dilantai


"Mas, mohon adiknya diajarin sopan santun ya! Toko saya ANCUR! Gegara siapa? Ya adek kamu ini!!" Pemilik toko kosmetik itu menunjuk Liza dan Mila


"Bapak jangan ngadi-ngadi ya! Adek saya cuma satu! Cuma yang mukanya paling songong itu aja! Jangan ditambah-tambahin lagi!!"


"Dih!" Liza mencibir pelan


"Saya minta ganti rugi ya!!!"


"Cih, mata duitan!" Ucap Liza tanpa sadar. Kini semua orang disana menatapnya. Liza balik menatap satu persatu orang yang menatapnya tak suka "Apa?! Mau gue colok mata lo satu-satu hah?!"


"Lambe mu diem ya!" Bisik Alan tajam pada Liza


"Anu pak jadi... ganti ruginya berapa?" Ucap Alan setelahnya


"500jt gak bisa nego!👿"


"Mahal amat pak! 500rb ae dah. yak😘" Ucap Alan dengan eskpresi wajah mirip emot itu


"Kok malah ditawar! Kan udah saya bilang gak bisa nego! Gak bisa ditawar!"


"Ayolah pak..."


"Gak bisa!"


"Ayolah..."


"GAK."


"Yaudah deh pak😔 saya jual ginjal dulu ya!"


Liza menyenggol bahu Alan lalu berbisik " beneran mau jual ginjal lo?"


Alan memutar bola matanya "Kagak lah!"


"Ta terus?"


"Buat apa bunya bapak kaya kalo uangnya kagak kita abisin!!" Alan geram dengan Liza. Ingin sekali ia memukul kepala adiknya supaya otak sang adik bisa lebih pintar


Liza mengangguk lalu keduanya bertos ria


"Bagus deh!" Ucap Mila yang sejak tadi menyimak


"Eh apaan?! Lo bayar sendiri lah! Bapak lo kan CEO!"


"Ceo ikan asin doang!"


"Tapi kan punya banyak cabang!"


"Iya banyak, dipasar senen pasar kemis, pasar keliwon sama diwarung-warung doang!!"


"Gapapa lah dek, entar kalo uangnya kurang, kita jual aja ginjal'nya cemeng"


###


Setelah Alan dan Liza memulangkan Mila, kini mereka berdua memutuskan untuk makan di cafe milik teman Alan yang baru saja buka


"Temen lo dah sukses gini, lo kapan?"


"Kapan-kapan" Ucap Alan santai


Haish, Liza memutar bola matanya lalu membelakkan matanya saat matanya tak sengaja melihat Antares yang duduk bersama seorang gadis seumurannya


Liza segera mengnarik tangan Alan menuju meja Antares. Tanpa basa-basi Liza dan Alan duduk di kursi depan Antares dan cewek disebelahnya


Antares sempat kaget beberapa detik saat melihat kedatangan Liza dan Alan yang tanpa aba-aba langsung duduk didepannya


"Apa?" Liza mengangkat satu alisnya lalu mengambil kentang goreng milik cewek disebelah Antares


Sementara itu Alan dan cewek disebelah Antares saling pandang cukup lama sampai ahkirnya Liza menyenggol bahu Alan


Alan mengerjap beberapa kali lalu tersadar cewek didepannya itu ialah gebetannya


"Reta?! Ngapaim lo disini?!"


"A-anu...."


"Se jam yang lalu kita baru aja jadian" Ucap Antares santai


Astagfirullah Alan menatap gadis didepannya tak percaya. Lalu selama sebulan terakhir ini mereka berjam-jam chatingan untuk apa?? Apakah hanya untuk melepas rasa bosan yang melanda??


Antares berdiri dari duduknya "Gue gak nyangka lo kayak gini" Ucap Alan dramatis. Alan berbalik lalu berlari kecil keluar dari cafe


Gadis itu pun ikut berdiri mengejar Alan


Liza menatap aneh kakaknya. Bukannya Alan sudah memiliki pacar?


Ah entahlah! Liza menatap Antares lalu teringat pertanyaan yang sejak kemarin selalu terpikirkan olehnya "Woi!" Panggil Liza


"Emak gue dah kasih nama bagus-bagus, lo malah manggil gue woi! Sakit banget ati gue" Ucap Antares sambil memegang dadanya


Liza memutar bola matanya malas "Gue mau tanya"


"Apaa?? Kalo nanya yang gampang ae yak! Gue males mikir"


"Hem. Jadi... maksut lo kemaren apa?"


"Kemaren yang mana???"


"Jangan pura-pura amnesia yak! Gw timpuk pala lo make otaknya petrick entar!"


Antares menarik napas panjang lalu mengeluarkannya dengan suara "Okeh" Antares diam sejenak lalu kembali berucap "besok aja lah ya?"


"Sekarang!"


Antares menghembuskan napas pasrah "Omongan gue kemaren bener"


"Bagian mana yang bener?"


"S E M U A N Y A"


"Cerita in dong yang jelass!!"


"Entar aja deh. Gue mager" Antares berdiri bersiap pergi


"Eh tunggu!!" Liza menarik baju Antares, membuat langkahnya terhenti. Antares menoleh pada Liza yang kini berada disampingnya "apa lagi Lizaaa??"


"Besok bener ya!"


"Iyaaa. Udah gue mau jemput Bella dulu!" Antares kini benar-benar berjalan keluar. Ia benar-benar akan menjemput Bella walau terpaksa karena ayahnya lah yang menyuruhnya dan hukuman menantinya apabila Antares tak mematuhinya


"Semangat jemput adek tercintah yaaa!!!" Liza tetap melambaikan tangannya walaupun Antares telah pergi keluar melewati pintu


Liza kini memikirkan apa yang telah diperbuat Aqisa hingga kedua belah pihak— Antares dan Zio menjadi musuhan. Bahkan Liza sempat mendengar bahwa mereka sudah lama saling membenci


Ah entahlah! Nanti Liza akan menanyakan hal yang sama pada Zio


Katakan bahwa Liza kepo, karena memang begitu. Andai saja perdebatan mereka tak membawa-bawa Liza mungkin sampai sekarang ia tak peduli terhadap mereka


Liza bukannya ingin ikut campur, tapi ia hanya ingin tau yang sebenarnya. Ia pun tak berharap bisa menyatukan Zio dan Antares, ia benar-benar murni ingin tau


Keingin tau'an tak akan menjadi masalah kan?


Semoga


Liza menoleh pada kaca yang kini memperlihatkan langit luar yang mulai menghitam. Sebentar lagi akan hujan


Ia tak ingin mengambil masalah dengan pulang dalam keadaan basah karena hujan, bisa-bisa ke esokan harinya ia akan sakit dan tak jadi bertemu Antares


Liza merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya


Liza membelakan matanya saat mengetahui ponselnya tak bisa menyala. Wah hebat. Liza menggelengkan kepalanya, ternyata sejak tadi ia membawa ponsel yang mati


Liza bangkit dari duduknya. Mau tak mau ia harus jalan kaki sampai rumah. Syukur-syukur ada taksi atau ojek yang lewat tapi.... melihat keadaan sekitar mustahil menemukan kendaraan. Tapi setidaknya jarak rumahnya dengan cafe ini tak begitu jauh....tapi tak dekat juga


Liza menghela nafas berat lalu mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang kini sepi


Angin berhembus kencang, Liza menyesal tak membawa ikat rambutnya. Liza memakai topi jaketnya agar rambutnya tak semakin berantakan


Liza mengangkat kepalanya ke langit melihat awan yang sudah semakin menghitam. Sekarang ini ia mulai takut gemuruh datang membawa petir dan sebelum itu terjadi lebih baik ia berlari kencang agar sampai rumah lebih cepat


Liza memelankan langkahnya saat melihat seseorang berjongkook disungai kecil tak jauh darinya


Ia seperti mengenal orang itu. Perlahan-lahan Liza mendekat lalu mengageti orang itu setelah yakin ia mengenal orang itu


"DUARRrr!!" Liza menepuk pundak cowok itu pelan. Tapi karena kaget cowok itu hampir saja tercebur dalan sungai didepannya


Zio berbalik menatap Liza dongkol juga kaget. Ia pikir Liza tak akan menemuinya lagi setelah insiden kemaren


"Lo mau gue mati?" Tanya Zio dingin


"Oh? Iya! Silahkan" Liza mengarahkan kedua tangannya menuju singai. Menyuruh Zio nyebur kedalam sungai


Liza berjongkok disebelah Zio mengamati sungai yang tepat didepan mereka "Lo ngapain?"


"Nyari bidadari" Ucap Zio asal


Liza memukul bahu Zio keras, lalu matanya menatap makanan ikan yang berada ditangan kanan Zio "Emang disini ada ikan?"


"Hem"


Keduanya kini sama-sama diam hingga Liza membuka suara "Gue tadi ketemu Antares" Ucap Liza yang berhasil membuat Zio menoleh cepat kearahnya


"Dia ngomong apa?"


Liza menghembuskan napas "Ga penting"


Oh, Zio salah pertanyaan "Lo tanya apa?"


"Kemaren itu bener apa kagak"


Zio diam sejenak "Lo... jangan ikut campur ya"


"Enggak kok"


"Sebisa mungkin lo jangan terlalu deket sama Antares ya" Ucap Zio yang entah kenapa mendadak murung


"Kenapa? Lo gak suka, apa lo takut?"


"Iya" Ucap Zio entah meng'iyakan yang mana


Keduanya kembali diam hingga Zio mengucapkan kata-kata yang samar-samar didengar Liza "Gue takut ada bahaya"


Liza diam. Bahaya? tak salah dengar kah?


"Za, gimana kalo Antares suka sama lo?" Ucap Zio tiba-tiba


Liza menaikkan bahunya. Antares memang menyukainya. Apa Zio tak tau? "Wajarlah cowok normal mana yang gak suka sama gue?"


"Berarti.... kalo gue suka sama lo wajar dong?"


Liza diam beberapa saat "Lo normal ternyata?" ucap Liza diluar dugaan Zio


Zio menaikkan satu alisnya menatap Liza dongkol


"Gue kira lo dah belok😳"


Zio berdiri lalu memberikan payung lipat kecil yang sejak tadi disampingnya "Hujan"


"Mata gue gak buta kali!" Liza menerima payung pemberian Zio dengan senang hati


Zio pergi meninggalkan Liza yang masih menatap pantulan dirinya disungai. Kini Liza memegang kedua pipinya "Akirnya kecantikan gue bener-bener diakui Zio!" Gumam Liza


Hah! Liza berdiri lalu menepuk-nepuk celananya dan akirnya kembali melanjutkan perjalanannya


tes tes


Liza menatap langit yang mulai meneteskan air. Beruntung dia kini memiliki payung


Liza membuka payung lalu berlari kecil hingga sampai dibelokan Liza melihat perempuan yang berhadapan dengan tiga laki-laki yang sepertinya sedang mengganggu perempuan itu


Gak bener nih! Bak super hirro Liza berjalan menuju ke empat orang yang memang tak jauh darinya


Liza sedikit kaget saat melihat cowok berambut hijau yang pernah ia temui saat bersama Antares


"Lo kan....." Liza tak tau namanya_-


Cowok itu tak kalah kaget darinya "Lo pacarnya Antares kan?"


Berita dari mana ituu?!?! Sejak kapan ia dan Antares jadian?!?! "Lo kalo ngomong yang bener dikit!!"


Cowok itu menggaruk kepala belakangnya "Si Antares kemana?"


"Lo apain cewek ini?" Ucap Liza tak peduli pertanyaan cowok didepannya


"Ohh dia" Cowok rambut ijo itu memegang bahu cewek disamping Liza lalu serega ditepis oleh si cewek


"Lo jangan deketin dia lagi! Awas aja kalo sampe lo deketin dia lagi!" Ucap Liza penuh peringatan


"Emang kenapa??" Ucap cowok itu songong


Liza diam bingung harus menjawab apa. Tapi satu perkataan melintasi kepalanya "Disini ada CCTV loh" Ucap Liza entah benar ada atau tidak


Ketiga cowok didepannya mulai salah tingkah


"Gue bisa aja—"


"Awas ya lo! Jangan berani-berani lapor!" Potong salah satu dari cowok didepannya


Perasaan tadi gue yang ngancem dah, kenapa sekarang mereka ganti ngancem gue


Ketiga cowok didepannya berlari pergi lalu Liza tertawa terbahak-bahak hingga hampir saja melupakan gadis disebelahnya


"Emm makasih"


Liza menolehkan kepalanya kearah gadis disebelahnya. Liza sedikit tercengang saat melihat wajah gadis disebelahnya. Liza tak menyadari bahwa gadis itu mengenakan hijab


"Namaku Klara" Klara mengulurkan tangannya pada Liza yang langsung diraih oleh Liza


"Gu—Eh, aku Liza"


"Makasih ya"


Liza tersenyum menganggukkan kepalanya lalu ia memberika payungnya eh payung milik Zio pada Klara


Klara menatap Liza bingung


Liza segera mengambil tangan Klara lalu memberikan paksa payung itu pada Klara. Ia pikir Klara lebih membutuhkan payung itu


###


"Dah dibilang jangan ujan-ujan masih ae ngeyel! Masuk angin kan sekarang!"


Liza memutar bola matanya. Sejak kapan Alan melarang Liza hujan-hujan?!


"Eh bang, tadi sore beneran gebetan lo? bukannya lo dah ada pacar ya?"


"Iya"


"Wahh parah lo!"


"Woi dek! Bukak mata lo! Kawan lo, Antares malah lebih parah dari gue!"


Liza kembali memutar bola matanya


"Lagian punya gebetan tuh penting tau!"


"Aish!!" Liza memilih menatap ponselnya dibanding kakaknya


"Gini ya! Pacar tuh nomer 1! Kalo gebetan nomer 3!"


"Nomer duanya siapa? Gue yak😍"


"Jijik gue sama lo!" Alan berjalan keluar dari kamar Liza tak lama kemudin Alan memundurkan langkahnya hanya untuk mengatakan "Nomer dua udah diduduki selingkuhan gue!"


###


👍