IceCream

IceCream
53:|Zio Antares



Liza diam mendengarkan penjelasan dari Antares yang tengah menjelaskan rumus matematika yang sangat teramat berbelit-belit


"Pokoknya kalo lo ngerjain tugas ini, harus pake rumus ini" Antares mengetuk-ngetuk rumus yang ia catat dibuku tulis Liza


"Kalo gue ngarang aja gimana?"


"Lo pikir ini pelajaran b. indo?!"


Liza menggaruk belakang kepalanya


"Lo paham?" Tanya Zio yang sejak tadi diam mendengarkan celotehan Antares mengenai rumus berbelit-belit yang sepertinya dia buat sendiri


Liza menggeleng dengan samar


Antares benar-benar ingin memukul kepala bocah itu. Ia sudah menjelaskannya berkali-kali tapi satupun tak Liza pahami


Zio menunjuk tiga angka yang menurutnya adalah angka paling penting disoal itu "tinggal lo tambahin aja terus hasilnya lo akarin dan dibagi 2"


"Itu melenceng dari rumusnya" ucap Antares tak terima


"Tapi hasilnya bener"


Antares mencoba menjawab soal itu menggunakan rumus dari Zio dan benar! Antares tak menyangka soal serumit ini dengan mudahnya bisa dijawab tanpa menggunakan rumus berbelit-belit


"Wahh bener yak?!" Liza segera menyalin jawaban dari Antares


Zio mengucapkan rumus, Antares menjawab soal dan Liza menyalin hasil dari Antares hingga kesoal yang terakhir


Liza sangat tak manyangka bahwa Antares juga memiliki kepintaran yang hampir setara dengan Zio. Padahal Liza pikir Antares ialah anak nakal tanpa otak


Beberapa detik kemudian Liza tersadar bahwa masa depan Antares kemungkinan besar lebih baik darinya


###


Zio tak bisa tidur, ia memutuskan untuk berjalan-jalan dikolam belakang rumah Liza


Tidur sekamar dengan Alan sama saja tidur dengan sapi. Alan sangat serakah kasur serta suara mendengkurnya sudah seperti kenalpot yang hampir sekarat. Apalagi dia juga sekamar dengan Antares. Kasur Alan memang besar bahkan sangat besar tapi apabila diisi oleh makhluk seperti Alan dan Antares sudah pasti orang ketiga tak akan mendapat tempat


Bahkan Antares dan Alan sangat kompak dalam hal mendengkur. Antares juga terkaget-kaget saat tidur (kaget dalam keadaan tidur) tapi anehnya bocah itu sepertinya tak terganggu sama sekali


Zio memperhatikan kumpulan ikan dengan ukuran yang tak terlalu besar. Zio tak habis pikir dengan keluarga Liza. Ya, mereka benar-benar mempelihara puluhan ikan piranha


Zio jadi membayangkan apabila Liza tak sengaja tercebur kedalam kolam. Hah~ mungkin ikan piranhanya yang akan mati karena terlebih dahulu karena digigit oleh Liza


Zio mengambil merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi WA


Ayah


Kenapa gak pulang?


Mama


Jangan lupa peraturan no.12! 'Pulang lebih dari jam 10 malem harus tidur diluar! tanpa seperangkat alat tidur!! Pintu rumah mama kunci! Akan dibuka pada jam 4 pagi!'


Uang 1


Mama nyuruh gue nyariin lu heh! Males gue! Gausah pulang aja deh! biar dikira ilang sekalian!


Uang 2


Woy! gue minjem baju lo yang dilemari atas yak!


Ga jawab berarti iya


Makacih adekkuh cayang!


Muach!!


Zio


Kagak balikin cepet


HP lu gue jual besok


Beneran


Zio kembali mengantongi Ponselnya lalu berjalan-jalan disekitar kolam sebelum berjalan menuju kamar Liza


Zio menatap pintu berwarna kuning cerah. Didepan pintu itu tertulis teruntuk makhluk tak kasat mata tolong Jangan masuk! Gue malu kalo dilihatin pas lagi ganti baju!


Tangannya bergerak mebuka pintu kamar Liza sedikit-demi sedikit untuk memastikan gadis itu benar-benar telah tertidur


Zio menatap sosok laki-laki yang kini duduk disamping Liza sembari mengepang sebagian rambut Liza. Antares


Telinga kiri Antares dan telinga kanan Liza sersumpal earpone milik Antares yang kini terhubung dengan ponsel Antares


Entah sudah sejak kapan Antares berada disana. Antares pun tak menyadari keberadaan Zio yang masih berdiri tegak didepan pintu, sementara Liza sibuk dengan mimpinya


Zio hendak berbalik tapi perkataan Antares membuat tubuhnya membeku


"Lo mirip dia" Ucap Antares. Zio yakin betul 'dia' yang dimaskut Antares ialah Aqisa. Orang yang menjadi alasan terbesar mengapa Antares membencinya


Zio berbalik meninggalkan mereka tanpa menutup kembali pintu kamar Liza


Antares menghela napas panjang. Setelah selesai mengepang rambut Liza, ia mengambil ponselnya untuk membandingkan wajah Aqisa dengan Liza


Njim! Beda banget ternyata. Batin Antares. Kulit Aqisa putih pucat sedangkan Liza putihnya glowing. Antares berani bertaruh bahwa skincare milik Liza sangatlah mahal, berbeda dengan Aqisa yang nyaris tak memakai perawatan tubuh apapun itu. Bahkan dulu Antares sangat jarang melihat Aqisa memakai bedak


Antares menarik layar ponselnya. Ia mengamati tanggal serta jam yang tertera diponselnya dengan nanar. Hampir tiga tahun Aqisa meninggalkannya


Antares kembali mengigat saat ia berlari kencang menuju rumah sakit tapi sayang saat ia ingin menyebrang menuju rumah sakit, sebuah motor melesat menabraknya hingga ia pingsan satu hari utuh. Sang pelaku yang menabraknya pun belum ditemukan sampai saat ini. Mungkin ini sedikit tak sopan tapi Antares mencurigai papanya adalah dalang dibalik tertabraknya Antares. Dan setelah ia bangun ia tak pernah melihat Aqisa


Setelah melepas earpone dari telinga Liza, lalu berjalan menuju dapur untuk mencari makanan. Perutnya terlalu terbiasa kelaparan saat tengah malam


Biasanya dia akan membuat mie instan yang bertumpuk-tumpuk dilemarinya. Ia tak pernah meminta makanan dari melati yang sekarang ini merupakan ibunya, bisa-bisa ia mati keracunan karena makanan dari melati


Setelah lama berputar-putar akirnya Antares menemukan dapur tapi langkahnya terhenti saat melihat Zio tengah duduk diam dikursi dekat meja makan


Zio tau Antares berada tak jauh dibelakangnya karena tadi ia mendengar suara langkah kaki "Kenapa"


Antares mengerjapkan matanya beberapa kali dan sedikit memiringkan kepalanya, tak mengerti maksut Zio


"Kenapa harus Liza" tanya Zio lagi karena tak mendapat respon


Antares tersenyum sinis. Ia berjalan hingga tepat berada disamping Zio "gue tau lo pinter buat ngerti semua itu" Antares melangkah pergi setelah menatap Zio sinis


"Kenapa" tanya Zio lagi membuat langkah Antares terhenti


Antares diam menunggu lanjutan daru ucapan Zio


"Kenapa harus gue" Ucap Zio


"Kalo bukan lo...." Antares menjeda ucapannya lalu memutar tubuhnya untuk menatap Zio yang masih menatap lurus kedepan. Antares memiringkan kepalanya "...siapa lagi" Antares kembali melanjutkan langkahnya setelah menatap Zio rendah


Lupakan soal makan. Antares sudah sangat kenyang hanya dengan melihat Zio


###


"SELAMAT PAGI DUNIAAAA!!!" teriak Liza begitu bagun untuk duduk dikasurnya


Liza menatap jam yang terpasang ditembok uang tepat didepannya. Jam kuning besar yang dibelikan Alan lima tahun lalu


Oke masih jam lima pagi, Liza masih punya banyak waktu untuk bersantai-santai sebeluk otaknya kembali panas mendengarkan pelajaran yang sama sekali tak ia sukai, matematika lalu disusul deretan pelajaran tak kalah berat bagi Liza


Liza turun dari kasurnya lalu berjalan riang gembira menuju dapur untuk mengambil sesuap roti tawar


"Liza"


Yang dipanggil menhentikan langkahnya untuk menatap mamanya yang kini memangku cemeng yang masih tertidur pulas


"Dia mati?" tanya Liza asal


"Hust! Enggak lah"


"Entar kalo mati bilang ke Liza ya. Mau Liza ceburin kesumur tetangga" ucap Liza seolah-olah cemeng akan mati beberapa jam lagi


Fani hanya menghela napas mendengar ucapan anaknya yang kian lama kian ngawur


Liza melanjutkan langkahnya menuju dapur. Setelah sampai didapur Liza langsung mengambil roti tawar yang hanya tersisa setengah


"Liza"


Liza kaget refleks berjalan mundur sambil memegangi dadanya


"Lo ngapain? Ngagetian aja!!" Liza hampir saja melemparkan rotinya kearah Zio


"Eh lo ga tidur?"


Zio menggeleng. tangannya kini menumpu kepalanya diatas meja makan "Za, salah gue apa?"


Liza menoleh pada Zio. Entah kenapa tiba-tiba Zio menanyakan hal itu "banyak. Semua orang pernah buat salah" Liza kembali mengoleskan selai cokelat


Zio kembali diam


"Dan dosa terbesar lo tuh ada digue" Liza berbalil setelah selesai dengan roti tawarnya. Ia duduk didepan Zio "Kesalahan lo ke gue tuh banyaaaaakk bangett!!"


"Gue minta maaf" Ucap Zio tiba-tiba


"Harus"


"Emang lo bakalan ngelakuin kesalahan apa kegue" ucap Liza yang sebenarnya tak penasaran mengingat Zip selalu membuatnya jengkel


Zio menghela nafas lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan Liza


###


Kini semua anggota keluarga Liza dan juga Zio dan Antares duduk dikursi masing-masing untuk menikmati makanan buatan fani


"Papa kamu sekarang sibuk ngapain?" tanya Randi


"Masih sama"


Randi membelakkan matanya "masih suka lihat foto janda di-efbi?"


Zio mebelakkan matanya. Tak mengetahui papanha adalah orang yang seperti itu


Fani dengan cepat menyenggol bahu Randi "Lambe mu jangan sampe tak gunting ya! Jangan ngomong gitu didepan anaknya!"


Randi cengengesan didepan fani lalu ia menatap Zio "gapapa Zio, kebiasaan papamu itu udah mendarah daging sejak SMA, tapi percaya deh papamu itu bucin-nya mamamu"


"Masa sih pah? padahal tante tiana galak tau" Ucap Liza disetujui oleh Alan


Randi dan Fani mengangguk kompak


"Kalo kamu Antares?" Kali ini Randi bertanya pada Antares


"A-apa?"


"Kebiasaan papa kamu apa?"


Main cewek Ingin sekali Antares mengucapkan itu. Tapi ia sadar peria yang ia benci itu merupakan papa kandungnya "Olahraga tangan sama saya om" (mukul'i Antares) ucap Antares pada ahkirnya


###


Antares dan Zio sama-sama menyerahkan helmnya pada Liza. Liza mendorong kedua helm tersebut lalu berjalan menuju teras rumah


"Lo mau jalan kesekolah?" tanya Antares tak yakin


"Dianter kambing gue" ucap Liza. Tak lama kemudian Dion datang dengan motor vespa merahnya


Liza menepuk pundak Dion dengan cukup keras setelah ia naik keatas motor "Liza berangkat~~~"


"Zaa!!" ucap Dion setengah berteriak karena angin cukup kencang


"Paan?"


Dion diam sebentar. Matanya masih menatap jalanan yang cukup ramai "Menurut lo sisca—"


"Gasuka sama lo" Ucap Liza cepat


"Jahat banget sih lo!"


"Itu fakta"


"Menurut lo cowok yang sama Sisca itu siapa?"


"Ga tau"


"Sisca suka sama tuh cowok ya?"


"Entah"


"Mereka udah jadian kah?"


"Tak tau"


Diom menghela napas panjang "gue harus gimana?"


Liza menepuk bahu dion lalu menunjuk sungai yang ada dipinggir jalan raya tak jauh dari mereka


Dion melihat sungai besar itu dengan penuh tanda tanya. Ia sangat tak mengerti maksut Liza


"Lo njebur aja disana, entar gue rekam terus gue kirim ke Sisca"


"Terus?"


"Terus Sisca bakalan hadir dipemakaman lo"


Dion memutar bola matanya percuma ngomong sama Liza


Liza berjalan bersama Dion masuk kedalam kelas yang sudah ramai. Mereka sibuk mencari contekan matematika


Dengan langkah keren bak model Liza berjalan untuk duduk dibangkunya. Tak lama kemudian Kayla mendatanginya "Lo udah ngerjain tugas?"


Liza membuka tasnya untuk menggambil buku tugas matematikanya. Liza membuka buku itu dihadapan Kayla dengan lebar membuat Kayla tak percaya dengan pengelihatannya


Kayla segera menarik buku dari tangan Liza untuk melihat dengan lebih jelas. Kayla berlari menuju bangku Alya untuk menanyakan jawaban milik Liza benar atau salah "Gimana?? bener gak?!?!?!"


Alya mengguncangkan tubuh Kayla "kasih tau gue buku siapa ini?! gue mau berguru sama dia!!!"


Kayla menunjuk Liza yang sekarang ini melambaikan tangan kearah Alya


"Yang ngerjain ini beneran—"


"Zio sama Antares"


Alya kembali duduk lalu dengan cepat menyalin perkerjaan Liza eh bukan pekerjaan Zio dan Antares "Ga jadi berguru deh. Tiba-tiba mager"


###


Liza berkali-kali melihat jam yang melingkar ditangannya, berkali-kali juga dia menghela napas


Bak botak didepannya sejak tadi menyindir Liza terang-terangan. Beruntung mulut Liza hari ini malas membalas ucapan unfaedah dari gurunya yang satu ini


"Liza kamu bisa masak?"


"Bisa" ucap Liza lemes


"Apaan!! Lo lupa udah bikin kita semua sakit perut" bctan tak berguna keluar dari mulut Dion


"Liza bisa jahit?"


"Bisa" ucap Liza setelah mengigat dia bisa memasukkan benang kedalam lubang jarum yang ia lakukan seminggu lalu


"Apaan! Setiap pegang jarum aja selalu ketusuk" Ucap Putra entah tau dari mana


"Liza bisa bahasa inggris?"


Liza diam, matanya bergerak kesana-kemari, bingung harus ia menjwab apa. Ingin menjawab bisa tapi kosakata yang ia mengerti tak sampai 20


"Woah! Liza kalo diajarin bahasa inggris tuh hebat pak! sampe² orang bule aja sampe angkat tangan! Bahkan yang terakir ini guru lesnya diem² balik kenegaranya" Ucap Dion entah dia tau dari mana padahal Liza tak pernah cerita pada siapapun


Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas dikepala guru botak itu "Liza bisa bikin ice cream?" mengingat Liza teramat menyukai ice cream mungkin saja ia bisa membuatnya


"Bisa!!" Ucap Liza semangat


"Paan! lo tuh bisanya bikin es batu!" ucap Liham yang pastinya benar


Ingin sekali Liza melemparkan penggaris besi yang kini berada di mejanya kearah kepala Liham. Liham sangat sok tau padalah Liza juga bisa bikin es teh beku, dia juga bisa bikin sirup jeruk beku


"Liza bisa make up?"


Liza kembali bungkam karena dengan cepat mila angkat bicara "Bedakan aja gak rata pak!"


Liza bisa memakai bedak tapi dia terlalu malas meratakan bedak keseluruh wajahnya tanpa cela


"Liza bisa gambar?"


"Bikin garis lurus aja dia kagak bisa pak!" Ucap Triya yang hanya ingin ikut-ikut bicara


Pak botak diam sebentar ia ingin menanyakan pertanyaan lain tapi ia juga tau jawabannya tapi tak apalah "Liza bisa matematika?"


Satu kelas kompak tertawa. Liza kembali menjatukkan kepalanya diatas meja yang sudah terdapat bantal pinjamannya dari UKS


"Perkalian aja gak bisa dia!"


"Boro² perkalian! Orang tambah-tambahan aja masih bingung dia!"


"0 + 0 aja kagak tau dia jawabannya"


Liza diam² berpikir apa dia seburuk itu?


"Dia mah cuma modal tampang doang" Ucap Bu Ratih yang tiba-tiba berdiri didepan pintu. Bu ratih tadi mendengar kelas Liza sangat berisik, ia pikir tak ada yang mengajar kelas Liza maka dengan terburu-buru ia melangkah kekelas Liza dengan sebatang penggaris kayu dengan panjang semeter


"Gapapa Za, Siapa tau dengan muka cantik kamu nanti bisa dapet jodoh yang kaya" Kayla yang berada didepannya memberi semangat pada Liza


"iya sih. Tapi modal cantik kalo otak jatoh juga gak guna sih. Yang ada dia bakalan ditipu terus. Suaminya punya cewek baru dia juga gak bakalan tau" Bu ratih kembali bersuara


Tiba-tiba satu pertanyaan melesat dipikiran Liza apa kepintaran dan keahlian sepenting itu?


Liza memejamkan matanya. Otaknya terlalu malas memikirkan itu dan yang terpenting sekarang ia masih bisa bernapas karena banyak diluar sana orang-orang yang membutuhkan alat bantuan untuk bernapas


###


Banyak TYPO kawan:')