IceCream

IceCream
46:]Emaknya Antares



Liza berlari menuju belakang rumah dimana jemurannya masih berjejeran rapi dibawah langit yang sekarang tengah bersiap meneteskan air hujan


"Lizaa!! angkat tuh jemurannya kakak kamuu!!" Fani berteriak, tangannya sibuk mengambil satu persatu baju


"iih ogah, jemurannya bang Alan isinya cuma daleman semua. Jijik maa!!" Liza berjalan menjauh sebelum sang ibu memaksa dan melemparinya dalaman sang kakak


Sebelum melangkah kekamar Liza berhenti sejenak didapur untuk mencicipi mie instan buatan kakaknya


"Iih ga enak" ucap Liza dengan terus memakan mie


"Kalo gak enak ngapain lo makan?! cepet muntahin!"


"Entar aja gue keluarin diWC"


"Jorok lu dek"


"Jorokan lo yang jarang ganti samvak "


###


TOK TOK!


Liza berdecak dengan refleks dia membanting HPnya kekasur lalu berjalan keruang tamu untuk membuka pintu


Dengan gerakan lemas Liza membuka pintu "ZIO?!" mata Liza bergerak melihat Zio dari atas hingga bawah "lo habis ngapain tikus?!! habis main disekolah tetangga yang manaa??"


"Lo besok mau keluar sama Antares"


"Emmm iya"


"Gue mau ngomong sama lo"


"Oke eh enaknya duduk apa berdiri aja ya tapi entar kalo lo duduk kursi gue jadi basah"


Zio menghela nafas. Entah kenapa Liza seribet ini "berdiri aja"


"Diteras aja deh"


Liza dan Zio duduk dikursi kayu yang menghadap langsung kehalaman rumah Liza yang tak begitu luas


"Masya Allah adek gueee!!" Alan datang dengan menggendong cemeng yang masih setengah tertidur "kalo ada tamu tuh dikasih teh! jangan cuma dikasih angin aja! pantes jomblonya melekat permanen"


Liza memutar bola matanya sedangkan mata Zio tak berhenti memandangi warna bulu sicemeng


"Gini-gini Zio sama Antares suka sama gue" ucap Liza pelan yang masih bisa didengan oleh Alan


"Realy??" Alan menyerahkan cemeng dipankuan Liza membuat cemeng kaget lalu refleks mencakar tangan Liza


"Kucing jelek!" umpat Liza


"Zio! lo suka sama cewek modelan macam ikan asin gini?"


"Siapa yang lo sebut ikan asih?! badan macam kentut gajah aja belagu!"


"Gini-gini gue punya Abs 4 kotak ya!"


"Lo gambar sendiri kan?"


"Engβ€”"


"ALAN!! kamu bawa kekamar apa mama buang ini daleman"


Alan berlari masuk kedalam rumah memgingat salah satu dari dalaman itu dia dapat sari sang dosen


"Liza, degerin gue"


Liza menghadap Zio, dia benar-benar sedang fokus terhadap perkataan yang akan dikatakan Zio


"kalo besok Antares ngomong yang aneh-aneh tentang gue, lo jangan percaya"


"kenapa?"


"Musyrik!"


Dengan refleks tangan Liza memukul kepala Zio yang masih basah "ga jelas lo!"


"Za"


"Hem"


"Kucing lo punya kelainan?"


"Ha? gimana?"


"Gak" Zio beridiri hendak pergi kearah motornya


"Eeh!!" Liza mebarik baju Zio "lo cuma mau ngomong itu doang?!"


"Ya"


"Eeh tapi ujannya belom reda"


"Ya"


"Lo mau ujan-ujan gitu?"


"Ya"


"Lo segitu miskinnya ya sampai gak punya payung?"


"Lupa"


"Lupa apa? lupa kalo lo miskin?"


"Bawa"


"Bentar! Jangan pergi dulu!! Awas aja kalo lo pergi!" Liza berlari masuk kedalam rumah


Tak lama kemudian Liza datang membawa beberapa payung yang semuanya berwarna kuning "nih buat lo"


"Naik motor sambil bawa payung menurut lo gimana?"


"Ha?" Liza berpikir hingga sekian detik ia baru mengerti "eh iya!" Liza memukul kepalanya


"Kelamaan temenan sama Kayla lo"


"Hehe" Liza kembali masuk kedalam untuk mengambil jas hujan


Tak lama kemudian Liza datang membawa jas hujan yang juga berwarna kuning


"Lo sesuka itu sama t*i ya?"


"Kuning tuh melambangkan ceria bukan t*i!"


###


Liza menatap pantulan dirinya dicermin "cantik banget sih gue. Mbak jeni aja lewat"


Puas melihat wajahnya, Liza berjalan menuruni tangga untuk mengambil beberapa kotak berisi cokolat


TOK TOK!! "CALON MANTU DATANG!!"


Liza menghela nafas. Menurut namanya saja Liza tau itu Antares


"MASUK!!!!" Liza berteriak hingga cemeng yang disebelahnya yang sedang tidur terbangun dalam keadaan kaget


Cemeng menatap Liza sinis lalu kembali tidur


Antares masuk menghampiri Liza yang masih sibuk dengan cokolatnya


"Astagfirullah!" Antares memegangi dadanya saat hampir menginjak cemeng yang tergeletak dilantai sebelah kanan Liza


"Woi za! Itu kucing lo abis tenggelem diWC apa gimana?!" Antares menjauhi cemeng. Dia memilih berada disamping kiri Liza


"Punya kelainan emang dia" ucap Liza asal


"Bukan buat lo!" Liza menatap Antares tajam lalu memasukkan cokolat kedalam kardus kembali


"Udah ayo cepetan berangkat!"


"Gue kesini naik motor heii!!"


"Pulang! Ambil mobil!"


"Males. Pesen taksi online aja"


Antares dan Liza menunggu taksi online yang sudah mereka pesan diteras


"Lima menit" ucap Liza sejak tadi tak berhenti menghitungi perjalanan sang taksi menuju kerumahnya


TIN TIN!


Sebuah taksi masuk kedalam teras rumah Liza


"Lima menit lewat 45 detik!"


"Cepet kan neng!"


Liza tersenyum kecut dan matanya melotot menandangi sang supir taksi


###


Liza dan Antares pergi kepemakaman yang telaknya lumayan jauh


"Tunggu ya pak! ini kotak-kotaknya saya tinggal disini. Mungkin agak lama tapi entar saya naikin uangnya"


Liza dan Antares memasuki pemakanan


"Itu" Antares menarik tangan Liza menuju salah satu makan dengan nama Lily


"Ini..."


"Bunda gue. Namanya Lily. Bunda pergi saat gue masih kelas 7 SMP"


"Emm" Liza ingin bertanya alasan kenapa beliau meninggal tapi rasanya tak enek melihat ekspresi Antares yang terlihat menahan tangis


"Nangis aja udah"


"Malu"


"Lah?"


"Gue kalo kesini gak pernah nagis. Biasanya gue kesini selalu bawa nilai gue yang pastinya bagus"


Liza menahan ingin memukul Antares. Liza tidak mengerti maksut perkataan Antares itu ingin pamer atau gimana. Iya Liza tau nilainya yang paing bagus hanyalah 70


"Za"


"Hm?"


"Kalo dipikir-pikir sifatnya bunda gue ada mirip sama lo"


"Apa?"


"Suka mukul tapi lo kan mukulnya dikepala kalo bunda mukulnya dipantat mangkanya pantat gue besar sebelah"


"Ha?!" Liza menatap pantat Antares yang terlihat sama "apaan?! sama-sama tepos lo!"


Antares tertawa sebentar "emm tapi ada sih orang sifatnya mirip banget sama bunda"


"Siapa?"


Antares tersenyum tak lama kemudian dia menjawab dengan suara yang sedikit bergetar "Aqisa" ucap Antares lirih


"lo gak mau nanya apa gitu?"


"Nanya apa?"


"Ya apa gituu"


"Emm oh ada! Gue mau tanya. Semenjak ditinggal bunda lo, lo sama bokap lo makin deket gak? lo pasti banyak curhat kedia ya?"


"Kayak musuh"


"Gimana?"


"Males ah bahas dia. Entar aja gue cerita"


Liza memutar bola matanya "kapan nih lo nganter gue kepanti?"


"Panti?"


"Iya, gue bawa cokolat banyak-banyak tuh buat anak-anak panti"


Antares diam sejenak. Pikirannya mulai mengingat segala kejahatan dan kepelitan Liza. Mungkin selama ini semua yang dipikirkan Antares tentang Liza salah. Dia pikir Liza seseorang yang tak mengenal arti berbagi, dia pikir Liza anak yang nakal dalam arti yang sebenarnya


"Apa?! Tatapan lo gak usah gitu-gitu amat woi!" Liza mendorong kepala Antares "Ayok kepanti sekarang. Kasihan abang taksinya nunggu sampe karatan disana"


"Tapi gue belom abis cerita tentang bunda:("


"Kapan-kapan cerita lagi"


###


Liza dan Antares memasuki rumah panti pandangan mereka terarah ketembok rumah yang berisi gambaran anak-anak panti


"Liza" Bu rani memeluk Liza


"Kemaren bawa Zio sekarang bawa siapa nih?"


"Ini Antares"


Antares menyalami Bu rani


"Aku ada bawa cokolat nih" Liza menyerahkan satu kardus cokolat pada Bu rani


"Makasih. Anak-anak seneng banget makan cokolat"


"Mereka pada kemana?"


"Mereka pada cerita-cerita horor diruang keluarga"


"Aku samperin ya" Liza menaril tangan Antares menuju ruang yang dimaksut oleh Bu rani


Liza dan Antares menguping dibalik tembok mendengarkan segala cerita yang entah nyata atau tidak


"Aku deketin tuh bunyinya, pas aku buka pintu danβ€”"


"DOR!!!" Liza dan Antares mengageti anak-anak dengan sedikit menggebrak pintu membuat membuat anak-anak yang berusia 4-10 tahun itu terlonjak kaget


"Kak Lizaaaa!!!" mereka beramai-ramai mendatangi dan memeluk Liza


"Ini siapa kak? pacar yaaa..." Ucap salah satu dari mereka


"Astagfirullah! amit-amit" Liza menepuk-nepuk kepalanya sedangkan


"AMMIN!!" Antares mengusap kedua telapak tangannya kewajahnya


"iiih enggak tauu!! kak Liza cuma punyanya kak Zio!"


"Mungkin mereka udah putus"


"Kan bisa nyambung lagi"


Hah entahlah Liza dan Antares memilih menuju duduk dikarpet yang tadi diduduki oleh anak-anak


###


Maap telatttttπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ˜”πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™