
selamat membaca.😇
"Sari. "
Baik Sari maupun yang lainnya langsung menoleh. Sari sedikit terkejut melihat sosok itu disana, dengan tubuh yang mematung ia hanya mengamati Ari dari tempatnya.
Dalam hati Ari merasa sangat legah, akhirnya ia menemukan Sari. Ari hampir gila selama tiga hari ini karna tak menemukan Sari.
Ari langsung menghampiri Sari dengan semangat. Ia langsung menarik Sari dalam pelukannya. Ia memeluk Sari erat, takut jika Sari akan kembali hilang dari nya.
"Akhirnya aku menemukanmu. " ucap nya kelewat senang dengan mengecup kening Sari beberapa kali.
Sari menangis dalam diam, meski ia kesal dengan Ari karna insiden di pesta tersebut tapi tetap saja saat ini ia bersalah. Karna menghilang selama beberapa hari dan tak memberi kabar pada Ari dan keluargannya, tentunya tindakannya tersebut membuat kepanikan serta kekhawatiran di keluarganya.
Sari mendongak untuk menatap Ari yang juga menatapnya, "Kakak... " adu nya dengan lirih serta mata yang berair.
Ari tersenyum lembut, ia mengelus kepala Sari sayang, "maafkan aku, Sari. "
Sari hanya menganggukkan kepalanya lalu memeluk Ari dengan erat. Tiga hari menghilang tanpa jejak adalah kehendaknya untuk memberi pelajaran pada Ari, tetapi tetap saja ia sangat merindukan sosok Ari.
Sari bergeser saat tangannya ditarik seseorang, bahkan pelukannya dengan Ari terlepas.
"Gak usah peluk dia Sari. Dia itu suami ngak becus! " sarkastik Karin dengan menatap putranya tajam.
Sari menatap mertuanya dengan raud bersalah, "Mama... " gumannya pelan.
Katin langsung menoleh pada Sari, sorot matanya langsung melunak saat melihat tatapan senduh dari menantunya, "iya, Nak? " ucapnya lembut.
"Maaf... -- "
Kalimat Sari harus terhenti saat Karin langsung memeluknya.
"Mama Karin, Mama Anna khawatir dan yang lainnya khawatir sama kamu Nak!! "
"Maaf Mah. " lirih Sari.
Karin menganggugkan kepalanya, "iya, tapi jangan diulangi lagi yah! Kalau kamu mau kemana, kabari Mami atau siapa ajah. Biar kita ngak khawatir sama kamu. "
Sari lagi lagi hanya mengangguk, setelah melepas pelukannya ia langsung memeluk ibu nya Anni. Dan setelah itu ia kembali menjadi patung, ia bingung harus berkata apa.
Di satu sisi ia senang karna bertemu kembali dengan keluarganya. Disatu sisi lain lagi ada masalah yang harus ia selesaikan, yaitu mak lampir yang ingin menjodohkannya.
Sari dengan kikuk menatap ke arah Aminah dan Aris, "Ma, Kak Aris,, i.. ini keluarga aku ju.. ga. " ucapnya kakuh.
Sari kemudian menatap keluarganya satu persatu, "Kak Ari, Mama Karin, Mama Anni, para Papi, Kak Sera dan Kak Ahmad,, kenalin ini Mama Aminah sama Kak Aris, ibu kandung serta kakak kandung aku. "
Aminah langsung terseyum hangat pada keluarga yang telah membesarkan putrinya, ia menjabat tangannya pada keluarga Sari dengan menghampirinya satu persatu.
Setelah itu dengan ramah ia mempersilahkan keluarga putrinya untuk duduk, ia bahkan melupakan sosok nak lampir serta para cecurutnya yang hanya bisa menyimak saja.
"Silahkan duduk! " ujarnya ramah.
Mereka kemudian duduk, setelah itu mereka berbincang bincang mengenai Sari atau apa saja yang menurut mereka menarik. Sedangkan Sari yang merupakan orang rumah, membuat minum serta makanan ringan untuk keluarganya. Ia tak sendiri, karna Sera juga membantunya.
Selama mereka didapur, kedua kakak beradik itu juga tidak terhindar dari yang nama nya merumpi dan bercerita. Tapi sebelum itu, Sera sudah terlebih dahulu meminta maaf pada Sari.
Di ruang tamu tersebut, para orang tua membahas banyak hal, mulai dari Sari sampai hal yang tak begitu penting untuk dibicarakan sekarang seperti kisah kecil mereka. Beda lagi dengan Ari, Aris dan Ahmad yang berbicara mengenai bisnis. Dan saat Ahmad dan Aris membahas tentang adat istiadat di daerah mereka, Ari yang beda pulau hanya bisa diam seribu bahasa.
"Ekhmm. "
Anni berdehem kemudian melayangkan senyum canggung.
"Maaf Mbak Aminah, tapi Ibuk ini sama__ " Anni menatap kearah Maryam dan keluarga Galu, "siapa yah? " tanya nya penasaran. Karna sepanjang mereka bercerita, mereka hanya diam.
"Oh, itu!! " Aminah tersenyum canggung sambil cengengesan. Ia bingung harus mengatakan apa, Maryam mungkin bisa ia sebut nenek Sari tapi keluarga Galu?! Mereka emangnya siapa Sari?! Ngak mungkin juga Aminah mengatakan kalau keluarga Galu adalah calon besannya.
"Oh, ya ya ya. " Karin tersenyum canggung. Karna tadi ia sempat berpikir jika wanita itu adalah seorang rentenir karna wajah antagonis yang melekat pada muka Maryam.
"Terus yang itu? " tambah Karin bertanya sembari menatap kearah keluarga Galu.
Sebenarnya ia sedikit curiga, karna tadi ia sempat mendengar keributan sebelum memasuki rumah ini. Dan firasatnya mengatakan jika Maryam dan satu keluarga yang belum ia ketahui itu adalah sumbernya.
"Kami calon besan nya Aminah. " ucap Galu sombong.
Maryam yang mendengarnya langsung melotot. Sedangkan Aminah langsung menyengkalnya, "maaf, tapi putri saya sudah menikah. Sejak tadi kan saya sudah bilang, lagi pula tadi kalian juga sudah takmau dengan putri saya sampai mengata ngatainya yang tidak tidak. "
Tak lama Sari dan Sera dengan membawa nampan. Setelah meletakkan minuman serta makanan ringan diatas meja, mereka langsung ikut bergabung.
Sari tentu mengambil tempat di samping sang suami, begitu juga dengan Sera yang duduk disamping suaminya. Dan gantian Aris yang merasa jengkel, karna hanya ia saja uang tak punya pasangan di barisan para anak.
"Mereka siapa Sar? " tanya Ari seolah tak puas dengan jawaban dari mertuanya barusan.
Sari menoleh pada Maryam dan keluarga Galu sebentar, kemudian ia kembali menatap Ari dengan wajah cemberut, "dia itu Mak lampir! " ketusnya sembari menatap Maryam malas. Persetan saja kalau ia dianggak cucuk durhaka.
"Masak yah Kak dia jodohin aku sama keluarga itu,, " cerita Sari, diakhir kalimatnya ia menoleh kekeluarga Galu.
"Padahal kan aku udah bilang kalau aku ini udah punya suami dan sedang mengandung. Tapi mereka malah nyolot sampe ngata ngatain aku yang enggak enggak lah. " tambah Sari dengan bercerita menggunakan suara cempreng yang begitu nyaring saat didengar.
"Benar begitu?! " Ari menatap tajam orang orang yang telah berani menghina istrinya tersebut.
Maryam gelagatan, jelas sekarang ia berubah haluan. Keluarga Sari ternyata keluarga konglomerat, jadi tentu saja ia tak akan menyianyiakan kesempatan untuk menjadi kerabat mereka.
Kenapa ia tahu kalau suami serta keluarga angkat Sari kenglomerat?! Ya, ia dengar saat tadi mereka berbincang bincang. Lagi pula baju yang keluarga Sari kenakan sudah menjelaskan jika mereka orang yang sangat berada.
"Maaf, Nak. Sari hanya salah paham saja. Saya tak berniat menjodohkannya,...- "
"Ngak usah bohong deh, Nek. " ketus Sari dengan menatap wanita yang sudah bau tanah itu tak suka.
"Kami sekeluarga merasa tertipu dan dihina disini. " ucap Galu tiba tiba.
"Kami datang kesini untuk membahas perjodohan antara anak saya dengan putri nya Buk Aminah. Tapi kami malah dihina, kami tentu saja tak terima. "
Sari melotot, lah mereka mengubah fakta guys. Jelas tadi Sari yang mereka hina dan katai sesuka hati.
"Ngak terbalik yah?! " ketus Aris yang mulai jengah dengan situasi sekarang.
Ck, Aris sangat benci dengan suasana seperti ini. Menerutnya ini terlalu dramatis, kebanyakan gimig serta seperti film azab dan sejenis nya.
"Bukannya kalian yang sudah menghina adik saya?! " tambahnya kembali.
Sari menganggukkan kepalanya pada Ari, "iya Kak, mereka ngehina aku. Mereka bilang aku sampah, bekas trus aku hamil luar nikah. " adunya dengan nada setengah kesal dan setengah manja.
Ari yang mendengarnya langsung menggeram marah. Berani sekali mereka menghina istrinya, Ari mendukung pendidikan Sari tapi mereka malah mengatainya sampah. Ari tak pernah membuang Sari dan ia mendapatkan Sari saat istrinya tersebut bahkan belum pernah berhubungan apapun, tapi keluarga tak tahu diri tersebut malah mengatai istrinya bekas. Dan yang lebih membuat Ari marah adalah saat mendengar Sari dikatai hamil luar nikah. Ari baknan sampai rela harus menikah mudah agar hal tersebut terhindar dari nya dan Sari. Meski kenyataannya sesudah menikah mudapun mereka tak melakukan apa apa selain seperti pacaran seperti anak remaja lainnya.
"Beraninya kalian menghina istriku!! " geramnya dengan menatap marah pada keluarga Galu.
"Cih, memangnya kau siapa sehingga kami takut dengan mu. " Edo menatap Ari dengan remeh.
Ari langsung berdiri dan menghampiri Edo, ia langsung melayangkan tinjunya berkali kali. Melihat hal tersebut, Karin dan yang lainnya sampai harus menahan nafas serta memekik kaget.
Beda lagi dengan Sari yang terlihat gemas, bahkan sesekali ia mengkompori suaminya agar terus memukuli pria bernama Edo tersebut.
"Siapa pun saya, kau tetap tidak berhak menghina istriku. " geram Ari dengan mencengkeram kerah baju Edo.
Edo meringis sembari menatap takut pada Ari, "li.. lihat saja. Saya akan bawa masalah ini kejalur hukum. "
Ari tersenyum remeh, "silahkan! Silahkan permalukan dirimu dan jebloskan dirimu sendiri kedalam penjara. "
Ia menyentak serta mendorong kuat Edo, membuat pria itu terbentur dengan bagian tepi sofa. Meski sofa nya empuk, tetapi tetap saja punggunya terasa panas karna punggungnya harus bergesekan dengan sofa.