
Author POV
Ali meraih tangan Sari lalu menggenggamnya, ia memasang puppy eyes, "Sar, cuma lo yang bisa bantu gue. Please! "
Sari menghempas kasar tangan Ali, "nyet, lo gak liat kak Ari lagi sama siapa?! Malu aku minjem nya, lo aja. " Sari membuang mukanya seraya bersedekap.
Kalau dari jauh mungkin Ali dan Sari akan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Wah, bahasa lo. Kayak gado gado, campur campur nyet. Kalo pake aku-kamu ya aku-kamu gak usa pake lo-gue lagi, dasar. " Ali mendegus kesal.
"Ye.., si onyet. Kan situ tau kalo aku ni orang sumatera utara yang suka makan pecel dan gado gado, es campur, nasi goreng dan segala makanan yang banyak campuran nya. "
"Gak nyambung dodol!! " Protes Ali cepat dengan mengangkat kedua tangannya setarap bahu dengan jari jari tangan yang ia kakukan sambil kepala yang mengada. Gemas dengan ke absurd sahabatnya itu.
"Makanya denger dulu Sukijan jangan dipotong. Dasar tukang ayam potong. Begini ya, karna diriku yang imut nan manis ini suka makan yang dicampur kayak pecel jadi bahasanya juga gitu, lebih tepatnya penggunaan katanya sik. Ngerti! " Sari menatap Ali kesal sambil bersedekap.
Ali melirik Sari dari ekor matanya, "Trus soal ngutang gimana? "
Sari membalas tatapan Ali dengan tatapan sinis, "Bodo amat lah. "
.........
"Huh, kamu lihat pacar kamu gimana. Didepan kamu ajah dia gak sungkan sungkan buat deketin cowok lain apalagi di belakang kamu. Aku yakin, ck ck ck, aku yakin udah banyak laki laki yang sudah ia godain. Yah, kalau dilihat dari tingkahnya emang pantas sik Sari di panggil cabe eh wanita penggoda juga kali yak. " Miska berkata dengan nada meremehkan. Ia berharap setelah ucapannya tadi, Ari akan membuka mata dan meninggalkan Sari. Dan ia berharap semoga saja Ari berpaling padanya yang jelas cantik dan bukan golongan cewek murahan.
Mngkin Miska berpikir hati mudah berpaling seperti membalik kerupuk di penggorengan.
Ari diam dengan rahang yang sudah mengeras. Ia berusaha untuk tidak meledak, jelas ia tak terima ada orang yang menjelek jelekan istrinya. Yang tahu Sari itu cuma dia dan keluarnga nya. Dan yang tahu semua hal tentang Sari mungkin cuma Ari seorang. Dan siapa Miska yang seenaknya dan sok tahunya menjelek jelekkan Sarinya.
Ari menatap Miska tajam dan menusuk, "tahu apa lo soal Sari. " Ia berkata dingin dengan pandangan tajam yang masih mengarah pada Miska.
Miska menegung salivanya kasar, ia tidak menduga emosi Ari akan lebih muda terpancing jika membahas Sari. Jika sudah begini, Miska lebih memilih diam daripada menjadi bahan amukan Ari.
"Jawab! " Miska diam tak berani mengeluarkan suaranya, ia menatap Ari takut.
"JAWAB! Tahu apa lo soal Sari. " Ari meningggikan suaranya, ia membentak Miska membuat gadis itu tergelonjak laget dan spontan berdiri. Renra dan Aldi yang juga kaget ikut berdiri.
Miska meremang, ia menegug kembali salivahnya kemudian menundukkan kepalanya~ takut bertatap muka dengan Ari yang sudah berubah jadi devil.
"Lo bisa ngomong ngak! " Ari menggeram marah.
"TAHU APA LO SOAL SARI, HAH. " kembali Ari membentak Miska dengan kalimat yang sama.
Ari berdiri, ia menatap mengetatkan rahannya dan mengepalkan tangannya kuat. Ari menatap Miska dengan nyalang, sedangkan gadis malang itu sudah gemetar karna ketakutan.
Miska menoleh asal, agar tidak bertemu dengan mata tajam Ari. Ia kembali menelan salivanya kasar, tidak menyangka aari akan semarah ini. Miska sudah ingin menangis karna takut, bahkan air matanya sudah ada dipelupuk. Hanya saja ia masih menahannya karna malu bila menangis di depan umum. Masih bisa malu ya si Miska?
"Aryan tengan Ar. " Renra menepuk punggung Ari pelan untuk menenangkannya, mungkin bila posisinya sama dengan Ari ia juga akan melakukan hal yang sama.
Tapi sekarang posisinya bukan diposisi Ari. Posisi Renra dan Aldi sekarang adalah sebagai seorang teman dan sahabat yang akan menenangkan Ari dari merahannya.
"Loh, kak Ari kenapa? "
"Kak Renra sama kak Aldi juga kenapa? kok pada tegang begini? " tanya Sari yang baru sampai, ia bingung melihat Ari yang terlihat seperti iblis atau setan mengamuk. Sebenarnya ia takut melihat Ari, jujur Ari sangat menyeramkan.
'Gara gara lo!' Sebenarnya Miska ingin mengatakan itu, tapi ia terlalu takut untuk mengeluarkan suara.
Runtuh sudah pertahanan Miska, air matanya meluncur deras. Dengan cepat, ia menyekat air matanya, "ini semua gara gara lo. " ucapnya memberanikan diri pada Sari, kemudian ia segera berlari dari sana.
Ia berjanji tidak akan mau bertemu dengan mereka lagi. Cukup hari ini ia merasa sakit, malu, takut dan kecewa hanya karna gadis bernama Sari itu.
Sari menatap kepergian Miska sambil menggarut garut kepalanya tidak paham, "loh kok aku?! demam kali tu anak. " Gumannya pelan, kemudian ia mengacungkan bahu tak peduli.
Sari menatap Ari yang masih berdiri kaku dengan ekspresi datar dan tak tersentuh. Dengan ragu, Sari berjalan ke arah Ari. Ia mendongak menatap Ari, lalu ia meraih lengan Ari, "kakak kenapa?? "
Ari mendongak ke atas, ia mengedip edipkan matanya lsesaat untuk mereda emosi. Lalu ia menoleh ke arah istrinya yang masih menatapnya dengan raut wajah bingung bercampur cemas.
"Gak papa. " Ari berkata dengan nada ketus.
Sari memicingkan matanya, "gak ada tapi kok ketus gitu sih. "
Ari menghela napas, tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Sari, itu hanya menambah masalah.
"Dari mana. " Ari berkata datar dan mengalihkan pembicaraan.
"Hah? " Tersadar dengan maksud pertanyaan Ari, Sari langsung menatap Ali dengan malas. Ia hampir lupa jika tadi teman tuyulnya meminta pinjaman uang padanya dan masalah nya sekarang ia tidak membawa uang jadi ia harus meminta nya pada suami nya. Tentu saja bagi Sari ini tidak mudah. Jika Arinya tidak mau meminjamkan uang bagaimana? Ia bisa malu kan.
"Oh...- " Sari menyikut perut Ali yang sedari tadi hanya diam. Ali menatapnya dengan ekspresi yang mengatakan 'apa?'. Sari berdecak, kemudian memutar bola mata malas.
"Kak itu ak...- " Sari jadi terdiam saat memandang raut wajah Ari yang datar, sepertinya tidak bersahabat.
"Gak jadi deh. " Ucap Sari kembali setelah ia pikir pikir sebentar.
"Katakan saja. " Ari menatap sari dan Ali bergantian. Bukan mencurigai istrinya selingkuh tentu ia sudah mengetahui hubungan Sari dan Ali yang hanya sebatas teman.
Ia hanya memastikan saja tidak terjadi apa apa pada istrinya.
Sari menoleh ke arah Aldi, yang ternyata sedang menatapnya juga dengan bingung. Sari cengir, "hehehehe. Kak Ald, Ali tuyul mau ngut eh minjam uang sama kakak. "
Ali seketika menatap horor Sari. Ouc terpental sudah harga dirinya, padahal tadi sudah disepakati Sari yang akan meminjam uang pada Ari dan mengatas namakan dirinya sendiri bukan Ali.
Aldi menatap ali konyol. Yang benar saja!! Ali kan kan anak orang kaya, banyak uang. Dan Aldi tahu itu karna Ali itu sepupunya, "lo mau ngutang sama gue? brapa? " Aldi merogok sakunya.
"Bukan bang maksudnya kak. Oi Sar, lo malu malu in ajah. " Ali menatap kesal sari.
Sari cengengesan ia menjulurkan lidah mengejek Ali, namun tidak sadar ia mengalungkan tangannya di lengan Ari dan menyandarkan kepalanya disana, "hehehe, emang benar kan lo mau ngutang eh minjam. Udahhh buruan Li, nanti Susi nyariin lo. " ia melayangkan senyum kemenengannya yang membuat Ali menatapnya kesal.
"Yauda deh, 300.000 ribu aja kak. Besok gue balikin. " Aldi langsung menyodorkan uang pada Ali sesuai permintaan sepupunya itu. Sebelum Ali pergi ia sempat menatap Sari dengan tatapan permusuhan yang hanya dibalas Sari dengan kembali menjulurkan lidanya dan pelototan mata.
Tanpa ia sadari sikap nya tersebut membuat ari terkekeh geli. Bagaimana tidak?? istrinya ini sangat lucu dan menggemaskan baginya, hanya baginya, untuknya dan aggapannya.
"Kita pulang. " Ari menoleh pada kedua sohibnya, "kami duluan. " Ari menarik tangan istrinya dan pergi.
********
"Wahhh, makanan. " Mata Sari berbinar binar menatap beberapa jenis makanan yang masih ada didalam kulkas.
"Mari kita pesta pora cacing ku. " Sari mengambil beberapa makanan jenis roti dan satu kotak kue meranti gulung lalu letakkannya diatas meja.
"Mau duluan makan yang mana ya? " Celutu nya pada dirinya sendiri. Ia membuka kotak kuenya, ia menepuk tangannya gembira dengan matanya yang berbinar. Namun saat hendak mengambil kuenya ada tengan yang lebih dahulu mengambil satu potong kuenya. Seketika Sari menoleh, ia molotot bahkan mulutnya menganga tidak terima bercampur terkejut.
Dengan santainya dan tanpa merasa bersalah Ari memakan kue yang baru ia ambil dari kotak di depan Sari, tidak tahu saja bahwa pemilik kue belum mencoba bahkan menyentuhnya.
"Haaaa!! " Sari melongok tidak percaya, padahal. Ari sudah memakan habis satu potong kuenya. Sungguh suaminya ini diluar ekspedisi kuning datang datang langsung menyelonong langsung memberantas satu potong kuenya.
Ari menatap bingung istrinya yang masih menatap nya juga, "Apa? "
"Kak, kakak makan kue ku lo. "
" trus. "
"Ya kan itu kue buat aku. Aku aja belum nyoba eh kakak datang main nyelonong aja, datangnya aja entah sejak kapan. Tapi intinya itu kue kepemilikan Sari. " gerutu Sari, ia kembali menoleh ke arah kotak kuenya saat Ari kembali mengambil satu potong lagi.
Ari menelan kue dimulutnya, kemudian menatap Sari, "sudah? "
Meski tak paham, Sari menganggukkan kepalanya.
"Kue ini milik kamu? " Ari menatap Sari dengan alis yang ia naikkan. Sari kembali menganggukkan kepalanya, namun kali ini ia sedikit ragu.
Mata Sari mengikuti arah tangan Ari yang kembali mengambil potongan ke tiga kuenya. Ia tak rela tapi tak bisa berbuat apa apa, guys.
"Kamu milik siapa? " Ari menggit kue di tangannya kemudian menatap Sari dengan datar.
Sari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia harus jawab apa? Sampai kapanpun ia akan menjadi milik sang pencifta, tapi tidak mungkin ia menjawab milik tuhan karna pada dasarnya semua makhluk dan semesta adalah milik sang pencifta. Dulu ia adalah milik kedua orang tuanya tapi sebelum ia menikah. Dan sekarang ia sudah menikah jadi sekarang ia adalah milik....-
"Ka..kak. " ucap nya ragu setelah memikirkannya selama lima menit.
"Humm. Dan artinya.. " Ari menatap Sari membuat istrinya itu menjadi kikuk.
"Milik Sari juga milik kakak. " Ok, kenapa Sari bisa lancar?! Karna sebelumnya Ari pernah mengatakan hal yang demikian. Jadi Sari masih mengingatnya.
"Terus. " Ari kembali mengambil satu potong kue lagi, dan kembali mata Sari mengikuti pergerakan tangan Ari yang mengambil kue nya.
Sari melototkan matanya melihat hanya ada dua potong kue lagi yang tersisah, "terus apa? " ucap Sari tanpa sadar dengan nada syok.
Ari menatap istrinya datar, kemudian ia mengubah ekpresinya menjadi senang. Senang karna bisa membuat istrinya kesal.
Saat tangan Ari terulur ingin mengambil potongan kue lagi, dengan cepat sari mencegatnya, "ngak. Kakak udah makan banyak. " Sari menghempaskan tangan Ari sedikit kasar, kemudian ia mengambil kotak kue didepannya dan menjauhkannya dari Ari.
Ari berdecak, ia pura pura kesal, "pelit."
"Kakak udah makan banyak. " Galak Sari.
"Masih lapar. "
"Lapar yah makan. "
"Kamu ngak masak. "
"Oh iya ya. Umm, yaudah maaafkan daku yang tak memasak ini membuat suami jadi kelaparan. " Sari menundukkan kepalanya sekali. Kemudian gadis imut itu menatap kotak kue di tangannya yang menyisahkan dua potong kue. Ia mengambil satu potong kemudian membarikannya pada Ari.
"Nah, untuk kakak. Sebagai tanda permintamaafan Sari yang ngak masak makan malam. " Ucapnya sembari tersenyum lebar. Ari menerima kue tersebut, ia tersenyum pada sang istri kemudian memakan kue pemberian Sari tersebut.
Ari menatap istrinya yang sudah sibuk dengan sepotong kue ditangannya. Ia menggelekkan kepalanya melihat tingkah dan ekspresi Sari yang sedikit berlebihan saat memakan kue tersebut.
Tapi hatinya bahagia, sangat malah. Mungkin Sari tidak sesempurna pemikiran kalian. Karna ia hanya gadis yang memiliki banyak kekurangan. Tapi yang menjadi nilai plus nya adalah ia seorang gadis yang ceria, banyak tingkah, banyak ulah pulak, menggemaskan dan juga imut. Ia juga bukan gadis yang sangat cantik seperti cinderella dalam dongeng yang bisa membuat pangeran jatuh cinta pandang pertama. Ia hanyalah gadis manis sederhana dengan tingkah ajaibnya bisa membuat seorang aryansah wijaya jatuh cinta pada pandang pertama.
jangan lupa comen dan vote yahhh😁😁
penting tuh, penambah stamina nulis author loh. Sekalaian penambah semangat Author.