
Selamat membacaπ
"Apa!! "
Teriak Aminah dan Aris secara histeris. Mereka berdua sama sama menatap Sari dengan shock.
Sari menganggukkan kepala nya lesuh, "yah, aku udah nikah Mah. "
"Subahanallah!! Putri ibu eh maksudnya mama ternyata udah bersuami. " Aminah memeluk Sari sembari melebarkan senyum senang di wajah nya.
Sari membalas pelukannya, saat berada dalama pelukan sang ibu rasanya ia begitu damai dan tenang. Sangat nyaman dan hangat.
"Trus suami kamu mana, Sar?! Sama itu loh, kamu disini suami kamh tahu ngak?! "
Sari melepas pelukan sang ibu sembari menatap Aris dengan cengengesan.
"Humm, sudah kuduga! " ucap Aris dengan dengusan saat melihat ekspresi sang adik.
Sari kembali cengengesan, "hehehehe.. keenakan disini jadi lupa ngabarin dia. Hehehehee... "
"Haduhh, punya adik dodol amat yah! " guman Aris pelan.
"Astagfirullah, Sar!! Jadi istri kok ceroboh amat!! Kamu ngak kasi kabar sama suami kamu, kalau dia khawatir gimana? " omel Aminah, sedangkan Sari hanya menggaruk pipi nya yang tak gatal.
"Ya.., biarin ajah. Lagian hp aku ketinggalan. " ucap Sari tanpa merasa bersalah.
Pletak'
"Aduh!! " ringis Sari sembari menatap ibunya yang sudah melototinya galak.
"Alasan kamu!! Kalau hp kamu tinggal kan bisa hubungi lewat hp mama. " galak Aminah.
Sari menelan ludah nya, ternyata kegalakan sang ibu sudah ber efek padanya.
"Atau jangan jangan kamu sama suami kamu lagi ada masalah. Waktu itu kan mama bilang kalian jumpa di taman sama mama. " Aris bersedekap sembari menatap sari dengan menyipit.
'Nih abang aku udah kayak dukun beranak ajah. Tebakannya mujarap bin benar! ' batin Sari seraya menatap shock ke arah Aris.
"Huahhh!! Aku ngantuk. " Sari kemudian berdiri lalu dengan cepat ia melarikan diri dari sana.
"Sari!! " teriak sang ibu yang masih ingin mewawancarai putrinya.
..................
Sari mengunyah makanannya, ia kemudian menegug air dalam gelas didepannya. Sari menelan makanan dalam mulutnya dengan susah paya, pasalnya semenjak ia bangun sampai sekarang Aminah tak henti hentinya untuk menyuruh Sari agar menghubungi Ari.
"Mah, aku tuh lagi makan. Jadi hubungin kak Ari nanti ajah. "
"Yaudah kamu makan, biar mama yang bicara sama suami kamu. Sini nomer nya?! " Aminah sudah bersiaga untuk menelpon menantu nya.
"Sari, kasi nomer alaklaimu (suamimu). " Aminah menatap Sari galak.
Sari menegug minum nya sampai kandas, ia kemudian melayangkan cengiran pada sang ibu.
"Aku ngak hapal. Hehehehe... "
Baik Aminah dan Aris sama sama melototkan mata, "tayap!! " ucap ibu dan anak itu seraya menggelengkan kepala tak percaya.
Tayap (santai tingkat overdosis)
"Tapi tenang mah. Aku hapal nomor mertua aku kok. " Sari kembali melayangkan cengirannya.
Aminah hanya menatap sang putri dengan horor sembari menyodorkan hp nya pada sang putri. Ia hanya sedikit shock karna sang putri yang begitu terlalu santai dan bodo amat sampai_sampai nomor suami saja tak hapal. Tapi dalam hati Aminah bersyukur, dalam hal ini Aminah bisa prediksi jika hubangan Sari dan mertuanya sangat baik.
"Halo, ini siapa? "
"Ha.. halo mah. " kikuk Sari. Padahala tadi ia berencana akan memberi ponsel tersebut pada Aminah agar Aminah saja yang berbicara dengan ibu mertuanya. Tapi saat mendengar suara ibu mertuanya, tiba tiba Sari jadi ingin berbicara dengannya.
"Sari!! "
Terdengar pekikan tak percaya dari sebrang sana.
"I..iya mah, ini Sari. " lagi lagi Sari berucap dengan gelagatan.
"Astaga, sayang!! Kamu dimana? Mama sama yang lainnya nyariin kamu loh. " suara dari sebrang sana yang terdengar bergetar.
Sari mengerjapkan matanya saat rasanya bulir air matanya ingin menerobos keluar. Sekarang Sari benar benar merasa bersalah, pasti orang tua serta mertuanya sedang mencemaskannya.
"Aku.. emm.. aku ada-- aku ada di rumah emm rumah mama Aminah. "
"Mama Aminah? Siapa, Sar? Tapi kamu baik baik ajah kan?! Kamu kirim alamat nya biar mama datang jemput kamu. Mama khawatir sama kamu!! "
"I.. iya mah. Kita bicara pas mama udah nyampe ajah yah. "
"Iya sayang. "
"Assalamualaikum, ma. "
"Waalaikumsalam. "
Tut' '
"Ini Mah. " Sari menyodorkan ponsel ditangannya pada Aminah.
Aminah mengambil ponselnya kembali, "kalau gini kan mama tenang jadinya. " ucapnya seraya menatap Sari jengkel.
"Iya mama cantik, Sari minta maaf! " Sari berkata dengan nada cemberut.
"Yaudah, sekarang kamu ikut mama ke depan. Mama masih mau cerita sama kamu. Dan Aris, beresin meja makan. " Aminah berdiri kemudian mengajak Sari agar mengikutinya keruang tengah.
"Lah kenapa jadi aku yang beresin. Em, Ma!! Aku cowok mah, anak mu ini cowok. Eh, Ma!! Mama aku cowok!! " pekik Aris histeris sembari menatap horor kedua perempuan yang berjalan menajuh dari ruang makan.
Aminah menoleh galak pada Aris, "yang bilang kamu bencong siapa? Kamu disuruh beresin meja ajah udah kayak orang ditinggal nikah ajah. "
"Ya kan mana ada sejarahnya cowok kerjain pekerjaan cewek! " protes Aris enggan melaksanakan perintah Aminah.
"Maka dari itu, biar kamu masuk sejarah beresin meja makan sekarang!! " garang Aminah.
"Biar Sari aja, Mah. Bentar doang ini! " usul Sari tak enak.
"No!! Mama ngak mau ambil resiko, kamu lagi hamil! " bantah Aminah dengan menatap Sari melotot.
Sari menggaruk kepalanya, selain punya suara menggelegar ibunya juga punya tatapan horor guys.
Oh, iya. Soal kehamilan Sari,, ibu dan abang nya memang sudah tahu. Karna Sari sudah memberitahunya saat ia dan ibunya tadi menyiapkan sarapan pagi.
"Baik, aku ajah yang beresin. Kamu sama ibu eh mama ke depan ajah, kasian juga nanti babere' ku kalau emaknya sampe kecapean. " Aris berujar manis, dan dengan cekatan ia mulai membereskan meja makan mereka.
Babere (keponakan. )
Sedangkan Aminah langsung membawa Sari ke ruang tengah.
M**aaf part nya dikit, soalnya author lagi ngak mood bener. Jaringan didaerah author mendadak ngilang ditiup angin, itu juga alasan kenapa author ngak up dua hari ini. Maaf banget yah buat para readers, πππ
oke, klen jan lupa Like coment dan vote yang banyak yah! share juga keteman temannya, agar Ice Senior is My husband semakin rame.
yu dadada byebye!!π**