Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
41



Author pov


   Sari menghapus air matanya kasar, ia sungguh tidak pernah berpikir Arinya akan pergi meninggalkannya. Dan sekarang bahkan suaminya sudah berkemas. Bahkan semalam saja Ari meninggalkannya ia tidak bisa bernapas legah apalagi kalau suaminya akan meninggalkan nya selama beberapa tahun bisa bisa ia tidak bernafas lagi.


Sari kembali menghapus air matanya. Sekarang bahkan ia tidak mampu berkata kata ia hanya dapat memandang suaminya yang sedang sibuk mengemasi pakainnya kedalam koper.


Mencegahnya?? tidak!! Tidak mungkin, ia tidak mungkin menjadi penghalang untuk mimpi suaminya. Katakan saja dirinya sudah termakan oleh omongan Sera kemarin tapi memang kenyataannya bila ia mencegahnya suaminya sama saja kan ia jadi penghalang.


Lalu bagaimana dengan hatinya?? Sedih, yah kata itulah yang tepat untuk menggambarkan keadaan hatinya, tapi inilah yang harus ia terima dan yang harus ia rasakan. Sari akui ia tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintai suaminya secara terang terangan tapi sesungguhnya ia sangat sangat mencintainya lebih dari dirinya sendiri. Bagi Sari, Ari itu ibarat air yang ada digurun pasir yang dapat melegakan rasa haus didahaganya, air yang sangat penting untuk bisa bertahan di teriknya matahari. Tanpa Ari bisa dikatakan Sari hanyalah sendiri, sepih dan benar benar hampa.


"Kak,, Kakak benar mau pergi? " Sari mengusahakan agar suaranya tidak terdengar gemetar karna sedang menangis.


"Humm. " hanya itulah yang keluar dari mulut Ari. ia bahkan enggan menoleh ke arah Sari yang berdiam diri bak pengemis di depan pintu kamar mereka.


Sari menatap sendu suaminya lalu ia pergi keluar dari kamarnya, mendengar Ari mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar negri saja sudah mampu menggunjang hatinya apalagi bila menyaksikan kepergiannya.


.........


     Sari menekuk lututnya kemudian memeluknya, ia meletakkan dagunya disana sembari menatap lurus kedepan. Ia berusaha menahan gemuruh dalam hatinya, jelas ia tidak boleh bersedih. Suaminya pergi bukan untuk meninggalkannya hanya untuk menuntut ilmu.


"Jangan egois, Sar. "


"Bukan egois Kak, tapi kan Kakak yang bilang kalau Kakak kuliahnya disini ajah. "


"Aku berubah pikiran. "


"Kenapa? "


"Karna hidup aku bukan tentang kamu saja. " Ari menatap tajam Sari sekilas, kemudian melanjutkan aktivitadnya yang tertunda.


"Oh. "


Sari langsung menyekat air matanya yang terjatuh karna mengulang kembali percapannya tadi dengan Ari dalam pikirannya.


"Karna hidup aku bukan tentang kamu saja. "


Kalimat itu kembali menggentanyangi kepala Sari. Kalimat terpedas yang pernah Ari katakan pada Sari. Tapi memang benar jika hidup Ari bukan tentang Sari saja.


Mungkin Sari tak akan sesedih ini jika Ari akan pergi bukan dalam keadaan dingin padanya. Sari benar merasa aneh, karna Ari tiba tiba dingin padanya dan akan meninggalkannya. Jika Sari ada salah, kenapa Ari tidak mengatakannya?! Kenapa ia tidak menegurnya?! Menasehatinya?! Selama ini kan Ari selalu begitu jika ia berbuat salah. Dan lagi, jika Sari benaran ada kesalahan maka Sari tak akan sungkan minta maaf pada Ari. Jikalaupun berlutut dibutuhkan, asal Arinya tak bersikap dinging dan pergi meninggalkannya.


"Aku ada salah yah sama Kakak?! "


"Berisik!! " bentak Ari untuk pertama kalinya.


Sari terkesima, untuk pertama kalinya Ari membentaknya. " Oh. "


Sari memukul kepalanya bertubi tubi saat pembicaraannya dengan Ari tadi memenuhi otaknya.


Sari memegang kaki meja, kemudian ia sedikit menyembulkan kepalanya disana untuk menatap kaki Ari yang keluar dari apart mereka dengan menyeret koper. Sari terus memperhatikannya hingga suaminya tak terlihat, hilang dibalik pintu.


Sari kembali menangis, "jahat!! " maki nya kearah pintu, membayangkan jika itu Ari.


Sari menggigit bibirnya agar tak menjerit histeris, bagaimanapun hati terluka dengan sikaf Ari yang berubah dingin dan tiba tiba meninggalkannya. Ia menangis menjadi jadi, ia histeris.


Setelah merasa sudah cukup untuk meluapkan kesakitannya, Sari keluar dari bawah meja. Ia berdiri kemudian melap air matanya lalu merapikan penampilannya.


Yah, tadi Sari menangis dibawah meja makan mereka. Ia sengaja berada disana untuk menghindari Ari yang akan pergi sekaligus bisa menyaksikan suami jahat nya itu pergi tanpa harus terlihat menyedihkan didepan Ari.


*


*


*


      Ari menoleh saat Sari melangkah pergi dari kamarnya. Ia menatap Sari senduh bahkan air matanya sudah berkumpul hanya tinggal menetes dan terjun saja. Ia menatap langit langit kamarnya, mengacak gusar rambutnya. Ia tidak menginginkan ini, bahkan ia tidak mau jauh dari istrinya tapi mengapa egonya tidak mau kalah, mengapa??


Ari melorotkan dirinya kelantai bersamaan dengan air matanya yang juga jatuh. Ingin rasanya ia berteriak, ingin ia mengatakan menyesal karna sudah mengambil keputusan ini, namun lagi lagi egonya tidak mau.


Ari mengapus air matanya, ia tertawa miris begitu bodohnya dirinya karna sudah menangis. Belum tentu orang yang menjadi alasannya menangis itu peduli padanya. Yah, tidak mungkin Sari peduli padanya oh bahkan mungkin gadis itu akan bahagia bila ia pergi. Gadis itu akan merasa bebas yah ia tidak akan di batasi oleh Ari lagi ia juga bahkan bisa berpacaran sesuka hatinya dengan siapapun bila Ari pergi.


Kembali Ari tertawa miris, mengingat saat itu membuat nya semakin sakit lebih baik ia segera berangkat.


"Ah mungkin saja dia sudah pergi merayakan kepergianku, huh. " batin Ari dengan ersenyum kecut lalu melangkah keluar .


*


*


*


*


*


    "Nak,, kamu tunda ajah ya keberangkatan kamu. Atau sekalian ajah batalin buat kuliah di negri orang. Kuliah nya disini ajah ya!! " bujuk Karin yang tak direspon oleh putranya.


"Tan,, seharusnya dukung Ari dong yang mau mengejar mimpinya. " Ucap Sera sedikit kesal, ia tidak akan membiarkan siapapun mempengaruhi Ari karna hanya dengan ini ia akan bisa bersama Ari nya. Yah, Arinya bukan Ari adik sialnya.


Katin berdiri, ia menatap Sera dengan mata yang memerah karna habis menangis, "sebaiknya kamu diam, kamu gak tau apa apa. " gusarnya yang tak tertahankan lagi. Entah ia gusar karna keputusan putranya atau Sera yang ikut campur. Tapi intinya, Karin benat benar gusar.


"Sera!! Kamu jangan ikut campur dengan yang bukan urusan kamu. " tegur Baim dengan menatap Sera memperingati. Putrinya benar benar tidak tahu caranya menjaga sikap dan ucapan.


Sekarang ia, istrinya dan Sera sang putri sulung memang sedang di bandara untuk berangkat ke jepang sekalian mengantar keberangkatan menantunya dan putrinya yang akan pergi ke london untuk kuliah disana. Memang putrinya tidak jadi melanjut kan kuliah di jepang karna katanya kuliah dilondon merupakan impiannya. Ia sebagai orang tua hanya bisa pasrah dan mendukung serta mendoakan yang terbaik untuk  purtinya.


"Ari, kamu nurut ya sama Mama. Kamu tunda ajah ya keberangkatan kamu,, Sari belum datang soalnya. Yah nak! " air mata Karin kembali menetes, ia tidak habis pikir dengan putranya yang sangat tega meninggalkan istrinya. Ia juga tak bisa membayangkan betapa sedihnya Sari sekarang.


"Dia tidak akan datang Mah. "  Ari berkata tanpa mau menatap muka ibunya,  ia tidak tahan melihat keadaan ibunya sekarang.


Ingat!! Ari anak mami yang cengeng, meskipun ia seorang pria.


"Sudahlah Karin! Biarkan saja dia pergi. " Alan berkata sembari mengelus punggung sang istri untuk menenangkannya. Sebenarnya Alan juga sangat tidak mendukung keputusan putranya yang rada gila, tega meninggalkan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi ini juga termasuk jadi impian sang putra tidak mungkin ia menghalagi impian putranya.


"Trus Sari gimana?! Kalian sik gak mikirin dia. Mama yakin Sari sekarang sangat terpukul sama keputusan kamu dan sekarang dia tidak datang juga pasti karna tidak kuat melihat kamu pergi meninggalkannya. " Karin menatap marah pada putranya.


Tiba tiba pendangan Karin melunak, ia menatap sang putra dengan senduh, "Ar, Mama mohon!! Jangan pergi yah nak. Pikirkan Sari, perasaan dia jika kamu ninggalin dia. " mohonnya pada sang putra dengan suara bergetar.


Padahal orang tua Sari saja tidak seperti dirinya, bahkan mereka hanya diam seolah tidak memikirkan putri mereka yang akan berpisah jauh dengan suaminya. Ia sebenarnya sedikit jengkel dan kesal pada orang tua Sari yang sedari tadi hanya menonton dirinya yang sedang mati matian membujuk putranya seolah mereka sedang menonton drakor atau sereal india sajah.


Semuanya terdiam, saat suara yang mengintruksi untuk penerbangan ke london segera berangkat.


"Mah, Pa,, Ari pergi. Jaga kesehatan kalian. " Ari menyalim tangan kedua orang tuanya dan mertuanya lalu pergi melangkahkan kakinya.


Karin semakin terisak melihat punggung anaknya yang melangkah semakin menjauh dari nya. Sedangkan dilain tempat yang sedikit jauh dari mereka, seorang gadis juga sedang menangis tanpa suara. Ia hanya membiarkan air matanya jatuh bebas tanpa ada suara isakan yang keluar dari mulutnya.


Sari, gadis itu ingin berteriak memanggil nama suaminya dan mencegatnya namun ia tidak sanggup. Ia bahkan hanya bisa memandang kepergian suaminya dari jauh saja.


"Selamat mengejar impian Kak, aku mencintaimu. Sangat! " gumannya pelan, masih berdiri ditempatnya dengan pandangan masih tertuju pada kepergian suaminya.


**************


"Maafkan Mama ya Sar. Mama sebenarnya sudah membujuk Ari tapi dasar Arinya keras kepala. " Karin menatap sendu menantu kesayangannya.


"Maafin Mama, Sar. " air matanya kembali menetes.


Tangan Sari segera mencekal air mata mertuanya, melihat air mata mertuanya membuat hati hanya semakin pilu. Ia tidak tahan membiarkan mertuanya menangis, karna bagi Sari mertuanya sekarang adalah orang tuanya dan Sari tak akan kuat melihat orang tuanya menangis.


Sari segera ia merangkul dan mengusap sayang punggung mertuanya, "Mama kok minta maaf sik? Kan Mama gak salah, Kak Ari juga ngak salah. Karna Kak Ari kan cuma mau kejar mimpi doang. Paling juga beberapa tahun lagi pulang, atau pas lebaran juga pulang. " ucap gadis itu sok tega,  padahal ia sudah mati matian menahan diri agar tidak menangis.


Karin tersenyum lembut, ia menatap lekat lekat menantunya. Dalam hatinya ia sangat bersyukur punya menantu seperti Sari, "humm, kalo gitu sekarang kemas baju kamu. "


Sari mwnatap Karin dengan mengeryit bingung, "Untuk apa, Mah?? "


"Ya agar kamu pindah kerumah Mama. " jelas Karin.


"Ais, kok pindah?! Kan ini rumah eh maksudnya apart nya Sari sekarang Mah. " Sari menautkan alisnya dengan menatap sang Mami mertua yang juga menatapnya dengan gemas.


"Emang kamu berani tinggal disini sendirian?! Trus kalau ada hantu gimana?! kalo gak salah kamu kan penakut. Uda deh, kamu lambat biar amama aja yang kemas baju kamu. " Karin berdiri kemudian melangkahkan kakinya kekamar Sari untuk mengemasi baju gadis itu.


Sari sedikit melogo, kalau sudah menyangkut hantu dan kawan kawannya yang tidak lain adalah para pembaca, Sari mah langsung oke oke ajah buat pindah. Bisa gila dia, jika lama lama  tinggal sendiri dengan ketakutan yang luar biasa dan dikelilingi makhluk halus itu.


ok, jan lupa vote, coment, dan suka yahh😉