
**Aku memandang sekeliling. Aku membelalak, What!! Hotel guys!! gapain dia bawa aku ke hotel?! Bukan mau nyantet aku kan?! Eh salah, santet kan kedukun bukan ke hotel. Kecuali dukunnya tinggal di hotel.
Aikk, omg gatzwat!! jangan- jangan*...----
Sebelum kalimat jangan jangan ku lanjut dan akhlak tercelaku souzon di catat malaikat, kak Ari sudah menyeretku masuk kedalam dengan ke adaan otakku yang sedang perang dingin.
Sepertinya dihotel ini sedang berlangsung acara pesta mungkin atau ada orang yang nyewah buat nikahan kali yah.
Au ah gelapp!!
"Masuk!! " sebelum masuk ke salah satu kamar di hotel ini , aku menoleh ke dalam. Aku membulatkan mataku.
Mama sama papa dan itu kan tante wijaya sama om wijaya kok disini yah.
"Uma, papa?! Kok disini? "
"Sayang kamu masuk dulu ya baru kita bicara. " kata mama padaku dengan senyuman tulus di bibirnya. Aku langsung menuruti perintah mama.
"Aryn, kamu langsung siap siap saja gih. "
aku menoleh pada tante Wijaya kemudian ke arah kak Ari. Ada yang membingungkan tapi karna otakku tak sepintar Thomas sipenemu lampu (bukan Tom di kartum Tom dan jerry yah) maka aku cuma bisa nyimak tanpa paham.
"Iya mah. "
Humm, Kak Ari manggil tante Wijaya, itu artinya Tante Wijaya adalah Mamanya kak Ari. Baik, sampai disini aku paham. Yah, kepintaranku tak setarap dengan Thomas tapi ternyata beda beda tebal dengan leonardo da vince.
Tunggu dulu!! Masih ada yang aneh,,
What, what, what,, APA???? Mama?? No, Kenapa dunia sesempit ini?! Ini tidak adil, arggg...........---
Stop!! **** aku lebay banget. Udah kayak film az*b saja diriku ini.
Dunia memang benar benar sempit, mengalahkan sempitnya celana dalam.
Ku lihat kak Ari sudah pergi dan sebelum pergi dia menutup pintu. Kembali ku tolehkan pandanganku pada Mama dan Papa.
"Kok uma sama papa trus tante sama om disini yah?! Trus mama mau bicara apa ya ke Sari? "
Sepertinya ini akan ada open Q&A. Atau wawancara dadakan. Atau sudah!!! makan dulu sana ada mi ayam spesial tuh, pok pok pok!!
Dan akhirnya karna jam menunjukkan pukul 15:05 penyakit gila ku kumat. Tapi boong!
"Sebelumnya mama mau bilang kalau papamu harus segera di operasi, lihat kan papa mu sangat pucat. "
Waras mode on!
Aku langsung menoleh ke arah papa yang sedang duduk di kursi roda dengan wajah pucat.
Ck kalau menyangkut penyakit papa pasti bawaannya sedih.
Mama melanjutkan kalimatnnya, " jadi,, untuk itu kamu harus nikah sama aryan anak om sama tante wijaya. "
Apa?!
Nikah?!
Masih bau kencur gini udah disuruh nikah,, amsyong dah. Lagian apa hubungannya cobak nikah sama penyakitnya papa. Kalau kata Roy Kiosi sih 'aku mencium aroma aroma ketidak masuk akalan' .
kejutan apa ini, Padahal ulang tahunku masih lama.Ini siapa yang ulang tahun sik, kok banyak banget yah kejutannya.
"Dan pernikahan kalian akan dilangsungkan dihari ini, Mama sudah perna membicarakan perjodohan kamu sama Aryan sebelumnya dan kamu setuju waktu itu. " lanjut mama.
Aiikk, aku hampir lupa! Iya lah aku setuju kan waktu itu mama maksa banget,, ngotot malah. Makanya aku setuju itupun karna mama bilang perusahan kami bangkrut dan ditambah lagi penyakit jantung papa yang kapan saja bisa menyerang bila aku menolak.
Ouh Sekarang otakku yang segede katak ini mulai mengerti.
Kemari dan duduklah disampingku, agar aku ceritakan betapa resahnya diriku tanpa mu yang lagi ngebaca. Cielahh,, Hehehe canda man and girl.
Jadi gini ceritanya,, gak usah pake acara flash back yahh. Saat perusahaan papa hampir bangkrut, om dan tante Wijaya lah yang menolong perusahan papa. Mereka tidak minta syarat apa apa. Cuma..,, mereka meminta agar aku dijaga sama putra mereka yang bernama Aryan dan ternyata Aryan adalah kak Ari.
Aku juga gak ngerti, otakku tidak bekerja untuk memahami konflik kehidupan. But,, inilah takdirku. Kalian bingung yahh? aku juga bingung.
Kembali ke aku dan mama.
Aku menghela napas berat. Hidup aku emang ngeri ngeri sedap. Hidup aku kayak kehidupan di novel tapi tak seindah dinovel. Aku dijodohin sama idola sekolah, oke aku terima. Oke tapi jangan sekarang juga, setelah aku lulus kuliah kek. Intinya jangan sekarang.
"Kamu jangan pikir mama menjodohkan kamu karna kami menukarkan kamu dengan harta, bukan nak. Mama maksa kamu nikah sama Aryan karna mama sama papa mu akan pergi ke jepang untuk mengoperasi jantung ayahmu disana. Mama sama papa akan disana selama 1 tahun mungkin lebih untuk masa pemulihan dan mama juga harus mengurus perusahan papamu disana, selagi kami disana mama akan tenang jika kamu dijaga oleh Aryan sayang. " jelas mama.
Apanya yang ngak menukar?!! Tapi sudahlah, aku cuma anak kurang beruntung jadi diterima ajah. Tapi sumpah, otak sempit aku masih ngak mau nerima.
"Kan gak harus nikah juga ma. Aku nginap aja dirumah om sama tante. " elakku berusaha menolak.
"Kamu emang betul sayang tapi kan tante sama om juga ikut sama mama kamu ke jepang, tante sama om juga ada keperluan disana. Kan gak mungkin kalian tinggal berdua dalam satu rumah. "
Benar juga apa kata tante gak mungkin juga sik aku tinggal dengan kak Ari dalam satu rumah, bisa bisa akan berujung fitnah. Kecuali nikah.
Gak mungkin jiga aku balik ke kampung papa, orang keluarga papa aja udah seluruhnya mencar ke jawa setelah orang tua alias nene dan kakek ku meninggal.
"Jadi harus nikah ya mah...." mama hanya menganggukkan kepalanya.
Aku menghela nafas berat~pasrah. Haruskah aku mengibarkan bendera perdamaian dan mengiyakan perjodohan ini.
Baiklah, pasrah kau adalah pilihan terakhirku.
"Olo mada songoni ra au marbagas dot bang Ari demi bapa ku napaling huholongi. " ku akhiri kalimatku dengan senyum walau dipaksa, kulihat papa juga ikut senyum.
(Oke kalau begitu aku maunikah sama kak ari demi papa yang kusayangi)
Jan lupa Like komen dan vote yahh😉