
Author POV
*Rahang Ari mengeras, pertanda bahwa amarahnya sudah naik ke ubun ubun, ia menatapat Sera tajam.
"Sudah? "
"Sudah selesai menjelek jelekkan istriku, hah?! " ucapnya dingin yang menusuk.
"Tahu apa kau tentang Sari?!! Kau tidak tau apa pun tentang dia katna hanya aku yang tahu semua tentang Sari, hanya aku. " lanjutnya dengan membentak Sera.
"Tapi Ar,, Sari itu tidak pantas untuk mu. Dia...- " kalimat Sera langsung dipotong oleh Ari.
"Pantas tidak pantasnya Sari untukku itu bukan urusanmu. Hanya karna fakta dia bukan anak orang tuamu bukan berarti aku harus meninggalkannya dan percaya begitu saja denganmu. " Ari menatap nyalang pada Sera. Gadis didepannya itu benar benar tak punya hati sama sekali, tega teganya Sera menjatuh kan seseorang hanya untuk kepentingan nya sendiri.
"Ar,, kamu hanya terperdaya oleh Sari. Dia itu lic...- "
Lagi lagi Ari memotong perkataan Sera, "maksudmu Sari licik?! " Ari tersenyum miring.
"Malahan aku sangat berharap jika Sari seorang gadis licik yang akan menghalalkan segala cara hanya untuk bersama ku. Tapi sayangnya dia bukan gadis licik. Dan untuk cinta pertama ku, jadi perempuan jangan terlalu pd Sera. Yang merasakannya aku bukan kau. Jadi yang tahu hal itu aku bukan kau. "
Sera terdiam, ia hanya menyimak perkataan pahit Ari tersebut dengan diam.
Ari mendekat ke arah Sara, ia bersedekap sembari menatap gadis itu angkuh, "seandainya saja dia bukan gadis kecil itu, aku tetap tidak akan pernah pelepasnya. Karna yang aku tahu sekarang Sari hanya lah milikku dan cinta ku, dengar itu baik baik. "
Sera menundukkan kepalanya, menerima kenyataan yang sangat pahit itu sangat sulit. Fakta jika cinta pertama bahkan tak mempengaruhi Ari sama sekali adalah pukulan keras baginya. Sekarang ia merasa dipermalukan oleh Ari, tapi ia harus tahu bahwa ia lah yang menyerahkan diri untuk dipermalukan.
"Sebaiknya kau pulang. Aku tidak ingin Sari melihatmu disini dan salah paham. " ketus Ari.
Sera segera berdiri dan berlari keluar dari apratemen Ari, ia ingin segera cepat cepat keluar dari rumah yang menurutnya seperti ruang penyiksaan.
...............
Sera berjalan tanpa arah, ia menghapus air matanya dengan kasar, "tidak, tidak. Tidak!! Ari milik ku. Dia hanya milikku, arggggg. " teriaknya sembari menjambaki rambutnya sendiri.
"Woi!! Kalau mau gila jangan disini. Pergi saja ketempat lain. Kami tidak membutuhkan orang gila baru lagi disini, cukup dia saja. " ucap seorang pada Sera berteriak terika dengan menunjuk seorang laki laki yang menari nari sambil berteriak 'aku orang gila' (hahahaha,, yang baca jadi ngaku gila, yah) .
Sera hanya menatap datar orang didepannya lalu berlalu begitu saja. Rasanya ingin sekali ia menelan hidup hidup orang tadi. Itu benar benar menyebalkan, bagaimana bisa dirinya malah disamakan dengan orang gila yang berteriak teriak tidak jelas dengan mengatakan 'aku orang gila. '
(Ciee, lagi lagi yang ngebaca ngaku ngaku orang gila. Ciee.. yang lagi lagi terkena jebakan batman. )
Tak sengaja Sera melihat Sari sedang duduk disebuah bangku taman. Sera diam diam memperhatikan adik yang ia anggap sialan itu. Ia bisa melihat dengan jelas jika Sari sekarang tengah menangis, ia juga bisa mendengar uneg uneg gadis itu. Dan hati Sera benar benar terpukul saat mendengarnya. Ia rasanya seperti penjahat yang tak berbelas kasihan. Ia seperti tubah licik yang menghalalkan segala cara, meski faktanya begitu.
Dan entah kenapa, rasa penyesalan serta perasaan bersalah menyeruak dihatinya. Ia juga tidak tahu kenapa ia malah merasa simpati pada Sari, ia iba pada gadis itu.
Dan kenyataannya ia lah penyebab Sari mendapat derita*.
.................
Rasanya masih sakit bila mengigat semuanya. Beberapa minggu lalu, dimana Sera telah membuktikan bahwa ia adalah wanita tak berperasaan sekaligus seorang kakak yang egois. Dan sekarang ia benar benar menyesali perbuatannya, ia sungguh menyesal telah membuat adiknya menderita.
Sera menghela nafas, sejak tadi ia hanya berdiri jauh dan memilih mengamati Sari dan lainnya dari balkon kamarnya. Ia belum siap bertatap muka dengan pasangan itu setelah apa yang ia lakukan. Efek jerah yah begitu, terkesan takut dan malu pada diri sendiri dan sekitar.
Setelah menimang cukup lama Sera akhirnya mau melangkahkan kakinya kesana.
"Hei! " sapanya membuat sekelompok orang didepannya terdiam dadakan.
"Boleh gabung? " Lanjutnya yang mendapat anggukan dari Ahmad suaminya, Rendra, Aldi dan juga Ari.
Sera duduk disamping suaminya, tak jauh dari pasangan yang pernah ingin ia pisahkan itu.
Sari, Lisa, Tika yang masih berdiri serta Maya hanya bisa saling tatap tatapan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Rasanya benar benar awkward saat setelah Sera bergabung dengan mereka.
Ahmad berdehem untuk menghilangkan kesunyian yang tercifta sesaat, "ekhmm,, Sar. Tadi kamu nanya soal pernikahan mbak mu kan? Nah orangnya udah disini, monggo ditanya. Biar kamu merasa lebih jelas. "
Sari mengedip edipkan matanya,, bertanya pada Sera?! Yang benar saja!! Bukannya Sari takut, tapi ya..-- hubungan mereka kan tidak baik. Lagi pula Sera jelas akan mengacukan nya. Jadi intinya Sari mana mau beryanya pada makhluk alien itu.
"Tanya apa yah? Sari, kau ingin bertanya sesuatu pada ku? "
Sari langsung menatap sera sedikit melogo, lalu menggaruk pipi nya yang tidak gatal. Benar kah Sera berbicara pada nya? Apa Sari tak salah dengar?!
Kemudian Sari menatap suaminya dengan tatapan bertanya tanya,, namun Ari hanya mengacungkan bahunya.
Sari kembali menatap Sera, sekarang ia harus apa?!!
"Hah?! Umm tidak, tidak!! Kak Ahmad cuma becanda. " gelagatnya tanpa mau menatap Sera lama.
"Yang tadi mulutnya sampe menganga karna terkejut oleh sebuah kata 'kakak ipar' itu siapa yah? "
Sari hanya mendengus lalu menatap Ahmad tidak suka. Kalau Sari tidak ingat jika pria itu abang iparnya, Sari rasanya ingin membeli roket kemudian mengikat Ahmad didalamnya lalu menerbangkan roket tersebut ke planet pluto. Ck, itu karna Sari kesal banget lohh.
"Umm,, ekhmm-- ekhmm, uhuk uhuk ekhmm, hemmm. " Sari hanya pura pura batuk saat semua mata malah menoleh kearahnya.
Ari terkekeh geli melihat tingkah istri nya. Ck,, Sarinya mulai bertingkah nih. Dan kali ini istrinya sedang pura pura batuk atau keselek permen karet. Lebih jelas nya sik Ari lebih suka jika Sari keselek oleh cintanya, uehehehe...-- bisa ajah Ar.
"Batuk?! Minum roundup. Batuk hilang, nyawa juga melayang!! Ayo, beli roundup!! " ucap Tika yang masih mengipasi ayam membuat Sari yang kesal melemparnya dengan sendal.
"Eh, kamu nyumpahin aku mati?!! Emangnya uang sedekah takziah kamu ada? Kalau ngak ada ngak usah sok nyumpahin!! " lagi lagi Sari berkata ketus.
Tika terkekeh begitu juga dengan yang lainnya, "hehehe becanda, Sar. Becanda!! " ucapnya seraya menggaruk tengkuknya.
"Becanda ya becanda, tapi ngak sampe nyumpahin orang mebinggal kali!! " kesal Sari sembari menatap Tika galak.
Ari terkekeh pelan, ia menarik Sari agar lebih merapat padanya. Kemudian ia mencubit gemas hidung Sari lalu menciumnya dengan gemas juga, "jangan galak galak! " peringatnya dengan nada lembut.
"Iya nih, Sar. Marga siregar udah terkenal dengan kebawelannya jadi jangan kamu tambahi lagi dengan kegalakan kamu. " tambah Lisa dengan terkekeh gelik saat melihat ekspresi manja Sari saat Ari memeluknya.
Sari menatap galak ke arah Lisa, "heh, meski marga Regar galak, bawel atau apalah. Tapi marga siregar lah yang paling top di seluruh indonesia, cam kan itu. "
Bukannya menganggap Sari serius, yang lainnya malah tertawa dibuat nya.
"Sar,, maaf!! Maafin aku karna selama ini udah bersikap buruk sama kamu. Maafin aku juga yang pernah ingin memisah kan kamu dan Ari. " ucap Sera tiba tiba membuat semua terdiam.
Sari menatap Sera sebentar, kemudian ia menundukkan kepalanya. Hatinya masih sakit dengan perlakuan perempuan itu selama ini. Hati belum sembuh dari luka yang Sera torehkan sendiri. Tapi jauh dalam lubuk hatinya ia tak pernah dendam atau membenci kakak angkatnya tersebut. Meski selama ini yang Sari dapatkan hanyalah rasa benci dari Sera, tapi Sari selalu bersyukur pada tuhan. Karna setidaknnya tuhan masih memberinya seorang kakak perempuan yang tidak bisa didapatkan semua orang.
Ahmad memperhatikan Sari dan Sera bergantian. Ia tahu masalah Sari dan Dera maka dari itu ia yang mengusulkan Sera untuk minta maaf pada Sari. Tapi seperti nya Sari masih ragu untuk memaafkan Sera.
"Sar, puasa sudah dekat loh! " peringat nya sekalian mencairkan suasana yang sempat hening dan mencekam.
"Aku maafin kak Sera kok. Aku juga minta maaf sama kakak meski lebaran masih lama. Aku minta maaf karna selama ini udah buat kakak merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku ditengah tengah keluarga kalian. " ucap Sari membuat Sera tersenyum hangat.
Ia menghampiri adiknya lalu memeluknya, "terimakasih, Sar. "
Sari hanya menganggukkan kepalanya. Ia sempat menangis karna hatinya terharu dan senang karna pada akhirnya ia dan Sera berdamai.
"Ciee...,, ada yang happy anding nih. " Sorak Maya dan Tika bergantian membuat Sera dan Sari melepas pelukan mereka.
Kemudian mereka tertawa sambil menyekat air mata masing masing. Ahhh,, jadi pengen lebaran deh. Biar punya baju baru, wkwkwk.
"Cieee.. yang udah damai sampe pake acara nangis nangisan. " goda mereka kembali membuat Sari merasa malu.
"Ekm, Ar. Aku juga minta maaf sama kamu. " Kata Sera yang di angguki oleh Ari.
"Aihh,, mentang mentang udah sah. Bisa bisa cuma buat warga jomblo iri. " Ali berkata dengan nyinyir, khas dirinya yang sedikit bawel.
"Makanya nikah!! " sorak Sari dan Rendra bersamaan yang mengundang gelak tawa.
Ali hanya memasang wajah masam, "iya ini mau nikah, tapi calonnya belom siap. " ucapnya sembari melempar Tika dengan dedaunan.
"Apa sih?! " kesal Tika yang masih berdiri di dekat pemanggangan.
Ia melihat sekitarnya yang sudah tak menyediakan tempat untuk ia duduk, "lah, ini aku duduknya dimana? " bingungnya sembari berkacak pinggang.
"Di pelaminan sama babang Ali yang tampan. " Ali kemudian mengedipkan sebelah matanya ke arah Tika.
"Cieee....." lagi lagi kedua makhluk gak jelas itu mendapat godaan dari para sahabat mereka.
Tika menutup wajahnya karna malu, ia kemudian melepas selop nya kemudian melemparnya ke Ali.
Ali dengan sigap menangkap sendal Tika yang terlempar kearahnya, "ciee.. sendal nya ada gambar lov lov nya. Ini pertanda jika engkau telah menyerahkan hati mu pada ku duhai rembulan. " ucap Ali dengan gaya puitis abal abalan.
"Acieee.. " dan sekali lagi mereka mendapat sorakan berupa godaan dari sahabat mereka.
Tika tersenyum tertahan, "au ah gelap. " kesalnya bercampur malu.
Awokawokawok, spesies bar bar bisa malu and baper juga.
Sari menghentikan tawanya saat teringat sesuatu.
"Ngiming ngiming, kakak Sera sama kak amAhmad kapan nikahnya sik? Trus kenapa ngak ngundang? " tanyanya dengan wajah galak.
Ahmad memicingkan matanya menatap dua sejoli yang masih berpelukan.
"Eh,, pelukan dilepas dulu, baru Kakak jawab. "
Dengan cepat sari menjawab, "ngak. "
"Serah aku dong. Lagian yang aku peluk kan suami sendiri. Apa masalah nya. Jomblo? Itu mah derita. " tambah Sari dengan berkata pedas membuat barisan para jomblo hanya bisa menegug salivah serta mengelus dada, sabar!!
Ari hanya ngeleng geleng kepala melihat istrinya, akhir akhir ini tingkah istri nya memang makin aneh. Yah, sedari awal sik Sari udah aneh, tapi ini keanehannya makin menjadi jadi. Kadang Sari mara mara, pengen dipeluk, bawel, sewot, galak dan masih banyak lagi tingkah ajaibnya.
Ari memaklumi semua itu, karna istrinya tengah hamil. Aihh,, memingat ia sebentar lagi akan menjadi ayah, membuat Ari tersenyum hangat. Semoga saja anaknya kelak tak sebodoh ayahnya.
Sera terkekeh pelan saat suaminya dan adiknya malah terlihat ingin mengibarkan bendera perang.
"Biar aku yang kasih tahu. Aku sama Kak Ahmad nikah baru seminggu lewat. Alasan kenaka kita ngak ngundang, karna pestanya ada kampung yang sedikit masuk pedalaman. Sari kan lagi hamil, jadi takutnya nanti malah terjadi apa apa jika Sari datang. " jelas Sera dengan diakhiri senyuman diwajah cantiknya.
Sari ikut tersenyum, akhirnya ada bagian dimana Sera meng- khawatirkan nya. Sari benar benar terharu.
"Ouh, hehehe kalau gitu selamat kakak. " ucap Sari riang. Senang saja saat mengetahui Sera mempedulikan kondisinya.
"Selamat Ser, bang Ahmad. "
"Moga langgeng!! "
"Congrat yah. "
"Selamat, para kakak. "
"Doakan agar aku cepat nyusul, selamat yah. "
Sera dan Ahmad hanya menganggukkan kepalanya. Mereka terkekeh saat mendengar perkataan Ali dan tingkahnya yang lagi lagi menggoda Tika dengan mengedipkan matanya genit.
"Eh Sari sama kak Ari selamat juga yah, ciee yang bentar lagi mau jadi orangtua!! " ucap Lisa dibarengi dengan godaan.
"Weihh iya nih, kita baru tahu. Kalian sih diam bae. Tapi selamat yah, ahh bentar lagi aku bakalan punya ponakan nih. " Aldi berkata dengan nada antusiasnya.
"Kita baru cek- up, jadi baru tahu juga. " jelas Ari dengan datar, namun matanya jelas menunjukkan ia bahagia mengetahui sebentar lagi akan ada yang memanggilnya ayah.
Aldi dan yang lainnya hanya menganggukkan kepala. Apapun itu mereka ikut bahagia disaat sahabat mereka ada yang bahagia.
Dan malam itu mereka makan bersama sembari bercanda. Malam yang sangat bahagia dimana Sari dan sera berdamai, Miska juga memilih jalan damai dengan Sari.
Malam itu malam Sari dan Ari berkumpul dengan keluarga mereka serta sahabat sahabat mereka. Malam itu malam yang sangat indah,, bukan hanya karna bintang yang menghiasi hamparan langit gelap tapi juga katna tawa kebahagiaan dari semua yang disana.
Lengkap sudah kebahagiaan Sari, dimana Arinya sudah kembali. Ia dan sahabat nya tetap bersamanya, berdamai dengan orang yang pernah ingin merebut Ari dari nya. Dan berkumpul bersama dengan keluarga besarnya, keluarga Wijaya dan Siregar.
Dan.......-----___ yang paling bahagia adalah kehidupan dalam rahimnya. Soal orang tua kandung nya, Sari benar benar tidak mau tahu. Toh menurutnya orang tua kandung nya lah yang harus mencari nya jika masih menginginkan Sari karna mereka lah sebab, asal muasal Sari yang masih bayi berada di got serta pernah mendapat predikat anak pungut bahkan perselisihannya dengan Sera. Lagi pula jikalau pun ia bertemu dengan orang tua kandungnya, tidak ada kesempatan lagi untuk mereka tinggal bersama dan memperbaiki semuanya karna Sari bukan lagi milik orangtua nya. Ia sudah jadi milik suaminya dan sebentar lagi ia juga akan menjadi seorang ibu, orang tua. Dan yang pasti apa yang dialami Sari akan di usahakan nya agar tidak di alami oleh anak anaknya kelak.
"*Orang tua adalah rumah sementara untuk seorang anak perempuan, rumah persinggahan sebelum ke rumah yang sesungguh nya. Dan rumah sesungguh nya bagi perempuan adalah suami,, rumah seorang perempuan sampai ajal menjemput. Tapi rumah semua hamba dan tempatmu berlindung hanya lah pada sang pencifta, ALLAH SWT. "
By : Sari Yanti Wijaya Siregar😘😘😘*
**Baca!!!
Penting**!!!
Sebenarnya ini ntuh part terakhir yang udah author siapkan selama ber abad abad. Tapi setelah author pikir pikir, setelah author dirukiyah para readers, setelah author bertapa di gua hantu, LYSE ngak jadi end. Jadi anggap ajah ini part spesial karna tidak ada masalah atau komplik didalamnya.
Intinya Author mau bilang LYSE ngak jadi end untuk saat ini. Senang ngak sihh LYSE ngak jadi tamat. Atau malah kecewa karna udah nunggu endingnya lama?!
Nah buat yang kecewa, anggap ajah ini part terakhirnya. karna emang beneran ini tuh sebenarnya part terakhir. Tapi karna pola pikir author berubah, author jadi plinplan dan ngak jadi namatin LYSE.
Untuk selanjutnya LYSE akan author buat lebih dramatis lagi, karna kisahnya bukan anak sma lagi. Tenang!! Lucu Lucu nya masih tetap ada, trus rencananya di bagian akhir author bakalan buat kisah Ari dan Sari sebelum mereka nikah alias baru ketemu pas SMA.
Yang mau karakter Ari berubah jadi romantis tapi masih dingin, silahkan komen yah. Yang mau karakter Ari tetap dingin dan kaku, komen juga nih. Nanti author akan tentukan karakter Ari nya dari komentar kalian. Untuk Sari, tetap. Author tetap akan buat karakternya ceria, cengeng, lebay, manja dan kekanak kanakan.
Nah, yang mau namanya menjadi nama karakter antagonis yang baru, silahkan komen juga. Wkwkwk😂
Readers jan lupa Like komen dan vote yang banyak yahhh😘😘 Ramaikan kolom komentar juga yahh.😉
Jangan lupa mampir ke story author yang laun nya, judul nya Back To See Love dan Couple Soulmate.
**Salam LYSE😇
See you next part😉
Byebyebyebye👋👋👋👋**