Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
11.



*Tiba tiba Lisa ambruk dan terkulai lemas di lapangan membuat teman temannya panik.


Tika berlari menghampirinya dan segera berjongkok di samping lisa


"Eh lisa, lo kenapa. Lissss woii sadar. Liss Lisaa, " Tika menepuk nepuk pipi Lisa dengan pelan dan terkadang mengoyang goyangkan badannya, wajah Tika menggambarkan kepanikan*.


Teman temannya yang lain juga terlihat panik, sedang kan Sari malah terlihat jengkel dan memandang Lisa yang terkulai lemas dengan jengah.


"Aelahh Lisa, kamu oon banget dehhh. Jangan pura pura pingsan, bangun!  Waktu kamu udah lewat buat akting. " Tika menatap sari tak percaya, begitu juga dengan teman temannya yang lain. Padahal Lisa sudah tergeletak begini masih sari bilang akting.


"Udah lah Lis, kamu bangun deh gak ada gunanya juga kamu pura pura pingsan, ini tuh uda putaran terakhir. " Lanjut sari dengan kesal mengabaikan tatapan tidak percaya dari temannya dan seketika lisa bangun dari pingsannya.


"Benarkah ?? Yah, padahal gue udah berkorban buat tidur di disini. " Ucap Lisa tanpa dosa setelah bangun dari kepura puraannya.


"Wuuuuuuuu.." sontak semua siswa menyoraki Lisa, padahal tadi mereka sudah sangat kawatir. Tika yang merasa kesal langsung melayangkan pukulan maut pada Lisa yang sudah meringis dan mengadu kesakitan tapi diabaikan oleh Tika.


Sedangkan Sari malah mengkompori kedua belah pihak agar semakin brutal. Dan teman sekelasnya yang lain malah menertawai mereka bertiga. Menurut mereka lucu ajah, Lisa yang diserang bertubi tubi oleh Tika sedangkan Sari yang asyik menonton sambil memanas manasi Tika.


"Ada apa ini? " Ari bertanya dengan nada datar namun suaranya tersebut dapat menghentikan tingkah kekonyolan ketiga siswi didepannya.


Spontan Tika menghentikan pukulannya dan pura pura bersiul, bodoh. Sedangkan Sari yang tadinya menjadi kompor sudah berubah seperti cacing kepanasan, muali dari menggarut kepala, menggarut pipi, menggarut tengkuk lalu kaki kanannya yang tidak mau diam, alibi bodoh. Dan Lisa hanya diam cemberut, ia masih kesal dengan Tika dan Sari.


"Eh, kak Ari. " Gelagat Tina yang suaranya ia buat seimut mungkin, walau jatuhnya terdengar bloon sik.


"Ada apa ini? " Ari mengulangi pertantaannya tadi dengan dingin dan datar ditambah lagi pandangan yang tajam terutama saat matanya bertemu dengan Sari sang wife.


Sari meneguk salivanya kasar ketika bertatap muka dengan Ari yang memasang mata elang nya, "kok kak Ari ada disini sik, pake acara tau lagi kalau istrinya yang cantik ini di hukum. Ck semua ini karna contekan yang tak berkah dan berfaedah, itu lagi matanya tajam banget setajam pisau kater ehh pisau silet. " dewi batin Sari.


"Ini loh kak, Sari sama temannya Lisa pura pura pingsan tadi kak, makanya kami ngumpul disini karna cemas. Eh tau taunya cuma akting doang." Jelas Tina dengan ngebut- ngebut penuh dengan kebohongan.


Langsung Sari mengangkat kepalanya yang menunduk dan menggelengkannya. Ini bukan salahnya, ia tidak ikut ikutan pura pura pingsan juga.


"Bu bukan ka..k, " elak Sari berusaha membela diri. ya memang bukan dia yang berpura-pura pingsan kan.


"Iya, bukan begitu kak..-" Lisa tidak bisa tinggal diam saja melihat sobatnya di fitnah jelas tadi dirinya saja yang pura pura pingsan, tapi masalahnya Lisa tidak bisa melanjutkan kata katanya karna melihat tatapan tajam dari Ari, walau tatapan itu bukan terarah padanya melainkan temannya Sari yang kini sudah kembali menundukkan kepalanya. Mungkin takut zuga.


"Kalian lanjutkan saja hukaman kalian. "  Ari berkata datar. Kemudian ia kembali menatap pada Sari yang menghindari bertatap muka dengannya.


"Dan untuk kamu dan teman kamu yang pura pura pingsan tadi, tambah satu putaran lagi." Lanjut Ari membuat Sari membulatkan matanya shock. Yang benar saja, ini saja ia sudah setengah mati lah mau ditambah satu putaran lagi, bisa bisa Sari nanti tinggal nama doang.


' sungguh kejam dirimu bang, anak orang dipercaya anak mertua alias istri sendiri di abaikan. ' batin Sari menatap Ari jengkel, kesal dan marah.


Ari yang sadar tengah ditatap oleh Sari dengan kesal, membalasnya dengan tatapan tajam membuat sari melotot lalu mengedip edipkan matanya tidak tahan dengan mata tajam milik suaminya. Kemudian Sari menarik Lisa untuk memulai hukuman mereka.


Setalah itu Ari langsung meninggalkan lapangan diikuti oleh Renra dan Aldi yang sedari tadi diam.


*******


Sari kembali memasukkan sambal ke dalam mangkuk baksonya," kurang ajar si Tina, maen fitnah orang aja. Tu anak kayaknya ngajak ribut deh. " kesal sari. Ia menuangkan setengah saos ke mangkuk baksonya lalu mengaduknya dan menyuapkan ke mulutnya.


Sedangkan teman temannya hanya bisa melogo saja, "Ashhhh pedes  pedass anjrit. Siapa yang masukin sambal ke bakso aku sik ? " ucapnya berapi- api, sesekali ia ngosngosan. Sari mengibas - ibas tangannya didepan mulutnya, langsung disambarnya minum di depannya dan menegugnya sampai tandas.


"Ehhhh, minum gu..e, nyett." ucap Lisa terlambat.


" Issss, lo sendiri yang naro sambal banyak ke makanan. Situ sehat kah!" kesal Tika, sedangkan Sari hanya diam dan melanjutkan menyantap baksonya, mengacuhkan Tika yang sedang kesal.


"Udah tau pedes masih aja dimakan. Gilakk " Cibir Lisa. Lagi lagi Sari tak memperdulikan teman nya itu, menurutnya sekarang yang penting itu meredakan emosinya, yaitu dengan cara memakan bakso super pedas.


"Tapi yah, gue tuh kesel banget sama Tina. Tadi ajah pas didepan kak Ari sok soan imut padahal aslinya dajjal. Gue tuh 0engen bejet bejet dia tahu ngak sih." Lisa meninju meja membayangkan jika yang ia tinju itu adalah Tina.


Sari melahap baksonya sambil memperhatikan Lisa yang sedang memukul mukul meja dengan emosi. Lisa saja yang imut bisa semarah itu pada Tina. Apalagi dirinya yang dari lahir ditakdirkan untuk bar bar


Sari menghentikan aktivitasnya memakan bakso, saat lidahnya sudah terasa panas dan terbakar.


"Pedas uhhhh pedes. Minum mana minumm." Seseorang menyodorkan minum ke depan Sari yang langsung diambil dan meminumnya sampai kandas.


"Aku nyerah terlalu pedas, Lis buat kamu ajah. Biar emosinya reda," Sari mendorong mangkok baksonya ke arah lisa. Sedang Lisa sudah terlihat sangat pucat seperti melihat setan saja.


Ya kali ada setan di siang bolong. Tapi bukan hanya ia yang seperti itu, Tika juga begitu membuat sari mengeryit bingung menatap mereka.


"Kalian kenapa? " tanya Sari keheranan dengan raud wajah temannya yang bahkan sudah berkeringat, ingatkan hanya sari saja yang memakan bakso dengan level pedas tinggi.


Kambek!!!


Si Author kece dan bawel ini, ngak lupa yah yang paling comel. Okay, guys ku jan lupa likelike nya dan vote yang sebanyaknya yah.


Ramaikan juga kolom komentar nya, kita sama sama ngebachot berpaedah disana. Tapi ngak boleh kasar dan saling menjatuhkan yah.


Jangan lupa juga untuk mampir ke cerita author lainnya.


Salam LYSE😘


Tudadada, byebyebye👋👋👋👋👋