Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
37



*Ari langsung menghampiri orang tuanya, ia menyalim kemudian memeluknya bergantian. Begitu juga dengan Sari*.


...........


"Sari! Mantunya Mami yang paling cuantikk. Apa kabar sayang?"


Sari terkekeh, ibu mertuanya memang sangat klop dengannya. Karna mereka sama sama rada miring maksudnya absruk.


"Sari baik Mi. Mami sama Papi juga baik kan? "


"Iya, Mami sama Papi baik." Karin mengelus sayang rambut menantunya kemudian mencubit pipi memantunya dengan gemas.


Sera berdecak dalam hati melihat kedekatan Sari dan Mama Aryansyah, harusnya itu Sera yang sekarang berada diposisi Sari. " Hai Tante dan Om. Masih kenal ngal sama aku? " Sera tersenyum, setidaknya sekarang orang tua Ari tidak fokus pada Sari lagi.


"Eh, kamu Sera?!  Wahhh kamu makin cantik ajah yaa." Karin menatap putri pertama sahabatnya itu, tak menyangka jika gadis itu akan tumbuh dan menjadi gadis yang sangat cantik.


Sera terkekeh, "heheheh tante bisa ajah, tapi tante juga makin cantik ajah ya."


"Kamu tuh yang bisa ajah, Tante mah selalu gini gini dari dulu." Karin dan Sera terkekeh bersama, sedangkan Sari hanya bisa tersenyum kecut. Bahkan untuk bercerita dengan mertuanya saja, Sera tak membiarkannya.


"Kamu udah lulus kan, trus rencananya kamu mau kuliah dimana? "


"Rencana sik Tan, di liar negri sama Ari. Tapi Ari nolak Tan, dia takut buat ninggalin istrinya tuh. Takut istrinya dicolong orang." Canda Sera, tapi sebenarnya ia bermaksud memanas manasi Sari yang menurutnya tidak tahu diri itu.


"Hahahahaa, iyalah Sera. Kan Ari sayang banget sama Sari, jadi ngak mungkin dong dia ninggalin istrinya disini." Karin menatap jahil pada putranya dan mengedipkan matanya pada menantunya. Ari tak begitu menanggapi ibunya, sedangkan Sari hanya tersenyum sebagai respon.


Sera terdiam mendengar penuturan dari Karin. Hatinya terasa tertohok, niat hati ingin memanas manasi perasaan Sari malah hal tersebut terjadi padanya. Tapi memang sudah kenyataannya dan fakta bahwa Arinya sangat menyayangi Sari adik sialannya itu.


.........


       "Onyet!!!!!! "Teriak Tika sesampainya dipintu kelas.


Ali menatap kesal pada makhluk tuhan yang tengah berdiri sambil tersenyum lebar di pinti kelas mereka, "Woi, jangan teriak! Bukan rumah lo ataupun hutan, ogep." Omelnya dengan sedikit berteriak.


Senyum lebar Tika luntur, ia berjalan dengan kesal. Saat melewati Ali, ia sengaja menginjak kaki Ali, "bukan urusan orang utan." Ketusnya.


Ali meringis merasakan kakinya yang sedikit ngilu karna diinjak oleh sohib ogeb nya itu.


"Hai semua!!! " Kali ini yang teriak bukanlah Tika, bukan Ali juga melainkan Lisa.


Lisa berjalan dengan wajah semringa dan senyum lebarnya, membuat beberapa teman sekelasnya yang laki laki kesemsem.


Namun senyum gadis imut itu harus luntur saat melihat Sari yang termenung, membuat teman cowok dikelasnya mendesah kecewa.


"Sari, lo kenapa? " Lisa menatap bingung pada Sari yang hanya bengong di bangkunya.


"Kuramal sari ketemu dengan kakak resenya." Canda Tika, tidak tahu saja jika ramalannya itu pas.


Sari menatap Tika dengan mata berair, "kok bener." Ucapnya dengan suara bergetar dan lirih. Dan tak menunggu lama air mata gadis itu luruh.


"Eh Sar kok malah nangis?!" Tika dan Lisa langsung menatap Sari panik sekaligus bingung.


Sari menghapus air matanya yang sempat jatuh di pipi mulusnya, " ngaak kok!" ia menundukkan kepalanya.


Tika duduk disamping Sari sedangkan Lisa duduk didepan mereka, "kalo ngak papa kenapa nangis?! " Nada bicara Tika berubah menjadi tegas. Satu hal tentang Tika, ia tidak bisa melihat orang yang ia sayang menangis.


"Beneran ihh, Sari tuh ngak papa. Tadi cuma kelilip doang." Sari tersenyum lebar, berusaha meyakinkan sahabatnya jika baik baik saja.


"Ada yang bilang sama kita-kita, kalo lo sedih, lo marah, kecewa, bahagia, resah, terpuruk, senang, dan apapun yang lo rasaain lo bisa bagi semua perasaan lo itu dengan cerita sama sahabat lo."


"Mungkin ngak ada solusi yang lo dapat, tapi setidaknya setelah cerita lo bisa merasa legah."


"Lo bisa bohongin semua manusia dimuka bumi ini dengan senyuman palsu lo, lo bisa kecoh semua makhluk di muka bumi ini dengan ekspresi. Tapi ada yang bakalan ngak bisa lo tipu, diri lo sendiri serta bayangan lo. Karna disaat seperti apaun dan kapan pun dia ada bersama lo, bisa ngerasaain apa yang lo rasaain."


"Dan asal lo tahu Sar! Sahabat itu seperti bayangan, akan selalu ada buat lo. Ngikutin kemanapun lo pergi, bahkan ditempat yang gelap sekalipun. Meski dia tertelan kegelapan tapi dia tetap ada disisimu. "


Sari menatap Lisa dan Tika dengan mata yang berair. Ia terharu, hatinya yang sedih dan rapuh membuatnya mudah tersentuh. Dan perkataan Lisa dan Tika tadi adalah kalimat motivasinya pada kedua sahabatnya itu disaat kedua sahabannya terpuruk dan sedih seperti dirinya saat ini.


"Kita emang ****** Sar. Boge, konyol, *****, becandaan, gila, abstruk, gokil, bodoh. Cocok dan pas banget buat orang orang jadiin kita tempat berhibur."


"Tapi orang ******, ****, konyol, *****, becandaan, gila, abstrak, gokil, dan bodoh ini juga bisa serius. Ngak selamanya akan koyol dan becandaan, apalagi disaat melihat sahabatnya terluka."


"Ingat prinsip persahabatan kita Sar. Lo terluka gue terluka, dan sebaliknya lo bahagia gue paling bahagia."


Air mata Sari kembali jatuh, ia menatap kedua sahabatnya itu dengan haru. Tanpa mengatakan apapun, Sari memeluk keduannya kemudian tangis nya menjadi jadi namun tanpa suara sama sekali. Hanya menangis dalam diam.


Sari melepas pelukannya, ia tersenyum lebar pada kedua sahabatnya. Tika dan Lisa menghela nafas legah, setidaknya sorot mata Sari tak semenyedihkan tadi lagi.


"Iya aku cerita sama kalian, bayangan." Sari sengaja menekan kata bayangan, kemudian ia, Tika dan Lisa sama sam terkekeh.


"Tapi ngak disini." Kekehan Lisa dan Tika seketika berhenti, mereka menatap Sari serius kemudian memganggukkan kepala.


"Baiklah, sekretaris kelas tolong kesini! " Kiky sang sekretaris kelas maju.


"Tolong kamu ringkaskan dipapan tulis materi ini." Kiky menganggukkan kepalanya, ia berjalan kepapan tulis dan mulai meringkas materi mereka hari ini. Sedangkan teman teman yang lainnya berdecak sebal, pasalnya mereka semua punya buku yang sama dengan sang guru tapi kenapa harus mencatat lagi.


"Jangan ada yang protes!! " bentak Benni, guru Biologi dikelas tersebut.


"Sok killer tuh guru, di hadapin Syakila sama teman temannya ajah tuh guru ngak berkutik. " Guman fara, teman sebangku Lisa.


"Ho o." Lisa ikut berkomentar. Pasalnya ia memang tak suka dengan Benni yang selalu saja menyuruh muridnya untuk mencatat, mencatat, mencatat dan mencatat.


"Eh tahu ngak Lis, kalau si Syaki udah panggilan orangtua sebanyak empat kali. Dan kalau sekali lagi dia panggilan, dia diancam dikeluarin dari sekolah ini." Fara mulai bergosip, ia bercerita sambil menulis dan juga melirik lirik Benni yang duduk didepan agar tidak ketahuan menggosip.


"Ngak bakalan dikeluarin!! Lagian yah kalo emang Syaki dikeluarin aku yakin sekolah musuh bakalan nampung dia." Sari menimpali dari belakang, ia mengunyah permen karet serta bermain SOS bersama Tika.


Fara melirik kedepan sebentar sebelum memutar tubuhnya menghadap belakang, "ngak mungkin lah, Sar! "


"Mungkin fara oon!! Meski si Syaki bandel, suka buat onar, biang kerok, hobby tauran tapi dia itu pintar, prestasinya banyak dan lagi pula jika beneran ia dikeluarin dari sekolah kita sama seperti yang Sari bilang tadi, sekolah musuh bakalan nampung dia. Soalnya ketua geng musuh kan suka sama Syakila." Jelas tika, ia menggaruk kepalanya bingung ingin menulis huruf S atau O.


"Ngak nyambung! " komentar Nina yang sudah duduk di lantai belakang Sari dan Tika.


Sari dan Tika menatap kaget pada Nina," ngapain??"


"Gosip, hehehee." Nina melayangkan cengirannya. Tika dan Sari congang, tak menyangka Syakila dkk sangat menarik perhatian teman temannya. Bahkan Nina yang duduk di barisan sebelah Tika sampe rela pindah dan duduk dilantai.


"Loh kenapa ngak nyambung?! Nina lo gimana sik, kudet amat." Protes Lisa dari bangkunya.


"Iya lah ngak nyambung. Hubungannya apa cobak Syakila yang ditaksir ketua geng musuh sama dia yang bakalan ditampung disekolah musuh."


"Ck ck ck ck. Benar benar kudet dia."


"Lo tahu ngak siapa ketua gang musuh kita siapa?! "


"Enggak."


"Nathan man! "


Nina membelalakkan matanya, " Nathan si pangeran es?! "


"Betul!"


"Cakep."


"Dan asal lo tahu, Nathan itu horang kaya. Abang dia pengusaha muda yang sukses, dan asal lo tahu juga Nathan maksudnya kak Nathan si pangeran salju sama kayak kak Ari."


"Ngak ngerti." Nina dan Fara sama sama menampikkan raud kebingungan.


"Ck, maksudnya kak Ari pemilik sekolah ini trus Nathan pemilik sekolah musuh."


Nina dan Fara menganggukkan kepala paham. Dan sekarang mereka paham, seandainya Syakila dikeluarkan dari sekolah ini maka sekolah musuh akan menampung karna pemiliknya menyukai Syakila. " tapi kak Ari sama kak Nathan beda tuh. Meski sama sama punya sekolah masing masing, anak horang kaya, cool, pintar dan memiliki julukan pangeran es tapi bedanya juga banyak. Kak Ari orangnya disiplin, termasuk taat peraturan, rapi dan anggota osis sedangkan kak Nathan yah jelas bandel, peraturan selalu dilanggar mentang mentang sekolah punya sendiri, ngak rapi tapi keren trus dia itu ketua geng musuh."


"Ck, ngapain sik beda bedain kak Ari sama kak Nathan. Ngak ada paedah nya, mending bahas kisah cinta mereka." Gerutu Lisa, Fara, Sari dan Tika menganggukkan kepalanya antusias.


Siapa sih yang ngak kenal dengan Syakila, Mira, Hana dan Kiandra disekolah mereka. Sepenjuru sekolah tahu mereka siapa, Syakila dkk tidak terkenal seperti Sari dkk karna berhubungan dengan Ari sang pemilik sekolah.


Mereka terkenal karna mereka sendiri. Mereka  satu angkatan dengan Sari tapi beda jurusan, mereka berada dijurusan IPS sedangkan Sari IPA. Disekolah mereka dijuluki Ratu bad girl's, ditakuti semua murid terutama kaum hawa. Tidak termasuk dengan Sari, karna menurutnya Syakila masih manusia jadi ia tidak perlu takut. Lagi pula ia pernah berpapasan dengan gang nya Syakila dan menurut Sari, Syakila dan teman temannya itu orangnya bersahabat, humoris, lucu dan enak diajak bicara.


"Iya kabarnya hubungan pertemanan mereka sempat retak karna...-"


"Karna? " Nina menggantungkan kalimatnya karna ada suara lain yang memotong pembicaraannya.


Nina, Sari, Tika, Lisa dan Fara kompak membulatkan mata dan berdiri sebab mendapati Benni sang guru ikut duduk disamping Nina.


"Astaga!! " kaget Nina, Sari dan Tika.


Benni berdiri, ia menatap nyalang muritnya tersebut. Bisa bisanya murinya tersebut membuka forum gosip di belakang, untung saja ia cepat menyadarinya.


"Kalian tahu karna apa? " Benni menatap tajam muridnya. Sari, Lisa, Tika, Fara dan Nina menggelengkan kepala meraka tak tahu sekaligus tak mengerti arah bicara dari gurunya tersebut.


"Karna kalian akan dihukum menghormat bendera mulai sekarang sampai setelah istirahat selesai." Tegas Benni.


Sari membulatkan metanya begitu juga dengan yang lainnya. Sedangkan Ali sudah terkekeh gelik, Fais hanya menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan sohibnya itu.


"Keluar!!" Ujar Benni dengan nada tinggi. Sari dan yang lainnya buru buru keluar dan melaksanakan hukuman mereka.


**wkwkwkwk, Sari ternyata suka ngegosib yahh. Para Readers ku yang comel, kalian pernah ngak kayak si Sari, kepergok ngegosip sama guru trus di hukum?! Author sendiri sik pernah. Wkwkwkw..


oke guys, jan lupa Vote dan coment yahh.


machi!!😁😁😁😍**