Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
33



Sari pov.


"Kita jadinya kemana nih kak? " aku menatap kal Ari dengan mimik wajah bertanya.


Sekarang aku dan kak Ari sedang dalam perjalanan menuju tempat misterius yang hanya tuhan dan kak Ari saja yang tahu. Aku sih udah nanya entah keberapa kalinya sama kak Ari, tapi responnya tuh cuma senyum doang.


Lah, emang senyumnya dapat menjawab kegundaan hati ini?! Tapi hehee, senyum kak Ari bisa buat gagal fokus.


Aku mendesah pasrah saat kak Ari kembali tersenyum sebagai respon dari pertanyaanku tadi. Oke, sekarang aku diam ajah, ngak usah nanya nanya lagi.


Aku menoleh sebentar ke arah kak Ari yang sedang mengemudi, kemudian aku mengalihkan tatapanku ke jendela mobil. Wow! Rame guyss, ini malam minggu kah??


"Wihh!! Ramee!! "


Humm,, saat disimpuan dulu uma alias mama sering mengajakku jalan jalan dimalam hari ke tugu salak. Wuu,, disana rame banyak orang mulai dari anak anak sampai nenek nenek. Disana banyak menjual berbagai makanan dengan harga yang murah terjangkau oleh semua kalangan, dijamin dompet gak balalan demam.


"Turun. " suarah perintah kak Ari membawaku dari alam khayalan menuju alam kenyataan. Heheeheh kayak mukoddimah pidato yaah.


Aku menoleh ke kak Ari lalu ku tatap ke sekelilingkuh, ohh ternyata mobilnya sudah berhenti. Aku masih menganalisi tempat sekarang mobil kami berhenti, tiba tiba kak Ari mendekat ke arahku.


"Kak... kak Ari mau apa? " aku menatap kak Ari dengan mata melotot.


Aku memundurkan punggung serta kepalaku kebelakang namun kak Ari terus memajukan tubuhnya mengikis jarak diantara kami. Ugggh,, ku menelan ludahku susa payah.


Nji*rrrrr!!! Jangan jangan babang tampan nekat mau mencium ku. Wah,, setan ternyata sudah mengotori otak suci ku. Buruk sangka pun sudah menodai hatiku yang bersih. Ini tidak bisa dibiarkan!! Jika kak Ari mencium ku,, Awa....---


Klik'


"Turun!! " setelah itu ak Ari langsung turun.


Huhhh,, aku mengembuskan nafasku kasar. Rasanya tubuhku tiba tiba panas dan gerah secara bersamaan. Ku kibas kibaskan tanganku didepan wajah untuk mengurangi gerah hati dan gerah body yang melanda diriku ini.


"Wow Sari!! ternyata kak Ari cuma mau ngelepasin seatbelt doang. " aku menggeleng gelengkan kepalaku untuk mengusir pikiran yang sempat terjerumus tadi. Aku langsung turun dari mobil yang langsung disambut angin malam yang luar biasa menyejukkan.


Ku jajari pandanganku ke seluruh tempat desekitarku untuk mencari keberadaan kak Ari yang dengan teganya meninggalkan diriku sendiri disini.


Aik,, ngomong ngomong sekarang dimana ya? Humm tempatnya rame sik.


Widihhh, ada pedagang kaki lima yang menjual banyak macam makanan. Ada sate, bakso, macam macam mie, uuu... jagung bakar. Hu' um,, aromanya____ nyami!!!


Aihh perutku,, ku usap perutku, "sabar ya cacing ku. "


Ku hentikan gerakan mengelus perutku, aikk kok jadi gagal fokus. Aku tadikan niatnya mau cari kak Ari kok malah hapalin daftar makanan disini sik.


"Ari! "


Aku menoleh saat kudengar seseorang memanggil nama kak Ari. Kulihat seorang perempuan sedang berjalan ke arah kak Ari dan dua temannya si Renra dan Aldi yang entah dari mana sudah berada bersama kak Ari tapi sepertinya tu cewek kayak pernah liat deh. Tapi dimana yaa? Ouh Miiska.


Aku langsung membulatkan mataku setelah mengenali gadis yang tidak lain adalah Miska. Mau ngapain sik dia? Aku berjalan mendekati mereka yang sepertinya sedang berbicara, eh kelihatannya kak Ari sik hanya jadi pendengar muda mudahan pendengar gak setia. Karna kak Ari boleh setia cuma sama aku doang, si Sariyanti Wijaya yang cantik dan melegendaris ini. Eaaaaak!


"Hai para kak senior yang membaripurna. " sapaku ramah tidak lupa dengan senyumanku dengan kadar manis 50% , takaran manis senyum untuk teman.


"Hai Sar!! " jawab kak Renra dan kak Aldi ramah dengan senyuman juga, tapi tak se manis senyuman ku.


Aku menoleh kearah Miska yang sedang menatapku tidak suka, "oh,, ada kakak juga disini. Hai mantan kakak kelas terindah!! " sapaku dengan cengiran.


Kak Aldi dan kak Renra tertawa sedang si Miska beruang di film animasi Masya and the Bear mendengus kesal. Heheeheh satu kosong!!!


Kak Ari menarik lengan tanganku membuatku bergeser ke dekatnya. Sungguh ringan badan ku ini sehingga mudah ditarik tarik. Kasian nasipku ini!! Oke,, sekarang aku harus banyak makan supaya badanku ini tidak kekurangan asupan gizi.


Aku mendongak untuk melihat wajah kak Ari, sedangkan kak Ari menunduk agar dapat menatapku. Wajar aku nendongak kak Ari menunduk dia tinggi, aku....____ bukan pendek sik tapi imut dan mungil man and girl. Kak Ari melayangkan tatapan tajamnya membuatku merasa terintimidasi, oh tadi aku salah yah?!


**********


"Ouuh jelas dong kak!! Kan aku butuh asupan gizi yang banyak apalagi sekarang aku sering berhadapan dengan gulma yang harus segera dibasmi. " cerocos ku semangat 45 yang di hadiahi tawa dari kak Aldi dan kak Renra.


"Hahaha... lucu, tapi- tapi gulma kan gak dibasmi tapi di kendalikan. "


Aku sedikit berpikir mendengengar perkataan kak renra benar juga, tapi aku tidak boleh kala debat dengannya. umm jawab apa ya apa perlu chat Tika sama Lisa yah?!


Aku menoleh ke arah si Miska beruang, dia menatapku dengan tatapan kesal. Seketika kalimat cantik tersusun di otakku.


"Itu sik buat gulma yang di kebon atau sawah kak, kalau gulma yang ku hadapi sik lain. Jadi gak perlu pengendalian langsung basmi aja kak biar punah sekalian. " kali ini aku berkata sangat serius dan ambisius, dont care dengan respon si Miska beruang. Kalian juga pasti berpikiran sama denganku, ngapain gulma si tanaman pengganggu alias pelakor dikendalikan emang bisa?? Di basmi aja, iya gak sikk?! Kalau pelakor bisa punah mah syukurrr.


"Haha.. iyain aja deh. Nanti kalo gak di iyain malah nangis. "


Aikk,, nangis???? Ngapain pula aku nangis, ada ada aja si kak Renra ini. Oh,, ngomong ngomong kak Ari dari tadi hanya diam aja kayak patung,neh kayak orang sariawan ajah. Ehh, namaku kok ada di jenis penyakit yah. Aihh dimakan juga ada kayaknya,, seperti----- Sariroti. Sungguh aku telat menyedarinya jika Tika sama Lisa tau pasti namaku sudah di ubah ubah.


Aku kembali menyerup jus jerukku, berpikir banyak membuatku jadi haus. Kembali ku fokuskan diriku dengan bakso didepanku. Rasa baksonya maknyus coii,, apalagi kuahnya.


Kutambahkan kembali sambal ke dalam mangkok bakso ku kurang pedas soalnya, namun tertunda karna ada tangan yang mencekal tanganku untuk melakukannya, aku mendongak untuk melihat pelaku tindakan pencegahan rasa pada bakso ku.


"Nanti kamu sakit perut. " peringat kak Ari dengan suara pelan namun terkesan dingin.


ouh sunggu diriku lupa jika kak ari disini. aku mendecak kesal tertunda sudah kenikmatan makanan ku.


Memang semenjak kejadian dikantin berbulan bulan yang lalu, saat memakan bakso rasa cabe yang membuat ku sakit perut kak Ari menjadi berlebihan dengan sambal, saos dan prodak cabe lainnya. Padahal lidahku mati rasa tanpa cabe, sehhhhhh. Hehehe... becanda, tapi jujur rasanya hambar tampa cabe dan rasa pedasnya.


Aku hanya bisa pasrah saja dan kembali menikmati baksoku.


"Sari,, hos..hos. Sar!! "


Aku mendongak untuk melihat siapa lagi yang mengganggu makanku.


"Ali??? " aku mengerutkan keningku bingung, kok si tuyul ada disini? Tadi kak Aldi dan kak Renra, trus si Miska beruang dan sekarang si tuyul Ali. Lah nanti siapa lagi?!!


"Kak Ari yang tampannya minta makan, Sari nya aku pinjam bentar ya. "


Aku menoleh ke kak Ari yang masih diam. Aku kembali menatap Ali dengan bingung. Tanpa ba bi bu lagi, Ali langsung menarik paksa ku.


Setelah sedikit jauh dari kak Ari dkk dan si pelakor baru lah si tuyul Ali melepas genggaman nya.


"Apa!! " ketusku dengan melipat tangan di bawah dada.


"Hehehe...."


Dih, malah cengir lagi. Humm sepertinya aku mencium niat niat terselubung disini.


"To the point aja. Apa?! " kesal ku.


"Gini, jadi aku tuh tadi jalan sama Rina, trus makan diwarung sana. " ia menunjuk tempatnya, "tapi pas makanan sudah datang aku baru sadar kalau aku gak bawa dompet, hehehehe. "


Humm,, sudah kuduga. Pasti kena masalah, "Jadi..."


"Jadi,, minjam duit dong.kan gak mungkin mona yang bayar, malu atuh. Ini aja aku pura pura ke toilet. "


Kasian juga ya melihat keadaan si Ali. Tapi emang dasar tuyul ya tuyul,, suka memeras uang.


Aku mendengus kasar, "gak bawa duit. Aku ajah tinggal makan doang yang bayar mah kak Ari. "


"Ye, pinjamin dong Sar. Please!! Yah, yah, yayayay... " Ali memasang wajah memalasnya.


Aku mendecik, "ck.. "


Jan lupa like like, vote dan comen yahh😉