
Sari POV
"Heihhh, kakak mah curang! " protesku pada kak Ari. Aku dan kak Ari sedang bermain ludo bersama. Dan ajaibnya dia menang aku kalah, padahal perasaan selalu token aku yang pertama home tapi yang selalu menang dia mulu.
Tiga kali kami bermain, tiga kali kak Ari menang dan tentunya tiga kali diriku yang comel ini kalah. Arrggg! Ingin rasanya aku menyumpah serapahi permainan ini yang tak pernah berpihak pada ku yang tak perna meng acc kan izin kemenanganku.
Aku menatap nanar pada permainan ludo kami, dan untuk yang ke empat kalinya aku kalah. Kemudian aku menatap kak Ari dengan mulutku yang berguman 'Curang!! '.
Kak Ari terkekeh, ia mengelus rambutlu gemas, "gak curang, kamu aja yang lemot. "
Aku membulatkan mataku mendengar kak Ari mengataiku lemot, ngak sekalian bodoh ajah yah. Aku menggembungkan pipiku sembari menatap suamiku kesetanan.
Kak Ari menaikkan alisnya, ia menatapku gelik. Beberapa saat kami saling tatap tatapan, aku dengan pandangan kesal sedangkan kak Ari pandangan dengan mata yang menyorot geli.
"Imut. " Imbuhnya, aku menstabilkan kembali raud wajahku. Kemudian aku menatap kak Ari congang, dia ngak takut sama muka setan aku man and girl? Malah dibilang imutz. Imutz darimana cobak?! Wong tadi aku udah pasang wajah paling kejam yang aku punya.
Kak Ari tersenyum gelik, ia mengacak rambutku kembali kemudian ia berdiri. "Kemana kak? " tanyakku saat kak Ari akan pergi.
"Mandi. Kamu mau ikut? " kak Ari tersenyum miring kemudian mengedipkan matanya satu.
Aku menatap horor plus ngak percaya pada apa kak Ari. What!! Kenapa kak Ari jadi ekhhm gitu yah, aku jadi merinding plus ngeri dibuatnya.
Kak Ari tertawa, "wajah kamu pucat! " ucapnya kemudian masuk ke kamar mandi.
Seperginya kak Ari, aku langsung menjatuhlan tubuhku di kasur
sembari meletakkan tangan diatas dada. Merasakan jantungku yang menggila, kemudian kuraba wajahku yang kata kak Ari pucet. Mungkin! Karna rasa dingin langsung menyusup kepori pori tangan ku saat menyentuh wajahku.
"Inikah yang dinamakan dengan cinta?! " gumanku sembari menatap langit langit kamar kami dengan senyum yang merekah.
Ahh!! Senangnya dalam hati. Wkwkwk,
Aikk, sampe lupa aku. Tadi setelah pulang sekolah kak Ari langsung mengintrogasiku masalah alu dan Miska yang bertengkar sampe sampe lari lari kayak pelari internasional tapi sayang kagak ada piala kemenangannya, yang ada mah ngosngosan plus dekdekan sebab kepergok sama suami.
Dan sebagai istri yang baik nan imutzz aku memceritakan kronologi kejadian tersebut sesuai fakta yang ada. Tidak ada kalimat pembohongan ataupun penipuan serta pemalsuan cerita, termasuk bagian lari yang berujung dipulau hutang alias lupa bayar makanan padahal seingatku bakso pentolku masih belum habis alias masih ada setengah lagi tapi bayarnya pull sesuai harga kontan. Yaa walau awalnya ngutang, tapi eihh intinya si Ali tuyul dapat untung gede.
Dasar Ali, matanya tuh langsung ijo guys kalo liat uang. Padahal kalo harta mah dia banyak, tapi ya Allah pelit nya minta ampun. Sebenarnya Ali ngak pelit pelit amat sik, katanya dia sengaja kayak gitu sok sok miskin sama pelit biar cewe cewe pada ilpil sama dia. Aneh kan??!
" Sar! " aku sedikit tergelonjak kaget, pasalnya kan aku sedang melamun. Aku menoleh ke arah kak Ari, aku menatapnya ragu soalnya doi masih pake handuk, ada roti sobeknya nji*r!!
Isss!! Pipi aku yang tadinya dingin sekarang terasa panas ***.
"Ambilin baju dong. " Aku langsung menatap kak Ari malas, masa ambil baju nya ajah harus aku. Lemari kan didepan dia, intinya jarak lemari dengan kak Ari itu dekat.
Tapi yasudahlah! Aku istri, harus berbakti. Nolak, nanti kak Ari malah nyuru cewek apart sebelah. Sungguh! Kalau itu terjadi aku bakalan ngak rela dan ngak ihklas dunia akhirat.
"Ini kak. " Aku menyodorkan baju yang ku ambil asalan dari lemari pada kak Ari.
Kak Ari tak menyahut karna ia tengah sibuk bermain yang kutebak adalah game. Huhss! Aku meniup anakan rambutku, "kak!! " panggilku.
Kak Ari mendongak, ia mengambil baju ditanganku kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Astaga!! Kamar mandi jaraknya lebih jauh loh dibanding lemari, tapi kenapa yah dia malah nyuruh nyuruh aku buat di ambilin bajunya. Kan bisa sekalian diambil pas mau masuk ke kamar mandi.
"Sar. " Aku menoleh, mendapati kak Ari yang sudah berpakain.
"Iya kak? " kak Ari tak menjawab, ia malah melempar handuk ke arahku, jatuh tepat diatas kepalaku.
Aku mengambil handuk dikepalaku kemudian berjalan ke arah kak Ari yang sudah duduk di pinggir ranjang sambil bermain game, melanjutkan permainannya yang tertunda tadi.
Aku naik ke atas ranjang, aku mengambil posisi tepat dibelakang kak Ari. Maksud dari kak Ari melempar handuk padaku tadi agar aku mengeringkan rambutnya. Ya, sebenarnya kak Ari itu manusia seenak jidat yang cool tapi manja cuii. Kalau manja nya ralat malas nya kumat itu seperti sekarang, baju maunya di ambilin, rambut minta dikeringin, habis dikeringin harus di olesin minyak rambut plus ditata rapi. Dan untungnya kak Ari sekarang udah lulus sekolah, karna saat masih sekolah dulu kalau manjanya kumat kancingin baju sekolahnya saja harus aku, pakein dasi juga aku, pakein parfum, nyisirin sekalian nata rambutnya sampe masang jam di tangannya harus aku juga.
Hayoo!! Pasti kalian mikir aku lagi ngeluh kan. Pasti sekarang kalian lagi mikir seandainya kalian yang di posisi aku. Tapi sorry lah yau, aku lagi ngak ngeluh, itu trik biar kalian sedikit iri. Wkwkwkw..,
" Sudah. " ucapku setelah selesai menata rambut kak Ari.
"Humm. " Ouhh, lihatlah berterimakasih saja tidak. Jengkel ngak sik?!
Aku memutar mata malas, kemudian berdecak sebal. Kak Ari menoleh ke arah ku kemudian tersenyum gelik, "terimakasih istriku yang comel tapi nakal. " ucapnya gemas dengan menirukan gaya bahasaku sembari mencubit pipiku pelan.
Aku terkekeh mendengar kak Ari yang menirukan gaya bicaraku, apa alu selebay itu yah?!
"Jalan yuk! " ucap kak Ari tiba tiba.
" hah? " cengangku, jelas aku seperti iti. Sebab kak Ari ngajak aku jalan cuii, maksudnya jalan jalan. Tumben dan ngak biasanya loh.
Kak Ari menatapku datar kemudian mendengus, "jalan!! " Tegasnya dengan nada dingin bercampur kesal.
Iya bang tau adek bang, cuma itu loh kok tiba tiba sik, dadakan. Aikk kayaknya jin ditubuh kak Ari udah balik.
"Sehat kak? " kutempelkan tanganku kekening kak Ari.
Kak ari terkekeh geli, ia meraih tangan ku yang menempel dikeningnya dan membawanya ke bibirnya. Ia mengecup tanganku lalu mengelusnya lembut. "Emang aneh ya jika seorang suami mengajak istrinya jalan? "
Aku menggeleng, "enggak kak, Tapi aneh aja kalau kaka yang ngajak. Soalnya kakak itu lebih suka dirumah, karna kaka itu orangnya pendiam..---- "
Kak ari langsung memotong kalimatku, "datar, dingin, lempeng, kayak tembok. Itu kan yang mau kamu bilang! "
aku menatap kak Ari dengan cengiran, "hehehe.. "
Ka Ari menatapku datar, "terimakasih sudah memperhatikan! " aku hanya mengangguk tidak enak sambil menggaruk kepalaku. Ini kok kepala ngangguk ngangguk ajah yah?!
"Te..terus jalan jalan nya ngimana kak? Jadi kan? " aku bertanya sambil menatap kak Ari meringis.
"Ngak! "
Oke, kak Ari mode irit plus datar sedang aktif.
Aku menoel pipi kak Ari, "merajuk ya, " Aku kembali menoel pipinya sedangkan kak Ari masih dalam mode diam, saran aku mode pesawat ajah kak.
Kembali aku menoel pipinya namun tidak ada responnya. Karna pipi kak Ari yang lembut plus elastis aku malah asyik memainkan pipinya, lupa kalau yang punya pipi sedang merajuk.
Kak Ari menangkap kedua tanganku yang asyik mencubiti pipinya, kemudian menariknya membuat ku menabrak dada bidannya.
"Ehh. " Aku mendongak menatap kak Ari yang menatapku datar oh tajam juga. Aku meneguk salivaku kasar, sepertinya kak Ari marah banget.
Aku hanya bisa tercengir getir yang memperlihatkan deretan gigi ku yang comel.
"Heheee, kakak marah ya? " kak Ari masih diam. Oikk ngambek nya mengalahkan orang pms ajah.
"I..iii..iya deh. Sari salah, ngatain suami sendiri, maaf. Janji gak ngulangin lagi. Kak Ari maafin yah, yah ya ya ya yaa. " Langsung kukeluarkan jurus andalanku, wajah memalas plus puppy eyes.
Kak Ari mengembuskan napasnya berat. Yehh, sepertinya jurus aku akan berhasil.
"Humm. "
Alhamdulillah jurusnya berhasil. Aku tersenyum senang, "truss jalannya jadi ya.. " kak Ari menganggukkan kepalanya, aku semakin melebarkan senyumku kemudian memeluk kak Ari sangking senangnya loh. Sekalian modus, hehehee.
To be continued.
Jan lupa like like, vote dan komen yah😉