Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
51



Author pov


Sari terus menatap wajah suaminya yang masih dalam mode bengong dan diam, "jadi....kak. "


Ari menatap Sari. Haiss, sudah berapa lama Ari bengong begini. Ck memalukan.


"Apa?! "


Kembali Ari memasang wajah datar tanpa ekspresi namun diselimuti kebekuan, bukan diselimuti coklat yaa seperti gerry selimut, heheheh.


Sari menggelengkan kepala,bck dasar suami tembok! Jadi dari tadi suaminya ini tidak mendengarkannya?! Oh, yang benar saja!


"Aku dibolehin ngak nih ke rumah Fais. "


"Tidak!! " ucap Ari dengan cepat.


"Please kak!! " Sari menautkan kedua tangannya kemudian menganggkatnya di depan wajah.


"Kak..." lanjutnya dengan rengekan.


Ari berdecak kesal, "kau pergi saja. Tapi setelah itu jangan kembali kesini lagi. "


Setelah mengatakan itu, Ari berdiri lalu melenggang pergi kekamar meninggalakan istrinya yang sedang dilanda badai kekesalan.


"Kak, kalau aku ngak datang nanti mereka marah sama aku. Kak, ini penting banget. Fais sama Lisa mau tunangan, masa aku sebagai sahabat mereka ngak datang. KAk.... " teriak Sari yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Ari.


"Sibodat bah. Ck. " Sari meraih remot tv lalu mengotak atik nya melampiaskan kekesalannya pada remot yang tidak bersalah itu.


"Ayo. "


"Astaga!! " Sari yang menggerutu kesal terkelonjak kaget sampai menjatuhkan remot tv ditangannya.


"Suka benget yah ngagetin orang! " Sari menatap kesal kearah Ari. Ia mengambil remot yang terjatuh kemudian menggerutu tak jelas, intinya Sari sangat kesal pada Ari.


Sedangkan Ari hanya bisa tersenyum geli sembari menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Ck, sudah sarjana plus bersuami, tapi kelakuannya masih seperti anak abg, rada labil.


"Katanya mau pergi. Yaudah, ayo! "


"Hah?! " Sari menatap suaminya bingung.


Tak mau buang buang waktu, Sari meraih tangan istrinya lalu menariknya keluar.


.............


"Rumah teman kamu itu dimana?! " Ari menatap Sari untuk menanyakan rumah Fais, setelah tadi ia diarahkan oleh istrinya ke komplek perumahan.


"Yang warna coklat itu Kak. " tunjuk Sari pada rumah besar berwana cokelat dengan halaman yang luas dimana dihalaman terlihat banyak orang.


Ari memarkirkan mobilnya ditempat parkiran di depan rumah yang ditunjuk istrinya. Sari langsung turun begitu pula dengan Ari.


"Eh, Sar!! " Teriak seseorang, membuat Sari dan Ari menoleh ke sumber suara.


"May. " Sari melayangkan senyumnya pada Maya, rang yang memanggilnya tadi.


"Lo telat banget, sumpah acaranya saja udah mau dimulai. Lisa sama Tika udah nungguin lo. Dan asal lo tahu, lo yang telat tapi gue yang disembur. " omel Maya pada Sari. Sefangkan yang diomeli hanya bisa melayangkan cengirannya.


Dalam hati, Sari terus menyumpah serpahi sang suamai yang membuatnya telat dan mendapat omelan geratis dari Maya. Andai yang Sari dapat omelet bukan omelan mungkin ia tak akan menyumpah serapahi Ari. Ck, tapi apa sangkut pautnya omelan dengan omelet, cuma katanya ajah yang mirip.


"Hehehehe.., sori banget yah Maya manis dijembatan ancol. " diakhir kalimat Sari kembali melayangkan cenhirannya.


Sari kemudian menatap kesal wajah Ari yang menampilkan raud santai, sama sekali tak ada guratan merasa bersalah. Ck, jika menabok suami pakai sendal jempit bukanlah dosa mungkin Sari sudah melakukan hal itu ke wajah Ari.


Tapi mau bagaimana lagi? Tadi suaminya tiba tiba mengadakan acara sidang dadakan. Dan sebagai ISIS (istri soleha idaman sangsuami), ia harus hadir disidang tersebut. Sidangnya bukan sidang cerai yah readers, sidang yang diadakan dadakan itu cuma sidang dengan bertema meluruskan kesalah pahaman doang.


Maya tak sengaja melirik pria disamping sang sahabat. Sekali lirik pandangannya langsung terpaku pada sosok pria tampan itu. Dan seketika matanya membulat bahkan mulutnya ikut menganga, terpesona dan terkagum kagum menatap mahkluk ciftaan tuhan didepannya.


"I....ini ganteng bingitzz ya AllAh. Mngkinkah ini jodoh hamba?! jika iya maka pertemukanlah kami dipelaminan ya ALLAh. Tapi jika tidak maka pertemukanlah hamba dengan jodoh yang sama dengan doi yang didepan hamba ya ALLAH, aminnnn!!! " Doa dadakan Maya dalam hati. Ia masih mengarahkan pandangan yang lurus ke arah Ari yang hanya bertampang datar.


"May..," panggil Sari kebingungan karna tuba tiba Maya menjadi patung dadakan dengan mata yang melotot serta mulut menganga, gokil sik. Tapi Sari cuma takut jika lalat malah masuk kedalam mulut Maya atau menabrak mata Maya yang belum jua berkedip.


"Sar. " Tika yang baru datang menyapa Sari dengan raud wajah senangnya, akhirnya yang ia tunggu tunggu datang juga.


"Eh, ada kak Ari. Halo kak. " sapa nya ramah pada suami sahabatnya tersebut. Ck, idola gelapnya saat SMA dulu tambah tampan saja. Dan tebakannya benar, jika Ari akan kembali pada Sari, sahabatnya.


Ari hanya tersenyum tipis sebagai respon dari sapaan Tika, sang sahabat dari istrinya.


Tika melayangkan cengirannya, katakan ia alay, lebay atau apalah. Tapi jujur ia memang tipe cewek yang suka gerogi jika berada diradius yang dekat dengan cogan. Dan Tika yakin, para readers ada yang satu spesies dengan Tika, maksudnya suka gerogi berada didekat cogan. Wkwkwk,


"Tik, ini Maya kenapa yah?! " Sari menatap Tika dengan raud wajah kebingungan.


Tika langsung menatap spesies manusia haluan dan baperan tersebut.


"Loh, simaya kenapa jadi manekin begini?! " Tika menatap terkejut dengan ekspresi Maya yang masih memperlihatkan matanya yang seperti ingin keluar serta mulut mengaganya.


Tika menatap kearah mata Maya, aihhh ternyata penyebabnya Ari toh. Ck, manusia haluan ini pasti sedang kesemsem sama Ari. Tika ter kekeh kecil, bagaimana yah jika Maya tahu kalau Ari yang Tika yakin sudah didoakan Maya sebagai jodohnya adalah suami dari Sari.


Pletak'


Tika menepuk jidat Maya sedikit kuat, dan hal itu berhasil membuat kesadaran temannya tersebut kembali.


"Acss, " Maya mengelus jidatnya sembari menatap garang kearah Tika.


"Istigfar, May!!! Kak Ari ini udah punya istri. " ucap Tika sembari terkekeh gelik.


"Apa sih. " ketus Maya dengan menatap kesal Tika. Jujur, sebenarnya ia malu sekali karna tertangkap kering sedang terpesona. Untuk saja tadi air liurnya tak keluar, yah.


Tringgg


Sari, Maya dan Tika spontan menoleh ke arah Ari. Sedangkan yang mereka tatap hanya menampilkan tampang datarnya dan tanpa mengatakan apapun ia segera melenggang pergi untuk mengangkat telpon.


Ari menempelkan benda pipi itu di telinganya. "Ada apa?! "


"Bukan urusanmu. "


"......"


"Pulanglah, saya sedang tidak dirumah. "


"....."


"Sudah saya katakan, saya tidak dirumah. Jadi lebih baik kau pulang. "


"......"


Ekspresi Ari berubah menjadi kaku dan datar, ia segera mematikan sambungan telponnya sepihak. Lalu melangkah mendekati kearah Sari.


Sari menoleh pada suaminya setelah Ari sudah sampai di sampingnya. Ari mengelus sayang lalu mengecup lembut rambut istrinya .


"Aku pergi dulu. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Nanti aku akan menjemputmu. " Sari hanya bisa menganggukan kepalanya, lalu menatap kepergian suaminya.


"Cuit cuitttt!! Yang gak rela ditingall!! " Tika berujar dengan menatap kesegala arah, kemudian ia terkekeh pelan mengingat ekspresi Sari tadi saat Ari pamit pergi.


"Apa sih, ngak jelas banget!! " ketus Sari.


Maya menatap Sari dengan raud penasaran, "Mas tampan tadi siapa kamu Sar?! Abang yah?! Kalau abang kenalin ke aku dong! Siapa tahu jodoh, alu bisa kok jadi kakak ipar yang baik untuk mu. " Maya menaik turunkan alisnya.


Sari sekita melotot ke arah Maya, ia berkacak pinggang seraya menatap Maya dengan galak, "jodoh?!!! Kakak ipar?!! Hellou, Kak Ari itu suami aku. Ya, kali aku jodohin suami sendiri. "


Maya menatap Sari terkejut sedangkan Tika sudah terbahak bahak. Ia benar benar merasa lucu dengan ekspresi teekejut Mira dan juga ekspresi galak Sari.


...........


"Gue degdekan nih, nyet. " Lisa kembali memegang dadanya merasakan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.


"Santai aja kali. " ucap Tika yang mendapat anggukan dari Sari dan Maya.


Lisa mengalihkan tatapannya dari cermin, "Sar! Pas lo waktu tunangan, lo gimana? Deg dekan juga ngak?? "


"Ngak lah, kan aku gak tunangan. Kalo mbak ngak lupa!! " Sari berkata enteng.


"Eh, hehehehe... akgohh lupa mbak. Muaaf!! " Lisa cengengesan.


"Oke dengar tips dari kita!! Pertama kamu ngak usah tegang gitu, acaranya cuma tukeran cincin doang. Setelah itu lo bebas mau ngapain. Dan lagi lo itu cantik bat dah hari ini, jadi ngak usah panik karna lo takut buat kesalahan. Orang cantik mah bebas!! " ucap Maya berusaha menenangkan Lisa yang dilanda kegetogian akut.


Lisa yang mendengat perkataan Maya tersenyum senang, benar juga!! Orang cantik kan bebas. Mau salah kek, mau bener kek, tetap ajah cantik. Uehehehehee...Cantik kayak yang lagi baca.


"Oh ya Lis, selamat yah atas pertungan kamu. " ucap Sari sembari mencubit pipih Lisa gemas.


"Selamat Lisa hutu kutu beras. "


"Selamat Lisa onyet!! "


...........


Acara tunangan Fais dan Lisa berjalan dengan lancar. Acaranya memang terkesan sederhana namun tentunya membahagiakan apalagi untuk yang punya acara. Kebahagiaan itu terlihat jelas di wajah Lisa yang sedari tadi memancarkan senyum yang menawan serta raud bahagia yang kentara diwajahnya. Begitupula dengan Fais, dari awal hingga acara selesai wajah yang terlihat lelah itu pun masih bisa memancarkan cahaya kebahagiaan yang sangat mendalam.


Sari melihat jam ditangannya, sudah pukul 5 sore. Ia segere menghampiri Fais dan Lisa mengucapkan selamat lalu izin pulang.


.........


Hampir lima belas menit Sari menunggu didepan komplek perumahan Fais, namun suaminya belum juga datang. Ia juga sudah menghubunginya serta mengirim pesan tapi pesannya tak kunjung dibalas oleh Ari.


Ck, Sari berdecak. Menunggu adalah hal yang paling membosankan dan melelahkan.


Tinnn'!


Sari menoleh, melihat mobil yang berhenti di sampingnya. Kaca jendela mobil perlahan turun memperlihatkan sosok pria yang jelas Sari kenal.


"Masih idup, Sar?! " pria dalam mobil tersebut tersenyum mengejek saat melihat penampilan gadis tersebut benar benar sangat kucel.


Sedangkan Sari hanya mendengus. Kenapa juga ia harus bertemu dengan tuyul di sore hari begini.


"Lo kayak gembel bener deh, Sar. Ikut babang ajah, gimana? Dijamin adek bahagia dunia akhirat. "


"Apa sih, Ali tuyul?!! " sebal Sari yang muali jengah dengan tingkah Ali.


Ali hanya terkekeh,"ayo, buruan naik. Biaar gue antar! Mumpung babang ganteng lagi berbaik hati. "


Sari bergidik. kalimat akhir nya itu loh, babang ganteng? Pengen muntah sari dengarnya. Sari masuk kedalam mobil Ali, ia membanting pintu mobil tersebut dengan kuat melampiaskan kekesalannya pada pintu mobil yang tak bersalah.


"Anjayy, pintu mobil gue. " Ali menatap nanar pada pintu mobilnya.


"Heh, neng. Pintu mobil gue bisa terkilir kalo lo banting begitu. "


"B. O. D. O. A. M. A. T. "


Ali mendengus, cukup kesal dengan makhluk tak tahu diri disampingnya. Ck, sudah diberi tumpangan malah kasar. Nih orang istri siapa sik!!


.....


"Makasih ya Al. " Sari keluar dari mobil Ali.


"Gue ngerasa jadi Al gazali jika lo panggil Al. " guman Ali dengan mengelus dagunya. Sedangkan Sari berdecak sembari menatap makhluk spesies narsis itu dengan jengah.


"Tapi, it's ok girl. Bye bye..,, See you nex akhirat. " setelah mengatakan itu Ali langsung tancap gas.


Sedangkan Sari hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Ali yang semakin hari semakin menjadi jadi saja. Heh,, Sari ngak nyadar plus ngak tahu diri. Wong dia juga kayak gitu, semakin hari kewarasannya semakin menipis.


Tb**c.


jan lupa like, comen dan vote yahhh!!😊😔**