Ice Senior Is My Husband

Ice Senior Is My Husband
45



Author pov


"""""""""""""


5 tahun kemudian.


      "Sar, sini! Kita poto poto sama yang lain. " Tika menarik paksa tangan Sari. Sedangkan Sari hanya pasrah mengikuti kemauan temannya.


"Sini Sar. Lo potonya dekat gue ajah. " Lisa menarik Sari kesampingnya, lagi lagi Sari hanya pasrah saja.


"Senyum Sar. "


Sari menoleh pada Maya, teman yang ia dapat dimasa kuliah nya. Sari hanya tersenyum paksa. Seharusnya disaat ini ia bahagia, seharusnya hari ini hari yang spesial dan ditunggu tunggu baginya dan mahasiswa lainnya. Tapi malah kebalikannya, bagi Sari hari ini ia tidak bahagia, ia bahkan merasa sedih.


Bagaimana tidak sedih?! Ini adalah hari wisudah nya tapi tidak ada satu pun keluarganya yang datang untuk menghadirinya. Bahkan kedua orang tuanya juga tidak datang. Hanya kedua sejolinya saja yang hadir. Hahahaa,, tentu saja hadir kan mereka juga wisuda.


Oh,, mengingat masa kuliahnya membuat Sari jadi tersenyum. Sungguh ia tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu, padahal seingatnya ia masih baru lulus SMA.


Sari tersenyum kecut, mengingat masa SMA hanya membuatnya mengingat Ari kembali. Oh, sekarang Ari-nya apa kabar ya?


Jika Sari bertemu Ari, apakah Ari akan mengenalinya atau sudah lupa? Umm,, masih pantaskah Ari, Sari panggil suami? Atau kah mereka sudah tidak ada ikatan lagi? Memikirkannya saja membuatnya sakit.


"Huh. " Sari menghela nafas. Ia melangkahkan kakinya menjauhi temannya yang masih bercanda ria.


Tika berlari menghampiri Sari, diikuti oleh Lisa, "eh,, Sar. "


Sari menoleh dan menghentikan langkahnya, "lo..mau kemana?! " Lanjut Tika sembari menatap Sari tak enak. Jelas saja jika ia tahu kalau Sari sedang merasa sedih, maka dari itu ia mencegah nya.


"Hah? oh..anu..ak..aku mau pulang aja deh. " Sari berkata dengan sedikit merapikan kebaya yang ia kenakan untuk mengalihkan raut wajah sedihnya.


"Pulang?? Ngaco lo!! Kita asyik asyikan dulu dong baru pulang. " Lisa bersedekap dengan menatap tak suka pada Sari.


Tika ikutan menatap Sari dengan bersedekap, "Iya,, lo kok gini sih?! Seharusnya lo bahagia dong gak usah pake acara sedih.  "


Sari melipat tangan didada, "ck, terserah kalian!! Pokoknya aku mau pulang,, ngak ada gunanya lagi aku disini. " ia membalikkan badannya melangkah pergi.


Namun langkahnya harus terhenti karna seseorang memanggilnya.


"Sari."


Sari menoleh, kemudian matanya langsung membelalak sempurna.


"Ya ampun Sar!! Maaf Mami telat sayang!! " karin segera memeluk menantunya, ia sangat merasa bersalah karna datang terlambat untuk menghadiri acara wisuda menantunya.


Itu semua karna putranya yang semakin menjadi jadi, semakin keras kepala, semakin datar, susah bicara, dingin, dan acuh.


Sebelum terbang ke indonesia, ia sempat membujuk anaknya agar mau pulang kenegri tanah air indonesia. Tapi memang dasar anak itu susah di dibujuk jadi dia hanya pulang dengan suaminya.


Sari menjatuhkan air matanya, ia sangat senang. Akhirnya ada juga yang menghadiri wisudanya, "gak papa kok Mah. Mama datang aja Sari udah senang. " ia melepas pelukan dari ibu mertuanya.


"Sari,, Papi minta maaf juga ya, terlambat datang. " Alan memeluk menantunya.


Sari kembali menetaskan air matanya membuat Alan dan yang lainnya jadi bingung.


Alan melepas pelukannya,


"Loh, menantu Papi kok nangis sih?! "


Tangisan Sari semakin menjadi jadi, namun bibirnya mengukir senyum, senyum bahagia, "hick...__aku senang banget Papa sama Mama dateng ke wisudaan Sari. Aku kira gak akan ada yang datang untuk ngehadiri wisuda nya aku. " ia me-lap air matanya.


Karin berjalan mendekat ke Sari, ia merangkul menantunya dan mengelus sayang rambut menantunya.


"susshh. " ia menyekat air mata menantunya, "Sari jangan nangis lagi yaa, Mama minta maaf karna Mama terlambat dan...." kata Karin menggantung membuat Sari menatap mertuanya penasaran, "tidak bisa membujuk Aryansyah untuk pulang. " lanjut Karin yang dibalas Sari dengan senyum kakuh.


*


*


*


Aryansyah pov.


Huh,, katakan aku gila. Aku juga tidak peduli toh kenyataannya memang begitu karna aku tidak pernah menceraikannya, memikirkan kata laknat itu saja sudah membuat ku gusar.


Dua tahun yang lalu mama pernah datang mengunjunguki dan memberiku surat cerai, tentu saja surat ceraiku dengan Sari. Saat itu aku sangat marah bahkan tidak sengaja membentak mama, tapi tenanglah aku langsung minta maaf pada beliau. Dan beliau juga memaaf kannya.


Flash back


"Apa apan ini, Mah?!  " aku membuang selembar kertas yang ada didepanku kasar. Dan menatap tajam pada Mama.


Mama menghela napas kasar,  "kamu yang apa apaan!! kenapa surat cerainya kamu buang?! " Mama menaikkan volume suaranya.


"Ck,, "  aku berdecak dan memijit pelipisku, "apa dia yang meminta cerai dari ku?! " aku masih memijit pelipis tanpa berniat menatap mama.


"Ngak,, itu Mama yang mau. Pokoknya kamu harus cerai dengan Sari. Titik!! " mama menatapku marah kemudian membuang muka.


Cih, kenapa mama begitu menginginkan aku dan Sari bercerai?! Aku yakin pasti bocah itu yang meminta cerai, bukan mama.


Aku mengatupkan ranganku. Yah, pasti Sari yang meminta cerai dan menyuruh mama untuk menyampaikannya.


Cih, sampai kapanpun aku tak akan pernah menceraikan Sari. Dia mulikku dan akan selamanya seperti itu. Persetan dengan semuanya, bila perlu aku akan memusnahkan hakim, sidang serta pengacara diseluruh muka bumi ini agar ia tak bisa menuntut cerai dari ku.


Aku memukul meja didepanku dengan keras membuat mama terkelonjak kaget, "aku gak akan cerain Sari sampai kapanpun, Mah. Dan permasalahanku dengan Sari itu bukan urusan Mama. Jadi jangan sekali kali Mama ikut campur dengan rumah tangga aku. " aku menatap mama tajam, memperingati nya agar mama tidak lagi ikut campur dengan urusanku dan Sari.


"Ouhh,, karna udah merasa besar jadi kamu berani bentak Mama?!! "


Aku menatap mama, bisa kulihat matanya yang sudah berkaca kaca serta memerah. Arrggkk,, Sial!! Aku membentak nya. Ck,, emosiku benar benar tak terkendali.


Aku menatap mama dengan perasaan yang merasa bersalah, seharusnya aku tidak membentaknya. Aku menghela nafas berat, kemudian menatap mama dengan sendu, "maaf, Mah. Aku kelepasan. "


Aku menundukkan kepalaku, tindakan dari rasa bersalahku pada mama. Aku benar benar bodoh, bisa bisa nya aku membentak wanita yang sangat aku sayangi itu.


"Mama maksa kamu cerai dengan Sari itu juga karna kamu. Karna kamu yang meninggalkan Sari dan tidak pernah ingin menemuinya. Untuk mengabarinya saja kamu enggan, menelponnya pun kamu tak pernah


Kamu hanya pernah mengirim sms padanya, itupun cuma sekali. Sebenarnya kamu kasihan ngak sih  sama Sari?!  Dia itu sendirian disana, dia gak punya siapa siapa. Dia hanya punya satu orang yang berhasil membuatnya merasa tidak sendiri. Tapi dasar orangnya gak tau diri malah ninggalin dia dengan alasan kuliah. "


Aku menatap mama dengan alis tertaut. Orang yang berhasil membuatnya merasa tidak sendiri?! Siapa?! Ah, jika itu aku maka syukurlah. Tapi jika itu orang lain, maka aku harus minta maaf pada Sari karna aku akan orang tersebut meninggalkan Sari. Ingat! Sari is Mine.


"Kamu keterlaluan!! Gara gara kamu ninggalin Sari, dia jadi suka melamun, suka nangis, bengong. Jika dirumah terutama apartemen kalian dia suka menangis sambil menyebut namamu. Hanya di kampus saja ia bisa tertawa itupun jika ia bersama dua temannya. "


Aku kembali menatap mama yang menampilkan raud gusar di wajahnya.


Aku menghela nafas,, benarkah sari begitu?! Seharusnya ia senang bukan seperti cerita.


Aku lagi lagi menghela napas berat, perasaan bersalah itu menyeruak dan menyentil hati ini. Andai saat itu aku lebih dewasa untuk menyikapi dan bertindak, mungkin saat ini aku masih bersamanya.


"Maaf! " ucapku penuh penyesalan.


"Hmm,, tapi seharusnya kamu meminta maaf pada Sari bukan sama mama. Yang kamu sakiti itu Sari. Ingat Aryan!! Sari menjadi istrimu itu karna permintaan mu sendiri. Yah, Mama memang menyetujuinya. Tapi yang mendesak nya itu kamu. "


Flash on


    Aku meraih bingkai poto di atas meja kerja ku. Aku tersenyum melihat wajah gadis di foto tersebut, sungguh aku merindukannya, sangat. Aku terkekeh mengingat tingkah konyolnya. Oh, dia sekarang bagaimana? Apakah ia masih sekonyol dulu? atau masih menggemaskan? Heh, bagaimanapun Sari sekarang, aku akan tetap memncintainya.


Humm, aku semakin tidak sabar bertemu dengannya. Tapi kejadian ditaman itu masih belum bisa lupakan. Lejadian yang menjadi alasan terciftanya jarak diantara kami. Masih sangat kuingat dengan detail bagaimana pria itu mengungkapkan perasaannya dan bagaimana Sari menganggukkan kepalanya.


"Ck, " aku berdecak. See, emosiku tersulut hanya karna mengingat kejadian itu. Arggk, bisa bisa Sari akan menjahui ku jika aku emosian begini.


Aku menghela nafas, berusaha mereda amarah yang ingin mengambil ahli raga ini.


Aku meletakkan bingkai kembali di atas meja kerjaku dan berjalan keluar dari ruang kerjaku.


Right,, sekarang aku sudah bekerja diperusahaan papa. Aku menggantikan papa menjadi CEO sekaligus pemilik perusahaan yang menjadikan ku lebih sibuk dan merubahku menjadi manusia yang lebih acuh lagi. Itu juga yang menjadikan ku malas untuk pulang ke indonesia. Aku hanay ingin masalah perusahan papa disini selesai agar aku bisa kembali ke indonesia dengan tenang dan tanpa beban.


Dan sebentar lagi aku akan pulang ke indonesia, bertemu dengan nya yang sungguh sangat sangat kucintai.


'Wait for me, My wife! '


***********************************


jan lupa like, vote dan comen yahh😁